silakan unduh Madurese Folktales

Pada suatu hari Pak Lesap berkata pada Gunturgeni : Kalau engkau suka maka aku sekarang bermaksud menggempur negara Sumenep maka dari itu pe...



Pada suatu hari Pak Lesap berkata pada Gunturgeni : Kalau engkau suka maka aku sekarang bermaksud menggempur negara Sumenep maka dari itu persiapkanlah tentaramu. Gunturgeni : Apalagi yang akan kita tunggu ? Maka dengan empatpuluh orang menterinya yang diikuti ribuan prajurit Pak Lesap berangkat ke Sumenep untuk menantang perang. Disepanjang jalan yang dilalui prajurit Pak Lesap bersorak-sorak membangkitkan semangat. Mendengar adanya suara hiruk-pikuk dari kejauhan Raja Sumenep memerintahkan seorang Menterinya untuk menyelidiki. Sesampainya diluar kota sang Menteri melihat begitu banyak tentara pimpinan Pak Lesap yang saat itu sedang duduk ditandu sedang mendatangi pusat kota. Menteri yang juga diikuti beberapa tentara kerajaan Sumenep itu mencegatnya dan terjadilah perang.

Pak Lesap lalu turun dari tandunya dan mengamuk. Banyaklah korban di kedua pihak sedangkan tentara Sumenep yang masih hidup berusaha lari ke keraton dan melapor kejadian itu pada Rajanya. Mendengar laporan tentaranya Raja selanjutnya memerintahkan Ki Patih untuk menemui Pak Lesap. Ki Patih segera berangkat diikuti seratus orang Menteri dan bala tentara sebanyak limaratus orang. Selanjutnya mereka terlibat perang sampai sembilan hari lamanya. Korban saling berjatuhan dikedua belah pihak, tetapi Ki Patih dan Raden Tirtanagara tak bergerak dari tempatnya serta terus mengadakan perlawanan.

Sesudah tentara Pak Lesap hampir kalah maka Pak Lesap maju sendiri kemedan perang. Pak Lesap menyerang Ki Patih tetapi disambutnya dengan tusukan tombak sehingga Pak Lesap sempat terjengkang. Bersoraklah tentara Sumenep. Melihat keadaan yang tak memungkinkan itu Pak Lesap lalu mengeluarkan ilmu kedigjayaannya. Dan dengan hanya mengatakan ‘Gelap’ maka seketika datanglah angin dan hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Sebentar kemudian menjadi gelap-lah medan perang seperti malam layaknya.

Ki Patih bersama tentaranya kalang-kabut dan akhirnya kalah karena tak mampu melakukan perlawanan. Ki Patih dan bala tentaranya melarikan diri ke keraton dan melaporkan kejadian itu kepada Raja katanya : Seribu murka paduka akan hamba terima. Hamba dan kawan-kawan sudah tidak mampu lagi melawan Pak Lesap karena dia memiliki senjata Kodhi’ (semacam arit berpamor keris) yang bisa mengamuk sendiri. Maka dari itu lasykar Sumenep banyak yang menemui ajalnya. Disamping itu ia juga memiliki kedigjayaan dalam ucapannya (mandi pangoca’. Mad) sehingga apapun yang ia inginkan bisa terkabul. Seperti kalau ia menyebut petir maka datanglah petir, begitu juga kalau ia mengatakan gelap maka datanglah hujan dan angin.

Pangeran Sumenep : Kalau kamu sudah menyerah maka alangkah lebih baik kalau kita lari saja. Karena kalau terus kita lawan maka tak urung kita semua akan mati. Setelah itu mereka sepakat untuk meloloskan diri dan seluruh isi istana dibawa termasuk para Menterinya. Setibanya di pelabuhan Marengan mereka naik perahu. Sebagian dari mereka melaporkan peristiwa itu kepada tuan Residen di Surabaya, sedangkan sebagian lagi dikabarkan lari ke daerah Besuki. Oleh sebab ia lari karena kalah perang maka Pangeran itu lalu disebutnya sebagai Pangeran Lolos.

Dengan larinya Raja Sumenep maka Pak Lesap dan pengikutnya lalu memasuki keraton. Sesampainya di keraton Sumenep Pak Lesap menyelenggarakan keramaian dengan mengundang pesinden. Setelah setengah bulan lamanya ia di Sumenep Pak Lesap berembuk lagi dengan para Menterinya untuk mengadakan penyerangan ke Pamekasan.

Diceriterakan, bahwa Ki Patih Pamekasan sudah mendengar bahwa Sumenep telah ditaklukkan oleh Pak Lesap dan Rajanya meloloskan diri. Karena itu maka dia mengadakan perembukan dengan para Menterinya, katanya : Bagaimana kalau begini keadaannya sedang paduka Tumenggung Adikara masih belum datang dari Semarang ?? Dari hasil rembukan tersebut akhirnya diperoleh kesepakatan supaya seluruh rakyat Pamekasan melakukan perlawanan.

Dengan kesepakatan itu Ki Patih lalu memerintahkan untuk mengumpulkan lasykar lengkap dengan perkakas perangnya. Sementara Pak Lesap dengan tentaranya sudah berangkat ke Pamekasan dan berhenti di desa Kaduwara (tapal batas Sumenep-Pamekasan).

Dengan kesiapan yang ada lasykar Pamekasan berangkat menyongsong musuh kedesa dimaksud. Dalam pertempuran itu tentara Pak Lesap sempat kalang-kabut dan lasykar Pamekasan terus maju. Melihat kejadian itu Pak Lesap turun tangan dan mengamuk sendiri. Pada saat bersamaan bedil yang dipegang Ki Patih macet.

Karena itu lasykar Pamekasan banyak yang lari untuk menyelamatkan diri. Tak lama kemudian lasykar Pamekasan menyerah dan banyak rakyat Pamekasan yang lalu patuh pada Pak Lesap.
Keesokan harinya Pak Lesap menuju kota Pamekasan dan langsung memasuki keraton. Di keraton Pamekasan Pak lesap tidak menemukan apa-apa karena harta keraton sebelumnya sudah diselamatkan oleh lasykar Pamekasan.

Dibagian lain diceriterakan bahwa Raden Tumenggung Adikara sudah pulang dari Semarang. Sesampainya di Bangkalan ia sempat mampir pada mertuanya yaitu Pangeran Cakraningrat V. Pangeran Cakraningrat V berkata pada Tumenggung Adikara : Aku mendengar kabar bahwa negara Sumenep sekarang sudah dapat ditaklukkan oleh Pak Lesap sedangkan Rajanya telah meloloskan diri. Tumenggung Adikara : Kalau demikian sekarang nanda mohon pamit karena sudah pasti setelah menaklukkan Sumenep Pak Lesap akan menuju ke Pamekasan. Pangeran Cakraningrat V : Aku mengizinkanmu untuk segera kembali. Berhati-hatilah dan selalu ingat kepada Allah.

Setelah itu Tumenggung Adikara lalu berangkat diiringi tentara sebanyak delapan puluh orang diantaranya empatpuluh orang Menteri dari Bangkalan yang kesemuanya mengendarai kuda. Sesampainya di Sampang Tumenggung Adikara sudah mendengar tentang kesediaan rakyat Sampang untuk menyerah kepada Pak Lesap. Salah seorang rakyat Sampang menuturkan kepada Tumenggung Adikara, tuturnya : Aduh Gusti, kalau paduka suka maka alangkah baiknya kalau paduka segera kembali saja ke Bangkalan. Sebab kalau paduka tetap meneruskan perjalanan tentu akan mendapat celaka. Pamekasan sekarang sudah ditaklukkan oleh Pak Lesap.

Mendengar kabar itu Tumenggung Adikara semakin mempercepat lari kudanya untuk segera sampai di Pamekasan. Setelah memasuki kota Pamekasan mereka berpapasan dengan bala tentara Pak Lesap yang saat itu sedang bersiap menuju Sampang. Setelah Pak Lesap melihat Tumenggung Adikara dan tentaranya, lalu mengepungnya. Maka terjadilah peperangan.

Setelah jatuh beberapa korban dari kedua belah pihak maka Pak Lesap maju lagi ke arena pertempuran. Pak Lesap agak gentar menghadapi Tumenggung Adikara karena pada saat itu ia menggunakan tombaknya yang dikenal dengan tombak si Apoy (si Api). Keduanya lalu saling menyabung nyawa dan saling adu kepandaian dalam berperang. Pak Lesap dengan tentaranya sempat mundur ke desa Bulangan. Disana Pak Lesap lalu mengeluarkan senjata Kodhi’-nya yang bisa mengamuk sendiri sampai tentara Tumenggung Adikara habis samasekali.

Namun Tumenggung Adikara tetap tegar berdiri bahkan dengan tekad bajanya ia terus menyerang membabi buta. Dengan tombak si Apoy yang dipegangnya berguguranlah tentara Pak Lesap. Karena kemudian ia sudah tinggal seorang diri maka tak lama kemudian Tumenggung Adikara tewas dalam pertempuran itu. Maka dari itu orang-orang Pamekasan lazim menyebutnya sebagai Tumenggung Seda Bulangan (Tumenggung yang meninggal di Bulangan). Makamnya terletak di Kota Pamekasan didalam sebuah cungkup genteng di Asta-Daja (Asta Utara) dan berkumpul dengan Pangeran Rangga.

Sesudah tiga hari lamanya, Pangeran Cakraningrat V baru mendengar bahwa menantunya telah gugur di Bulangan. Ia sangat sedih hatinya. Waktu itu lalu datang seorang Menteri yang menjaga perbatasan Tanjung dan menghadap kepadanya. Pangeran Cakraningrat V : Apa maksudmu menghadap kemari ?? Menteri Tanjung : Hamba memberi kabar bahwa musuh paduka yakni Pak Lesap sekarang sudah sampai diperbatasan Sampang untuk menyerang Baliga. Orang-orang Sampang dan Baliga sudah bersiap-siap untuk menyerah.


Setelah itu Raden Tirtanagara lalu menjabat sebagai Raja sementara di Sumenep. Selanjutnya ia segera menulis surat untuk memberi kabar kepad...

Setelah itu Raden Tirtanagara lalu menjabat sebagai Raja sementara di Sumenep. Selanjutnya ia segera menulis surat untuk memberi kabar kepada Pangeran Cakranagara III bahwa negara Sumenep sekarang telah berhasil dia kuasai dan Raden Buka sudah tewas. Disebutkan pula bahwa pada saat itu dialah yang mewakili memegang tampuk pemerintahan di Sumenep. Pada saat itu situasi negara Sumenep kembali tenteram seperti sediakala.

 

Suatu hari diceriterakan bahwa Kanjeng Tuan Jenderal Baron Oyop datang ke Sumenep disambut oleh Raden Tirtanagara dengan upacara kerajaan. Jenderal Baron : Mengapa kamu yang menyambut ? Raden Tirtanagara : Benar, karena kami-lah yang sementara menggatikan paduka Raja. Jenderal Baron : Kemana gerangan beliau ? Raden Tirtanagara lalu menceriterakan awal peristiwa hingga akhirnya sebagaimana kejadian diatas.

 

Kanjeng Tuan Jenderal selanjutnya memerintahkan Raden Tirtanagara untuk melakukan serangan balasan ke Bangkalan dengan disertai serdadu Belanda sebanyak 250 orang selain ditambah tentara Sumenep sendiri sebanyak 1000 orang. Dalam penyerangan ke Bangkalan ini ikut pula seorang mayor memimpin serdadu Balanda dan dalam peperangan itu negara Bangkalan sempat dikalahkan serta pemerintahannya jatuh ketangan Kompeni Balanda.

 

Diceriterakan sekarang bahwa Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos) telah mendapat ampunan Kompeni dan diangkat kembali menjadi penguasa di Sumenep. Rakyat Sumenep merasa bersyukur karena bekas Rajanya sudah kembali atas jasa dan bantuan Raden Tirtanagara. Sesampainya di Sumenep Pangeran Cakranagara mengadakan acara selamatan yang dihadiri oleh seluruh rakyat besar maupun kecil. Setelah berkumpul Pangeran Cakranagara berkata : Aku sekarang telah menjabat lagi sebagai Raja di Sumenep berkat pertolongan Raden Tirtanagara serta kesetiaan seluruh rakyat.

 

Ini adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagiku dan semoga kalian semua tetap setia kepadaku sebagaimana kesetiaan yang ditunjukkan Raden Tirtanagara. Sejak Pangeran Cakranagara berkuasa kembali negara Sumenep semakin tenteram dan makmur serta rakyat patuh kepada perintah Rajanya.

 

Dilain tempat yaitu di negara Bangkalan diceriterakan bahwa ada seorang abdi tukang kuda (perawat kuda tunggangan Raja) bernama Pak Lesap. Pak Lesap ini tak ada lain cita-citanya selain ingin menjadi Raja yang bisa membawahi kerajaan-kerajaan lain. Dari sebab cita-citanya itu maka ia tak henti-hentinya memohon kepada Yang Kuasa dengan jalan melakukan puasa berhari-hari, mendatangi tempat-tempat sepi serta kuburan-kuburan keramat bahkan sering menyepi di goa-goa. Tak lama kemudian ia melarikan diri dari keraton dan bertapa di Gunung (bukit) Geger.

 

Kiyai Jiwantaka segera berangkat naik kuda tunggangan Raja ke Gunung Geger. Sesampainya disana ia bertemu dengan seorang laki-laki berpakaian putih mulus sedang duduk bertapa dibawah sebuah pohon yang rindang. Setelah diperhatikan lama-lama Kiyai Jiwantaka ingat bahwa laki-laki yang dijumpainya itu adalah bekas bawahannya yaitu pengasuh kuda Rajanya yang bernama Pak Lesap.

 

Namun Pak Lesap sudah lupa kepada Kiyai Jiwantaka maka itu ia bertanya : Siapakah tuan. Dan apa maksud tuan datang kemari. Kiyai Jiwantaka : Aku adalah bekas atasanmu di keraton Bangkalan bernama Kiyai Jiwantaka. Pak Lesap : Janganlah tuan marah karena kami sudah lupa setelah lama kita berpisah. Kiyai Jiwantaka : Kapan engkau menetap disini ? Pak Lesap : Sudah lama. Mari silakan Kiyai duduk disini. Kiyai Jiwantaka lalu duduk berhadap-hadapan dengan Pak Lesap seperti layaknya orang sedang bertamu.

 

Pak Lesap : Sebenarnya saya sangat bangga didatangi tuan dan rasa syukur kami kepada Yang Kuasa karena tuan telah sudi menjenguk kami. Kiyai Jiwantaka : Sebetulnya aku kesini ada kepentingan padamu. Dan kalau kamu suka memenuhi permintaanku maka aku seperti mendapat segunung emas. Pak Lesap : Apakah gerangan permintaan itu ? Kiyai Jiwantaka : Aku diutus paduka Raja untuk membawamu ke keraton. Tentang kepentingannya apa aku belum tahu. Aku hanya diutus dan kedudukanku hanya sebagai utusan. Pak Lesap : Seandainya bukan Kiyai yang diutus tentu kami tidak mau menghadap. Mari kita berangkat.

 

Selanjutnya berangkatlah Pak Lesap dengan senjata Songre’ (semacam arit kecil) yang diselipkan dipunggungnya menuju keraton dan langsung menghadap Raja diiringi Kiyai Jiwantaka. Raja Bangkalan : Apa kerjamu di Gunung Geger ?! Pak Lesap : Hamba melakukan perdukunan (menjadi dukun) disamping bertani menanam jagung, lombok, terung, ubi, talas dan semacamnya. Raja Bangkalan : Apa engkau dapat menyembuhkan sesuatu penyakit ? Pak Lesap : Ya, bisa sedikit-sedikit dan terkadang banyak juga yang berhasil sembuh.

 

Raja Bangkalan : Mulai sekarang kamu jangan kembali lagi ke Gunung Geger dan tinggallah saja dikota. Aku sediakan bagimu rumah yang bagus serta akan kubuatkan langgar sebagai tempat untukmu mengajar ngaji. Tentang makan dan keperluan sehari-hari akan kujamin semuanya dan aku juga akan menganugerahkan kepadamu sebanyak duaratus orang perdikan. Tinggallah didesa Pajagan dan desa itu menjadi hakmu. Pak Lesap : Atas semua anugerah yang telah paduka berikan hamba menghaturkan banyak terimakasih, semoga paduka tetap kasih pada hamba.

 

Kemudian Raja Bangkalan memanggil Mas Aria Mancanagara dan Kiyai Wanayuda. Kepada mereka diperintahkan untuk membuat sebuah rumah dan langgar didesa Pajagan untuk Pak Lesap. Setelah rumah dan langgar selesai Pak Lesap diantar untuk mendiaminya. Sejak ada dirumah itu Pak Lesap menjadi terkenal. Banyak orang datang untuk mengobati penyakitnya bahkan ada yang minta jimat sebagai penglaris dagangannya. Kebanyakan orang-orang yang datang dari luar negara Bangkalan dan mereka berhasil mencapai maksudnya.

 

Tetapi dengan kegiatan itu Pak Lesap belum puas hatinya. Ia terus menjalankan tapanya. Kalau siang ia berpuasa dan malam hari ia tidak tidur. Maksud dan cita-citanya tiada lain kecuali ingin menjadi seorang Raja Agung yang dapat membawahi negara-negara seperti misalnya negara Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Gresik, Lamongan, Sedayu, Bangil, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Panarukan dan juga Bali.

Pada suatu malam Pak Lesap berpikir begini : Kalau terus aku jadi dukun disini sudah tentu tak akan tercapai cita-citaku. Dari sebab itu maka pada suatu tengah malam Pak Lesap melarikan diri dan tak ada seorangpun yang tahu.

 

Ia menuju kearah timur dan kalau pagi tiba ia bersembunyi digoa-goa yang terlindung seperti digoa Gunung Kampek karena takut diketahui orang termasuk para punggawa karaton Bangkalan yang sudah tentu ditugaskan untuk mencarinya. Kalau hari mulai gelap ia melanjutkan perjalanannya lagi. Setiap hari ia lakukan seperti itu sampai akhirnya Pak Lesap tiba di Goa Pajudan dan melangsungkan tapanya disana.

 

Setelah Raja Bangkalan mengetahui kalau Pak Lesap lari, maka ia memerintahkan para punggawanya untuk mencari. Dicarinya Pak Lesap kebukit-bukit, kehutan dan goa-goa tetapi usahanya tak berhasil.

 

Di Goa Pajudan Pak Lesap bertapa dengan cara menghadapkan dirinya kesegala arah. Ia menghadap kearah barat masing-masing selama empatpuluh hari, ketimur, keselatan, keutara, keatas, kebawah, bahkan menggantung diatap goa dengan kedudukan kepalanya ada dibawah. Tak lama kemudian apa yang diinginkan Pak Lesap terkabulkan. Pak Lesap diberi kemampuan ilmu tembus pandang. Ia dapat mengetahui sesuatu hal yang belum terjadi serta diijinkan menjadi Raja untuk membawahi negara-negara sebagaimana yang diinginkannya tadi.

 

Dari sebab itu dia mencoba kedigjayaannya seperti : Kalau anjing ia sebut kambing maka anjing lalu menjadi kambing. Kuda disebut sapi maka kuda itu lalu menjadi sapi. Ayam dikatakan burung lalu ayam jadi burung, batu dikatakan emas lalu batu jadi emas bahkan burung yang terbang-pun dapat dipanggilnya turun. Karena itu Pak Lesap lalu banyak pengikutnya dan mereka terdiri dari orang-orang disekitar tempat tapanya. Pak Lesap kemudian mengangkat Menteri sebanyak empatpuluh orang diantaranya diberi gelar Gunturgeni, Gunturgunung, Sengnga Amok, Sengnga Rangsang dan sebagainya.

Setelah Pangeran Rama meninggal dunia lalu diganti oleh puteranya yaitu Pangeran Jimat dengan gelar Pangeran Cakranagara II. Pangeran Rama d...


Setelah Pangeran Rama meninggal dunia lalu diganti oleh puteranya yaitu Pangeran Jimat dengan gelar Pangeran Cakranagara II. Pangeran Rama dikebumikan di Asta Raja berkumpul dengan Tumenggung Pulangjiwa disebelah barat makam Sultan Sumenep hanya berjarak tembok pagar.

Makam tersebut beratap genteng dan masih baik keadaannya. Pagar tembok sekelilingnya memakai pintu pekarangan berundak dua. Pintu pekarang sebelah dalam menghadap keselatan dan diluarnya terdapat pendapa. Orang Sumenep lazim menyebut Asta Pangeran Jimat. Asta tersebut masih baik karena terawat. Di nisan Pangeran Rama tidak ada tulisan yang dapat menyebutkan kapan meninggalnya.

Yang satu atap dikuburan tersebut dari arah barat deret paling utara : 

1. Paling barat, makam seorang perempuan (tidak diketahui siapa namanya).
2. Pangeran Anggadipa.
3. Pangeran Sepuh (Raja Wirasari) suami Raden Ayu Kacang.
4. Pangeran Rama.
5. Raden Ayu Tumenggung Pulangjiwa (Raden Ayu Arta’).
6. Tumenggung Pulangjiwa. Banyak lagi diurutan nisan kakinya tetapi bukan Raja, hanya bala sentana atau keturunan para Raja diatas.

Pada waktu Pangeran Jimat (Pangeran Cakranagara II) menjabat Raja di Sumenep, negara Pamekasan, Besuki, Blambangan (Banyuwangi) dibawah pemerintahan Sumenep. Pegunungan didaerah Besuki yang membabat adalah Pangeran Jimat yang kemudian mengirim beberapa orang dari Sumenep untuk menempatinya (semacam Transmigrasi). Kamudian Pangeran Jimat juga pernah berjasa kepada pemerintah Belanda sewaktu peperangan dengan Pangeran Sidhing Kapal di Bangkalan. Jasa Pangeran Jimat diterima oleh Pemerintahan Belanda karena ia dapat memenangkan peperangan tersebut.

Pangeran Jimat meninggal pada tanggal 25 bulan Syaffar 1144 tahun Arab, 1656 tahun Jawa, 1725 tahun Masehi. Pangeran Jimat lalu digantikan oleh keponakannya yaitu Raden Apsara yang bergelar Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos). Pangeran Jimat dikebumikan disebuah cungkup genteng sebelah selatan Pangeran Rama, dikumpulkan dengan saudaranya. Disebelah baratnya adalah makam Ratu Ari (Raden Ayu Aria Adipati Saccaadiningrat), meninggal pada tahun 1147 tahun Arab, 1659 tahun Jawa, atau 1728 tahun Masehi. Makam Pangeran Jimat terletak ditengah, sebelah timurnya adalah makam Ratu Wirawangsa (ibu Pangeran Lolos) yang meninggal 1139 tahun Arab, 1651 tahun Jawa atau 1720 tahun Masehi.

Cungkup tersebut berbentuk seperti rumah dan didepannya ada bangunan seperti pendapa. Kayu penyangga cungkupnya terbuat dari kayu disusun motif tumpang sari berukir dan alas gentengnya dicat warna emas. Didalam bangunan itu terdapat pula semacam gedek dari kayu dikanan-kiri pintu masuknya diukir bagus. Dibagian utara sebelah dalam cungkup juga terdapat gedek kayu berukir seperti diterangkan diatas dinamai alon-alon, ada juga disebelah dalam pintu masuk kira-kira tingginya setengah meter. Menurut kabar cungkup tersebut adalah pendapa kerajaan Pangeran Jimat tetapi kata sebagian orang Sumenep yang percaya menyebutkan bahwa itu adalah pendapa keraton Tumenggung Kanduruwan. Pekarangan cungkup itu kelihatannya angker meskipun pada keadaan siang hari.

Keraton dan Mesjid yang dibangun Tumenggung Kanduruwan di Karangduak sekarang sudah tidak berbekas karena sudah dijadikan hunian oleh penduduk sekitarnya. Kampung itu bernama kampung Karangsabu dan Kampung Karangdalem desa Karangduak.

Tak seberapa lama Pangeran Cakranagara III yang yang menjabat sebagai Raja di Sumenep kemudian mendapat suatu kesulitan menghadapi perang dengan seorang prajurit dari Bangkalan yang dibantu dengan punggawanya bernama Raden Buka. Nama prajurit dari Bangkalan itu adalah Pangeran Jurit. Setelah Pangeran Cakranagara mendengar kabar bahwa Pangeran Jurit menuju Sumenep untuk menantang perang ia memerintahkan Ajek Kabayan untuk mengumpulkan bala tentara dan membunyikan bendi perang. Setelah terkumpul maka berangkatlah mereka dibawah pimpinan seorang Menteri bernama Raden Tirtanagara.

Sesampainya di Desa Geddungan mereka bertemu dengan Pangeran Jurit dan lasykarnya. Raden Tirtanagara segera memberi isyarat bagi tentaranya untuk segera menyerang lasykar Bangkalan yang jumlahnya cukup banyak itu. Dalam peperangan itu banyak tentara Sumenep yang terbunuh dan luka-luka. Sebagian lagi memberi laporan kepada Pangeran Cakranagara, katanya : Hamba sudah tidak kuat lagi menghadapi lasykar dari Bangkalan yang demikian banyaknya. Sudah banyak prajurit Sumenep yang mati dan luka-luka.

Mendengar laporan itu sang Raja sangat murka lalu memerintahkan Patihnya katanya : Hai Patih, sekarang segera kamu hadapi Pangeran Jurit dan bawalah prajurit sebanyak empat puluh orang saja. Pilih diantara mereka yang perkasa. Ki Patih segera berangkat bersama Menteri sebanyak empat puluh dan lasykar empat ratus orang. Lama peperangan itu konon berlangsung delapan hari dan korban prajurit berjatuhan di kedua belah pihak. Melihat banyaknya korban maka keluarlah Pangeran Jurit ketengah pertempuran melawan Ki Patih sedangkan Raden Buka berhadapan dengan Raden Tirtanagara.

Tetapi kemudian Ki Patih bersama lasykarnya mundur dari pertempuran dan melapor halnya perang kepada Raja. Sedangkan Raden Tirtanagara tetap bertahan bersama lasykar sisanya. Kepada Pangeran Ki Patih berkata : Kami semua sudah tidak mampu melawan Pangeran Jurit karena selain banyak jumlah prajurit mereka juga sangat pandai dalam berperang. Raja Sumenep : Ada dimana sekarang Raden Tirtanagara ?? Ki Patih : Sekarang dia masih melakukan perlawanan. Tetapi menurut hamba tak mungkin perang akan dimenangkan karena lasykar Sumenep sudah banyak yang tewas dan luka-luka.

Raja Sumenep : Jadi bagaimana menurutmu, Patih ?! Ki Patih : Menurut hamba alangkah baiknya kalau paduka sendiri yang menghadapinya. Hamba semua bersedia mati kalau mendampingi paduka dalam pertempuran ini. Raja Sumenep : Kalau kalian sudah tak sanggup maka langkah yang lebih baik mari kita lari saja.

Sedangkan kepada Raden Tirtanagara perintahkan saja seseorang untuk menyusulnya. Katakan padanya bahwa aku bersama kamu telah lolos naik perahu. Setelah itu berangkatlah mereka menuju arah timur diiringi oleh orang-orang keraton. Sesampainya di Marengan mereka naik perahu menuju Surabaya. Maka dari itu a dia selanjutny disebut sebagai Pangeran Lolos.

Mendengar Raja Sumenep melarikan diri Raden Tirtanagara merasa sangat kesal karena dirinya masih merasa mampu menghadapi tentara musuh. Dengan raut muka memerah bara ia berkata kepada bala tentaranya katanya : Hai bala tentara Sumenep, aku kabarkan pada kalian bahwa paduka Raja dan Ki Patih sekarang telah meloloskan diri. Maka itu hentikan perang ini sekarang juga. Mari kita pulang. Tetapi hendaknya kalian jangan berkecil hati atas kejadian ini. Dilain hari aku yang akan memimpin perang sendiri dan akan kurebut kembali negara Sumenep. Kuharap kalian mengerti serta bersungguh hati supaya rakyat Sumenep tidak sampai jatuh dibawah pemerintahan Raja dari negara lain. Lasykar Sumenep setuju dan mereka pulang ke Sumenep.

Raden Buka selanjutnya memasuki kota dan memangku jabatan Raja menggantikan Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos). Sejak dirinya menjabat Raja di Sumenep keadaan negara lalu tidak aman. Pencurian dan perampokan merajalela disamping pembunuhan dan kekurangan pangan. Oleh karena itu maka banyak rakyat kecil yang meninggalkan kota bahkan banyak yang lari ke lain negara. Keadaan menjadi kacau apalagi Raden Buka banyak merobah aturan dan kebiasaan yang telah lama dijalankan oleh tata pemerintahan terdahulu.

Pada suatu hari Raden Tirtanagara mengumpulkan seluruh tentaranya dan mengambil sumpah mereka. Sesudah itu dikirimkan sepucuk surat tantangan kepada Raden Buka. Setelah Raden Buka menerima surat Raden Tirtanagara ia sangat gusar lalu berpesan pada utusan pembawa surat, katanya : Katakan kepada Raden Tirtanagara “perbanyak senjata perangnya“. Bagiku dia hanya seperti jari kelingking yang remeh. Sekarang pulang dan katakan pada majikanmu. Utusan segera pulang dan menyampaikan apa pesan Raden Buka kepada Raden Tirtanagara.

Setelah mendengar kabar itu Raden Tirtanagara kembali mengumpulkan tentara lengkap dengan perkakas perangnya. Dilain pihak Raden Buka juga bersiap tetapi tidak memberitahu tentaranya dengan siapa mereka akan bertempur. Diiringi kelengkapan keraton berangkatlah Raden Buka ke medan pertempuran dengan menunggang kuda. Setelah mengetahui siapa musuh yang akan dihadapi maka terkejutlah tentara Sumenep yang ada dibawah pimpinan Raden Buka. Mereka saling bertanya karena lawan mereka juga orang Sumenep dibawah pimpinan Raden Tirtanagara.

Setelah Raden Tirtanagara melihat Raden Buka, secepat kilat ia maju. Setelah dekat dipukullah Raden Buka. Namun Raden Buka masih sempat berkata : Apakah engkau masih merasa kuat untuk melawanku ?? Kalau tak mau menyerah maka kamu akan segera temui ajal sebentar lagi. Raden Tirtanagara tak menjawab namun segera menyarangkan pukulan tombaknya. Raden Buka sempat terjungkal dan jatuh dari kudanya tapi tak sedikitpun tergores luka dibadannya. Sementara tentara dikedua belah pihak masih diam dan terheran-heran. Setelah beberapa waktu berselang Raden Buka tewas akibat terkena senjata Raden Tirtanagara dilambungnya.


Tumenggung Yudanagara selanjutnya kawin dengan Nyai Kane puteri Kiyai Jamantara dari Sampang yang juga merupakan kemenakan Pangeran Tarunaja...


Tumenggung Yudanagara selanjutnya kawin dengan Nyai Kane puteri Kiyai Jamantara dari Sampang yang juga merupakan kemenakan Pangeran Tarunajaya. Tak lama kemudian dari perkawinannya mereka dikaruniai empat orang anak sama-sama perempuan masing-masing bernama 

Raden Ayu Otok, Raden Ayu Kacang, Raden Ayu Arta’ dan Raden Ayu Batur.
Raden Ayu Otok selanjutnya kawin dengan Pangeran Gatutkaca dari Pamekasan yaitu cucu dari Pangeran Purbaya di Pamekasan atau buyut dari Pangeran Rangga di Pamekasan. Sedangkan Pangeran Rangga ini adalah putera dari Kiyai Adipati Parmana di Sampang yaitu keturunan Lembupetteng dan Aria Damar Raja Palembang sama-sama putera Brawijaya Raja Majapahit. Pangeran Gatutkaca kemudian dikaruniai anak empat orang masing-masing bernama :

1. Tumenggung Adikara, menjadi Bupati Pamekasan dan meninggal di Ampel.
2. Raden Tumenggung Jayanagara, menjadi Bupati di Pamekasan.
3. Pangeran Rama, menjadi Bupati di Sumenep.
4. Raden Ayu Anggajaya.

Raden Ayu Kacang menjadi isteri Tumenggung Wirasari di Sumenep dan mempunyai anak :

1. Raden Ayu Tumenggung Jayanagara di Pamekasan.
2. Raden Wiramanggala di Sumenep.
3. Raden Ayu Purwasari di Sumenep.

Raden Ayu Arta’ menjadi isteri Raden Tumenggung Pulangjiwa di Sumenep dan mempunyai anak :

1. Raden Ayu Gumbrek, yaitu isteri Pangeran Rama.
2. Raden Ayu Suri, menjadi isteri Raden Pulangjiwa (Patih dari Pangeran Rama).
3. Raden Ayu Kasi, menjadi isteri Raden Jayakusuma (kemenakan Tumenggung Pulangjiwa).

Raden Ayu Batur menjadi isteri Tumenggung Baskara di Pamekasan tetapi mereka tidak memiliki keturunan.

Diceriterakan bahwa Kiyai Carebun atau guru Tumenggung Yudanagara meninggal di Sumenep dan dimakamkan didesa Kepanjin kampung Bujanggan. Makam ini dianggap keramat dan tetap sampai sekarang. Setelah Tumenggung Yudanagara berusia lanjut negara Sumenep diserahkan kepada dua orang menantunya yaitu Tumenggung Wirasekar yang beberapa saat kemudian bergelar Raja Wirasari, sedangkan yang seorang lagi yaitu Tumenggung Pulangjiwa. Raja Wirasari ini oleh orang Sumenep lazim disebut Pengeran Sepuh.

Beberapa waktu kemudian Tumenggung Yudanagara meninggal dunia dan dikebumikan didesa Kebonagung. Makamnya tak ada tulisan yang dapat menerangkan kapan ia meninggal. Disebelah utara, barat dan selatan makam itu ada sungainya dan sekarang disebelah timurnya-pun ada. Jadi sekarang Asta tersebut dikelilingi sungai karena pada tahun 1912 Masehi atau 1842 tahun Jawa sungai di Kebonagung dirobah dan dibangun sebagai tambak irigasi. Airnya dialirkan kearah timur.

Sampai didesa Pandian dibangun tambak irigasi lagi yang dinamai Tambak Karaton. Air yang dialirkan kearah selatan dan ketimur daya (tenggara) dari tambak irigasi ini dipakai mengairi sawah-sawah, sedangkan yang dialirkan ketimur melewati Keraton (Kabupaten) dan ke Tangsi (Asrama Tentara) alirannya melewati seputar alon-alon kota.

Setelah Tumenggung Pulangjiwa dan Pangeran Sepuh meninggal dunia, pimpinan negara Sumenep digantikan oleh menantu Tumenggung Pulangjiwa bernama Pangeran Rama yang akhirnya bergelar Pangeran Cakranagara. Jenazah Pangeran Sepuh dan Tumenggung Pulangjiwa dikuburkan didesa Kebonagung juga, yang letaknya disebelah barat laut makam Yudanagara berkumpul dengan makam Pangeran Anggadipa. Kawasan itu selanjutnya dibuat sebagai tempat pemakaman Raja-Raja setelahnya.

Asta tersebut selanjutnya lazim disebut Asta Raja (makam para pembesar). Di makam Tumenggung Pulangjiwa maupun Pangeran Sepuh tak ada tulisan yang menerangkan kapan mereka meninggal.

Diceriterakan bahwa putera Raden Ayu Oto’ (isteri Pangeran Gatutkaca) adalah :

1. Raden Tumenggung Adikara, beristeri puteri Pangeran Cakraningrat II di Bangkalan dan memiliki putera Tumenggung Adikara (Tumenggung Seda Bulangan) atau menatu Pangeran Cakraningrat V Bangkalan.

2. Raden Tumenggung Jayanagara berkedudukan di Pamekasan beristeri puteriRaden Ayu Kacang yang sulung dan mempunyai putera : 

   a. Raden Jayanagara, menjabat sebagai Jaksa pada saat pemerintahan Pangeran Jimat.
   b. Raden Ayu  Adikusuma, menjabat Menteri Pararanda (para janda) di Sumenep.
   c. Raja Ari (Ratu Ari).

3. Pangeran Rama (Pangeran Cakranagara) mempunyai empat orang putera : 

   a. Raden Ahmad (Pangeran Jimat).
   b. Raden Aria Adipati (Ratu Ari).
   c. Raja Wiranagara.
   d. Ratu Tirtanagara, bekedudukan di Sumenep.

4. Raden Ayu Anggajaya tidak berputera.   Putera-putera Raden Ayu Kacang :

   1. Raden Ayu Tumenggung Jayanagara. dan
   2. Raden Wiramanggala yang berputera : 

      a. Raden Wirasari.
      b. Raden Wiramanggala.
      c. Raden Sumasari.
      d. Raden Kertakusuma.
      e. Raden Wangsarajja.
      f. Raden Patramanggala.
      g. Raden Alsa (ayah Patih Raden Prawiranagara). h. Raden Anggawijaya.

   3. Raden Ayu Purwasari berputera :

     a. Perempuan, menjadi selir Raden Tumenggung Adikara (Tumenggung Seda Bulangan).
     b. Raden Purwanagara (patih di Sumenep).

Putera-putera Raden Ayu Arta’ (Raden Tumenggung Pulangjiwa) :

  1. Isteri Pangeran Rama.
  2. Isteri Patih Pulangjiwa (tidak memiliki putera).
  3. Raden Ayu Jayakusuma (Raden Ayu Kasi) berputera : 

     a. Raden Surakusuma.
     b. Raden Zita, bergelar Pulangjiwa (Patih Pangeran Jimat).
     c. Raden Atma, bergelar Pulangjiwa II menjadi pengganti Raden Zita setelah ia meninggal.
     d. Raden Ayu Wangsakusuma, pegawai pesisir di Sumenep.

  Putera-putera Pangeran Rama (Pangeran Cakranagara) yaitu :

 1. Pangeran Jimat (Pangeran Cakranagara II), tidak berputera.
 2. Ratu Ari (Raden Ayu Aria Adipati) tidak berputera.
 3. Raja Wiranagara, memiliki putera : 

     a. Tumenggung Askara, berkedudukan di Pamekasan.
     b. Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos) berkedudukan di Sumenep.

4. Ratu Tirtanagara, tidak berputera berkedudukan di Sumenep.

Keesokan harinya konon datang lagi orang-orang Sampang yang tak terhitung banyaknya dengan kelengkapan perang lengkap sebagai bantuan untuk ...


Keesokan harinya konon datang lagi orang-orang Sampang yang tak terhitung banyaknya dengan kelengkapan perang lengkap sebagai bantuan untuk melawan orang-orang Sumenep. Pangeran Lor II dan puteranya masih gigih memberi perlawanan. Tetapi karena jumlah tentaranya tak sebanding maka meski dirinya berurat kawat, bertulang besi dan berkulit tembaga sekalipun tentu tak seberapa kekuatannya. Akhirnya kedua pemimpin negara Sumenep itupun tewas.

Kedua orang tersebut kemudian sama-sama dikuburkan di Sampang. Pangeran Lor II dikubur di Asta Pangeranan kota Sampang sedangkan Pangeran Cakranegara dikuburkan didesa Palakaran sebelah barat Kota Sampang. Oleh orang-orang Sampang kedua kuburan tersebut lazim disebut sebagai Asta (makam) Pengeran Sumenep. Sedangkan Raden Bugan oleh sebagian para pengiringnya berhasil diloloskan ke Carebun dan terus dihadapkan ke Sultan Demak. Setelah Sultan Demak mendengar laporan dari orang-orang Sumenep yang berhasil lolos tadi sangat sedih hatinya. Singkat ceritera kemudian Raden Bugan disuruh mondok dan belajar mengaji ke Kiyai Carebun dan Kiyai itu konon paling terkenal kealiman maupun kekeramatannya.

Yang menggantikan sebagai pemimpin negara di Sumenep adalah orang dari Jepara bernama Mas Anggadipa berpangkat Tumenggung. Tak lama kemudian Tumenggung Anggadipa lalu diangkat sebagai Pangeran Anggadipa. Selama di Sumenep Pangeran ini sempat mendirikan sebuah Mesjid yang sekarang dinamai Mesjid Lama (Mesjid Laju) yang letaknya berada disebelah utara Kantor Kabupaten sekarang. Menurut tulisan yang ada dipintu mesjid pembangunan Mesjid itu didirikan pada 1370 tahun Jawa, atau 1639 tahun Masehi.

Tetapi akibat fitnah dari Raja Sampang, Pangeran Anggadipa dipecat dari jabatannya oleh Sultan Demak lalu diganti orang dari Sampang bernama Raden Aria Jayengpati berpangkat Tumenggung. Dengan kejadian itu Pangeran Anggadipa lalu tidak pulang lagi ke Jepara dan menetap di Sumenep karena disini banyak anak-cucunya. Dia meninggal di Sumenep dan dikubur disebuah bukit pekuburan didesa Kebonagung.

Saat Raden Aria Jayengpati menjabat Raja di Sumenep, Raden Bugan sudah dewasa. Pada saat itu guru ngajinya (Kiyai Carebun) berkata padanya : Mari sekarang kamu pulang ke Sumenep dan aku akan ikut serta untuk mendampingimu. Kamu adalah keturunan Raja di Sumenep semoga negara Sumenep akan kembali padamu. Raden Bugan : Terimakasih atas saran yang telah diberikan pada kami tetapi hasrat hati rasanya sudah tak ada keinginan lagi untuk menjabat sebagai Raja karena masih belum ada jalan menuju kesana.

Kalau mungkin, kami akan mencontoh sikap guru saja dan terus belajar mengaji untuk menjadi orang yang berilmu. Kiyai Carebun : Ucapanmu itu benar, tapi lebih baik sekarang kamu pulang untuk mengabdikan diri pada Raja Sumenep. Dibelakang hari akan ada orang alim yang punya kuasa dan dia akan menolongmu.

Singkat ceritera Raden Bugan dan gurunya lalu pulang ke Sumenep. Sesampainya didaerah pesisir mereka menumpang sebuah perahu. Setelah sampai ditengah laut, konon perahu itu tak mendapat angin . Meski telah diupayakan untuk didayung tetapi perahu itu tetap tak mau jalan. Raden Bugan lalu mengambil tombaknya untuk dibuat dayung maka lajulah perahu itu. Tombak itu selanjutnya dinamai Serrang-Dayung (mempercepat jalan perahu).

Perahu itu selanjutnya sampai di Pulau Mandangil yang letaknya berada disebelah selatan Sampang. Disana Raden Bugan bertemu dengan seorang yang sedang nyepi bernama Raden Tarunajaya seorang putera dari Bangkalan keturunan Cakraningrat. Ibunya masih keturunan Arya Kudapanole dari Sumenep. Dia dilahirkan di Sampang dan sampai sekarang tempat kelahirannya itu dinamai Pababaran (tempat kelahiran).

Setelah keduanya bertemu dipulau Mandangil mereka kemudian saling bertegur-sapa dan keduanya sepakat untuk nyepi disana beberapa saat. Setelah keduanya mendapatkan apa yang diinginkan Raden Tarunajaya berkata kepada Raden Bugan katanya : Sekarang pulanglah tuan ke Sumenep dan mengabdilah kepada Raja disana. Pada suatu saat kami akan mengadakan penyerangan ke Sumenep. Tapi kami tidak akan mengadakan pengrusakan dan tidak akan memasuki kota. Kami ingin supaya tuan menjemput kami nanti didesa Duwara dan upayakan supaya saat tuan menjumpai kami tanpa diketahui orang. Setelah keduanya sepakat Raden Bugan bersama gurunya berangkat dan pulang ke Sumenep.

Sesampainya di Sumenep mereka langsung menghadap Raja dan mengajukan keinginannya untuk mengabdi. Permintaannya diterima oleh Raja dan selanjutnya ia dijadikan punggawa bawahan dengan pangkat Kabayan bergelar Wangsajaya. Karena Raden Bugan rajin dan jujur, tak lama kemudian ia diangkat jadi Menteri dan didudukkan sebagai Ajek Kabayan.

Dilain pihak diceriterakan bahwa Raden Tarunajaya sudah banyak menaklukkan negara-negara. Maka ia lalu diberi julukan Pengeran Tarunajaya berkedudukan di Sampang. Pada suatu hari Pangeran Tarunajaya berangkat ke Sumenep. Sesampainya didesa Bangkoneng yaitu batas Sumenep dan Pamekasan ia lalu berhenti. Keesokan harinya lalu membuat surat tantangan kepada Raden Aria Jayengpati Raja Sumenep dan disuruh antarkan kepada beberapa orang pengiringnya.

Setelah Raden Aria Jayengpati menerima surat tersebut dan surat tersebut selesai dibacanya maka ia mengatakan pada Ajek Kabayan dan para Menteri yang lain begini : Aku menerima surat dari Pangeran Tarunajaya untuk menantang perang dan sekarang mereka sedang berada diperbatasan negara yaitu didesa Bangkoneng. Siapa diantara kalian sekarang yang berani menghadapinya ??

Para Menteri : Lebih baik paduka Raja saja yang berangkat kesana biar kami akan mengikuti dibelakang. Kami dengar kabar bahwa Pangeran Tarunajaya sangat terkenal keprajuritannya serta kekebalannya sehingga banyak para Raja yang takluk kepadanya. Kalau kami yang menemuinya sama saja seperti ketimun menantang lalap.

Tetapi kalau paduka sendiri sudah tentu masih jaya-dijaya. Wangsajaya : Kalau menjadi suka paduka perkenankan kami saja untuk menemui Pangeran Tarunajaya. Kami rela mengemban tugas dari paduka Raja dan berikanlah kepada kami sebanyak tujuh ratus tentara. Raja Sumenep sangat gembira mendengar kesediaan Wangsajaya lalu diperintahkannya untuk mengumpulkan tentara sebanyak yang diminta serta membunyikan bendi perang. Sesudah tentara Sumenep berkumpul maka berangkatlah mereka kemedan pertempuran.

Sesampainya didesa Prenduan hari sudah senja jadi orang-orang Sumenep bermalam disana. Pada saat orang-orang tidur nyenyak di tengah malam Wangsajaya menemui Pangeran Tarunajaya. Dia membawa senjata berbentuk tombak yaitu si Serrang-Dayung. Setelah berjumpa lalu mereka duduk berdua. Orang-orang Sampang tercengang melihat Rajanya duduk bersama seorang bawahan.

Pada saat pagi hari tiba tentara Sumenep terkejut sesudah mengetahui bahwa pimpinannya yaitu Wangsajaya hilang. Setelah Raden Aria Jayengpati mendengar kabar itu dia sangat marah, sedih bercampur khawatir kalau Wangsajaya sampai tertangkap musuh dan dibunuhnya.

Keesokan hari berikutnya Pangeran Tarunajaya bersama bala tentaranya berangkat ke Sumenep. Sesampainya di desa Prenduan orang-orang Sumenep sudah tak ada. Jadi Pangeran Tarunajaya terus memasuki kota. Sesampainya dibatas kota orang-orang Sumenep pada berlarian mengungsi kedalam keraton karena takut pada tentara musuh yang sedang datang. Raden Aria Jayengpati kebingungan dan memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang seisi keraton. Setelah terkumpul lalu mereka melarikan diri kearah barat.

Maka itu Wangsajaya kemudian lalu dilantik oleh Pangeran Tarunajaya menggantikan Tumenggung Jayengpati dengan gelar Tumenggung Yudanagara. Pada masa itu juga diceriterakan bahwa rakyat Sumenep menentang pelantikan itu karena mereka masih belum mengetahui bahwa Tumenggung Yudanagara adalah keturunan Raja Sumenep juga.

Maka itu Tumenggung Yudanagara lalu menceriterakan asal-usul keturunannya kepada para kawulanya. Sesudah mengetahui rakyat Sumenep merasa bersyukur karena negaranya sekarang jatuh ketangan ahli warisnya sehingga mereka bertambah setia kepada Tumenggung Yudanagara. Negara Sumenep saat itu konon bertambah tenteram keadaannya. (bersambung)



Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. P...


Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah¬wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua¬tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po¬leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di-tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men¬jadi ramai karena sering kedatangan tamu– tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud – maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa¬ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu¬ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut¬nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka¬rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceritera–ceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.




Semua tindakan yang akan diambil hendaknya berembuk dulu dengan ayah dan ibumu, saudaramu juga para sepuh, janganlah kalian merasa pandai se...


Semua tindakan yang akan diambil hendaknya berembuk dulu dengan ayah dan ibumu, saudaramu juga para sepuh, janganlah kalian merasa pandai sendiri. Sebab semua pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan sendiri oleh seseorang yang meskipun mempunyai kemampuan dan kepandaian sampai setinggi langit sekalipun. Orang yang tanpa berembuk dalam melaksanakan dan memutuskan sesuatu banyaklah ia yang menuju kepada kegagalan.

 

Siapa saja yang merasa dirinya paling pandai, senyatanya ia adalah orang bodoh. Artinya : Orang yang tak mau berembuk dan yang mengaku dirinya pandai, karena sebenarnya ia takut ketahuan ketololannya oleh orang lain. Jangan kalian suka mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan suka melupakan kebaikan orang lain pada kalian. Tingkah demikian adalah pohon dari kedurjanaan. Dengan nasihat yang diberikan Sultan diatas keduanya berkata : Semoga mendapat berkah paduka.

 

Keesokan harinya Sultan berkata kepada Patihnya : Delapan hari lagi aku akan melantik Pangeran Lor II dan Pangeran Wetan II maka itu hendaknya kamu undang semua Bupati, Menteri dan Punggawa supaya mereka mempersiapkan pesta dan keramaian. Ki Patih lalu segera membuat surat undangan. Setelah sampai saatnya pelantikan, mereka lalu bersiap di alon-alon.

 

Sultan duduk disinggasana didampingi Pangeran Wetan dan kedua puteranya. Setelah dipaseban Sultan Demak lalu berkata : Dengan ini aku memberitahukan kepada para Bupati, para Menteri dan Punggawa bahwa sekarang anak Pangeran Wetan yang bungsu bernama Raden Rajasa atas perkenanku ia kuberi gelar sebagai Pangeran Lor II menggantikan kedudukan Pangeran Lor yang tewas berperang melawan tentara Bali. Dan yang sulung bernama Kedduk kuberi gelar dia sebagai Pangeran Wetan II untuk menjadi calon pengganti Pangeran Wetan I. Sepeninggal Pangeran Wetan I maka Pangeran Wetan II-lah yang akan menggantikan kedudukannya.

 

Kedua anak Pangeran Wetan ini juga kuangkat sebagai Pangeran karena Pangeran Wetan I telah bisa mengalahkan tentara Bali dalam suatu peperangan. Ini namanya orang yang menghargai kedaulatan negaranya, disamping setia dan menyelamatkan kedudukanku. Maka kepada para Bupati, para Menteri dan Punggawa dapatnya mencontoh kesetiaan Pangeran Wetan I.  Sedangkan Pangeran Lor I juga Pangeran Batuputih, semoga anak cucunya dapat menggantikan kedudukannya kelak. Para Bupati, para Menteri dan Punggawa serentak berkata : Semoga mendapat berkah Paduka.

 

Pangeran Wetan bersama kedua puteranya tak lama kemudian pulang ke Sumenep. Sesampainya di Sumenep dirayakanlah suatu pesta keramaian lagi dengan mengundang para Menteri dan para Punggawa. Pangeran Wetan lalu berkata : Sekarang aku beritahukan bahwa anakku Raden Rajasa telah mendapat pangkat dan bergelar Pangeran Lor II menggantikan kedudukan kakanda Pangeran Lor I. Sedangkan Raden Kedduk mendapat gelar sebagai Pangeran Wetan II dan akan menjadi calon penggantiku kelak apabila aku sudah tiada.

 

Kedua anakku mendapat gelar Pangeran karena atas jasa seluruh bala tentara dan rakyat Sumenep, sehingga dengan bantuan itu aku dapat memenangkan perang melawan tentara Bali. Bantuan itu juga ditambah dengan perjuangan kakanda Pangeran Lor yang sekarang telah meninggalkan kita semua. Dengan kemenangan itu aku telah berhasil memotong kepala Raja Bali bersama saudaranya sehingga  jasaku diterima oleh Sultan Demak.

 

Oleh karena itu saya minta kepada semua rakyat Sumenep untuk menghargai kedua anakku tak beda dengan kalian menghargaiku sampai pada akhir hayatku nanti. Yang hadir : Berkat paduka, dan kami bersyukur atas tindakan kami yang berkenan dihati paduka. Kami semua mohon kepada Allah semoga keturunan paduka akan tetap menjadi Raja disini dan bisa menjadi tumpuan harapan anak cucu kami.

 

Beberapa waktu kemudian diceriterakan bahwa Pangeran Lor II (Raden Rajasa) kawin dengan puteri Pangeran Batuputih yang bernama Dewi Susila. Dari hasil perkawinannya mereka mempunyai anak laki-laki dua orang yang sulung diberi nama Raden Abdullah sedangkan yang bungsu diberi nama Masgada. Sedangkan Raden Kedduk (Pangeran Wetan II) karenanya ia hanya mengahli-kan ilmu keagamaan saja maka Pangeran ini tidak mempunyai keturunan.

 

Tak lama kemudian Pangeran Wetan I meninggal dunia dan jenazahnya dikubur disebelah barat makam Tumenggung Kanduruwan, diberi atap genteng. Tetapi sekarang atap genteng kuburan itu sudah rusak dan hanya tinggal pagar temboknya saja. Saat meninggalnya tak diketahui, karena pada nisan maupun barang disekitarnya tidak ada tulisan yang menjelaskannya.

 

Sepeninggal Pangeran Wetan I, Pangeran Wetan II (Raden Kedduk) lalu menggantikan kedudukannya. Semua harta maupun kerajaan Pangeran Wetan I tetap dipunyai dan dikuasainya. Pada saat itu negara Pamekasan berada dibawah pemerintaan negara Sumenep. Beberapa waktu kemudian Pangeran Wetan II meninggal dan dikuburkan disisi Pangeran Wetan I. Saat meninggalnya juga tidak diketahui karena tidak ada tulisan yang menerangkan baik di nisan maupun benda lain disekitarnya.

 

Sepeninggal Pangeran Wetan II bangunan keraton dan harta bendanya diwarisi oleh Pangeran Lor II (Raden Rajasa). Sedangkan pangkat dan kedudukannya dianugerahkan kepada putera sulungnya yaitu Raden Abdullah dengan gelar Pangeran Cakranegara. Pangeran Cakranegara ini kemudian kawin dengan Raden Ayu Pacar, yaitu cucu dari Pangeran Arosbaya (Bangkalan).

 

Masgada kawin dengan puteri Dewi Sara yang bernama Dewi Galu. Dari perkawinan mereka tidak dikaruniai putera sedangkan Dewi Sara ini adalah puteri Pangeran Batuputih. Dari perkawinan Pangeran Cakranegara (Raden Abdullah) kemudian dikaruniai seorang putera bernama Raden Bugan.

 

Diceriterakan bahwa pada suatu hari Pangeran Lor II (Raden Rajasa) sedang menghadap ke kerajaan Demak bersama puteranya yaitu Pangeran Cakranegara dan cucunya (Raden Bugan) yang waktu itu masih kecil. Sesampainya didesa Palakaran (Sampang) mereka dicegat oleh sekawanan perampok yaitu orang-orang suruhan dari Pangeran Sampang. Harta mereka dirampas setelah melalui perlawanan oleh tentara Sumenep yang menjadi pengiringnya. Karena tentara Sumenep jumlahnya sedikit dan tidak dilengkapi peralatan perang yang memadai maka mereka banyak yang mati dan kalah.

 

Pangeran Lor II dan Pangeran Cakranegara tak mau mundur setapakpun sehingga sebagian perampok itu banyak juga yang mati. Sedang sebagiannya lagi ada yang melapor kepada pimpinannya tentang peristiwa perampokan yang mendapat perlawanan.

Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan...


Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan. Tapi panah itu tidak mengena sasaran justeru melesat mengenai beberapa lasykarnya sendiri yang ada diluar benteng. Kemudian Raja Bali dapat ditewaskan oleh Pangeran Wetan. Mengetahui saudaranya meninggal, Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi lalu keluar dari benteng dan menyerang. Gusti Jalantik ditemui Pangeran Wetan sedangkan Gusti Pamadi dilayani Sunan Nugroho. Gusti Jalantik akhirnya terkena tusukan didadanya oleh Pangeran Wetan dan tewas, sedangkan Gusti Pamadi tertusuk lambungnya oleh Sunan Nugroho dan tewas pula. 

Ketiga pimpinan Bali itu karena termasuk orang yang pandai perang dan disegani maka kemudian dipotonglah kepala mereka untuk dipersembahkan ke Demak sebagai bukti bahwa negara Sumenep telah menang perang dan dapat menewaskan Raja Bali yang Agung. 


Bala tentara Bali yang masih hidup berlarian kesana-kemari. Mereka kebingungan mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Hasrat mau kembali kenegaranya tak bisa karena perahunya sudah rusak binasa sedang dirinya harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Konon untuk mencari makan, mereka banyak yang menjadi peminta-minta namun tak seorangpun mau memberi sedekah pada mereka. Maka bagi mereka yang sudah merasa putus asa banyak yang melakukan bunuh diri dengan cara membakar dirinya. Tempatnya di kampung Karang sebelah selatan Paddusan sedangkan yang berada di kawasan barat juga mengikutinya. Maka itu tempat dimana mereka membakar diri dikawasan bagian timur disebut kampung Karangpanasan, sedangkan daerah bagian barat disebut kampung Billa’an (membela diri). 


Demikian nama kampung itu disebutnya sampai sekarang. Sisanya yang tidak ikut membakar diri melarikan diri kearah timur daya (tenggara), disana selanjutnya mereka berdiam dan kampung itu diberi nama Pinggirpapas sedangkan sebagian lagi berdiam didesa Kebondadap. Mereka turun-temurun disana sampai sekarang. Orang-orang tersebut selanjutnya menganut adat Sumenep tetapi mempunyai dialek bahasa sendiri yakni yang disebut bahasa Madura-Pinggirpapas. Kehidupan mereka menjadi petani garam sampai sekarang. 


Diceriterakan bahwa kepala Raja Bali yang dipenggal oleh lasykar Sumenep serta kepala Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi sudah diantar ke Demak. Sultan Demak merasa senang hati. Tetapi ketika membuka surat Pangeran Wetan ia sedih dan menangis karena perang di Sumenep telah menewaskan Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih. Beberapa waktu kemudian Pangeran Wetan menghadap kekerajaan Demak diikuti kedua puteranya yaitu Raden Rajasa dan Raden Kedduk. Sesampainya di Demak Pangeran Wetan berceritera sendiri tentang halnya perang di Sumenep dari awal sampai akhir. 


Setelah Sultan Demak mendengar berita tersebut ia tertegun dan berkata : Semua yang engkau kabarkan kepadaku sangat menyenangkan dan besar penghargaanku kepadamu. Aku bangga atas perjuangan kalian dalam membela kedaulatan negaramu. Aku berharap juga kepada semua rakyat disana untuk meniru jiwa prajurit sebagaimana yang tertanam didada Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih serta dapat berkaca pada segala tingkah laku dan keberanianmu. 


Pangeran Wetan : Segala tutur paduka Sultan akan kami perhatikan. Selanjutnya sekarang kami sedang membawa anak kami Rajasa yang selama ini telah diasuh oleh kakanda Pangeran Lor dengan  maksud untuk memenuhi wasiatnya supaya dihadapkan kepada paduka. Dalam wasiatnya kanda Pangeran Lor minta untuk membawa Rajasa kemari dengan harapan supaya dia dapat mengganti kedudukannya. 


Bagi kami tentu sangat bangga apabila paduka Sultan dapat memenuhi permintaannya. Disamping itu juga merupakan harapan kami. Kalau suatu saat nanti kami tak ada lagi didunia ini sudilah kiranya paduka Sultan untuk mengangkat anak kami si Kedduk sebagai pengganti kedudukan kami kelak. Kami jugalah yang mempunyai anak ini kedua-duanya, dengan maksud agar supaya paduka Sultan dapat memberi kedudukan serta pangkat yang sama. 


Sultan Demak : Semua permintaanmu takkan kutolak karena itu sudah merupakan kehendakku dan aku hanya berdoa semoga anak cucumu diberi kemampuan menduduki Raja disana karena aku sangat sayang kepada kalian. Pangeran Wetan : Semua sabda paduka akan kami hargai dan kami ikat dalam hati. Semoga paduka  Sultan akan tetap kasih kepada kami dan  kepada keturunan kami. Keturunan paduka Sultan juga nantinya semoga akan menjadi pelindung bagi anak cucu kami sampai pada akhirnya. 


Sultan Demak : Semoga doamu dikabulkan oleh Allah. Sekarang Rajasa akan kuberi gelar Pangeran Lor II dan kedudukannya untuk menggantikan Pangeran Lor almarhum. Sedangkan Kedduk akan kuberi gelar sebagai Pangeran Wetan II yang kedudukannya sebagai calon penggantimu kelak. Kalau kamu meninggal kelak maka Kedduk-lah yang akan menggantikan, tetapi sekarang Kedduk belum kuberi wewenang dalam pemerintahan karena masih ada kamu. Sedangkan sumber penghasilan negara Sumenep akan kuserahkan pada kamu dan Rajasa. Peraturannya seperti halnya yang telah terlaksana. Sedangkan untuk mengadakan penghadapan ke Demak biarlah Rajasa dan Kedduk saja sementara kamu Wetan tidak usah. Tetapi kalau kamu mau maka aku sangat bersyukur. 


Kepada Rajasa dan Kedduk Sultan Demak berkata begini : Kalian berdua sekarang sudah menjadi Pangeran maka hati-hatilah jangan sampai dicela orang. Lagi pula jangan sampai gampang didamprat orang karena yang demikian akan celaka. Kalau perkataan sudah keluar tak dapat ditarik kembali maka itu hati-hatilah berbicara dan jangan sampai terlanjur berkata jelek. Ingatlah akan kewajiban dan bertingkah lakulah yang baik. Semua tingkah laku yang tak benar tidak akan bisa mengantarkan kalian kepada puncak cita-cita. 


Kalian harus patuh pada ayah dan ibumu. Sebab orang yang melanggar perintah keduanya apalagi menentangnya tentu takkan selamat didunia dan akhiratnya. Ini sudah banyak contoh. Sekalipun ayah dan ibumu sangat marah janganlah sekali-kali engkau membantah atau mengerutkan alis. Kiasan, sekalipun kamu dipukuli sampai patah lebih baik kalian terima. Kasih sayang orang tua kepada anak takkan sebanding dengan seribu kasih sayang anak terhadap orang tuanya. Jadi orang tua tak mungkin menjerumuskan anaknya pada kenistaan. Harapan orang tua tiada lain hanya untuk kebaikan anaknya. Hayatilah ucapanku ini supaya kalian selamat didunia dan akhirat. 


Janganlah bersifat seperti ayam karena ayam dari mulai berbentuk telur dan menetas jadi pitik induknya mengeram sampai badannya kurus kering. Mulai dari pitik sampai dewasa induknya selalu mengalah dalam soal makan.Tetapi kalau sudah tua induknya lalu dipatuk dan terkadang dikawini. Sedang pejantannya mereka tantang berkelahi, sifat ini hendaknya kalian hindari.


Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah...


Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah seseorang untuk mengantarkannya ke kota sebab sebentar lagi kerajaan ini akan musnah dan menjadi hutan. Setelah permaisuri Pangeran Batuputih siuman maka diceriterakanlah apa yang dilihat dan didengar dalam pingsannya kepada embannya katanya : Emban, bawalah kedua anakku kekeraton kota (Sumenep) sedangkan aku akan ikut suamiku bermi’raj. Kerajaan ini sebentar lagi akan musnah menjadi hutan belantara. Sang Emban lalu menangis sedih karena akan berpisah dengan tuannya. Setelah itu segera dibawanya kedua puteri Pangeran Batuputih keluar dari keraton menuju ke Sumenep. 


Sesampainya di Sumenep, emban berkata kepada isteri Pangeran Wetan, katanya : Hamba diutus bibi paduka untuk menyerahkan kedua puteri ini kemari dan selanjutnya diharapkan supaya keduanya diasuh oleh paduka. Sedangkan bibi paduka sekarang sudah mi’raj mengikuti paman paduka yaitu Pangeran Batuputih yang telah meninggal dipeperangan. Keraton Batuputih sekarang sudah berobah jadi hutan belantara. Kedua isteri Pangeran Wetan segera merangkul kedua puteri itu dan menangisinya. 


Dilain pihak sekarang diceriterakan bahwa tentara Bali telah sampai di Batuputih. Sesampainya disana mereka tercengang karena keraton Batuputih sudah musnah tiada bekas yang ada hanya hutan belantara. Patih Kebbowaju berkata kepada bala tentaranya, katanya : Nyata benar orang disini sakti dan prajurit, suatu tanda yang dapat aku saksikan adalah raibnya jenazah Pangeran Batuputih juga kerajaannya. 


Diceriterakan bahwa yang menyusul Pangeran Wetan adalah anaknya yang bernama Raden Kedduk. Sesampainya di Jambaringin dia menjumpai ayahnya yang kebetulan baru sampai dari perjalanan ke Demak. Raden Kedduk lalu menceriterakan kepada ayahnya tentang kerajaan Sumenep yang diserang tentara Bali dari awal hingga akhir. Setelah mendengar kabar itu Pangeran Wetan dan Pangeran Jambaringin lalu segera berangkat diiringi para pengikutnya.


Sesampainya di Sumenep mereka langsung ke mesjid untuk menemui dan membantu menyelesaikan perawatan jenazah Pangeran Lor dan Patih Wangsadumetra. Jenazah keduanya kemudian dikuburkan dalam congkop (bangunan batu) Tumenggung Kanduruwan berdampingan kearah timur. Sedangkan Wangsadumetra dikuburkan diluar congkop tepat disebelah barat pintu. Congkop tersebut dicat berwarna merah seluruhnya yang menandakan bahwa disitu terbaring jenazah penghulu perang yang tewas dalam pertempuran.


Dipintu pagar congkop ada tulisan hurup Jawa kuno dan Arab yang menerangkan wafatnya Pangeran Lor tanggal 8 bulan Jumadilakhir 1504 tahun Jawa (1573 Masehi). Namun hurup itu sekarang banyak yang rusak sehingga sulit dibaca. Hurup itu tertulis dibatu tembok. 


Setelah itu Pangeran Wetan kemudian memerintahkan supaya membunyikan bendi perang dan mengundang bala tentara yang masih tersisa. Tak berapa lama berkumpullah bala tentara Sumenep dan Pangeran Wetan berkata kepada Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron : Sekarang pilih empat puluh orang menteri yang perkasa, sedangkan empat puluh orang lagi untuk menyertai mertuaku Sunan Nugraha (Pangeran Jambaringin). Sedangkan kamu dan yang lain segera berangkat dan gempurlah benteng tentara Bali. Kalian berdua menjadi wakilku. Aku dan mertuaku akan membersihkan musuh dari pinggiran kota sesudah itu aku akan menyusul kalian. 


Setelah itu berangkatlah mereka. Empat puluh menteri menyertai Pangeran Wetan, empat puluh yang lain menyertai Sunan Nugraha sedangkan sisanya menyertai Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron. Sesampainya di Paddusan mereka bertemu dengan sekumpulan tentara Bali. Pangeran Wetan segera memukul isyarat menyerang. Ketika Patih Kebbowaju melihat musuhnya datang senang hatinya. 


Ia lalu memakai baju perangnya dan maju kekancah pertempuran sambil sesumbar. Setelah melihat Pangeran Wetan ia heran dan berkata kepada lasykarnya, katanya : Hai lasykar Bali berhati-hatilah kalian karena Pangeran Lor hidup lagi. Kalau begini orang Sumenep tak dapat dimusuhi. Siapa yang akan berperang dengan orang yang tak bisa mati. Sudah mati mereka bisa hidup lagi ?? 


Lasykar Bali melihat raut muka Pangeran Wetan memang mirip dengan rupa Pangeran Lor. Karena itu semangat tempur tentara Bali sedikit kendor akibat waswas. Perang semakin menjadi. Sunan Nugraha melawan Patih Kebbowaju. Patih Kebbowaju tak lama kemudian terkena tombak oleh Sunan Nugraha lalu roboh dan tewas. Karena itu lasykar Bali semangatnya semakin menurun bahkan sebagian ada yang melarikan diri dan bersembunyi di kampung-kampung sebelah selatan kawasan pertempuran. 


Sunan Nugraha lalu menantang, katanya : Hai lasykar Bali, kemarikan Rajamu. Temui aku yang tua-renta ini !! Akulah yang bernama Sunan Nugraha yang memerintah kerajaan Jambaringin, putera Lembupetteng dari Majapahit. Aku adalah mertua Pangeran Wetan dan kakek Pangeran Batuputih. Hayo, keluarkan Rajamu yang telah sesumbar untuk menaklukkan kerajaan Sumenep. Kalau aku dan Pangeran Wetan masih hidup takkan gampang orang Sumenep bertekuk lutut.


Pangeran Wetan mengejar tentara Bali yang lari meloloskan diri tapi tak satupun dijumpainya. Ia lalu memerintahkan menteri-menterinya katanya : Sekarang kalian kuperintahkan untuk menghancurkan seluruh perahu orang Bali yang sekarang ada dipinggir-pinggir pelabuhan. Supaya nanti aku tak mendapat kesulitan untuk membunuh orang-orang Bali ; sebab kalau perahu-perahu mereka tidak dihancurkan mereka tentu akan lari keperahunya. Kedua pimpinan perang itu sangat bersemangat meski hanya dibantu empat puluh orang menteri dalam perangnya namun keempat puluh menteri itu sudah diberi ilmu keprajuritan dan kekebalan. 


Para menteri yang diperintah lalu berangkat dan setelah sampai dipelabuhan mereka membakar semua perahu yang ada tanpa pandang bulu. Tentara Bali lalu bertambah bingung dan kalang-kabut karena perahu sebagai alat penyelamat mereka telah dihancurkan. Tentara Bali banyak yang mati tenggelam sedangkan yang selamat naik lagi kedarat tanpa pakaian. Untuk melawan sudah tak mungkin lagi karena perkakas perang mereka sudah banyak yang tercebur kelaut. 


Pangeran Nugroho bersama dengan empat puluh orang menterinya melanjutkan penyerangan kedaerah sebelah timur dan sesampainya di Lapataman mereka bertemu dengan Patih Ranggamering yang juga sedang melakukan perlawanan. Benteng Lapataman yang sebelumnya merupakan benteng pertahanan tentara Bali dapat mereka rebut, tetapi Raja Bali dapat meloloskan diri. Raja Bali dengan dua saudaranya meloloskan diri ke benteng Bilangan. 


Dua saudara Raja Bali yaitu Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi. Mereka ada disana dengan maksud supaya dapat lolos dan kembali ke Bali. Setelah benteng Lapataman direbut tentara Sumenep Raja Bali saat itu konon belum mendengar kalau semua perahu yang ada telah dihancurkan. Tak lama kemudian Pangeran Wetan, Sunan Nugroho dan Patih Ranggamering serta bala tentaranya telah sampai didaerah Bilangan. Mereka langsung menyerang tentara Bali disana. Beberapa saat kemudian lasykar Bali dapat dihancurkan. 


Setelah melihat tentaranya banyak yang tewas dan pihaknya merasa mulai kalah, Raja Bali keluar dari benteng dengan perkakas perangnya. Sesampainya dipintu benteng ia diserang oleh Pangeran Wetan. Mereka lalu saling tusuk seorang lawan seorang. Awalnya mereka saling serang memakai tombak setelah patah dipakailah kerisnya. Tetapi tak lama kemudian keris mereka juga patah maka bergantilah mereka memakai pedang. Rupanya kedua pimpinan perang ini kebal senjata karena masing-masing mempunyai ilmu kekebalan dan ilmu perang yang tangguh. Maka kemudian patah pulalah pedang mereka sampai menjadi tiga bagian.


Diceriterakan pula bahwa Pangeran Batuputih yang juga sedang berperang disuatu kawasan agak ke timur semangatnya tak berbeda dengan Pangeran...


Diceriterakan pula bahwa Pangeran Batuputih yang juga sedang berperang disuatu kawasan agak ke timur semangatnya tak berbeda dengan Pangeran Lor. Dia-pun mengamuk memporak- porandakan tentara Bali sampai banyak para Bupati dan lasykar Bali yang tewas. Pangeran Batuputih juga menantang para musuhnya katanya : Hai orang Bali, mana Rajamu keluarkanlah !! Apa dia tidak belas-kasihan kepada para Bupati dan lasykar sepertimu yang sudah banyak tewas ??

Tak lama kemudian maju Patih Kebbowaju diiring para lasykarnya dan berkata : Hai laki-laki, katakan padaku tentang siapa namamu. Apa pangkat dan darimana asal negaramu. Aku merasa sayang kalau ajalmu tiba tanpa kukenal namamu. Sekarang akulah musuhmu. Jangan kau bangga karena telah dapat menewaskan beberapa Bupati Bali, para menteri dan rakyat kecil sebab itu semua memang bukan tandinganmu. Maka hati-hatilah kamu sekarang.


Pangeran Batuputih mendengar pertanyaan Patih Kebbowaju tidak menjawabnya. Namun seketika dilangkahkan kaki dan diayunkan tombaknya kearah Kebbowaju. Melihat gelagat musuhnya itu Kebbowaju juga melepaskan pukulan tombaknya kearah Pangeran Batuputih. Keduanya lalu saling tombak sampai akhirnya tombak keduanya patah. Setelah itu mereka saling menghunus keris maka terjadilah saling tusuk dan Kebbowaju terluka. Melihat Kebbowaju terluka salah seorang saudaranya maju dan menusuk Pangeran Batuputih. Tusukan saudara Kebbowaju ini mengena lengan kanan Pangeran Batuputih.


Pangeran Batuputih terkejut sampai kerisnya terjatuh. Secepat kilat Kebbowaju meraih keris Pangeran Batuputih yang terjatuh itu lalu ditusukkan ke dada siempunya. Pangeran Batuputih terluka dan dari luka didadanya mengucurlah darah putih yang konon harum dan aromanya segera menyebar kesekitarnya. Setelah Kebbowaju mendekat kejazad Pangeran Batuputih dengan maksud untuk memotong lehernya, maka seketika itu pula jazad Pangeran Batuputih raib. Karena itu bala tentara Bali sangat terkejut dan dihatinya berkata : Barangkali kalau dia tak segera mati maka habislah orang Bali dibunuhnya.


Setelah itu Kebbowaju memerintahkan untuk menghitung sisa tentaranya. Tentara yang masih tersisa dibawanya untuk membantu peperangan di wilayah barat. Di peperangan wilayah barat meskipun Pangeran Lor dan Wangsadumetra terluka mereka masih memimpin perlawanan. Setelah keduanya muntah darah lalu Wangsadumetra berkata kepada Pangeran Lor : Kalau menjadi perkenan maka menurut hamba lebih baik kita mundur dahulu. Apalagi sekarang sudah senja dan tentara Bali sudah banyak pulang kebarak masing-masing. Hamba sudah merasa capek. Kalau hamba tewas maka siapa yang akan mendampingi paduka ? Apalagi kalau paduka yang meninggal siapakah yang akan merebut jenazah paduka dari tangan musuh ? Karena sekarang hamba sudah merasa tak kuat lagi.


Dengan demikian Pangeran Lor lalu mengikuti keinginan patihnya, lalu ia mundur. Dipihak Bali Kebbowaju lalu menghitung sisa bala tentaranya lagi dan diketahui sekarang jumlahnya tinggal lima ribu orang. Kebbowaju kemudian mengutus salah seorang prajurit untuk melapor kepada Raja Bali di Lapataman. Sedangkan Pangeran Lor, Wangsadumetra dan beberapa sisa tentaranya pada malam itu pulang ke Sumenep.


Di sepanjang perjalanan kuduanya tak pernah berpisah dan ikat pinggang mereka masih tetap terikat satu sama lain. Meskipun Pangeran Lor parah lukanya tapi dia masih tetap memegang keris secara terhunus. Pakaiannya penuh darah dan tak seorangpun berani mendekatinya. Bala tentara yang luka juga dibawa ke Sumenep dengan cara digendong oleh tentara lainnya yang selamat.


Sesampainya di Per-emper para kuda tunggangan sudah disiapkan. Tetapi Pangeran Lor tak mau menaikinya sehingga semua lasykar Sumenep ini pulang bersama jalan kaki. Kiyai Rembun berkata : Kalau menjadi suka Paduka maka sebaiknya Paduka duduk ditandu saja. Biar hamba dan kawan-kawan yang akan memikulnya. Pangeran Lor : Semua penghargaanmu kepadaku sangat aku hargai. Tapi ketahuilah bahwa sampai sekarang aku masih bisa berjalan. Jangan kau dekati aku takut aku lupa daratan, sebab disaat seperti ini aku masih haus darah.


Bala tentara Sumenep sangat takut mendekatinya sebab Pangeran Lor masih tetap memegang kerisnya dengan terhunus. Bala tentara Sumenep sebagian berpikir begini : Aku heran pada Pangeran dan Wangsadumetra meskipun mereka terluka parah tapi ketampanannya kian Nampak serta keberaniannya masih tetap saja. Seandainya orang lain mungkin takkan kuat. Aku ini hanya sedikit luka tapi perasaan rasanya takkan sampai kerumah. Semoga Pangeran diberikan panjang umur meskipun kalau dilihat luka-lukanya memang sudah bukan tempatnya beliau hidup.


Sesampainya dipekarangan keraton Pangeran Lor lalu berkata lirih : Wangsadumetra, sekarang aku dan kamu sudah sampai pada ajal. Maka marilah kita panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa supaya kita diberi ketetapan hati dalam Islam dan iman. Pada saat kritis itu keduanya masih sempat berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Setelah itu keduanya lalu rebah dan meninggal. Karena itu para peryayi dan penjaga pintu terperanjat lalu mendekati jenazah keduanya. Jenazah tersebut selanjutnya dibaringkan diatas balai-balai sedangkan sebagiannya memberi kabar kedalam keraton.


Puteri Jambaringin dan Raden Rajasa langsung berlari menemui jenazah Pangeran Lor dan Wangsadumetra diikuti yang lainnya. Keduanya lalu sungkem kekaki jenazah Pangeran Lor sambil menjerit. Gegerlah isi keraton dengan jerit dan tangis sehingga seperti pasar terbakar layaknya.


Setelah itu jenazah keduanya dibawa ke mesjid dan disana mereka disemayamkan sampai tujuh hari lamanya. Yang menjaga jenazah itu adalah para penghulu dan orang alim. Kedua jenazah itu sambil ditunggukan pada adiknya yaitu Pangeran Wetan dan Raden Kedduk yang sekarang masih disusul ke Demak. Meski telah lama disemayamkan kedua jenazah itu tak berobah keadaannya. Karena itu rakyat Sumenep semakin percaya bahwa keduanya adalah wali Allah yang diterima doa maupun perjuangannya dalam membela negara Sumenep dari serangan tentara Bali.

Dilain tempat diceriterakan bahwa Kiyai Ranggamiring dan Kiyai Tandamaneron yang dibantu lasykar lainnya telah selesai membangun sebuah benteng pertahanan diluar kota. Lebar temboknya satu depa (satu setengah meter) tanpa pintu. Perkakas perang juga sudah dipersiapkan disekeliling benteng. Persiapan itu dimaksudkan supaya lasykar Sumenep dapat bertahan dari serangan orang Bali dan takut terjadi serangan sebagaimana dialami Pangeran Lor.


Sekarang diceriterakan pula bahwa tentara Bali yang akan melakukan serangan lagi kepusat kerajaan Sumenep telah siap. Tetapi karena lasykar Sumenep telah meninggalkan desa Baraji maka mereka terus maju kearah barat sampai ke desa Parsanga, Paddusan dan Per-emper. Yang memegang komando sebagai panglima perang adalah Patih Kebbowaju. Maksud mereka akan memboyong isteri Pangeran Batuputih serta merampas harta benda keraton.


Di kerajaan Batuputih diceriterakan bahwa saat itu permaisuri Pangeran Batuputih sedang makan dengan kedua puterinya. Puteri yang sulung bernama Dewi Susila sedangkan yang bungsu bernama Dewi Sara. Tiba-tiba datang pemegang payung Pangeran Batuputih yang lolos dari peperangan dan berkata : Hamba menyampaikan kabar bahwa Pangeran Batuputih telah meninggal dalam peperangan, tetapi jenazah beliau telah raib. Isteri Pangeran Batuputih mendengar kabar itu lalu menjerit dan pingsan.

 

Pangeran Batuputih berkata pada Puteri Jambaringin : Maafkan segala kesalahan kami bibi karena mungkin hari ini adalah saat terakhir perjump...


Pangeran Batuputih berkata pada Puteri Jambaringin : Maafkan segala kesalahan kami bibi karena mungkin hari ini adalah saat terakhir perjumpaan kita. Puteri Jambaringin menjawabnya sambil menangis : Anakku, sungguhkah engkau akan meninggalkan bibi ? Sebagai kemenakan aku masih ingin melihatmu panjang umur dan sebagai pengganti kerinduan pada ayahmu (Pangeran Siding Langgar). Tegakah kamu meninggalkan bibi ?? 

Dalam suasana perpisahan itu Pangeran Lor segera masuk keraton untuk berpakaian. Wangsadumetra (patihnya) juga diberi pakaian yang bagus. Setelah itu lalu berangkatlah mereka. Pada saat itu R.Rajasa juga bersikeras mau ikut tapi sang ibu segera memeluknya. 


Setelah sampai diluar pintu keraton Pangeran Lor segera meloncat keatas kudanya begitu juga Pangeran Batuputih. Di alon-alon rakyat dari kedua pemimpin itu banyak yang menangis. Mereka melihat pakaian keduanya seakan sebagai tanda bahwa pemimpin mereka akan segera menemui ajal dalam peperangan itu. Pada saat bersamaan konon datang seekor burung gagak dari timur yang seketika menyambar kepala Pangeran Lor sehingga Kolo (topi,ind) Pangeran ini jatuh ketanah. Meskipun saat itu ia telah berusaha menangkapnya. Pucat-lah wajah sang Pangeran waktu itu karena kejadian demikian memang dianggap sebagai pertanda jelas akan kejatuhan dirinya segera tiba. 


Kolo yang terjatuh akibat sambaran burung gagak itu kemudian diambil dan dikenakannya lagi. Kemudian dia segera memerintahkan  Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandameron katanya : Paman, engkau berdua jangan ikut. Tetaplah disini untuk menjaga negara. Ambillah sebagian lasykar dan selanjutnya buatlah suatu benteng pertahanan diluar kota. Sesudah itu Pangeran Lor berangkat ditandai dentuman bedil tiga kali. Kiyai Patramanggala bersama kelompok lasykarnya ada didepan, Wangsadumetra berada dibelakang Pangeran Lor dengan menunggang kuda berbulu merah. Sedangkan Pangeran Batuputih berjejer dengan Pangeran Lor.


Sesampainya disatu simpang jalan kampung Paddusan Pangeran Lor merasa haus. Oleh seorang tentaranya ia disuguhi air dalam kendi. Pangeran Lor kemudian menerima air tadi sambil memegang leher kendi dan meminumnya. Tetapi tiba-tiba leher kendi yang dipegangnya putus dan perut kendi beserta airnya jatuh berantakan ketanah. Pangeran Lor semakin merasa bahwa ajal yang menantinya telah semakin dekat. Pangeran Lor lalu bertanya kepada Wangsadumetra : Apakah engkau memang setia dan setulus hati mendampingiku dalam perang ini ?!


Wangsadumetra : sebelum paduka mengeluarkan perintah kepada hamba, hamba memang sudah berniat dan bertekad untuk mati lebih dulu. Hasrat hamba dimaksudkan agar paduka tidak sampai menanggung penderitaan sebelum hamba tewas. Pangeran Lor : Demikian pula niatku Patih. Wangsadumetra lalu membuka ikat pinggangnya dan Pangeran Lor mengerti isyarat itu, maka dibukanya pula ikat pinggangnya. Sesampainya di desa Per-emper disebelah timur kali, Pangeran Lor berhenti sejenak. Disana ia menyambung ikat pinggang dengan ikat pinggang Wangsadumetra sebagai pertanda dan lambang kecintaan seorang Raja pada bawahannya. 


(Per-emper sekarang menjadi sebuah kampung di desa Kacongan termasuk Kecamatan Marengan. Selanjutnya Marengan sekarang telah menjadi sebuah desa masuk wilayah kecamatan Kota Sumenep). 


Ditempat itu pula Pangeran Lor memerintahkan seluruh bala tentaranya untuk berjalan kaki saja dan kuda-kuda tunggangan mereka ditempatkan disana. Sesampainya di desa Baraji Pangeran Lor berkata kepada Pangeran Batuputih : Kami bersama Wangsadumetra akan menemui perang dengan tentara Bali disini. Sedangkan Pamanda Pangeran Batuputih nanda persilakan untuk menemui lasykar Bali agak kesebelah timur supaya tentara Bali dapat segera kita habisi. 


Pangeran Batuputih mengikuti petunjuk Pangeran Lor dan akhirnya mereka memasuki kancah pertempuran. Pangeran Lor dan Patih Wangsadumetra selama berhari-hari tak pernah berpisah. Dalam peperangan itu keduanya mengamuk seperti singa kelaparan. Setiap matahari terbenam peperangan dihentikan. Bala tentara Bali banyak yang mati sedangkan Pangeran Lor dan Wangsadumetra tidak terluka sedikitpun. 


Esok harinya ketika fajar tiba Pangeran Lor berkata pada bala tentaranya : Hai, semua tentaraku kalian tak usah ikut bertempur, jadilah sebagai penonton saja. Berikan saja aku semangat dengan sorak-sorai kalian sebab tentara Bali sekarang sudah tinggal sedikit jumlahnya. Cuma saja kalau nanti aku tewas, kalian harus dapat merebut jazadku jangan sampai dibawa musuh. Sebagian tentara menyetujui tapi sebagian lagi berkata : Kami takkan terima kalau kami tidak diperkenankan ikut berperang karena kami sudah berjanji untuk mati bersama paduka. Kami juga sudah berjanji kepada anak maupun isteri hamba untuk mati dalam pertempuran ini dan kami takut melanggar janji. Kiranya perlu diingat bahwa sejak jaman dahulu tak pernah ada ceritera tentang orang-orang Sumenep merasa takut untuk  menghadapi musuhnya. 


Setelah itu Pangeran Lor berperang lagi diikuti semua bala tentaranya. Semangat mereka semakin menjadi sehingga bala tentara Bali semakin banyak pula yang terbunuh, mayatnya tumpang tindih seperti tumbangnya batang padi. Pangeran Lor lalu sesumbar : Hai, orang Bali keluarkan Rajamu karena jumlah kalian sudah makin sedikit. Kalau Rajamu memang berjiwa perwira maka jangan adu rakyat kecil. Inilah aku, seorang keturunan Raja Majapahit yang juga keturunan Aria Kudapanole.  


Setelah Gusti Jumenna dan Gusti Pameccut mendengar sesumbar itu lalu maju sambil berucap : Hai, Pangeran Lor lebih baik engkau menyerah saja dan engkau akan kuhadapkan pada Raja Bali supaya kalian dapat selamat dari kematian. Pangeran Lor tak menanggapinya lalu seketika menyerang dan menombak Gusti Jumenna sehingga Gusti Jumenna jatuh tersungkur dan tewas seketika. 


Melihat kejadian itu Gusti Pameccut segera pula menombak Pangeran Lor dari sisi kiri. Tombak Gusti Pameccut mengena sasarannya dan menenbus lambung kiri Pangeran Lor hingga tembus ke lambung kanannya. Pangeran Lor tak bergeser dari tempatnya dan keduanya kemudian saling tombak sampai senjata tombak keduanya patah. Pangeran Lor lalu mencabut kerisnya tetapi Gusti Pameccut melarikan diri. 


Pangeran Lor berkata : Hai, jangan lari jika engkau memang jantan. Meskipun kamu bisa terbang tinggi atau bersembunyi dalam lobang semutpun akan aku kejar. Kemudian Pangeran Lor mengejar Gusti Pameccut dan didapatinya. Keris Pangeran Lor menghunjam dada Gusti Pameccut lalu dia roboh dan tewas. Setelah lasykar Bali mengetahui para pembesarnya tewas maka secara bersama-sama kemudian mengamuk dan mengerubuti Pangeran Lor serta Wangsadumetra. Disitu Wangsadumetra terluka sampai isi perutnya terburai. 


Kedua pahlawan perang ini masih tidak patah semangat bahkan merekapun mengamuk membabi-buta. Merasa terganggu dengan ususnya, Wangsadumetra memotongnya sekalian. Tetapi tak lama kemudian usus yang lainnyapun keluar lagi. Maka selanjutnya ia mengalungkan usus itu kelehernya seperti seorang mempelai berkalung melati layaknya. 


Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelo...


Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelompok musuh yang bertingkah gila dan mengamuk. Banyak sudah rakyat kecil terbunuh dan mereka tidak pilih-pilih apakah anak kecil atau bukan. Para perempuan banyak yang mereka boyong dan harta mereka dirampas. Rakyat kecil sekarang sangatlah kesusahan dan yang bisa lolos melarikan diri kekota. 

Sebentar kemudian gegerlah kota Sumenep karena orang-orang desa yang lolos dari serangan tentara Bali memasuki kota dan tak seberapa lama penuhlah kota dengan orang-orang yang mengungsi. Pangeran Lor mendengar itu lalu murka. Terdengar gemeretak giginya dan sekujur tubuhnya bergetar. Pangeran Lor berkata : Hai.., Wangsadumetra sekarang juga aku perintahkan kamu bunyikan bendi perang bersama Kyai Saragenni. Perintahkan semua tentara berkumpul dan bersiap dengan perkakas perangnya untuk menyerang tentara Bali. Panas hati ini rasanya karena mereka benar-benar memalukan. Wangsadumetra lalu menunaikan tugasnya dan memerintahkan kepada para menteri sebagaimana perintah Rajanya. 


Tak lama kemudian berkumpullah bala tentara Sumenep di alun-alun lengkap dengan perkakas perangnya. Yang mengatur bala tentara tersebut adalah Kyai Ranggamerong, Kyai Tandamoi dan Kyai Tandamaneron. Setelah siap Wangsadumetra lalu memberitahu Pangeran Lor. 


Di alun-alun keadaannya sekarang ramai dengan tetabuhan dan bunyi bendi perang. Bala tentara yang berasal dari bagian utara, selatan dan barat sekarang telah berkumpul penuhlah alun-alun. Lautan manusia meluas sampai ke desa Kebonagung, keutara sampai ke desa Pamolokan, keselatan sampai ke desa Karangraba sedangkan ketimur sampai ke Karangtoroy. Bala tentara Sumenep bertekad untuk rela mati demi membela Rajanya. 


Tak seberapa lama datanglah Pangeran Batuputih bersama lasykarnya pula dengan maksud untuk menyerang lasykar Bali. Ia berpakaian putih mulus berpayung putih, benderanya juga putih bertulis arab disamping pelana kuda tunggangannya juga serba putih. Disepanjang perjalanan ia tak lepas membaca doa menandakan bahwa dia memang orang yang alim. Pangeran Lor melihat kedatangan Pangeran Batuputih sangat gembira hatinya. Setelah dipersilakan duduk lalu Pangeran Lor berhatur sungkem dan berkata : Paman, nanda sangat gembira atas kesediaan dan kedatangan paman kemari dengan maksud membela negara Sumenep dan suka bergabung dengan kami untuk menghadapi lasykar Bali. Dengan halus Pangeran Batuputih berkata : Kalau tidak keberatan maka aku mempunyai saran yang nanti akan sangat menentukan. 


Pangeran Lor : Apakah itu paman ? Pangeran Batuputih : Permintaanku kalau diperkenankan dan ini juga merupakan sebuah usul, supaya kita tidak berangkat berperang pada hari ini. Karena hari ini bagi kita merupakan saat yang jelek dan waktu nahas ada diposisi kita. Disamping itu aku juga bermimpi kurang baik. Jadi, kalau ini memang merupakan petunjuk maka semoga kamu menerimanya dengan suka hati sambil-lalu menunggu adikmu yaitu Pangeran Wetan yang saat ini masih menghadap ke Demak. Menurutku beberapa saat lagi ia akan segara datang mengingat sudah tujuh bulan lamanya ia disana. 


Tunggulah barang sehari atau dua hari lagi dan kalau kamu khawatir takut ia tak segera datang maka utuslah seseorang untuk menjemputnya. Katakan padanya supaya segera pulang untuk membantu perang disini. Kemudian untuk mengatasi masalah yang ada disini utuslah sementara beberapa menteri dan sejumlah tentara untuk mencegah tentara Bali memasuki kota. Kita kirim sedikit demi sedikit bala tentara untuk sekedar mencegah sambil menunggu saat yang baik untuk menyerang sambil menunggu kedatangan Pangeran Wetan.


Pangeran Lor : Semua nasihat paman sudah nanda maklumi dan terimakasih atas kesudian memberi pertimbangan kepada nanda. Tapi keinginan nanda sudah bulat dan pada hari ini nanda harus berangkat untuk menyambut serangan tentara Bali dengan perang pula. Kalau nanda mati karena merebut kedaulatan negara maka banggalah hati nanda karena tindakan demikian bisa terdengar juga kenegara lain. Kalau nanda tak mengangkat senjata dan menangkis serangan tentara Bali tentu nanda akan menjadi bahan tertawaan Raja lain atau bisa jadi bahan pergunjingan sepanjang waktu tentang kekerdilan jiwa nanda. Orang Sumenep-pun akan mencibirkan bibir pada nanda akan sikap kebancian itu. 


Disamping itu nanda juga kasihan kepada anak nanda si Rajasa dan keturunannya kalau kejadian ini nanda biarkan. Sudah tentu keturunan si Rajasa tak akan dihormati orang bahkan takkan ada orang yang mau mengabdi padanya dan keturunannya disebabkan nanda telah jelek nama. Kalau paman tak mau ikut bersama nanda itupun tak mengapa dan alangkah baiknya apabila paman sudi berada diistana ini sambil menjaga para wanita. Setelah mendengar perkataan Pangeran Lor, Pangeran Batuputih tertegun. Tak satupun kalimat terucapkan. Sekarang seolah ia dituduh sebagai penakut maka ia lalu pasrah diri kepada Yang Kuasa pikirnya : Kalau begini maka takdir Allah telah tertulis padaku bahwa aku akan mati dalam pertempuran ini bersama Pangeran Lor. 


Tak lama kemudian datang juga puteri Pangeran Jambaringin (Isteri Pangeran Wetan) menghatur sungkem pada Pangeran Lor dan berkata : Kalau menjadi suka Pangeran maka kami mohon supaya jangan berangkat perang pada hari ini. Lebih baik Pangeran menunggu kedatangan adik Pangeran yaitu Pangeran Wetan yang saat ini telah kami susul ke Demak. Apalagi kami pernah bermimpi tentang Pangeran. Dalam mimpi itu kami melihat Pangeran bersama bala tentara Sumenep pergi berlayar. Disana kami melihat perahu yang membawa Pangeran dan bala tentara Sumenep karam dan kemudian tenggelam. Satu-pun tak ada lagi yang terlihat muncul ke permukaan. 


Pangeran Lor : Ada saja ceriteramu yang hanya membuat kekhawatiran. Tekadku sudah bulat bahwa hari ini aku harus berangkat. Mimpimu itu menurutku adalah mimpi seseorang yang tidur terlalu lama, maka itu lalu dirasuki setan pagar. Orang yang terlalu banyak tidur itu bisa dimasuki setan sehingga mimpinya jadi semrawut tak karuan. Sudahlah masalah yang menimpaku tak perlu kau pikir panjang. Ingat bahwa takdir itu tak akan bergeser seujung rambut-pun. Hanya pesanku padamu kalau nanti aku benar-benar mati dalam pertempuran ini kutitipkan anakku Rajasa padamu supaya dihadapkan ke Demak. Mintakan pada Sultan Demak supaya ia dapat menggantikan pangkatku disini. Masalah harta peninggalanku akan kuserahkan pada Rajasa. 


Pangeran Batuputih lalu menghatur sungkem juga kepada isteri Pangeran Wetan karena dia adalah saudara ayahnya yaitu Pangeran Siding Langgar sama-sama anak Pangeran Nugraha di Jambaringin. Sedangkan Pangeran Lor adalah kemenakan Pangeran Batuputih sebab ayah Pangeran Batuputih yaitu Pangeran Siding Langgar bersaudara dengan ibu dari Tumenggung Kanduruwan. Keduanya sama-sama anak Sunan Paddusan. Jadi Tumenggung Kanduruwan dengan Pangeran Batuputih adalah saudara sepupu. Sedangkan Tumenggung Kanduruwan adalah ayah dari Pangeran Lor dan Pangeran Wetan.