Langsung ke konten utama

Asta Tinggi Sumenep: Jejak Sunyi Para Penguasa, Oase Religi di Puncak Bukit Madura

Pintu gerbang utama, komplek pekuburan Asta Tinggi Sumenep

Pagi baru saja tumbuh ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran tinggi Kebonagung, Kecamatan Kota, Sumenep. Dari kejauhan, pagar putih berundak itu tampak samar, seolah mengambang di atas bukit. Begitu matahari merayap, siluet gapura bernuansa Hindu-Jawa mulai terlihat jelas, berdiri kukuh menyimpan kisah panjang para penguasa Sumenep. Di lereng bukit inilah Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep, memeluk sunyi sejak abad ke-17.

Bagi warga Madura, Asta Tinggi bukan sekadar situs pemakaman. Ia adalah ruang ziarah, pelajaran sejarah, sekaligus destinasi wisata religi yang setiap hari tak pernah tidur. Para peziarah datang membawa doa, sebagian membawa hajat, sebagian lagi membawa rasa hormat kepada leluhur. Ada sensasi teduh yang tak banyak ditemukan di tempat lain: sepi yang khusyuk, sekaligus aura megah dari kejayaan Sumenep tempo dulu.

Jejak Awal: Pemakaman yang Menyatukan Para Penguasa

Sebelum abad ke-17, makam para penguasa Sumenep tidak berada di satu tempat. Sejarah mencatat, Raja Joko Tole, penguasa Sumenep ke-13 yang melegenda sebagai pendekar dan arsitek jembatan, dimakamkan jauh di Asta Sa’asa, Kecamatan Manding. Begitu pula Pangeran Sinding Puri atau Arya Winabaya, adipati yang terkenal bijak dan berpengaruh, dimakamkan di Desa Bangkal. Penguasa-penguasa lainnya pun bersemayam di lokasi berbeda, menandakan bahwa Sumenep sebelum abad ke-17 belum memiliki pusat pemakaman khusus bagi keluarga keraton.

Perubahan besar dimulai ketika Tumenggung Anggadipa—atau Pangeran Anggadipa—ditunjuk oleh Kerajaan Mataram untuk mengisi kekosongan takhta di Sumenep. Ia bukan bangsawan Madura murni, melainkan keturunan Jepara yang dipercaya mengelola wilayah ujung timur Madura. Ketika wafat, ia dimakamkan di dataran kebun dan hutan tinggi di utara kota, tempat yang kemudian menjadi cikal-bakal Asta Tinggi.

Belum ada catatan pasti sejak kapan tempat ini disebut Asta Tinggi. Sebagian sejarawan menduga, nama itu muncul secara alami dari masyarakat karena letaknya yang berada di “asta” (makam) yang “tinggi” atau berada di ketinggian. Nama itu bertahan hingga kini dan menjadi identitas yang sangat melekat.

Pembangunan Bertahap: Dari Hindu-Jawa ke Campuran Cina–Arab–Eropa

Kompleks Asta Tinggi secara arsitektur dan struktur tidak dibangun sekaligus. Tahap paling awal dikembangkan oleh Pangeran Rama atau Pangeran Cokronegoro II, raja Sumenep ke-25. Sekitar tahun 1695, ia membangun pagar batu mengelilingi pemakaman. Menariknya, batu-batu itu disusun tanpa semen atau perekat apapun. Masyarakat setempat percaya susunan itu memiliki kekuatan gaib, sebab hingga sekarang ia tetap kokoh meski diterpa angin dan hujan selama lebih dari 300 tahun.

Bentuk gapura utamanya mengikuti gaya Hindu-Jawa, gaya arsitektur yang lazim pada masa ketika Sumenep menjadi wilayah bawahan Mataram. Gapura berbentuk candi bentar itu memberi kesan sakral sekaligus klasik. Saat peziarah melangkah melewatinya, mereka seperti memasuki ruang waktu yang menembus beberapa abad lalu.

Bagian timur kompleks Asta Tinggi kemudian dibangun oleh salah satu penguasa paling masyhur, yaitu Panembahan Sumolo atau Pangeran Notokusumo I Asiruddin. Pemerintahannya dikenal sebagai masa keemasan kesusastraan dan pembangunan di Sumenep. Sentuhan estetika Panembahan Sumolo terlihat jelas pada bagian ini: perpaduan arsitektur Cina, Eropa, Arab, dan Jawa.

Gaya Cina tampak pada atap lengkung dan ornamen keramik khas negeri Tirai Bambu. Nuansa Arab terlihat dari bentuk kaligrafi dan lengkung pintu. Sementara gaya Eropa tampak pada kusen dan pilar yang simetris. Ruang persemayaman Panembahan Sumolo sendiri menjadi salah satu titik tersuci bagi para peziarah.

Setelah Panembahan Sumolo wafat, pembangunan dilanjutkan oleh putranya, Sultan Abdurrahman, sosok yang mempercantik serta memperluas kompleks. Pekerjaan itu diteruskan lagi oleh Penembahan Moh. Saleh, memastikan Asta Tinggi tetap menjadi pusat pemakaman keluarga kerajaan hingga masa akhir pemerintahannya.

Area Barat dan Timur: Dua Ruang, Dua Zaman

Asta Tinggi kini terbagi menjadi dua bagian besar—barat dan timur—yang mencerminkan dua zaman berbeda.

Bagian barat adalah area tertua. Ciri khasnya sederhana, tradisional, dan kuat unsur Hindu-Jawa. Pepohonan besar menaungi batu-batu nisan yang telah berusia berabad-abad. Di sinilah Anggadipa dan kerabat awal para penguasa Sumenep dimakamkan.

Bagian timur lebih megah dan berwarna. Bangunan-bangunan di sini lebih simetris, tertata, dan penuh ornamen. Kompleks ini menjadi area utama bagi peziarah karena di sinilah tokoh-tokoh besar seperti Panembahan Sumolo dimakamkan.

Perbedaan visual dan suasana antara kedua sisi ini membuat peziarah serasa berjalan dari satu era ke era lainnya.

Aura Mistis dan Kekuatan Lokal

Asta Tinggi sejak lama dikenal sebagai tempat keramat. Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa dahulu hewan—bahkan burung—yang melintas di atas area tertentu bisa mati mendadak. Kisah ini mungkin terdengar mistis, namun bagi masyarakat lokal, legenda seperti ini bukan sekadar cerita, melainkan simbol bahwa area ini dijaga oleh kekuatan besar leluhur.

Meski begitu, aura mistis tidak membuat suasana terasa seram. Sebaliknya, ada ketenangan alami yang membuat pengunjung merasa damai. Angin berhembus lembut di antara rindangnya pohon beringin dan cemara, menciptakan suasana yang sangat cocok untuk merenung atau berdoa.

Ritual, Tradisi, dan Ziarah yang Tak Pernah Padam

Setiap hari, Asta Tinggi dikunjungi ratusan peziarah. Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Legi, Maulid Nabi, Ramadhan, atau hari-hari haul keluarga keraton, jumlah peziarah bisa meningkat drastis.

Motivasinya bermacam-macam:

  • Doa keselamatan dan keberkahan
  • Nazar atau hajat tertentu
  • Wisata sejarah
  • Penelitian budaya dan arsitektur

 

Komplek pekuburan halaman dalam

 Beberapa peziarah datang rombongan dengan bus, khas peziarah dari Pamekasan, Bangkalan, atau daerah tapal kuda Jawa Timur. Ada pula yang berasal dari Jawa Tengah hingga Kalimantan. Asta Tinggi menjadi magnet spiritual yang melintasi batas geografis.

Ritual ziarah dilakukan dengan tertib: membaca doa, tahlil, dan kirim fatihah. Tidak ada berlebihan dalam tradisi ini—yang ada hanya kesantunan khas orang Madura, khusyuk, dan penuh hormat pada leluhur.

Akses dan Lanskap: Puncak Kota yang Menawarkan Panorama

Asta Tinggi berada di atas perbukitan Desa Kebonagung, sekitar 4 kilometer dari pusat kota Sumenep. Jalannya beraspal halus dan bisa dilalui kendaraan roda empat maupun bus.

Saat mencapai puncak, pemandangan kota Sumenep membentang luas:
hamparan sawah, gugusan rumah penduduk, dan garis laut utara yang tampak samar ketika cuaca cerah. Dari ketinggian ini, pengunjung dapat merasakan sejuknya angin serta kedamaian khas Madura bagian timur.

Di sekitar area utama terdapat beberapa gazebo dan tempat duduk, sehingga para peziarah bisa beristirahat sambil menikmati panorama.

Asta Tinggi sebagai Destinasi Wisata Religi

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sumenep mulai menata ulang kawasan ini sebagai destinasi wisata religi. Sejumlah fasilitas diperbaiki:

  • Area parkir yang lebih luas
  • Penunjuk arah dan papan informasi sejarah
  • Perawatan rutin bangunan
  • Taman dan jalur pedestrian

Hasilnya, Asta Tinggi tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga titik wisata edukatif. Banyak guru sejarah membawa muridnya ke sini untuk memahami hubungan kerajaan Sumenep dengan Mataram, Belanda, dan dinamika politik Madura.

Selain itu, fotografer dan pencinta arsitektur menjadikan Asta Tinggi sebagai lokasi favorit. Kombinasi gaya Cina, Jawa, Arab, dan Eropa membuat kompleks ini unik dibandingkan situs makam kerajaan lain di Indonesia.

Kehidupan Sosial: Berkah bagi Warga Sekitar

Keberadaan Asta Tinggi juga memberi dampak ekonomi bagi warga Kebonagung. Banyak warung kopi, pedagang bunga, penjual dupa, hingga penyedia jasa pemandu lokal menggantungkan penghidupan dari arus peziarah.

Beberapa keluarga bahkan turun-temurun menjadi penjaga makam, memelihara kebersihan dan memastikan para peziarah tetap tertib. Mereka bukan hanya penjaga fisik, tetapi juga penjaga tradisi. Mereka menceritakan kisah-kisah lokal kepada siapa pun yang ingin mendengar sejarah panjang Sumenep.

Asta Tinggi: Lebih dari Sekadar Makam

Mengunjungi Asta Tinggi adalah pengalaman yang berbeda. Ia tidak menakutkan, tidak pula menyesakkan seperti pemakaman besar pada umumnya. Justru, ada suasana teduh yang sulit dijelaskan.

Dari setiap batu nisan, ada kisah tentang cinta, perang, diplomasi, dan kejayaan. Dari setiap bangunan, ada jejak kebudayaan yang saling bercampur, menjadi bukti bahwa Madura—terutama Sumenep—pernah menjadi titik pertemuan peradaban.

Asta Tinggi mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang catatan dan tanggal, tetapi tentang manusia yang pernah hidup, berkuasa, dan menanamkan pengaruhnya hingga berabad-abad kemudian.

Destinasi yang Menyatukan Sejarah dan Spiritualitas

Kini, ketika matahari sore perlahan tenggelam di balik pepohonan Kebonagung, kompleks Asta Tinggi kembali diselimuti cahaya keemasan. Para pengunjung turun satu per satu, sebagian masih menyeka air mata haru, sebagian lagi terlihat lega setelah menuntaskan hajat dan doa.

Asta Tinggi bukan sekadar makam raja—ia adalah museum terbuka, ruang ziarah, oase ketenangan, sekaligus simbol kejayaan Kota Keris. Siapa pun yang datang ke Sumenep, rasanya belum lengkap jika belum menjejakkan kaki di bukit sunyi tempat para penguasa beristirahat.

Di antara hembusan angin dan bisik doa, Asta Tinggi terus hidup, menjaga kenangan dan menjadi saksi perjalanan panjang Sumenep sejak empat abad lalu.

Pustaka_Madura

 

© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close