Setelah mendamprat Tumenggung Kanduruwan Ratu Japan segera masuk ke keraton sambil menjinjing bindaga emas yang berisi kepala Pangeran ...


Setelah mendamprat Tumenggung Kanduruwan Ratu Japan segera masuk ke keraton sambil menjinjing bindaga emas yang berisi kepala Pangeran Sumenep didalamnya. Sedangkan para penghadap satu persatu pulang kerumahnya masing-masing. Didalam keraton Ratu Japan selalu menimang-nimang kepala Pangeran Sumenep. Dipandangi dan disentuhnya ia berkali-kali seperti orang sinting layaknya.

Tumenggung Kanduruwan setelah sampai dikepatihan terus menemui isterinya dan bertutur tentang kejadian perang di Sumenep dari awal sampai akhir serta  diceriterakannya pula murka Ratu Japan kepadanya katanya : Aku sekarang mendapat marah dari Ratu dan diusir ke Sumenep bersama seluruh tentaraku. Aku disangka membunuh Pangeran Sumenep dengan maksud untuk mengganti kedudukannya. Jadi aku sekarang terusir dari negara ini untuk selanjutnya menjabat Raja di Sumenep. Maka dari itu segeralah engkau berpakaian takut nanti aku dapat marah lagi.

Raden Ayu Tumenggung selanjutnya segera berpakaian dan bersiap untuk berangkat mengikuti suaminya. Tak lama kemudian datang utusan Ratu yang membawa perintah supaya Tumenggung Kanduruwan segera meninggalkan Japan. Maka dari itu kemudian Tumenggung bersama keluarga dan bala tentaranya segera berangkat ke Sumenep. Pendek ceritera sampailah sekarang Tumenggung Kanduruwan bersama keluarga dan pasukannya di Sumenep. Tumenggung langsung menemui Pangeran Malaja dan Pangeran Jambaringin dan kepadanya diceriterakan semua hal yang menimpa dirinya. Kedua Pangeran itu tercengang dan diam seribu bahasa. Beberapa saat kemudian mereka pamit kepada Tumenggung Kanduruwan untuk pulang kenegaranya masing-masing.

Setelah Tumenggung Kanduruwan duduk sebagai Raja di Sumenep ia membangun dua buah keraton yang didirikan berjejer di kampung Karangsabu desa Karangduak. Kedua bangunan keraton itu menghadap ke selatan berpagar tembok sekelilingnya dan memakai kisi terali terbuat dari batu bermotif cendana ukir. Bangunan pasebannya berundak tiga, pintu gerbangnya dipertinggi. Sedangkan yang diangkat menjadi penjaga pintu gerbang adalah penjaga goa sarang burung karenanya disebut pintu goa.

Sebuah mesjid juga dibangun letaknya disebelah barat alun-alun. Disekeliling alun-alun itu ditanami pohon beringin yang teratur berderet sampai ke sebelah barat mesjid. Sejak pemerintahan Sumenep dipimpin Tumenggung Kanduruwan masyarakat semakin makmur dan tak kurang suatu apa. Para pedagang dari negara lain banyak berdatangan memperdagangkan beraneka ragam barang. Dengan begitu rakyat Sumenep semakin mencintai Tumenggung Kanduruwan meski ia berasal dari lain negara.

Setelah Tumenggung Kanduruwan agak lama memerintah negara Sumenep dan sudah berkali-kali pula ia menghadap ke Japan maka kedua puteranyapun sekarang sudah mulai menginjak dewasa sehingga merasa sepantasnya kalau mereka ditawari untuk bertunangan. Tetapi anak yang tertua yaitu Raden Banten menolak dengan alasan ia lebih ingin memperdalam ilmu dan menyepi. Tempat yang sering digunakan untuk berhening diri (nyepi) Raden Banten itu ada disebelah barat kota dibawah sebuah pohon Nangger yang dinamai pangongngangan (menjenguk,ind.) dan dibawah pohon Nangger itu ada goanya.

Sedangkan adik Raden Banten yaitu Raden Wetan ditunangkan dengan puteri Pangeran Nugraha yang bungsu dari Jambaringin yang bernama Ratna Taluki. Sebelum dipertemukan dengan Ratna Taluki Raden Wetan telah beristeri puteri Pangeran Sumenep (Siding Puri). Sedangkan puteri Siding Puri yang tertua diperisteri Pangeran Batuputih dan yang bungsu diperisteri Kyai Rawan yaitu putera Andasmana cucu dari Pangeran Bukabu. Kyai Rawan ini berdukuh di Sendir sekarang menjadi desa wilayah Kecamatan Lenteng Kawedanan Timur Daya. Di desa Sendir ini ada kepala perdikannya yang bertugas untuk merawat makam Kyai Rawan dan keturunannya.

Sekarang diceriterakan lagi bahwa Raden Wetan mempunyai putera laki-laki bernama Raden Kedduk (Keddhu’). Setelah berputera Raden Kedduk, Raden Wetan kawin dengan puteri Pangeran Jambaringin yaitu Ratna Taluki tadi. Beberapa saat setelah perkawinannya Raden Wetan pamit kepada mertuanya yaitu Pangeran Jambaringin (Pamekasan) untuk memboyong isterinya ke Sumenep haturnya : Karena kami sudah lama berada di Jambaringin maka perkenankan kami untuk pulang ke Sumenep. Kami rindu pada ayah dan anak kami disana, sekaligus puteri ramanda akan kami bawa. Pangeran Jambaringin : Kalau demikian kuijinkan kamu pergi. Aku mohon padamu cintailah isterimu Ratna Taluki semoga kalian bahagia sampai akhir nanti.

Seterusnya Pangeran Jambaringin juga memberi nasihat kepada anaknya katanya : Ratna Taluki anakku, hendaknya kamu selalu menajadi orang yang penurut terhadap suamimu. Selain itu sebentar lagi kau akan jauh dariku maka berhati-hatilah. Seandainya suamimu marah jangan sekali-kali kau melawan sebab perempuan yang berani kepada suami tidak akan selamat didunia maupun diakhirat. Jadi ikutilah perintah suamimu asal bukan perintah yang menjurus pada hal-hal yang maksiat.
Sudah banyak contoh tentang perempuan yang tidak penurut terhadap suaminya dan akhirnya menyesal sendiri. Dan lagi aku ingin mengingatkan padamu karena suamimu sekarang sudah mempunyai isteri dan sudah punya anak pula maka hendaknya kau bersabar dan mengalah karena kamu adalah isteri yang muda.

Orang yang suka mengalah pada akhirnya akan terselamatkan dirinya. Jangan engkau suka mengambil fitnah supaya dirimu terjaga. Karena sudah lazim dijaman ini bahwa banyak perempuan yang saling cakar dengan madunya hal itu hendaknya engkau hindari. Ingatlah bahwa engkau keturunan orang baik-baik maka jangan sampai dicela orang. Kalau bisa tingkatkan sifat-sifat kebaikan itu disana selain tatakerama terhadap suami. Kalau ada ucapan jelek jangan sampai terdengar oleh suamimu.

Singkat ceritera Raden Wetan beserta isterinya sekarang sudah berangkat ke Sumenep. Disana lalu ditemuinya ayah dan isteri tuanya yaitu puteri Pangeran Siding Puri yang pada saat itu ikut menyambut kedatangannya. Isteri tua Raden Wetan selanjutnya duduk berdua dengan madunya Ratna Taluki seperti saudara layaknya. Tumenggung Kanduruwan melihat kedua menantunya itu sangat bangga hatinya. Setiap hari kedua isteri Raden Wetan itu tetap akur-akur saja seperti saudara seayah dan seibu. Sungguh nyata bahwa keduanya memang perempuan yang arif dan berbudi luhur.

Setelah beberapa waktu perkawinan Raden Wetan dan Ratna Taluki membuahkan keturunan seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Rajasa. Wajah Raden Rajasa ini konon amat mirip dengan wajah kakaknya yaitu Raden Kedduk. Raden Rajasa kemudian diasuh dan diambil anak oleh pamannya yaitu Raden Banten.

Beberapa waktu kemudian diceriterakan bahwa Tumenggung Kanduruwan sakit cukup lama sedangkan yang menjaga saat sakitnya adalah isteri, menantu, anak serta bala sentananya. Pada saat sakitnya dia sempat menasihati kedua puteranya katanya : Kalau besok atau lusa aku mati maka aku minta pada kalian rukun-rukunlah selalu.

Sebab orang yang selalu berselisih dengan saudara itu tidak baik dan akan menimbulkan musibah besar pada dirinya masing-masing. Orang yang selalu akur akan menjadi pohon kebaikan. Umpamakan sebuah sapulidi. Andainya ia hanya sebatang tak mungkin dirinya mampu membersihkan sampah dan juga akan gampang patah. Dari sebab akur (bersatu) maka serapuh-rapuhnya lidi akan menjadi kuat dan tidak akan ada orang yang bisa mematahkan sebuah sapulidi.

Kalau nanda yang berangkat maka apabila Patih Japan tak bijak tentu akan nanda rampas dengan kekerasan melalui perang sampai dihancurka...



Kalau nanda yang berangkat maka apabila Patih Japan tak bijak tentu akan nanda rampas dengan kekerasan melalui perang sampai dihancurkannya tentara Japan itu. Raden Ayu Pangeran Sumenep : Sudahlah jangan paksakan dirimu. Biarlah aku saja yang pergi kesana. Kalau engkau yang kesana tentu bala tentara Japan akan curiga disangka kamu akan memulai perang lagi. Kalau demikian keadaannya maka perang akan berkobar lagi dan akulah yang akan bertambah susah sebagaimana yang kukatakan  tadi.

Pendek ceritera Raden Ayu Pangeran Sumenep dan Raden Ayu Patih Tankondur kemudian berangkat untuk memenuhi maksudnya menemui Patih Kanduruwan diiringi beberapa emban dan putera Pangeran Sumenep almarhum yang tiga orang itu. Disepanjang perjalanan kedua perempuan itu tak putusnya menangis dan memanggil-manggil nama suaminya. Taklama kemudian sampailah keduanya ditempat yang dituju yaitu bekas medan perang. Diantara mayat yang bergelimpangan keduanya berusaha menemukan suaminya.

Digolek-golekkannya mayat korban perang itu satu persatu sambil menangis tetapi yang dicari belum didapatkannya. Setelah beberapa tentara Japan melihat ada dua orang perempuan dan pengiringnya berusaha mencari seseorang diantara tumpukan mayat maka mereka memberitahu Tumenggung Kanduruwan katanya : Ki patih, hamba melihat dua orang Raden Ayu bersama tiga anak kecil dan beberapa pengiringnya sedang mencari-cari mayat seseorang di bekas medan pertempuran. Mereka kedengarannya menyebut-nyebut nama Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur disela-sela tangisnya.

Mendengar kabar itu Tumenggung Kanduruwan lalu terdiam dan menangis. Selanjutnya ia segera memerintahkan kepada pembawa kabar katanya : Kalau memang demikian maka aku perintahkan kalian untuk menghadapkan orang itu kemari dan beritahu bahwa mayat Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur ada disini. Setelah itu kalian dan teman-teman yang lain kutugaskan menyucikan mayat kedua orang itu, membungkus dan membawanya kekota Sumenep. Dan sekarang sampaikan uang ini kepada Raden Ayu sebesar lima ratus reyal dan sampaikan pula salam takzim dariku kepada mereka. Aku minta maaf bahwa bukan maksudku membunuh pamanda Pangeran Sumenep dan pamanda Patih Tankondur. Aku hanya menjalankan perintah Ratu Japan. Seandainya kedua pamanku terutama Pangeran Sumenep dengan suka hati mau kembali ke Japan mungkin peristiwa ini takkan terjadi.

Utusan itu lalu berangkat menuju ke bekas arena pertempuran itu untuk menemui kedua isteri pembesar perang negara Sumenep itu. Mereka juga membawa beberapa peralatan seperti keranda payung delapan buah serta beberapa bala sentana untuk mengusung jazad keduanya. Setelah kedua Raden Ayu itu melihat banyak orang datang menuju kepadanya maka mereka lalu berkata : Hai orang-orang Japan, mungkin suatu kesempatan telah datang pada kami. Kami kemari memang bermaksud mengikuti suami kami kealam baka. Sekarang, jangan kalian menunggu saat lagi mari bunuhlah kami supaya dapat segera lepas dari penderitaan yang berkepanjangan ini.

Utusan sambil menghaturkan sembah berkata : Gusti Raden Ayu, sebenarnya kami diutus nanda Raden Ayu yaitu Tumenggung Kanduruwan. Selanjutnya utusan tadi menyampaikan segala pesan dan tugas yang diembannya disamping disampaikannya pula kiriman uang sebanyak lima ratus reyal kepada keduanya. Kedua Raden Ayu itu menyuruh embannya untuk menerima kiriman uang itu dan selanjutnya berkata : Katakan kepada Tumenggung Kanduruwan bahwa aku menyampaikan banyak terimakasih semoga dia akan selalu kasih pada kami.

Permohonan maafnya juga aku terima. Sekarang mari kami beritahu dimana mayat Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur berada. Utusan selanjutnya menunjukkan dimana jenazah kedua pemuka perang itu berada dan setelah dilihatnya mayat suaminya itu tanpa kepala isteri Pangeran Sumenep lalu pingsan. Setelah siuman ia menjerit dan memeluk kedua kaki suaminya.

Pendek ceritera kemudian kedua jenazah sudah diangkat dan dimandikan. Setelah suci kemudian dibungkus dan diberi wewangian dan keduanya lalu dimasukkan kedalam keranda masing-masing dan dipikul dibawanya kekota. Iring-iringan pembawa jenazah tersebut konon diikuti para Menteri bala sentana serta para Arya dari Japan.

Sesampainya dikota kedua jenazah tersebut langsung disemayamkan dikeraton. Para pengiring dari Japan itu mengikutinya sampai penguburan selesai. Jenazah Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur itu dikebumikan didekat makam Sunan Paddusan sedangkan Patih Tankondur berada disisi Pangeran Sumenep (Siding Puri) berjejer. Kuburan itu lazim disebut orang sebagai asta (makam) Siding Puri. Setelah penguburan itu bala tentara Japan pulang lagi ke baraknya dan disana mereka menceriterakan peristiwa penguburan Pangeran Sumenep dari awal sampai akhir kepada Tumenggung Kanduruwan.

Setelah isteri Pangeran Sumenep (Siding Puri) wafat jenazahnya juga dikubur di komplek makam suaminya (disebelah timurnya). Sesudah perang berakhir Tumenggung Kanduruwan mengumpulkan semua lasykarnya untuk pulang kembali ke Japan. Namun Pangeran Malaja dan Pangeran Jambaringin diperintahkan untuk menetap sementara di Sumenep untuk membenahi rakyat Sumenep selama negara itu belum ada Raja penggantinya.

Tidak diceriterakan keadaan diperjalanan Tumenggung Kanduruwan bersama orang-orangnya sekarang sudah sampai di Japan dan langsung masuk keraton. Saat itu kebetulan Ratu Japan sedang duduk di setinggil dengan dihadap para punggawa laki-laki dan perempuan. Tumenggung Kanduruwan segera menghadap Ratu Japan meski diliputi rasa takut dan khawatir karena perintah untuk menangkap Pangeran Sumenep hidup-hidup tak dapat ia laksanakan.

Dengan tekad besar ia memberanikan diri dan sambil bersila dihadapan Ratu Japan Tumenggung Kanduruwan berkata sambil menunduk : Kami tidak beruntung Paduka Ratu !? Seribu murka Paduka pada kami biarlah kami pikul. Pangeran Sumenep ternyata tak dapat kami tangkap hidup-hidup sebagaimana yang diinginkan Ratu. Beliau tetap tak mau kembali ke Japan malahan dengan berani menantang perang melawan Japan.

Setelah kami layani ternyata negara Japan banyak menanggung kerugian terutama banyaknya bala tentara yang tewas tak kepalang tanggung. Selain mereka tewas di pertempuran juga banyak yang mati karena terserang penyakit yang sedang merajalela sebagaimana yang telah kami laporkan kepada Paduka Ratu beberapa waktu yang lalu.

Sedangkan pada saat itu semangat perlawanan Pangeran Sumenep yang didampingi Patihnya Tumenggung Tankondur seperti setan layaknya. Mereka tak mempan senjata. Seandainya Pangeran Sumenep tetap hidup maka menurut kami bala tentara Japan mungkin akan habis ditewaskannya. Maka dari itu lalu kami sependapat dengan para pemuka perang untuk mengakali sendiri penangkapan Pangeran itu. Para Bupati dan bala sentana sempat mendengarkan percakapan Tumenggung Kanduruwan tersebut.

Mendengar laporan Patihnya Ratu Japan sangat murkanya. Tumenggung Kanduruwan didampratnya habis-habisan dan Ratu Japan kemudian meminta bidaga emas yang berisi kepala Pangeran Sumenep kepada Tumenggung Kanduruwan. Setelah dibuka dan dilihat isinya Ratu Japan merasa miris hatinya dan didampratnya Tumenggung Kanduruwan katanya : Semua pekerjaan yang telah kamu lakukan aku hargai. Tetapi yang menjadikan aku tak senang adalah kelancangamu mengubah perintahku dengan memenggal kepala Pangeran Sumenep seperti ini. Maka dengan perbuatanmu ini sudah nyata benar bahwa kamu adalah seorang Patih yang bodoh dan tak becus mengemban perintah.

Menurutku tidak ada pekerjaan yang sulit kalau yang menjalankannya mamiliki tekad tulus dan kesungguhan hati. Tidak ada perjalanan yang jauh kalau yang melakukan perjalanan benar-benar ingin sampai ketempat tujuan. Yang demikian engkau harus memikirkan dan menyimpannya dalam lubuk hati yang dalam. Kalau engkau memang menghayati perintahku apa perlunya engkau memotong kepala Pangeran Sumenep kecuali ada maksud lain dibalik itu.

Mungkin salah satunya keinginanmu untuk merebut kedudukannya sebagai Raja di Sumenep. Kalau memang begitu maksudmu maka pergilah kamu dari negara Japan ini. Bawa semua anak dan isterimu serta seluruh bala tentaramu jangan sampai tersisa. Aku tak ingin lagi melihat tampangmu disini. Masih banyak orang yang bisa menggantikan kedudukanmu dan yang masih bisa patuh menjalankan perintahku. Sekarang pergilah kamu dan penuhi kehendakmu untuk menggantikan kedudukan pamanmu di Sumenep.

Sekarang sudah lima bulan kita berperang dengannya dan bala tentara Japan semakin hari semakin menipis jumlahnya. Seandainya perang ini ...


Sekarang sudah lima bulan kita berperang dengannya dan bala tentara Japan semakin hari semakin menipis jumlahnya. Seandainya perang ini tetap dilajutkan saya yakin tentara Japan akan habis. Seandainya Pangeran Sumenep bisa tertangkap tentu dia takkan hidup. Maka dengan itu sudah pasti saya akan mendapat murka pula. Karena itulah maka sekarang saya perintahkan kepada bala tentara dengarkanlah.

Untuk menangkap Pangeran Sumenep kita sudah berusaha sedapat mungkian bisa memboyongnya dalam keadaan hidup. Tetapi anda telah tahu tentang perlawanan beliau yang tak pernah padam. Saudara-saudara kita telah banyak yang tewas dalam peperangan disamping terbunuh pula oleh penyakit yang merajalela.

Dari sebab itu maka sekarang masalah penangkapan Pangeran Sumenep saya serahkan secara bulat kepada kalian. Apapun usaha yang dilakukan saya hargai meskipun Pangeran Sumenep nanti tertangkap dalam keadaan mati sekalipun. Biarlah semua murka Ratu pada kalian akan saya tanggung.

Para Bupati beserta tentaranya merasa lega mendengar perintah Tumenggung Kanduruwan itu dan menyatakan sanggup untuk menangkapnya meskipun harus menanggung segala murka Ratu. Setelah itu para Bupati mengumpulkan seluruh sisa lasykarnya lengkap dengan perkakas perangnya dan langsung berangkat mengepung Pangeran Sumenep. Tumenggung Kanduruwan mengutus seorang utusan untuk melaporkan masalah peperangan kepada Ratu Japan.

Pangeran Sumenep bersama Tumenggung Kanduruwan sedang bersiap pula untuk melawan tentara Japan dengan bala sentana yang hanya berjumlah dua puluh empat orang termasuk  dirinya. Sedangkan tentara Japan pada saat itu masih berjumlah ribuan. Melihat banyaknya tentara Japan mengepung, keduanya semakin nekad saja. Mereka mengamuk bersama dan tak terpisahkan sama sekali sampai-sampai bala tentara Japan banyak pula yang tewas.

Tetapi meskipun orang sakti mandraguna macam apapun kalau menghadapi musuh yang jumlahnya ribuan tentu mereka akan kalah. Kalaupun mereka tak terluka pasti akan mati. Tujuh hari lamanya perlawanan itu berlangsung. Dan setelah kedua puluh dua sentananya tewas maka kedua pemimpin perang itu lalu pasrah kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah bala tentara Japan melihat tentara Sumenep hanya tinggal dua orang serempak mereka maju. Ada yang melepas anak panahnya ada pula yang memukulnya dengan gada dan ada yang menyerang dengan tombak dan pedangnya. Namun kedua pemuka perang itu masih sempat menangkis dan melakukan perlawanan. Berpuluh orang terkena senjatanya. Pada saat itu keringat keduanya mulai membasahi badannya. Kemudian wangsit datang pada Pangeran Sumenep bersamaan dengan dilihatnya kelebat sang malaikat maut. Kelelahan semakin jelas pada keduanya setelah itu meraka mundur dan bersembunyi di bawah sebatang pohon.

Disana Pangeran Sumenep masih sempat menangis dan diantara tangisnya berkata : Oh isteriku aku sekarang sudah sampai pada ajalku. Kupasrahkan anak-anak kepadamu karena mereka masih kecil-kecil dan jangan sampai mereka kau sia-siakan. Setelah itu lalu berkata kepada Patih Tankondur : Mari kita bersama berdoa kepada Allah semoga tetaplah agama Islam pada diri kita. Keduanya lalu sepakat dan mengangkat kedua belah tangannya.

Oleh karena itu Pangeran ini kemudian lazim disebut orang sebagai Pangeran Siding Puri. Tak seberapa lama datanglah Demang Wirasasmita lalu secepat kilat menerkam leher Pangeran Siding Puri dan memenggal kepalanya. Kepala Siding Puri itu kemudian ditempatkan disebuah bindaga emas dan dibungkus sutera kuning lalu diserahkan kepada Tumenggung Kanduruwan.

Saat menerima bungkusan dari Demang Wirasasmita dan membukanya Tumenggung Kanduruwan terkejut dan tanpa sepatah katapun kaluar dari mulutnya. Airmatanya meleleh dan berkata dalam hatinya : Ya Allah perbuatan apakah ini ?

Selama kami hidup baru kali ini kami jumpai perbuatan seperti ini. Semoga Engkau tak memberi hukuman padaku karena kami hanya memikul sebuah perintah dari Ratu Japan.

Sekarang diceriterakan setelah isteri Pangeran Sumenep (Siding Puri) beserta isteri Tumenggung Tankondur mendengar berita tentang kematian suaminya dalam peperangan itu lalu pingsan. Setelah sadar ia langsung merangkul anak-anaknya sambil menjerit : Oh anakku apa jadinya sekarang ? Ayahmu telah benar-benar meninggalkan kita semua. Oh betapa aniayanya orang-orang Japan itu. Seisi keraton ikut sedih dan menangisi kepergian Raja dan Patihnya. Suaranya ribut seperti pasar terbakar.

Mendengar tangisan keduanya Pangeran Batuputih tak tega dan menangis pula sembari memerah mukanya menahan amarah. Ia lalu membujuk halus : Ibu mari peristiwa ini jangan terlalu dipikir berlarut-larut. Peristiwa ini jangan sampai menjadi rusaknya kesehatan ibu. Lebih baik ibu ingat bahwa takdir itu tidak akan bergeser seujung rambut-pun. Meski Ramanda tak pergi berperang tapi kalau sudah sampai saatnya pastilah kematian akan datang padanya. Perang ini hanya sebagai perantara saja. Sekarang perkenankan nanda berangkat bersama bala tentara Sumenep untuk menuntut balas. Nanda takkan puas kalau nanda gagal menghancurkan bala tentara Japan.

Mendengar permintaan Pangeran Batuputih isteri Pangeran Sumenep melompat menghalanginya sambil berkata : Oh anakku jangan kau lakukan itu. Permintaanku padamu jangan engkau berperang karena engkau masih belum cukup umur menyongsong kematian. Pangeran Batuputih : Benar apa kata ibu tetapi karena nanda juga bergelar seorang Pangeran dan keturunan kepala perang apalagi Ramanda masih merupakan darah daging nanda maka malu rasanya hati ini kalau nanda tak membalas kematiannya. Disuatu saat nanti semua orang akan mencemooh nanda dan keturunan nanda dan menyangkakan bahwa sebagai seorang Pangeran tapi takut menantang maut. Akhirnya mereka akan menjuluki nanda sebagai Pangeran berjiwa banci.

Raden Ayu Pangeran Sumenep : Perkataanmu itu benar dan aku bersyukur atas jiwa kepahlawananmu untuk membela suamiku dimedan perang. Tetapi kalau kamu tetap kukuh akan maksudmu maka aku sangat keberatan. Apalagi kalau  mengingat pesan almarhum tentang aku dan anak-anakku yang telah dititipkan kepadamu. Kamu sudah dianggap sebagai pengganti dia olehnya. Maka apakah sekarang engkau memaksa untuk menyongsong maut? Seandainya kamu celaka dan menemui ajal disana sedangkan kami masih dikaruniai panjang umur disini maka siapakah yang akan melindungi dan merawat aku dan anak-anakku ? Tentu nanti kami akan merana sepanjang masa. Jadi pertimbangan itulah yang bisa aku berikan saat ini lebih baik engkau berada disini saja dan biarlah aku yang akan berangkat menemui Patih Japan dan meminta agar jenazah keduanya tidak mereka bawa ke Japan.

Pangeran Batuputih : Kalau mendapat ijin bunda maka perkenankan nanda saja yang menghadap Patih Japan untuk mendapatkannya. Ibu adalah seorang perempuan maka tak pantas rasanya bila dilihat orang. Lagi pula kalau Patih Japan merampas jenazah Ramanda tentu ibu tak akan bisa merebut dari tangannya karena tenaga perempuan bukan tandingannya.

Tak lama kemudian berlangsunglah pertempuran dengan serunya. Pangeran Sumenep bersama Patih Tankondur secara serempak menyerang ditengah...


Tak lama kemudian berlangsunglah pertempuran dengan serunya. Pangeran Sumenep bersama Patih Tankondur secara serempak menyerang ditengah-tengah gelombang manusia. Musuh yang berhasil mereka tebas bergelimpangan seperti batang padi tertebang. Bunyi keris dan pedang berdentang membisingkan telinga diiring suara teriakan semangat dan rintihan kesakitan berbaur seperti deru angin. Bala tentara Sumenep semakin bersemangat membunuh musuh-musuhnya. Sampai-sampai karena penuhnya manusia dimedan peperangan itu kawan maupun lawan berbaur menjadi satu  Kacaulah peperangan bahkan sudah tak dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan.

Pangeran Sumenep semakin lama semakin lemah tetapi semangat bertempurnya semakin beringas menjadi-jadi. Para pembesar Japan konon banyak yang tewas  sedangkan sebagian lagi merasa gentar menghadapi Pangeran ini. Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur setelah mengetahui kegentaran musuhnya lalu sesumbar katanya : Ayo maju kemari wahai pembesar Japan. Kalau kalian nyata berperangai jantan jangan adu kekuatan bala tentara. Ayo kita berhadapan antar penghulu perang.

Diufuk barat matahari sudah siap menuju peraduannya. Langit-pun mulai menampakkan warna kemerahan. Disitulah perang dihentikan dan masing-masing mundur kebaraknya. Para Bupati menghitung tentaranya masing-masing. Terbunuhnya tentara Japan konon berjumlah ribuan dan ratusan yang luka-luka. Sedangkan bala tentara Sumenep yang terbunuh hanya berkisar ratusan dan puluhan yang luka-luka. Dibarak pasukan Japan Patih Kanduruwan minta pendapat kepada para Bupatinya dan bala sentana lainnya untuk mencari cara bagaimana memenangkan peperangan dan berhasil membawa Pangeran Sumenep ke Japan dalam keadaan hidup. 

Bupati : Kalau menjadi perkenan paduka lebih baik mari hentikan peperangan ini selang beberapa hari. Selanjutnya kita utus salah seorang untuk memberi kabar kepada Ratu Japan bahwa dengan jalannya perang yang demikian tidak mungkin kita bisa menangkap Pangeran Sumenep dalam keadaan hidup. Kalau peperangan ini masih tetap dilanjutkan sebagaimana keinginan paduka Ratu maka tak ayal bala tentara Japan akan lumat tak bersisa. Sebagaimana kita tahu dan melihat perlawanan Pangeran Sumenep yang mengamuk seperti setan tadi maka kami kira orang seperti itu tak patut kita lawan. Lebih baik kita harus bisa mencari jalan lain untuk dapat membujuk hatinya supaya kita semua selamat.

Tumenggung Kanduruwan lalu marah katanya : Saya tidak suka untuk menghentikan peperangan ini kecuali Pangeran Sumenep sudah tertangkap. Japan masih tak kurang prajurit. Seandainya  bala tentara yang ada sekarang hancur semuanya maka saya tidak khawatir terhadap kekalahan seperti itu karena negara Japan masih banyak punya tentara yang bisa diandalkan.

Keesokan harinya lasykar kedua negara itu bertempur lagi. Semangat Pangeran Sumenep bersama bala tentaranya semakin nekat. Pada hari itu lasykar yang terbunuh dipihak Japan semakin banyak bahkan lebih banyak dari korban yang kemarin. Setelah pertempuran berlangsung selama sebulan maka korban dari pihak Japan separuh dari tentaranya telah tewas. Pada suatu hari Tumenggung Kanduruwan berembuk lagi dengan bala sentananya disamping mengutus salah seorang untuk memberi laporan kepada Ratu Japan tentang halnya perang dan tewasnya separuh dari tentara Japan.

Setelah Ratu Japan mendengar pesan dari utusan Tumenggung Kanduruwan seketika ia tercengang. Selanjutnya ia memerintahkan untuk mengumpulkan para prajurit dan disusulkannya ke Sumenep. Jumlahnya sepuluh ribu lebih, bahkan setiap bulan ia menyusulkan lagi sejumlah tentaranya ke peperangan itu. Ia tidak lagi memikirkan kerugian negaranya asal terkabul apa yang diinginkannya. Jalannya peperangan konon sudah empat bulan lamanya. Tetapi Pangeran Sumenep bersama tentaranya tidak patah semangat.

Oleh karena itu Tumenggung Kanduruwan lalu mengadakan perembukan lagi untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya menangkap Pangeran Sumenep dalam keadaan hidup. Setelah rembukan selesai maka diperoleh kesepakatan bahwa untuk mengatur siasat pasukan Japan diperintahkan mundur dan membuat benteng di desa Moncek. Tempat itu sekarang dinamai Kampong Tangsi dan masih ada.
Melihat mundurnya tentara Japan Pangeran Sumenep beserta bala tentaranya bersuka-ria. Dengan mundurnya tentara Japan itu maka tentara Sumenep menyangka bahwa mereka sudah kembali pulang ke Japan. 

Oleh karenanya Pangeran Sumenep memerintahkan agar sebagian besar tentaranya kembali ke kota untuk berjaga-jaga disana. Atas perintah Pangeran sebagian besar tentara Sumenep kemudian pulang sedangkan Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur didampingi bala sentana sebanyak tiga puluh orang tetap berada dibentengnya.

Setelah Tumenggung Kanduruwan mendengar kabar bahwa yang tinggal dalam benteng pasukan Sumenep hanya Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur disamping hanya segelintir bala sentananya maka ia segera memerintahkan tentaranya untuk segera mengepung benteng dan menangkap Pangeran Sumenep. Pada saat itu seorang Patihnya berkata bahwa Pangeran Sumenep menurut pendapatnya tidak mungkin bisa ditangkap hidup-hidup. Tumenggung Kanduruwan lalu mengeluarkan perintah dan pengumuman terhadap bala tentaranya katanya : Siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Sumenep maka akan mendapat hadiah besar dariku. Mendengar itu bala tentara Japan saling berlomba untuk menangkap sang Pangeran.

Setelah Pangeran Sumenep sadar akan keadaannya bahwa mereka sedang terkepung musuh maka melompatlah dia diiringi Patih Tankondur keluar benteng. Keduanya terus mengamuk lagi disusul oleh ketiga puluh orang bala sentananya. Berhari-hari perlawanan itu berlangsung.

Pada saat itu disekitar areana pertempuran muncul wabah penyakit. Tentara Japan yang terserang penyakit itu seperti jika pagi ia terjangkit maka malam harinya akan menemui ajalnya. Pada saat itu para Bupati Japan mulai khawatir pikirnya : Seandainya perang bisa dimenangkan aku tidak merasa gembira karena meskipun menang tentu tentara Japan akan musnah terkena penyakit. Mungkin ini hukuman dari Allah.

Di keraton Sumenep setelah Pangeran Batuputih mendengar kabar bahwa Pangeran Sumenep diserbu lagi oleh tentara Japan ia memerintahkan supaya para prajurit Sumenep berkumpul lagi dan menyusul membantu perjuangan Rajanya. Pada waktu itu dikubu pertahanan Japan Tumenggung Kanduruwan resah pikirannya bila mengingat perintah Ratunya. Tapi dirinya sudah tak punya pilihan apalagi perlawanan Pangeran Sumenep semakin hari semakin menjadi.

Pikirnya : Aku sudah empat bulan lamanya mencari akal supaya aku berhasil menangkap Pangeran Sumenep dalam keadaan hidup. Tetapi upaya itu sia-sia bahkan tentara Japan semakin hari semakin berkurang jumlahnya sedangkan Pangeran Sumenep masih belum ada tanda-tanda menyerah. Setelah Tumenggung Kanduruwan berpikir demikian lalu memerintahkan para Bupati untuk berkumpul lagi katanya : Mungkin dengan keputusan ini saya akan mendapat marah dari Ratu akibat perang ini. Pertama, disangka saya kurang setia. Kedua, kalau dikatakan begitu memang benar karena saya merasa tak tega menangkap Pangeran Sumenep yang masih paman saya sendiri. Karena itu saya merasa bingung memikirkannya. Apalagi Pangeran Sumenep diminta untuk ditangkap hidup-hidup. Namun saat ini beliau tidak mematuhi perintah dan bahkan Pangeran Sumenep memilih mati ketimbang menyerah.

Sesampainya pada giliran Raja ke III dari-nya akan tersambung lagi dengan keturunan nanda melalui Raja Sumenep yang bernama Pangera...


Sesampainya pada giliran Raja ke III dari-nya akan tersambung lagi dengan keturunan nanda melalui Raja Sumenep yang bernama Pangeran Lor atau Raden Rajasa. Setelah tujuh turunan dari cucu paman Sunan Paddusan lalu bergantilah lagi dari keturunan nanda sebagai Raja di Sumenep. Tetapi dari kedua keluarga tidak akan berpisah sama sekali sampai pada akhirnya. Pangeran Sumenep juga meminta : Selain dari itu pinta nanda kepada bibi seandainya nanda nanti sampai pada ajal maka sudilah dikubur didekatnya. Serta kalau mendapat ijin bibi pertemukanlah anak nanda dengan cucu pamanda Sunan Paddusan yaitu Pangeran Batuputih karena dia masih merupakan daging sendiri.

Setelah isteri Sunan Paddusan mendengar apa yang diminta Pangeran Sumenep lalu menangis sambil berkata : Anakku Pangeran Sumenep, hendaknya kamu jangan bimbang dan khawatir semua permintaanmu akan kukabulkan. Juga jenazah pamanmu ini aku pasrahkan kepadamu dan lakukanlah apa kemauanmu itu. Mendengar permintaannya dikabulkan Pangeran Sumenep sangat gembira lalu memerintahkan orang-orangnya untuk segera menguburkan jenazah Sunan Paddusan tadi. Setelah penguburan selesai para pengiring jenazah Sunan Paddusan yang dari Batuputih pulang semuanya yang tinggal hanya Pangeran Batuputih karena keinginannya untuk membantu ikut berperang melawan tentara Japan. Namun karena dirinya masih muda-belia dan umurnya masih empat belas tahun waktu itu ia tak diijinkan apalagi para punggawanya juga tidak setuju.

Oleh karena itu dia hanya dipasrahi untuk menjaga istana saja. Tapi Pangeran Batuputih hasratnya masih kuat utnuk ikut berperang dengan maksud sebagai tambahan pengalaman. Mendengar permintaan Pangeran Batuputih Pangeran Sumenep membujuknya katanya : Hasratmu untuk ikut berperang sangat aku hargai. Namun karena engkau masih muda maka ijinkan aku meminta dan berharap lebih baik kamu diistana saja karena disana sekarang tidak ada seorang pria-pun yang patut. Maka kalau engkau tak berat hati wujudkanlah seperti apa yang aku minta kepada bibi tadi. Kalau nanti aku benar-benar terjemput ajal maka bawalah isteri dan anakku ke Batuputih karena disini tentu diganti Raja yang lain.

Pangeran Batuputih : Kalau tak keberatan kami akan ikut saja untuk sekedar dapat membantu Pangeran dalam pertempuran. Meskipun kami masih muda namun takkan was-was untuk dapat menghancur-leburkan tentara Japan. Pangeran Sumenep : Ooh, jangan engkau takabur takutlah akan hukum Allah. Tentara Japan ini jumlahnya ribuan. Hanya aku minta padamu doa semoga aku mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat juga seluruh lasyakar dan rakyatku. Atas kerelaanmu menyertaiku berperang sangatlah aku berterimakasih.

Tapi karena kakanda Patih Tankondur sudah ikut maka cukuplah dia saja. Kalau kamu juga ikut maka aku merasa keberatan. Kalau semua kita tewas maka siapa yang akan merawat isteri dan anak-anakku ? Sudah tentu mereka akan merana nantinya. Pangeran Batuputih : Nasihat Pangeran itu memang tidak keliru sedikitpun tetapi karena kami juga bergelar Pangeran maka kami merasa malu kalau tidak ikut berperang. Apa kata orang nanti kalau kami dicemoohkan sebagai Pangeran yang berjiwa banci. Pangeran Sumenep : Apa katamu itu memang benar. Tapi mungkin pada hari yang lain kamu juga akan memangku perang yang lebih besar dari peperangan ini.

Pendek ceritera Pangeran Sumenep sekarang kembali lagi ke keraton dengan membawa serta Pangeran Batuputih. Melihat kejadian itu isteri Pangeran Sumenep merasa riang hatinya karena disangkanya peperangan telah usai. Pangeran Sumenep lalu berceritera tentang ikhwalnya ia kembali lagi ke keraton katanya : Isteriku, mungkin perasaanmu sekarang seperti mendapat berkah segunung emas karena tadi ditengah perjalanan aku bertemu dengan iring-iringan jenazah paman Sunan Paddusan.

Maka sekarang aku akan menitipkan Pangeran Batuputih supaya dijadikan penggantiku kelak terutama dalam merawat dirimu dan anak-anak serta mbakyu Patih. Ikutilah apa nasihatnya dan selain itu Pangeran Batuputih ini akan kucalonkan sebagai suami anak kita yang sulung semoga engkau tak berat hati. Rembukan ini sudah aku sampaikan kepada bibi isteri paman Sunan Paddusan dan beliaupun menyetujuinya. Sedangkan sekarang aku akan menempatkan Pangeran Batuputih disini supaya menjaga kalian. Isteri Pangeran Sumenep agak senang hati tetapi setelah menatap wajah suaminya lalu menangis.

Keesokan harinya selepas waktu dhuhur Pangeran Sumenep bersama bala tentaranya berangkat dengan diantar Pangeran Batuputih sampai diluar pintu gerbang kota. Setelah beberapa waktu berselang sampailah Pangeran Sumenep beserta bala tentaranya disuatu desa dan disana mereka lalu beristirahat. Saat itu Pangeran Sumenep berkata kepada tentaranya : Rasanya menurutku tempat ini pantas sebagai arena peperangan karena tempat ini sudah jauh dari kota. Pangeran juga meminta pendapat dari Patih Tankondur dan dia juga tidak keberatan kalau desa tersebut akan digunakan sebagai medan peperangan.

Patih Tankondur lalu memerintahkan bala tentaranya untuk segera membangun benteng pertahanan. Bala tentara Sumenep melaksanakan perintah Patihnya dengan sukacita dan tak lama kemudian selesailah benteng itu. Disebutkan bahwa desa itu adalah desa Pore termasuk Kecamatan Lenteng Kawedanan Timur Daya kira-kira arah Barat Daya Kota jauhnya kira-kira sepuluh kilometer.

Dilain pihak juga diceriterakan bahwa Tumenggung Kanduruwan sedang dihadap para sentananya. Mereka sedang berteduh dibawah pohon beringin sambil menunggu utusan yang diutus mengantar surat ke Sumenep. Tak lama kemudian utusan yang ditunggunya datang dengan nafas tersengal-sengal. Kanduruwan merasa terkejut dan memerintahkan supaya utusan tersebut segera menghadapnya. Setelah utusan itu duduk lalu ditanyakan bagaimana hasilnya. Utusan : Segala perintah paduka telah kami laksanakan.

Namun setelah sampai di Sumenep hamba dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa Pangeran Sumenep telah mengumpulkan bala tentara untuk menantang perang. Sikap Pangeran Sumenep ini memang garang seakan-akan tak ada orang yang kuat menghadapinya. Surat yang paduka kirimkan setelah ia baca lalu dirobeknya hingga halus. Setelah Tumenggung Kanduruwan mendengar ceritera sang utusan ia lalu murka dan memerintahkan bala tentaranya untuk siap berangkat perang.

Tumenggung : Saudara-saudaraku semua mari kita kumpulkan seluruh lasykar masing-masing. Hancurkan Pangeran Sumenep beserta seluruh tentaranya sampai lebur jadi abu. Sekarang juga mari kita berangkat. Pangeran Malaja, Pangeran Jambaringin, Adipati Baliga dan tentaranya berada ditengah sedangkan yang lainnya dibelakang. Tumenggung Kanduruwan dan lasykarnya berada didepan. Setelah bendi perang ditabuh sebanyak tiga kali maka berangkatlah tentara Japan.

Tak diceriterakan keadaan diperjalanan maka sekarang sampailah tentara Japan diperbukitan gunung kapur Moncek. Dipihak lain yaitu dibarak bala tentara Sumenep dua orang diantaranya melaporkan kepada Patih Tankondur tentang telah datangnya tentara Japan dilokasi yang disebutkan tadi. Patih Tankondur memerintahkan kepada bala tentaranya untuk bersiap-siap dan hati-hati. Taklama kemudian bala tentara Japan sudah sampai didesa Sendir dan terus mengepung tentara Sumenep. Meskipun bala tentara Sumenep dalam jumlah yang sedikit tetapi mereka tak merasa gentar dan semuanya rela hati menghadapi kenyataan itu.

Diantara mereka ada yang berkata dalam hatinya : Suatu keuntungan bagiku menghadapai musuh yang sekian banyaknya seperti ini. Sebab kalau aku mengamuk tak ayal empat atau lima orang musuh akan terbunuh. Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur berkata : Hai bala tentaraku, aku berpesan kepada kalian janganlah berkecil hati meskipun musuh kita begitu banyaknya. Disini suatu kesempatan bagi kalian untuk mengamuk sebisamu sehingga semua musuh dapat kalian tumbangkan.

Patih Sumenep itu menunggang kuda berbulu kelabu nama kudanya Retnataluki berpayung putih mulus ujung payungnya diikat tali berwarna per...



Patih Sumenep itu menunggang kuda berbulu kelabu nama kudanya Retnataluki berpayung putih mulus ujung payungnya diikat tali berwarna perak dan corak payungnya bermotif pucuk rebung. Dalam perjalanan Pangeran Sumenep selalu bertanya tentang nama-nama desa yang dilewatinya dengan maksud untuk dibuat medan pertempuran dan kuburan bagi jazadnya kelak kalau ia gugur dalam pertempuran. Tapi bagi dirinya tampaknya tak ada tempat yang dirasa pantas.

Sekarang diceriterakan tentang Sunan Paddusan yang berkedudukan dipegunungan Batuputih sedang sakit keras. Saat itu dipanggillah cucunya yaitu putera Pangeran Siding Langgar katanya : Panggillah semua bala menteri pada hari ini dan jangan ada yang ketinggalan. Pada hari ini aku akan mengangkatmu karena kamu sekarang sudah dewasa. Jika aku sudah tiada hendaknya kamu hati-hati. Ttetaplah selalu dalam keutamaan jangan sampai engkau takabur. Artinya ; jangan mengaku dirimu paling baik dari orang lain, jangan suka disanjung, jangan angkuh, jangan aniaya, jangan percaya fitnah, jangan pula engkau mendahului perintah.

Bertingkahlah hati-hati, jangan berpikiran kasar, jangan menyangkal nasihat orang tua. Semua pekerjaan pikirlah dahulu masak-masak apa akibatnya sebab semua pekerjaan yang terburu-buru pada akhirnya hasilnya kurang baik. Karena itu janganlah mengikuti nafsu setan. Kalau kamu sudah melakukan sesuatu yang tak baik maka setan akan bersorak gembira. Karena sekarang kamu masih muda wajib bagimu berkumpul dan belajar dengan orang tua yang berilmu supaya kamu lebih dapat menyempurnakan pengetahuanmu.

Dimana-mana barang ada nilainya sedangkan manusia diukur dari ilmunya. Kalau manusia tak berilmu maka setitikpun takkan ada artinya. Kekota maupun kedesa takkan berharga disamping ucapannya juga takkan laku. Orang yang begitu akan gampang dipermainkan orang. Sebenarnya hidup ini susah bagi orang yang tak tahu apa fungsinya hidup. Disepanjang perjalanannya takkan menemui kesempurnaan dan kemulyaan didunia juga diakhirat.

Pada jaman ini banyak orang yang mengaku lebih pintar dari orang lain, pekerjaannya lebih banyak dari orang lain hal itu dirasa keuntungan selalu datang menyertainya. Mereka itu senyatanya adalah orang yang bodoh. Karena itu anak-anak perlu dididik untuk mengaji dan dididik ilmu pengetahuan sebab pelajaran yang jatuh ke akal anak-anak ibarat batu tulis. Sedangkan ilmu yang jatuh pada orang yang sudah terlambat menerimanya seperti air ditulis.

Disamping itu anak-anak perlu diberi contoh tingkah-laku yang baik supaya dirinya tak tersia-sia. Mendapat hasil yang sempurna sehingga tak sampai menderita dirinya. Karena pangkal kejelekan maupun bahaya bermacam-macam adanya misalnya : Butir satu. “ Karena dirinya bodoh meskipun ia kaya kebanyakan jatuh kelembah kemiskinan “. Butir kedua : “ Karena melarat “. Butir ketiga : “ Karena berteman dengan orang berwatak jelek atau berteman dengan orang yang tidak berilmu pengetahuan “. Butir keempat : “ Karena kurang hati-hati “.

Tanda-tanda orang baik adalah orang yang suka belajar kepada kebaikan dan suka berlaku baik. Tanda-tanda orang yang bersifat jelek yaitu orang yang enggan belajar kepada kebaikan disamping ia suka bergaul dengan orang yang suka berbuat kejelekan dan kalau ada nasihat yang menuju kepada kebaikan ia tak mau mendengarkannya.

Sedangkan yang dikatakan orang pintar dan sempurna atau bahagia yaitu orang yang tidak cepat menyangkal nasihat baik orang lain suka membantu keinginan baik orang lain tak menonjolkan diri. Lebih baik nasihat dan maksud baik dari orang lain itu diterima. Sesudahnya lalu pikirkan yang mana baiknya diambil dan jeleknya hendaknya dibuang jauh-jauh.

Sesudah itu cucunya keluar mengumpulkan para  menteri sesuai pesan kakeknya. Setelah berkumpul Sunan Paddusan lalu mengangkat cucunya itu dengan gelar Pangeran Batuputih. Setelah beberapa hari dari pengangkatan itu Sunan Paddusan lalu meninggal. Setelah meninggal jenazahnya diletakkan dikeranda dan diberi harum-haruman. Keinginan isterinya akan dikebumikan di Ampel (Surabaya). Keesokan harinya jenazah itu diusung sambil dipayungi empat buah lengkap dengan perangkat lainnya sedangkan yang mengantarkan penuh sesak seperti rombongan bala tentara yang mau berperang.

Isteri Sunan Paddusan dan Pangeran Batuputih juga ikut mengantarkannya. Pangeran Batuputih menunggang kuda berbulu kelabu memakai payung. Sesampainya didesa Pamolokan rombongan tersebut bertemu dengan rombongan Pangeran Sumenep yang akan berangkat ke peperangan. Ketika Pangeran Sumenep melihat keranda mayat tersebut lalu dicegatnya. Keranda tersebut oleh pengusungnya lalu diturunkan dan diletakkan dibawah pohon beringin. Pangeran Batu Putih dan isteri Sunan Paddusan juga turun mengelilingi keranda disamping sejumlah orang alim.

Pangeran Sumenep bersama Patihnya Tumenggung Tankondur lalu sungkem kepada isteri Sunan Paddusan sambil berkata : Bibi, kalau memang menjadi ijinmu dan tak ada aral nanda mohon agar supaya jenazah Paman Sunan Paddusan disemayamkan dulu disini karena nanda barangkali akan menyusul beliau sebab sebentar lagi nanda akan berangkat berperang. Selanjutnya Pangeran Sumenep menceriterakan kepada bibinya mengenai awal peristiwanya sehingga ia harus menghadapi tentara Japan dengan peperangan.

Pangeran Sumenep selanjutnya berkata : Sangat mengharap kerelaan bibi dan nanda sangat berterimakasih kalau usul tadi dikabulkan yaitu supaya jenazah paman tetap dikubur disini saja, agar supaya dibelakang hari bisa menjadi berkah bagi nanda dan semua anak cucu. Apalagi jika nanti nanda sudah sampai pada ajal pula. Nanda masih ingat wasiat almarhum kepada nanda yang mengatakan bahwa nanda dalam memangku jabatan sebagai Raja Sumenep tidak akan lama karena akan terlibat perang dengan Ratu Japan. Dalam peperangan ini nanda akan sampai pada janji dengan Allah atau akan dijemput ajal.

Keturunan selanjutnya tidak akan ada lagi yang menjabat sebagai Raja. Hanya nanti akan ada seorang puterinya yang akan dipersunting seorang Raja Sumenep yaitu yang bernama Pangeran Wetan I. Bahwa nanti yang akan menggantikan Pangeran Sumenep adalah cucu dari paman Sunan Paddusan sendiri yaitu Tumenggung Kanduruwan.





< Sesampainya dihadapan Raja utusan tersebut dipersilakan duduk sejajar dengan para jaksa. Setelah surat diserahkan Pangeran Sumen...

<

Sesampainya dihadapan Raja utusan tersebut dipersilakan duduk sejajar dengan para jaksa. Setelah surat diserahkan Pangeran Sumenep mengambil dan membacanya. Setelah membaca surat itu Pangeran Sumenep berpikir : Aku dibujuk untuk menyerah ? Barangkali mereka mengira aku bisa dibujuk seperti anak kecil.

Utusan : Gusti Pangeran, sebenarnya hamba diutus Tumenggung Kanduruwan atas kehendak Nenek paduka Ratu Japan mengantarkan surat itu kepada paduka. Tumenggung Kanduruwan tidak membawanya sendiri karena beliau takut kalau-kalau Pangeran menyangka paduka Ratu sedang marah. Maka dari itu beliau mengutus kami karena beliau tidak tahu harus dengan cara bagaimana agar bisa membujuk orang yang sedang dongkol.

Tetapi seandainya Pangeran bisa dijumpainya dijalan mungkin Pangeran akan diciumi kakinya, dimohoni maaf dan harapan yang sangat supaya Pangeran bisa kembali ke Japan. Betapa bangga dan bahagianya Tumenggung Kanduruwan apabila dapat berjumpa dengan Pangeran. Bahkan seandainya beliau berjumpa maka paduka akan dimulyakan seperti ayahnya sendiri, didudukkan ditempat yang empuk tetapi mengapa paduka menolaknya. Dengan begini hati beliau merasa terenyuh, harapan memiliki pemimpin seperti paduka kandas.

Maka seandainya paduka mau kembali ke Japan Tumenggung Kanduruwan tentu seperti mendapat anugerah segunung emas banyaknya. Kalau janji Ratu Japan diingkari dan dibelakang hari nanti Ratu Japan berbuat tidak senonoh kepada Pangeran maka Patih Kanduruwan telah berjanji untuk siap mati membela Pangeran. Maka itu dengan harapan yang sangat dalam Tumenggung Kanduruwan memohon suka hati dan kerelaan Pangeran untuk kembali ke Japan.

Pangeran Sumenep sambil tersenyum berkata : Sungguh, pandai sekali engkau membujuk. Ucapanmu manis seperti madu. Tetapi ingatlah bahwa aku bukan anak kecil dan aku bukan orang yang bodoh. Apa ucapanmu sudah aku maklumi dan jangan engkau berpura-pura. Sebab inilah bunyi suratnya. Surat itu selanjutnya disuruh baca kepada Patih Tankondur bunyinya : Surat ini berasal dari Retno Dewi Maskumambang yang menguasai kerajaan Japan ditujukan kepada Pangeran Sumenep yang bergelar Raden Ario Saccadiningrat. Kekasihku yang tampan buah hatiku sekarang aku bermaksud untuk mempertuan-mu (meminangmu ?) semoga engkau mengerti dan menerimanya. Jikalau ini terkabul maka apapun yang engkau pinta dan engkau perintahkan padaku aku akan mengabulkannya.

Dengan ini bukan berarti aku akan mengagungkan kedudukanku sebagai Ratu tapi aku berani bersumpah atas janjiku ini. Kalau engkau setuju menjadi suamiku maka Japan akan kuserahkan kepada kakanda. Menurutku tiada orang yang patut untuk mendampingiku kecuali engkau yang selama ini aku cintai. Selanjutnya aku mohon dengan sangat agar kakanda dapat kembali ke Japan. Aku takkan membohongi kakanda dan kalau aku bohong semoga aku mendapat bala dari para leluhurku.

Setelah surat itu terbaca maka Pangeran Sumenep berkata kepada utusan Japan katanya : Katakan pada Tuanmu aku mengirimkan salam takzim. Surat yang ia kirimkan sudah aku terima dengan kedua tanganku sendiri dan apa yang tersirat didalamnya semuanya sudah aku mengerti. Aku tak mau beristeri Ratu Japan karena beliau sudah tua. Rambutnya sudah dua disamping dia selama ini sering berlaku serong. Karena itu janganlah aku dipersamakan dengan orang yang telah ditidurinya dan lagi di Sumenep masih banyak orang yang cantik tapi aku tak ada maksud untuk kawin lagi.

Apalagi dengan Ratu Japan yang sudah ubanan dan bangsat itu. Awas, sampaikan seluruh ucapanku kepada Tumenggung Kanduruwan dan juga katakan padanya ; meskipun Ratu Japan keluar liur darah untuk mempersuntingku itu takkan mungkin. Karena disini aku masih beristeri dan dengan demikian aku tak tertarik kepada orang lain. Untuk menghadap ke Japan bagiku sudah tak mungkin lagi kecuali kita berperang dulu. Kalau kepalaku sudah terpisah dari badan barulah aku akan menghadap ke Japan lagi. Mari kita adu kekuatan saja dengan perang. Kalah atau menang dicobanya.

Setelah utusan mendengar ucapan Pangeran Sumenep merah mukanya. Kupingnya seperti dirobek. Dengan tanpa pamit utusan langsung keluar dan meloncat keatas kudanya. Sebelum dia meninggalkan keraton masih sempat ia berucap : Hai lasykar Sumenep, sebentar lagi umurmu akan tunai. Pangeran Sumenep mendengar ucapan itu dirinya murka dan memerintahkan kepada seorang menterinya : Menteri, kejar utusan itu. Ia akan kupotong lehernya. Kalau dia tak mau kembali bunuh saja.

Patih Tankondur : Tunggu dulu Pangeran, perintah itu kurang baik. Sebab seorang Raja tidak boleh membunuh utusan karena utusan itu hanya disuruh. Maka ingatlah bahwa sebaik-baik tingkah laku itu adalah ditengah-tengah. Dan bagi seorang Raja kalau dia sedang marah takkan tampak kemarahan itu diwajahnya. Selain itu usahakan supaya kemarahan tak diketahui orang banyak. Kalau masih marah jangan tampakkan berwajahlah ceria. Tetapi yang utama bagi seorang manusia adalah bagaimana bisa menahan nafsunya. Besar ataupun kecil sama saja. Karena kalau tidak bisa menahan nafsu amarah sedikit saja akibatnya akan menjadi besar. 

Kalau sudah besar semakin tak kuat memikulnya. Kalau sudah tak kuat pastilah jatuh dan akhirnya akan celaka. Lebih baik Pangeran menghayati watak sebongkah batu atau besi yang meski dibagaimanapun mereka akan tetap saja begitu. Pangeran Sumenep : Ya, kalau demikian marilah kita segera berangkat supaya musuh tak mendahului menjemput kita dikota. Tumenggung Tankondur segera menuju alun-alun dan memerintahkan bala tentaranya untuk siap berangkat.
   
Ditabuhnya bendi perang dan disulutnya bedil tiga kali pertanda perang akan segera dilabuh. Bala tentara Sumenep bersiap menyongsong musuh dengan perkakas perang lengkap ditangannya. Mereka berbaris rapi disepanjang perjalanan. Pangeran Sumenep menunggang kuda bernama Retnajuwita berbulu cokelat tua dan berpayung sutera kuning sedangkan Tumenggung Tankondur juga menunggang kuda berada disampingnya.


Sesudah berpakaian Pangeran Sumenep pamit kepada isterinya katanya : Isteriku relakan aku pergi. Jangan dinda terlalu banyak berharap tap...


Sesudah berpakaian Pangeran Sumenep pamit kepada isterinya katanya : Isteriku relakan aku pergi. Jangan dinda terlalu banyak berharap tapi selalu ingat sajalah kepada taqdir Allah. Kepergianku sebenarnya adalah kepergian untuk mati. Maka dari itu aku titip anak-anak kita padamu selaku ibu. Perlakukan mereka dengan sepenuh kasih sayang. Aku telah membekali mereka dengan uang emas sebanyak tiga peti sekaligus isi keraton ini sebagai bekal kemudian hari bagi mereka bertiga.

Setelah berkata demikian lalu dipeluknya isteri yang dicintainya itu disamping ketiga puteranya ia gendong dan diciuminya secara bergantian. Sang isteri sambil tersedu menangis memohon dan memaksa suaminya agar dirinya diperkenankan ikut berperang katanya : Kanda perkenankan dinda ikut berperang. Meskipun dinda seorang perempuan jangan kanda khawatir karena dinda juga berdarah prajurit. Ijinkan dinda menjadi perisai dada kanda dipeperangan ini.

Para abdi keraton melihat kaduanya merasa tak tega merekapun ikut menangis karena kasihan pada Raja yang selama ini memang tak pernah menyakiti. Pangeran Sumenep lalu membuka cincin yang dipakai dan diserahkannya pada isterinya sambil berkata : Dinda janganlah engkau bimbang. Bukan aku bermaksud menghalangimu untuk ikut berjuang. Biarlah kanda saja yang melawan musuh ; hanya saja doakan kepada Yang Esa supaya aku dan Ki Patih mendapat keselamatan dan kemenangan sehingga kita dapat bertemu lagi.

Ini cincinku pakailah sebagai tanda kenangan jika engkau sedang mengingatku. Dengan benda ini anggaplah diantara kita tidak ada jarak yang dapat memisahkan antara aku dan kamu dunia dan akhirat. Permaisuri : Memang tak ada yang salah semua yang kanda katakan . Keinginanku hanya untuk menyertai kanda dan ingin membantunya dalam peperangan.

Pangeran Sumenep selanjutnya tak menghiraukan lagi permintaan isterinya dan dengan rasa pilu ia meninggalkan menuju pendapa keraton. Disana ia duduk bersama Patihnya Tumenggung Tankondur dihadap para menterinya. Pangeran Sumenep lalu kembali memerintahkan untuk mengeluarkan uang sedekah kepada juru bayar keraton untuk dibagikan kepada yang berhak serta kepada orang yang ikut berperang juga mendapat bagian.

Para tentara semakin gembira hatinya untuk ikut berperang demi membela Raja yang dicintainya. Pikirnya : Aku sudah rela meninggalkan anak isteriku untuk mengikuti jejak Raja. Kiranya tidak ada sesuatu yang bisa aku balaskan kepadanya kecuali jiwa dan ragaku. Beliau sangat baik kepada rakyat kecil dan tak pernah membuat penderitaan bagi rakyatnya. Makah penderitaan rakyatnya yang selalu diperhatikan dan dibantu penanggulangannya.

Kepada bala tentaranya Pangeran Sumenep berpesan katanya : Hai rakyat Sumenep, tua muda besar kecil semoga engkau semua rela mengorbankan jiwa dan raga untukku. Semoga kalian akan setia selalu. Kalau nanti aku tewas dalam peperangan ini tolong kalian rebut mayatku dari tangan musuh dan kuburkanlah aku dengan pantas. Bala tentara : Kami semua sudah rela mati bersama paduka. Semoga kamilah yang mendahului paduka untuk mati dalam pertempuran ini. Kami semua berjanji akan memenuhi permintaan paduka itu. Pangeran : Aku berterimakasih pada kalian semua atas kerelaannya berkorban demi membela negara dan aku sebagai Rajamu.

Tiada kiranya yang dapat aku balaskan kepada kalian atas semua ini kecuali doaku kepada Yang Kuasa semoga kalian diberi pahala yang lebih besar lagi kelak. Pada saat bala tentara Sumenep berkumpul dialun-alun terdengar kabar bahwa diluar pintu gerbang negara ada utusan Patih Japan membawa surat. Mendengar hal tersebut Pangeran Sumenep menyuruh salah seorang hulubalang untuk mempersilakan sang utusan masuk.

Penjaga pintu gerbang selanjutnya mempersilakan utusan itu masuk. Sesampainya didalam pagar betapa kecut hati mereka setelah melihat lasykar Sumenep yang sekian banyak berkumpul lengkap dengan perkakas perangnya. Pikirnya : Wah, sungguh pria berjiwa prajurit Pangeran Sumenep ini. Sebab dengan jumlah tentara yang sekian tak mungkin bisa menandingi banyaknya lasykar Japan. Mereka benar-benar berjiwa pemberani menantang perang.

Kompleks Makam Agung Arosbaya Kerajaan Madura Barat secara masa terbagi menjadi tiga. Masa pertama ialah mulai bertahtanya Kiai Dem...

Kompleks Makam Agung Arosbaya
Kerajaan Madura Barat secara masa terbagi menjadi tiga. Masa pertama ialah mulai bertahtanya Kiai Demang Plakaran di keraton Anyar. Masa itu bisa disebut sebagai pra sejarah. Karena tidak bisa dipastikan tarikh atau tahunnya. Hanya diperkirakan di abad 15.

Kiai Demang Plakaran atau Pangeran Demang Plakaran memiliki beberapa anak laki-laki. Di antara yang menonjol ialah Raden Adipati Pramono dan Kiai Pragalba alias Pangeran Arosbaya.

Dari keduanya, bermunculan tokoh-tokoh penguasa yang mengendalikan nusa Madura mulai dari ujung Barat hingga ujung Timur.

Keturunan Raja dan Wali

Kiai Demang Plakaran menurut catatan silsilah kerajaan Madura Barat merupakan keturunan dari Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya. Turun kepada Ario Damar, penguasa Palembang. Lalu turun kepada Ario Menak Senoyo, yang menurut legenda mendarat di Madura dengan mengendarai seekor ikan.

Menak Senoyo lantas bertahta di Proppo, Pamekasan. Beliau ini menurunkan Ario Kedut, Ario Timbul, Ario Pojok, hingga Kiai Demang Plakaran.

Di samping naskah itu, ada naskah lain yang tidak umum. Naskah yang menyatakan jika Kiai Demang Plakaran adalah trah Giri Kedaton. Alias keturunan Sunan Giri I (Sayyid Ainul Yaqin).

Masa Kedua

Setelah mangkatnya Kiai Demang Plakaran, tahta Arosbaya jatuh ke tangan Kiai Pragalba. Beliau dikenal dengan nama Pangeran Arosbaya.

Di masa ini pengaruh Jawa kawi masih begitu kental. Baik bahasa maupun adat istiadat. Pada makam Pragalba, menurut kajian cagar budaya, batu-batunya sejenis dengan batu candi di Jawa.

Masa Pragalba menjadi penanda masuknya pengaruh Islam awal di Madura Barat. Kisah Empu Bageno yang penah diulas Mata Madura, hingga peran Sunan Kudus, salah satu anggota Wali Sanga Jawadwipa, hingga kearifan putra mahkota Pratanu membuat Islam berkembang menjadi agama penguasa.

Pratanu lantas mengendalikan Madura Barat sepeninggal ayahnya, Pragalba. Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Duwur. Diabadikan dalam candra sengkala Sirna Pendawa Kertaning Nagari 1450 Saka.

Kala itu di Jawa bersamaan dengan pemerintahan Sultan Demak III, Trenggana. Setelah masa Trenggana, naiklah Sunan Prawata, yang berakhir dengan pemberontakan Aria Penangsang. Sekaligus kemudian beralihnya wahyu keprabon ke tangan Jaka Tingkir alias Adiwijaya, Sultan Pajang pertama. Jaka Tingkir merupakan menantu Trenggana.

Berdasar catatan silsilah Madura Barat, Pratanu alias Lemah Duwur menikah dengan salah satu putri Jaka Tingkir. Dari pernikahan tersebut lahir di antaranya Raden Koro alias Pangeran Tengah, pengganti Lemah Duwur.

Dengan demikian, di samping memiliki keterkaitan leluhur dengan Demak Bintara sekaligus Pajang, sejak periode Pratanu, hubungan perkawinan mendekatkan kedua keluarga besar. Karena baik Madura Barat dan Demak-Pajang merupakan keturunan raja-raja Majapahit.

Masa Ketiga

Saat Pajang berganti ke Mataram, Madura mulai menjadi incaran. Di masa Sultan Agung, sebuah invasi dilancarkan. Seluruh Madura digempur. Mulai Madura Barat hingga Madura Timur. Puncaknya pulau garam berhasil dikuasai.

Beberapa penguasanya gugur. Di Madura Barat ialah Raden Koro. Di Pamekasan, gugur Panembahan Ronggosukowati, dan penggantinya. Sementara di Madura Timur atau Sumenep, gugur Pangeran Lor II dan Pangeran Cakranegara.

Nah, kala itu Madura pun masuk dalam naungan Mataram. Meski sebagai penguasa-penguasanya tetap berasal dari trah sebelumnya.

Masuknya Belanda dengan VOCnya memiliki pengaruh selanjutnya dalam dinamika sistem pemerintahan di Madura. Madura semacam negeri vasal. Karena Mataram sendiri yang diikat dengan perjanjian-perjanjian akibat perang Trunojoyo dan pemberontakan-pemberontakan para pangeran Mataram sendiri.

Sejak abad 17, dimulai dari Raden Prasena alias Pangeran Cakraningrat I, perkawinan politik mulai berjalan. Penguasa-penguasa Madura Barat itu banyak yang memperisteri para putri raja-raja Mataram.

Tradisi selanjutnya memang banyak terjadi perkawinan silang. Sehingga Madura-Mataram, yang selanjutnya Mataram terbagi dalam banyak bagian, menjadi keluarga besar.

Sebut saja Pangeran Cakraningrat IV yang menikah dengan putri Paku Buwono I Kartasura. Begitu juga putranya, Panembahan Sido Mukti yang menikah dengan Ratu Maduretno, putri Sunan Amangkurat IV Kartasura. Dari perkawinan itu lahir Sultan Bangkalan I. Leluhur pembesar-pembesar Madura di masa mendatang.

(RM Farhan/matamadura.com)

Ilustrasi 35. R. Pratamingkusumo Pada waktu R. Tumenggung Pratamingkusumo menjabat sebagai bupati Sumenep yang memerintah antara...

Ilustrasi

35. R. Pratamingkusumo
Pada waktu R. Tumenggung Pratamingkusumo menjabat sebagai bupati Sumenep yang memerintah antara tahun 1901-1926 M, ia membangun sebuah menara di Masjid Jamik Sumenep, yang ditempatkan disebelah barat (belakang Masjid). Juga ia melaksanakan pembangunan jalan (rel) kereta api tahun 1897-1901 M yang menghubungkan Kamal sampai ke Kalianget Timur. Jaringan komunikasi banyak mengalami perubahan, dengan adanya jalan kereta api. Dan untuk menunjang sarana transportasi, memperlancar jalannya perekonomian rakyat, maka diadakan juga tranportasi kapal laut dari Kalianget menuju Panarukan (Situbondo).

Banyak pula pemuda madura yang bergabung ke dalam gerakan nasional “Yong Islamietan Bond” (Persatuan Pemuda Islam). Gerakan politik Yong Islamietan Bold dan Serikat Islam yang berdasarkan keagamaan di Madura ini memang cepat mendapat dukungan dan pengikut yang luas oleh orang Madura. Pada waktu itu, pendiri Serikat Islam H.O.S. Cokroaminoto di anggap sebagai malaikat penyelamat terhadap tindakan Pangreh Praja.

Dua tahun sesudah berdiri, Serikat Islam berhasil menanamkan pengaruhya di kalangan orang Madura. Pusat perwakilan partai politik ini terbentuk di Sampang (1911), Sepudi (1913), Bangkalan (1914), Sumenep (1914), Pamekasan (1914), dan perenduan (1916). Hampir seluruh pengurus cabangnya memiliki gelar kebangsawanan sedangkan sisanya merupakan kiyai dan Haji. Dipakainya Islam sebagai landasannya menyebabkan partai ini mampu ikut menanamkan rasa nasionalisme dikalangan anggotanya.

36. R. P. Ario Prabuwinoto

Pada masa pemerintahan R. Tumenggung Ario Prabuwinoto antara tahun 1926- 1930 M, hanya sempat mengubah pagar tembok Masjid dan keraton dibagian depan dengan pagar besi. Perubahan tersebut mngundang reaksi dari para sesepuh, karena tidak melalui musyawarah. Reaksi dari para sesepuh dan keluarga keraton tersebut karena pembangunan pagar tembok di sekeliling masjid bertujuan agar ummat islam yang melakukan shalat dan mendengarkan khotbah bisa berkonsentrasi.

 *****

Referensi :
  • R. Werdisatra dan R. Sastra Widjaja, Bhabhad Songennep, (Balai Poestaka1921).
  • Mien A. Rifai, Lintasan Sejarah Madura, (Surabaya: Yayasan Lebbur Legga 1993 ).
  • Sejarah Sumenep, disusun oleh Tim Penulis Sejarah Sumenep dalam makalah disampaikan pada seminar buku Penulisan Sejarah Sumenep yang diselelnggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep pada hari Rabu, 10 Desember 2003 bertempat di Pendopo Agung Sumenep
  • H.J. Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, (Jakarta: Grafitipress 1986)
  • Bindara Akhmad, Lintasan Sejarah Sumenep dan Asta Tinggi Beserta Tokoh di Dalamnya, (Sumenep: Barokah, 2010), 

Ilustrasi 29. K. Lesap K. Lesap memerintah Sumenep antara tahun 1749-1750 M. di mana keraton masih berada pada posisi di Karang Toroi...

Ilustrasi
29. K. Lesap

K. Lesap memerintah Sumenep antara tahun 1749-1750 M. di mana keraton masih berada pada posisi di Karang Toroi. Pada tahun 1749 Sumenep harus menghadapi pemberontakan Ke’ Lesap yang mengharu-biru seluruh Madura. Konon tokoh pemberontak adalah anak dari Panembahan Cakraningrat V dengan seorang gadis desa. Setelah besar oleh ibunya K. Lesap diberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya, sehingga ia merasa berhak mendapat kedudukan yang baik selayak anak seorang bupati. K. Lesap diberi kekuasaan atas beberapa desa. Namun karena tidak merasa puas, ia melarikan diri kepegunungan di wilayah Sumenep (Gunung Payudan). Di daerah pelariannya itu ia meneruskan bertapa sambil membina pengikutnya yang terdiri dari rakyat kecil. Sedangkan kondisi rakyat madura pada saat itu membutuhkan pemimpin yang peduli dengan munculnya K. Lesap, seakan- akan menemukan panutan baru yang bersendikan ajaran agamanya.

Kemudian oleh R. Tirtanegara keraton Sumenep diserang kembali sehingga timbul perang tanding dihalaman keraton Sumenep, antara R. Tirtanegara dengan R. Buka. Pada pertarungan tersebut R. Buka kena tombak lambungnya oleh R. Tirtanegara, dan langsung mati. Sisa prajurit R. Buka dari Bangkalan yang masih hidup banyak yang lari ke Pamekasan untuk memberi tahukan kepada K. Lesap bahwa Sumenep telah direbut kembali oleh R. Tirtanegara.,

30. R. Ayu Dewi RasmanaTironegoro dan R. Bendara Moh. Saud

Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai Kepala Pemerintahan yang ke 30. Dan bindara Saod memerintah di Sumenep antara tahun 1750-1762 M.keberadaan keraton yang awalnya di Karang Toroi pada masa pemerintahan ini di pindah Pajagalan. R. Ayu Dewi Rasmana disarankan oleh sesepuh keraton untuk mencari pendamping hidup, agar tugas dalam menjalankan roda pemerintahan Sumenep tidak berat. Kemudian R. Ayu Dewi Rasmana melakukan Istikharah selama 40 hari 40 malam untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Menurut hikayat R.Ayu Dewi Tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya Ratu kawin dengan Bindara Saod, seorang Penyabit rumput dari desa Lembung Barat kecamatan Lenteng… Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. Setelah ada kata sepakat dan mendapat restu dari istri pertamanya (Nyai Izzah), perkawinan dilaksanakan, Bindara Saod menjadi suami Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro. R. Ayu Dewi Rasmana wafat setelah seminggu dari wafatnya Bendara Moh. Saod. Dan keduanya dimakamkan bersebelahan, yang bertempat di Asta Tinggi.

31. Panembahan Notokusumo Asiruddin

Bandara Saod dengan isterinya yang pertama di Batu Ampar mempunyai 2 orang anak. Pada saat kedua anak Bindara Saod itu datang ke keraton memenuhi panggilan Ratu Tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama Somala terlebih dahulu dalam menyungkem kepada Ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada ayahnya (Bindara Saod). Saat itu pula keluar wasiat Sang Ratu yang dicatat oleh sektretaris kerajaan. Isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari apabila Bindara Saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah Somala. Setelah Bindara Saod meninggal 8 hari kemudian Ratu Tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat Ratu yang menjadi Raja Sumenep adalah Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I.

Masa memerintah di Sumenep 1750-1811 M. Pada pemerintahan Asiruddin (Panembahan Semolo), dalam menjalankan sangat berhati-hati sekali takut sampai melanggar norma-norma agama serta merugikan rakyat. Musyarawarah dalam mencapai mufakat tetap dilakukannya dalam menjalankan setiap kebijakan demi kepentingan rakyat.

32. Sultan Abdurrahman

Sultan Abdurrahman mempunyai 4 orang Istri. Namun menurut cerita tutur yang berkembang beliau mempunyai banyak istri. Bahkan diantara banyak istri beliau diantaranya adalah, putri Adipati Semarang R. Suryomenggolo V, putri adipati Bone, dan putri Adreina yaitu putri dari kerajaan Belanda. Dan dari semua istri tersebut Sultan Abdurrahman dikaruniai keturunan 32 orang putra-putri. Dan diantara putra putri tersebut yang menjadi penerus Sultan Abdurrahman setelah wafat adalah putranya sendiri yaitu R. Aria Moh. Saleh.

33. Panembahan Moh. Saleh

Menjadi raja Sumenep dengan Gelar Natakusuma II. Pada masa memerintah antara tahun 1854-1879 M. Dalam memerintah ia menderita kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya, sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh saudaranya sendiri, antara lain yaitu:

•    Pangeran Aria Jakfar Sadik Suryaamidjaya, yang ditunjuk sebagai sekretaris pribadi.
•    Pangeran Aria Mas’ud Suryaadiputra, ditunjuk mengurus bagian keuangan (bendahara) keraton.

Panembahan Natakusuma II tidak menunjukkan hal-hal yang istimewa. Bahkan pada masa Panembahan, isi keraton semakin berkurang karena diberikan kepada orang-orang yang datang mengunjunginya. Pada tahun 1857 M untuk memperkuat kontrol politik pemerintah Kolonial Belanda atas madura, maka dibentuklah Karesidenan Madura dengan ibu kotanya di Pamekasan. Pada tahun 1868 M masalah pengaturan irigasi pertanian oleh pemerintah Hindia Belanda diserahkan kepada Panembahan.

34. Pangeran Pakunataningrat

Karena mengepalai daerah yang diperintah langsung oleh penjajahannya, bupati tidak lagi menandatangani kontrak sebagai ikatan politik. Bupati hanya mendapatka beslit atau surat pengangkatan dan harus puas dengan uang gaji tanpa menguasai tanah apanage. Sejak saat itu bupati tak lebih dari pegawai pemerintah kolonial. Agar tidak menimbulkan gejolak sosial yang membahayakan, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan uang ganti rugi. Uang ganti rugi itu, kemudian diganti menjadi tunjangan bangsawan yang jumlahnya semakin lama semakin berkurang. Pada tahun 1879-1884 M, pangeran Pakunataningrat ditetapkan sebagi wakil bupati Sumenep. Kemudian tahun 1884 M mendapatkan surat pengukuhan (beslit) sebagia Le Regent di Sumenep. (bersambung …….)

 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)



26. Raden Tumenggung Wiromenggolo Raden Tumenggung Wiromenggolo atau Pangeran Purwanegara, putera dari Pangeran Seppo. memerintah di S...


26. Raden Tumenggung Wiromenggolo

Raden Tumenggung Wiromenggolo atau Pangeran Purwanegara, putera dari Pangeran Seppo. memerintah di Sumenep menggantikan pangeran Romo antara tahun 1709-1721 M. dan keberadaan keraton tidak berubah dengan raja sebelumnya yaitu bertempat di Karang Toroi.

27. Raden Ahmad atau Pangeran Jimat

Pangeran Jimat adalah putra dari pangeran romo dari hasil perkawinannya dengan R. Ayu Gumbrek, putri dari pangeran panji Polang Jiwo. Raden Jimat menggantikan orang tuanya Pangeran Romo mengjadi adipati Sumenep karena berpulang ke Rahmatullah. Sehingga oleh VOC ditunjuk sebagai penggantinya. Sedangkan untuk daerah Pamekasan ditunjuk oleh VOC saudara Pangeran Romo yang bernama R. Djoyonegoro berpangkat tumenggung.

R. Jimat memerintah di Sumenep tahun 1721-1744 M. dengan saat itu juga posisi keraton tetap di Karang Toroi. Setelah R. Ahmad (Pangeran Jimat) menjadi adipati Sumenep, ada upaya R. Ahmad (Pangeran JImat) untuk memperluas kekuasaan ke daerah Pamekasan. Raden Ahmad (Pangeran Jimat) merasa berhak terhadap keris pusaka yang ada di tangan R. Asral (Adikoro II). Alasannya karena Pangeran Romo adalah putra dari istri padmi Adikoro I. Sedangkan R. Asral (Adikoro II) adalah putra dari istri selir.

Kemudian timbullah perselisihan, sampai menjadi perang saudara antara Raden Asral (Adikoro II) dengan R. Akhmad (Pangeran Jimat). Pasukan Sumenep lebih kuat, sehingga pasukan Pamekasan dapat dipukul mundur. Disamping memperluas ke daerah Pamekasan, ada upaya Pangeran Jimat untuk memperluas daerah kekuasaan ke daerah Basuki dan Belambangan. Pangeran Jimat membabat hutan Besuki dan hutan Blambangan, kemudian melakukan migrasi penduduk ke daerah yang baru dibukanya. Kondisi masyarakat Pangeran Jimat sangat aman, sentosa, adil dan makmur. Pangeran Jimat tidak hanya pandai memberi nasehat, akan tetapi dia lebih dahulu melaksanakannya.

28. Raden Alsa atau Pangeran Lolos

Raden Alsa (Pangeran Lolos) memerintah Sumenep pada tahun 1744-1749 M. Pada saat pemerintahan R. Alsa, Sumenep pernah terjadi pemberontakan yang dipimpin K. Lesap dari Bangkalan. Hal tersebut terjadi pada tahun 1749 M. konon Ke Lesap adalah putra dari Pangeran Cakraningrat V dari hasil perkawinannya dengan gadis desa. Sehingga setelah dewasa Ke Lesap merasa pantas dan berhak atas kedudukan yang baik dan sah. Walaupun ibunya Ke Lesap tahu ibunya termasuk istri Selir.

Karena kekalahan dalam melawan Ke Lesap, R. Alsa melarikan ke Surabaya untuk meminta bantuan kepada kompeni. Hasil dari meloloskan diri dari sergapan K. Lesap, maka R. Alsa dikenal dengan julukan Pangeran Lolos.

Karena dianggap tidak cakap dalam memimpin tahta pemerintahan Sumenep, maka R. Alsa (Pangeran Lolos) diberhentikan oleh VOC belanda dari jabatan adipati Sumenep. Berdasarkan musyawarah sesepuh keraton, ditunjuklah sebagai pengganti Pangen Lolos adalah R. Ayu Dewi Rasmana (R. Ayu Potre Koneng II). (bersambung …….)


 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)