Siapa saja yang berjalan menyusuri Kota Sumenep—dari pusat kota yang ramai hingga gang-gang kecil di perkampungan tua—akan menemukan satu ikon yang seolah hadir di mana-mana: kuda terbang. Ia terpacak sebagai monumen, menghias gerbang-gerbang taman, tergambar pada fasad kantor pemerintah, melekat pada logo organisasi, bahkan muncul dalam kemasan camilan UMKM. Sosoknya begitu dikenal, namun justru karena terlalu akrab, banyak orang tak lagi bertanya dari mana ia berasal, apa maknanya, dan mengapa Sumenep menjadikannya sebagai identitas kolektif.
Padahal, kuda bersayap ini bukan sekadar makhluk fantasi dalam khazanah simbolik masyarakat Sumenep. Ia adalah jejak panjang pandangan kosmologis, mitologi lokal, ingatan sejarah, hingga simbol politik yang terbentuk lintas abad. Kuda terbang bukan hanya hewan ajaib yang muncul dalam cerita kepahlawanan tokoh masa lampau, melainkan representasi gagasan besar mengenai kekuasaan, keluhuran, pelindung, dan transformasi spiritual. Kuda yang melintas di antara dunia realitas dan dunia adikodrati ini telah membentuk satu lapisan penting dalam identitas kebudayaan Sumenep.
Kuda Terbang yang Hidup di Ingatan Kolektif
Dalam pemahaman masyarakat Sumenep masa kini, kuda terbang kerap dikaitkan dengan kisah kepahlawanan Jokotole atau Arya Kuda Panole—dua tokoh yang namanya lekat dengan legenda lokal. Namun, jauh sebelum itu, kuda terbang telah dipandang sebagai tunggangan para dewa. Di banyak cerita Jawa dan Nusantara, kuda bersayap dipahami sebagai kendaraan Batara Wisnu, sang pemelihara alam raya. Ia bukan sekadar hewan, tetapi simbol kekuatan kosmis, penegak ketertiban, dan penjaga keseimbangan dunia. Gambaran ini menunjukkan bahwa imajinasi masyarakat terhadap kuda terbang bersifat spiritual, menautkan bumi dan langit, materi dan ilahi.
Kemudian, citra ini berubah seiring berkembangnya tradisi keprajuritan di Jawa. Kuda bersayap menjadi lambang ketangguhan para kesatria dan raja. Dalam cerita-cerita tutur dari Madura, ia kerap disebut kuda sembrani atau kuda bang—dua istilah yang muncul dalam berbagai versi kisah kepahlawanan. Di Sumenep sendiri, nama kuda terbang semakin populer ketika dikaitkan dengan sosok kesatria paling masyhur dalam tradisi lokal: Jokotole.
Mega Remmeng: Kuda Terbang Sang Kesatria
Kisah Jokotole, sebagaimana dicatat oleh Raden Werdisastra dalam Babad Sumenep, adalah salah satu sumber paling berpengaruh dalam mempopulerkan figur kuda terbang di wilayah ini. Dalam naskah tersebut, Jokotole digambarkan sebagai pahlawan agung yang tak hanya menguasai ilmu kanuragan, tetapi juga memperoleh berkah dalam bentuk seekor kuda sakti pemberian sang paman, Adirasa.
Kuda itu diberi nama Mega Remmeng—yang artinya kurang lebih “awan gelap yang pekat”. Nama yang puitis, seolah menegaskan kesan misterius dan kewibawaan kuda tersebut. Mega Remmeng digambarkan mampu melesat cepat, kuat melampaui kuda manapun, dan memiliki kemampuan terbang yang membuatnya tak tertandingi dalam perang.
Dalam kisah paling populer, Mega Remmeng menemani tuannya dalam pertempuran besar melawan Sampo Tua Lang—atau Dempo Awang—panglima dari negeri tirai bambu yang memiliki bala pasukan tangguh. Pertempuran itu menjadi salah satu titik balik kepahlawanan Jokotole. Di sinilah Mega Remmeng menjadi legenda: ia bukan hanya tunggangan, tetapi rekan seperjuangan yang turut menentukan kemenangan tuannya.
Saking dihormatinya, menurut tradisi lisan yang kemudian dicatat Werdisastra, Mega Remmeng dimakamkan di dekat pusara Jokotole, di Kampung Sa’asa, Desa Lanjut, Manding. Kepercayaan ini menambah satu lapisan sakralitas pada citra kuda terbang: ia bukan lagi sekadar simbol atau tokoh dalam cerita, melainkan dianggap pernah benar-benar “hidup”, menjadi bagian dari sejarah lokal, dan diposisikan sebagai figur yang patut dihormati.
Riwayat Lain: Kuda Terbang dalam Pembacaan Para Peneliti
Menariknya, tidak semua pandangan mengenai asal-usul kuda terbang di Sumenep merujuk pada kisah Jokotole. Beberapa peneliti kolonial Belanda justru melihatnya dari perspektif arkeologis dan sejarah kerajaan-kerajaan Jawa kuno.
Salah satu tokoh yang banyak menulis tentang hal ini adalah Henri MacLaine Pont, arsitek dan peneliti seni bangunan Jawa kuno. Dalam salah satu artikelnya yang terbit di koran Belanda pada akhir 1929, ia menyatakan bahwa kuda terbang bukanlah sosok fiktif, melainkan lambang dari kesatuan pasukan yang berhubungan erat dengan tokoh besar “Tigang Juru”. Tokoh yang dimaksud Pont adalah Arya Wiraraja, mantan Adipati Sumenep yang kemudian memainkan peran penting dalam konflik politik pada masa Majapahit.
Dalam pengamatannya, MacLaine Pont menemukan relief kuda bersayap di situs yang berhubungan dengan era Majapahit. Relief tersebut berada tidak jauh dari relief-relief lain yang menggambarkan adegan perang. Dengan demikian, baginya, kuda terbang adalah simbol militer—tanda pasukan-pasukan yang berada di bawah koordinasi Wiraraja dalam membantu Majapahit mempertahankan eksistensinya.
Pandangan Pont didukung oleh catatan sejarawan Madura legendaris, Zainal Fattah. Dalam bukunya Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-Daerah di Kepulauan Madura, ia menuturkan bahwa dirinya pernah melihat secara langsung simbol kuda terbang pada relief Candi Bajang Ratu ketika berkunjung bersama pegawai Jawatan Purbakala Kolonial. Deskripsinya sangat jelas: seekor kuda bersayap, dua kaki belakang menjejak tanah, dua kaki depan terangkat, dan kepala menoleh ke belakang. Posisi itu lazim ditemui dalam ikonografi hewan istimewa atau simbol kesatriaan pada era Hindu-Buddha.
Temuan ini membuat gambaran mengenai kuda terbang semakin kaya: ia bukan hanya milik kisah Jokotole, bukan pula sekadar artefak simbolik Majapahit, tetapi bagian dari jejaring makna budaya yang luas, melintasi mitologi, sejarah, hingga politik.
Akar Simbolik yang Menguat dari Masa ke Masa
Terlepas dari banyaknya versi dan pembacaan tersebut, satu hal tampak jelas: kuda terbang telah begitu dalam mengakar di Madura, khususnya Sumenep. Penghayatan masyarakat terhadap simbol ini tidak pernah surut, bahkan justru semakin kokoh ketika memasuki era modern.
Jejak historisnya dapat dilacak kembali pada akhir abad ke-18. Saat itu, Penguasa Sumenep Pangeran Natakusuma menciptakan logo kerajaannya dengan menggabungkan dua simbol penting: Kuda Terbang dan Naga Basuki. Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Kuda terbang mencitrakan kelincahan, kekuatan, dan keberanian, sementara Naga Basuki adalah simbol penopang dunia, penjaga keseimbangan, dan representasi kebijaksanaan. Gabungan keduanya mengisyaratkan kekuasaan yang seimbang antara ketegasan dan keluhuran.
Panji-panji pasukan kerajaan Sumenep pun menggunakan simbol kuda terbang. Artinya, lambang ini tidak hanya hidup dalam tataran budaya, tetapi juga menjadi identitas politik dan militer.
Setelah Indonesia merdeka, simbol kuda terbang justru semakin populer. Pada 25 Mei 1965, melalui keputusan DPRD Sumenep nomor 3/II/20DPRD-DR/65/2820, kuda terbang resmi ditetapkan sebagai lambang daerah Kabupaten Sumenep. Penetapan ini menunjukkan bahwa kuda terbang telah melampaui batas cerita dan legenda. Ia menjadi bagian dari wacana pemerintahan, menjadi jati diri administratif, dan mewakili kebanggaan kolektif masyarakat.
Kuda Terbang dalam Lanskap Budaya Kontemporer
Kini, kuda terbang bukan lagi sekadar simbol masa lalu. Ia menjadi visual identitas yang terus direproduksi dalam banyak bentuk:
- patung-patung di alun-alun atau pintu gerbang kota,
- ornamen ukiran di rumah-rumah tradisional,
- logo instansi pemerintah,
- ikon UMKM seperti batik, kuliner, dan kerajinan,
- hingga bagian dari konten kreatif generasi muda.
Simbol ini tidak hanya tampak megah dalam pahatan besar, tetapi juga fleksibel dalam karya seni modern. Ia masuk ke dunia desain, digital art, merchandise, hingga fotografi. Artinya, kuda terbang berhasil menjelma sebagai simbol yang adaptif—mampu berpindah dari konteks kerajaan ke era industri kreatif tanpa kehilangan makna utamanya.
Dalam masyarakat Sumenep sendiri, ikon ini juga menjadi sarana dakwah budaya: mengingatkan bahwa daerah ini memiliki sejarah panjang, warisan kebudayaan yang kaya, serta identitas khas yang membedakannya dari wilayah lain. Kuda terbang bukan hanya memperindah kota, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberanian, kearifan lokal, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta kekuatan spiritual.
Simbol yang Melintasi Zaman
Kisah kuda terbang adalah kisah tentang bagaimana mitos, sejarah, dan identitas suatu masyarakat bertemu, bercampur, dan membentuk simbol yang bertahan lintas generasi. Ia pernah menjadi tunggangan dewa, kesatria, dan lambang pasukan kerajaan. Ia tertuang dalam relief kuno, dihidupkan kembali dalam naskah Babad Sumenep, diapresiasi oleh peneliti asing, dan akhirnya ditetapkan sebagai lambang resmi Kabupaten Sumenep.
Pada akhirnya, kuda terbang adalah gambaran dari perjalanan spirit masyarakat Sumenep sendiri: tegar, lincah, penuh daya juang, dan terus bergerak menembus batas zamannya. Di balik sayapnya terhampar ingatan kolektif yang menyatukan legenda, sejarah, dan kebanggaan daerah. Dan selama simbol itu terus dihayati, kuda terbang tidak akan pernah benar-benar berhenti terbang—ia akan terus mengudara dalam jiwa masyarakat Sumenep, dari masa lalu, kini, hingga masa depan.
(Pustaka_Medura)

