silakan unduh Madurese Folktales

Karena kecerdasan Kiai Raba para santri tersebut tidak merasa kesulitan untuk menerima setiap pelajaran yang diberikan kepadanya. Lama kelam...


Karena kecerdasan Kiai Raba para santri tersebut tidak merasa kesulitan untuk menerima setiap pelajaran yang diberikan kepadanya. Lama kelamaan semakin terkenal pula nama Kiai Raba sehingga banyak pula orang alim yang sudah terkenal masih belajar ilmu agama lagi kepada Kiai Raba.

Selama Kiai Raba menetap didaerah itu orang-orang yang membangun rumah disekitarnya semakin ramai juga bahkan banyak orang dari lain desa pindah kesana. Setelah Kiai Raba sepuh maka semua kewajibannya diwakilkan kepada Bindara Bungso dan dialah kemudian yang ditugaskan untuk memberi pelajaran bagi para santrinya. Tata cara memberi pelajaran tak beda dengan Kiai Raba, karena itu kemudian banyak santri yang senang terhadap Bindara Bungso. Bindara Bungso akhirnya dianggap sebagai orang alim dan keramat.

Pada suatu hari Kiai Raba berkata kepada Bindara Bungso : Karena kamu sekarang sudah menjadi orang alim maka kiranya sudah pantas bagimu untuk membangun sebuah pedukuhan. Sambil memberi pelajaran mengaji maka pantas pula bagimu kalau membuka kegiatan di desa Batuampar-Sumenep. Apalagi karena menurutku dikemudian hari kamu akan memiliki keturunan yang akan menjadi Raja di Sumenep.

Dengan suka hati Bindara Bungso lalu berangkat meninggalkan hutan-rawa di Pamekasan menuju Batuampar-Sumenep. Kepergiannya itu disertai oleh empat orang santrinya. Sesampainya di Batuampar ia langsung membuka pedukuhan sebagaimana disarankan Kiai Raba dan dalam beberapa waktu kemudian ia juga memiliki banyak santri dan dianggap sebagai ulama besar pula. Kabar itu segera didengar oleh Ratu sehingga ia lalu disebut Kiai Batuampar.

Disana ia diberi bengkok tanah oleh kerajaan dan sampai sekarang Batuampar menjadi perdikan dan ada kepala perdikannya yang tugasnya sambil lalu merawat makam Kiai Batuampar.

Perdikan Batuampar ini termasuk wilayah kecamatan Guluk-Guluk dibawah kawedanan Guluk-Guluk (Barat Daya) kira-kira tujuh kilometer jauhnya dari pusat kawedanan itu kearah barat laut. Setelah beberapa tahun kemudian Kiai Raba lalu meninggal dan dikuburkan di Asta Raba Pamekasan. Asta tersebut keramat sampai sekarang dan orang-orang banyak yang berziarah kesana.

Diceriterakan bahwa Kiai Batuampar atau Kiai Abdullah (Bindara Bungso) atau putera Kiai Abdulkidam ini beristeri dua orang masing-masing :

1. Nyai Kursi, puteri Kiai Bayukalung di Pasean-Pamekasan dan mempunyai putera :

  • Kiai Saba, berdiam di Batuampar.
  • Nyai Tanjung, berdiam di Batuampar.
  • Kiai Bandungan.
  • Nyai Tengnga.
  • Bindara Hasan.


2. Nyai Narema, puteri Kiai Hatib Bangil di Parongpong dan memiliki putera :

  • Nyai Talang.
  • Nyai Kadungdung.
  • Bindara Saud (Saghud). Sedangkan Bindara Saud ini diasuh oleh pamannya yaitu saudara dari ibunya yang bernama Kiai Faki yaitu putera Kiai Hatib Bangil yang berdiam di Lembung.

Bindara Saud ini sangat suka berpuasa serta cerdas. Pada suatu malam ia bersama santri yang lain tidur dilanggar. Tepat waktu tengah malam guru ngajinya keluar melihat-lihat ruangan pondok para santrinya. Sang guru ngaji ini kemudian melihat sebuah cahaya terang dari arah timur dan masuk kesalah-satu ruang pondok. Dengan terheran-heran ia menghampiri ruang pondok yang didatangi cahaya tadi. Sesampainya disana dan didalam gelapnya malam tiba-tiba ia melihat ada seorang santri yang terlihat mengeluarkan cahaya seperti terbakar layaknya.

Karena tidak jelas rupa si santri maka dengan hati-hati dia menandainya dengan cara membolongi sarung santri tersebut dengan api rokok. Keesokan harinya sang guru mengumpulkan semua santrinya dan diperiksanya sarung mereka satu persatu. Kemudian diketahui bahwa sarung yang dibolonginya semalam adalah sarung Bindara Saud. Sang guru ngaji selanjutnya berkata kepada santrinya itu katanya : Insyaallah bahwa keturunan kamu kelak akan menjadi orang besar.

Setelah dewasa Bindara Saud lalu beristeri Nyai Izza yaitu puteri Kiai Jalaluddin di Parongpong. Tak lama kemudian mereka dikaruniai dua orang putera. Sementara ditempat lain yaitu di keraton Sumenep Ratu Tirtanagara bermimpi bersuamikan Bindara Saud. Dari sebab itu Bindara Saud lalu dipanggil menghadap ke keraton. Sesampainya disana Ratu Tirtanagara lalu bertanya : Siapakah namamu, dimana rumahmu, apa sudah memiliki keturunan, apa pekerjaanmu dan anak dari siapa ? Bindara Saud : Hamba bernama Bindara Saud tinggal di desa Lembung. Pekerjaan hamba mengajar ngaji sedangkan ayah hamba bernama Bindara Bungso bertempat tinggal di Batuampar dan masih keturunan Pangeran Sidhingpuri. Setelah itu Bindara Saud lalu menuturkan tentang asal-usulnya dari awal hingga akhir.

Setelah Ratu Tirtanagara mendengar penuturan Bindara Saud ia lalu merasa gembira dan selanjutnya Bindara Saud dijadikan sebagai suami dengan diberinya gelar Tumenggung Tirtanagara.

Diceriterakan pula bahwa yang menjadi Patih Ratu Tirtanagara kala itu adalah kakak sepupunya yang bernama Raden Purwanagara. Dengan kawinnya Ratu Tirtanagara dia sangat membenci Bindara Saud bahkan ia bermaksud membunuhnya. Karena dia juga sangat menyintai sang Ratu serta ingin menjabat sebagai Raja. Sejak Ratu Tirtanagara bersuamikan  Bindara Saud, Patih Raden Purwanagara tak pernah lagi menghadap ke keraton karena dirinya merasa muak melihat suami Ratu yang orang desa itu.

Pada suatu hari Ratu Tirtanagara menugaskan seorang utusan untuk memanggil Raden Patih. Setelah sang utusan sampai di Kepatihan ia melihat Raden Patih sedang mengasah pedang. Utusan tadi lalu mendekat dan menyampaikan semua perintah Ratu-nya katanya : Paduka sekarang dipanggil Ratu untuk menghadap kekeraton. Raden Patih : Mau apa dia ? Utusan : Paduka sekarang diharap datang ke keraton karena adik paduka kangen dan ingin bertemu meskipun sebentar. Raden Patih : Ada dimana orang dari gunung itu ? Utusan : Hamba tidak tahu dia dimana tetapi menurut sepengetahuan hamba paduka Ratu selama ini tak punya punggawa orang dari gunung. Raden Patih : Suami Ratumu sekarang ada dimana ? Utusan : O, sekarang beliau ada di keraton dan sedang duduk bersanding dengan paduka Ratu.

Raden Patih : Katakan pada Ratumu bahwa saat ini aku tak bisa menghadap karena masih mengasah pedang yang kurang tajam untuk memotong leher orang gunung itu. Sekarang dan katakan pada Ratu tentang apa aku katakan tadi. Utusan segera meninggalkan kepatihan dan sesampainya di keraton sang Ratu masih duduk dipendapa bersama Bindara Saud. Ratu kemudian bertanya kepada utusan tetapi sang utusan diam tak menjawab karena takut Bindara Saud dan Ratu tersinggung dengan apa yang dikatakan Raden Patih kepadanya.

Sambil diliputi rasa dongkol kemudian Ratu bertanya lagi yang kemudian diceriterakanlah oleh utusan itu tentang apa yang disampaikan Raden Patih sebagaimana adanya. Setelah Ratu mendengar tutur sang utusan tadi dirinya sangat marah. Bindara Saud : Sekarang aku minta kerelaan dinda supaya aku diijinkan untuk menemui Raden Patih. Ratu : Jangan kanda, karena masih banyak tugas yang harus kanda selesaikan. (bersambung)



Keesokan harinya ketika Raja sedang duduk di paseban lalu datang seseorang menghadap sambil berkata : Hamba memberi kabar bahwa dihutan-rawa...


Keesokan harinya ketika Raja sedang duduk di paseban lalu datang seseorang menghadap sambil berkata : Hamba memberi kabar bahwa dihutan-rawa ada dua orang yang sama-sama tampan rupa sedang berlindung dibawah pohon besar lagi rindang. Selama ini tak ada seorang-pun yang berani mendekati tempat itu karena banyak ularnya. Setiap tiba waktu shalat mereka adzan, tetapi kami belum tahu darimana mereka berasal. Kami tak sempat menanyainya lagi pula hamba takut digigit ular yang ada disekitarnya.

Pada saat itu Raja segera memanggil Ki Patih dan selanjutnya berkata : Patih, kabarnya sekarang di hutan-rawa itu ada dua orang laki-laki sedang bertapa. Panggillah mereka kemari !! Ki Patih : Itu kabar bohong paduka, sebab tidak mungkin ada orang yang berani datang kesana karena disana banyak ular berbisa yang berkeliaran. Raja : Menurutku kabar itu tidak mungkin bohong karena tidak mungkin ada orang yang berani berkata bohong kepadaku. Raja lalu bertanya lagi kepada orang yang mengabarkannya tadi. Pengabar itu tetap pada pendiriannya bahwa kabar yang dibawanya itu tidak bohong.

Dari sebab itu Ki Patih bersama beberapa orang termasuk si pemberi kabar lalu berangkat ke hutan-rawa. Sesampainya disana mereka langsung masuk hutan dan setelah Kiai Raba melihat banyak orang menuju kearahnya ia terkejut. Setelah dekat mereka saling bertegur sapa tentang siapa dan dari mana asalnya. Ki Patih : Saya Patih dari negara Pamekasan sedangkan para pengiring ini adalah para Menteri. Kiai Raba : Oh tuan, paduka jangan marah. Karena sebenarnya kami tidak tahu. Ki Patih : Sejak kapan anda berada disini ? Kiai Raba : Kami sudah lima tahun lamanya ada disini. Ki Patih : Apa maksud dan tujuan anda sehingga berlama-lama disini ? Kiai Raba : Kami tidak punya maksud apa-apa. Kami hanya mengemban tugas dari guru kami.

Ki Patih lalu duduk berhadap-hadapan dengan Kiai Raba. Sedangkan para Menteri duduk dibelakang Ki Patih dan Bindara Bungso duduk dibelakang Kiai Raba sambil mendengarkan pembicaraan keduanya. Kiai Raba : Sebenarnya kami sangat bangga dan bersyukur kepada Allah karena paduka telah berkenan kesini dan melihat tempat kami yang demikian ini. Tadinya kami sempat khawatir kalau-kalau paduka akan menangkap kami.

Ki Patih : Anda tidak usah takut sebab kami tidak berniat aniaya. Sebenarnya saya diperintah oleh Raja dinegara ini untuk memanggil anda berdua karena saat ini Raja sedang dalam kesusahan besar. Selama ini hujan tidak turun sehingga mengakibatkan negara kekurangan pangan. Inilah maksud Raja memanggil anda karena konon tidak ada orang yang mampu menanggulangi keadaan yang demikian menyusahkan ini kecuali anda. Kiai Raba : Baiklah. Mari kami akan ikut. Tetapi yakinlah bahwa kami tak bisa menurunkan hujan kecuali atas karunia Allah semata.

Setelah itu mereka berangkat ke keraton untuk menghadap Raja. Di keraton Raja bertanya : Dari manakah kalian dan pekerjaan apa yang sedang kalian lakukan di hutan-rawa itu ? Kiai Raba : Kami dari Sumenep. Kami berada di hutan-rawa karena menunaikan tugas dari guru kami dan kami disuruh mendiaminya. Kemudian diceriterakanlah semua tentang yang diperintahkan gurunya kepada Raja Pamekasan. Raja kembali bertanya : Aku tak keberatan kalau kalian berdiam disana dan mudah-mudahan segera banyak orang yang dapat menjadi pengikutmu. Aku memanggil kalian kemari karena ingin minta tolong. Sudah lima tahun lamanya dinegara ini tidak turun hujan sampai-sampai terjadi kekurangan pangan karena tanaman semuanya mati. Mintakanlah kepada Allah supaya hujan segera turun.

Kiai Raba : Dengan suka hati kami akan mengabulkan keinginan paduka. Dan sekarang kami akan memohon kepada Allah semoga doa kami diterima. Tetapi kalau nanti hujan datang yang susah adalah kami paduka, sebab kami akan kedinginan. Kami tak punya kediaman yang pantas untuk berteduh dari siraman air hujan. Dan hal itu sudah dimaklumi oleh Ki Patih tentang kediaman yang kami tempati karena kami hanya bernaung dibawah pohon yang rindang.

Ki Patih membenarkan apa yang diucapkan Kiai Raba tersebut. Dari itu Raja lalu memanggil Menteri Ajek Gedong dan kepadanya diperintahkan supaya segera membuat sebuah rumah tembok yang bagus lengkap dengan langgarnya dan ditempatkan di hutan-rawa itu untuk tempat tinggal Kiai Raba. Setelah rumah dan langgar selesai dibangun Kiai Raba dan Bindara Bungso kemudian pindah dan mendiami rumah barunya. Pada saat mereka pindah, disaat itu pula hujan turun dengan derasnya.

Raja dan rakyat Pamekasan sangat gembira pada waktu itu dan berkata : Sungguh nyata bahwa Kiai Raba itu adalah seorang wali. Hujan deras tadi tak mau reda hingga tujuh hari lamanya sampai keadaan kota dan desa kebanjiran. Karena itu Raja susah lagi hatinya. Raja lalu memerintahkan lagi Patihnya untuk memanggil Kiai Raba ke keraton katanya : Aku sekarang semakin susah kalau demikian keadaannya. Hujan yang datang sudah tujuh hari lamanya tapi tak kunjung reda sampai-sampai orang disini tak bisa menggarap sawah-ladangnya. Maka dari itu katakan pada Kiai Raba bahwa ia sangat kuharapkan bisa menghadapku sekarang juga.

Setelah Kiai Raba datang menghadap, Raja Pamekasan menyatakan kesedihannya seperti yang dituturkan diatas dan selanjutnya ia meminta kesediaan Kiai Raba untuk kembali memohon kepada Allah supaya hujan dapat reda. Sambil tersenyum Kiai Raba berkata : Hamba sekarang kok jadi repot dalam memenuhi kehendak paduka. Dulu sewaktu hujan tidak datang hamba disuruh meminta supaya hujan turun. Tapi setelah hujan turun justeru minta supaya diredakan. Kalau demikian terus-menerus akhirnya Allah tidak akan mengabulkan doa kita.

Raja : Iya, ucapanmu benar. Kenyataannya akulah yang salah maka itu maafkanlah aku. Tapi sekarang aku mohon kerelaanmu untuk memintakan hujan yang sedang-sedang saja kepada Allah sehingga bisa menjadi sesuatu yang menghidupkan bagi tanaman di negara ini. Dimana dengan hujan tadi akan dapat membuat lahan-lahan menjadi subur serta menjadikan keselamatan dan kemakmuran bagi negara. Kiai Raba setuju lalu pamit pulang. Setelah sampai dirumahnya lalu hujan yang semula deras sekarang berobah menjadi sedang-sedang saja seperti yang dikehendaki Raja tadi. Kemudian sejak saat itu negara Pamekasan menjadi negara yang murah rejeki dan tanaman pangan setiap tahunnya tak pernah gagal malah banyak hasil tanaman rakyat yang dijual ke negara lain.

Dengan keberhasilan itu Kiai Raba lalu mendapat hadiah lagi dari Raja berupa tanah bengkok sebagai bekal serta hadiah bagi Bindara Bungso. Hutan-rawa itu lalu dibabatnya dan dibuatnya sebagai tegalan, sawah dan ada juga yang dibuat pekarangan untuk bakal perumahan. Tak lama kemudian Kiai Raba tambah dikenal orang dan tiap harinya banyak orang datang berkunjung ke kediamannya bahkan banyak orang yang mendirikan rumah disekitarnya.

Pada suatu hari beberapa orang sedang berkunjung kerumah Kiai Raba dengan maksud mencari ilmu dan mengaji. Sesampainya dikediaman Kiai Raba mereka menyampaikan maksudnya katanya : Kami kemari bermaksud mengabdi dan belajar ngaji. Kami rela mengabdi kepada Kiai dunia-akhirat. Kiai Raba : Sebenarnya saya tidak tahu ilmu ajar-mengajari maka itu tuan-tuan lebih baik mencari guru yang lain saja sebab orang yang bisa memberikan ilmu seperti para Ulama terkenal misalnya.

Santri : Hasrat kami semua untuk mengaji dan mengabdi pada Kiai sudah tak dapat dirobah lagi. Kiai Raba : Kalau tuan-tuan sudah bertekad dan bersungguh-sungguh maka baiklah, akan saya akan berikan apa yang saya miliki sesuai dengan kemampuan yang saya punyai. Kami adalah orang bodoh dan mudah-mudahan Allah akan selalu memberi bimbingan dan dapat mengabulkan semua hajad kita dengan selamat.

Tetapi waktunya bukan hari ini untuk mulai, karena itu silakan tuan-tuan pulang terlebih dahulu sebab pada hari ini kami belum siap untuk memulainya. Tiga hari lagi kami harapkan tuan-tuan dapat kembali. Sedangkan kitab yang tuan-tuan bawa itu sebaiknya ditinggalkan saja disini dulu supaya kami dapat mempelajarinya. Mudah-mudahan kami dapat keterbukaan hati untuk mengerti akan maksud-maksudnya.

Setelah itu maka pulanglah para calon santri itu dengan hati gembira. Sepulang para calon santrinya itu Kiai Raba merasa bimbang terhadap kemampuan ilmunya sendiri karena takut tidak memadai untuk memenuhi keinginan para calon santrinya itu. Sejak itu ia lalu memohon kepada Allah untuk diberikan kekuatan hati dan petunjuk. Selama dua hari ia menyendiri di langgarnya dan akhirnya disuatu malam ia bermimpi.

Dalam mimpinya ia merasa didatangi Nabi Muhammad didampingi oleh empat orang sahabatnya. Dalam mimpinya itu Nabi Muhammad berkata begini : Sekarang kamu boleh mengajarkan kitab sebagaimana keinginan orang-orang yang akan mengaji kepadamu. Jangan kamu tolak apa yang dihasratkan orang. Kiai Raba : Kami tidak tahu tentang apa yang harus kami berikan kepada mereka karena kami tak memiliki ilmu yang sempurna.

Nabi Muhammad lalu menyuruh Kiai Raba membuka mulut dan diludahinya. Hal itu juga dilakukan oleh empat sahabat Nabi yang secara bergiliran meludahi mulut Kiai Raba dan memerintahkan untuk ditelannya. Setelah air ludah itu terasa sampai diperutnya Kiai Raba lalu terbangun.

Sejenak ia termenung memikirkan mimpinya tadi dan sampai fajar tiba ia tidak tidur. Mimpi itu selanjutnya dituturkan kepada anak angkatnya yaitu Bindara Bungso. Setelah pagi tiba beberapa santri yang akan berguru itu datang lagi padanya. Setelah santri tadi juga mendengar ceritera tentang mimpi yang dialami gurunya mereka sangat gembira dan berharap mimpi seperti itu juga datang pada dirinya. Tekad mereka semakin pasti untuk mengabdi pada Kiai Raba dan beberapa waktu kemudian para santri itu baru mendapat pelajaran ilmu dari Kiai Raba sebagaimana mestinya.  (bersambung)


Pintu masuk Asta Katandur dan Kuburan Pangeran Katandur (insert) Setelah Pangeran Katandur wafat ketiga puteranya sama-sama menjadi orang al...



Pintu masuk Asta Katandur dan Kuburan Pangeran Katandur (insert)

Setelah Pangeran Katandur wafat ketiga puteranya sama-sama menjadi orang alim yang ternama dan keramat. Makam Pangeran Katandur dengan orang-orang dinamakannya Asta Sabu bertempat di kampung Paddusan sebelah selatan tambak irigasi. Disebelah tenggara Asta itu terletak Asta Pangeran Sidhing Puri. Kadua Asta tersebut sampai sekarang masih baik keadaannya karena ada yang menjaganya. Kata orang, kedua Asta tersebut sama-sama keramat dan angker sehingga tak boleh ada orang sembarangan datang kesana.

Sedangkan Kiai Hatib Paddusan mempunyai duabelas putera, namun hanya diceriterakan dua orang yaitu :

1. Kiai Barangbang, berdiam di Barangbang (sekarang jadi perdikan), masuk desa Kalimo’o’ Kecamatan Marengan, kawedanan Kota Sumenep. Disana ada kepala perdikannya sambil lalu merawat Asta Gumo’ yakni Asta Kiai Barangbang dan keturunannya.

2. Nyai Cendir, yang bersuamikan Kiai Tengnga. Kiai ini adalah putera Kiai Wangsadikara yang asalnya dari Mataram. Kiai Wangsadikara tersebut beristeri Nyai Berrek yaitu puteri dari Kiai Hatib Karanggan. Makam Kiai Tengga terletak didesa Ngenbungen Kawedanan Batang-batang (Pembantu Bupati Timur Laut). Yang merawat makamnya adalah kepala perdikan Barungbung.

Asta Kiai Hatib Paddusan ada disebelah timur sungai Asta Pangeran Katandur, dimana orang Sumenep juga menyebutnya Asta Tobato, yang jauhnya dari Asta Sabu kira-kira setengah kilometer.

Nyai Cendir mempunyai putera : Nyai Karteka dan Kiai Jalaluddin. Kiai Jalaluddin beristerikan Nyai Galu yaitu puteri dari Kiai Hatib Bangil dan ia berdiam di Parongpong. Kiai Hatib Bangil ini adalah putera Kiai Talang-Parongpong, cucu Kiai Talang Sendir yang bermukim di perbukitan Gelugur atau cicit Kiai Kecer-Banasare. Kiai Kecer-Banasare itu adalah putera Astamana, cucu Pangeran Bukabu.

Sekarang Parongpong menjadi perdikan dan ada kepala perdikannya, sambil lalu menjaga makam Kiai Hatib Bangil dan Kiai Jalaluddin. Kiai Jalaluddin mempunyai putera :

1. Nyai Izza.
2. Nyai Saba.
3. Kiai Kandar (Kiai Parongpong).
4. Kiai Wiradipuspa (Manteri).
5. Kiai Fatta.
6. Kiai Wiradipura (Manteri).
7. Nyai Parongpong.

Kiai Hatib Bangil beristerikan Nyai Salama, puteri seorang Modin Tadja di Pamekasan dan berputera empat orang yaitu :

1. Nyai Narema.
2. Nyai Galu.
3. Bindara Faki.
4. Nyai Lima.

Nyai Izza bersuamikan Bindara Saod, yaitu putera Bindara Bungso di Batuampar tetapi ia  bertempat tinggal di Lembung. Kemudian mereka dikaruniai putera dua orang. Sekarang Lembung menjadi perdikan termasuk Kecamatan Lenteng, jauhnya kira-kira tujuh kilometer. Disana ada kepala perdikannya yang sambil lalu merawat makam Nyai Cendir, Nyai Izza dan Kiai Faki. Disebelah selatan Asta itu ada sungainya dan disebelah timurnya ada mesjid.

Diceriterakan bahwa puteri Pangeran Sidhing Puri yang bersuamikan Kiai Rawan di Sendir lalu disebut Nyai Susur. Dari perkawinannya mereka dikaruniai seorang putera bernama Kumbakara atau Kiai Sendir I. Sedangkan setelah Kumbakara beristeri ia dikaruniai putera bernama Abdirrahim atau Kiai Sendir II. Kiai Sendir II ini kawin dengan puteri Kiai Galugur dan dari perkawinannya mereka dikaruniai putera bernama Kiai Abdullah.

Kiai Rawan, Kumbakara, Kiai Abdirrahim dan Kiai Abdullah ini adalah orang-orang alim yang mempunyai pengaruh cukup besar disamping diakui kekeramatannya sampai sekarang. Setelah Kiai Abdullah kawin, ia dikaruniai tiga orang putera diantaranya puteri. Salah seorang puteranya adalah bernama Kiai Raba di Pamekasan. Kiai Raba sewaktu kecil kira-kira berumur dua tahun, mempunyai kebiasaan yang tidak sama seperti anak-anak kebanyakan pada masanya. Kalau sedang berkumpul ia tak mau bergurau. Ia pendiam terkadang kelihatan seperti orang dungu. Kalau tidur ia tak mau beralaskan tikar dan sebagainya bahkan kalau ingin tidur ia langsung membaringkan tubuhnya.

Tetapi meskipun begitu pada dirinya terdapat suatu ilmu ganjil dan sulit ditemui yaitu bertuah dalam ucapannya. Kalau dia berkata hujan, meskipun tak sepotong awanpun melayang dilangit maka seketika hujan akan datang. Begitu pula kalau ia berkata terang, maka meskipun awan menebal diangkasa sekejap akan terhapus dan menyembullah sinar matahari yang terang benderang. Oleh karena itu ia selalu dijaga oleh kedua orang tuanya takut-takut keganjilannya itu terdengar oleh Raja dan diambilnya.

Setelah berumur sembilan tahun Kiai Raba lalu minta kepada kedua orang tuanya untuk diijinkan nyantri. Kedua orang tuanya sangat gembira dengan kemauan anaknya itu maka lalu diijinkannya untuk nyantri pada Kiai Sendang. Dipesantren Kiai Sendang dia menjadi santri yang cerdas dan tak gampang lupa terhadap ilmu yang diberikan oleh gurunya. Beberapa waktu kemudian oleh gurunya dianjurkan pindah ke lain pesantren sebab Kiai Sendang sudah tak punya ilmu yang akan diajarkannya lagi.

Dari itu ia lalu pindah dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Disepanjang pengalamannya ia selalu mendapat pujian dari guru-gurunya karena selain cerdas ia juga tekun dan suka berpuasa. Setiap ia pindah pesantren maka disanalah ia selalu dikasihi gurunya dan seringkali dijadikan wakil untuk memberi pelajaran mengaji bagi santri lainnya. Dengan kecerdasannya itu maka dalam waktu singkat ia telah banyak menguasai ilmu dari kitab-kitab Islam dan banyak pula para santri yang sungkan kepadanya.

Diceriterakan bahwa saudara perempuan Kiai Raba yang sulung bersuamikan paman sepupu dari ayahnya yaitu putera Kiai Talang Parongpong bernama Kiai Abdulkidam (Kiai Tellu). Tak lama kemudian mereka dikaruniai putera diberi nama Bindara Bungso. Sesudah Bindara Bungso dewasa lalu diasuh oleh Kiai Raba dan diikut sertakan nyantri. Suatu hari Kiai Raba dinasihati oleh gurunya begini : Sekarang kamu aku tugaskan membuka pedukuhan sambil mengajar ilmu Agama Muhammad dihutan-rawa di Pamekasan. Semua ilmu-ku telah aku berikan kepadamu dan amalkanlah. Kata orang-orang alim, barang siapa orang yang kikir akan ilmunya maka diakhirat nanti akan mendapat hukuman yang pedih. Dari sebab itu maka camkanlah ucapanku ini.

Setelah mendapat pesan demikian dari gurunya maka berangkatlah Kiai Raba (Rawa) dan Bindara Bungso. Sesampainya ditempat yang disebut gurunya tadi mereka berhenti. Disitu masih merupakan hutan berawa-rawa tanpa penduduk sama sekali bahkan yang ada disana hanya ular. Tetapi dengan tekad baja kedua orang itu tak gentar sedikitpun. Keduanya lalu memasuki hutan-rawa itu dan duduk disebuah akar pohon besar. Binatang-binatang buas yang ada dihutan itu konon tidak mengganggunya bahkan menjadi jinak pada kedua orang itu. Burung-burung yang ada disana setiap hari konon selalu membawa buah-buahan sebagai makanan sehari-hari mereka.

Sejak Kiai Raba ada disana negara Pamekasan sedang dilanda kekeringan bahkan selama lima tahun konon tak pernah turun hujan. Tanaman banyak mati dan kelaparan merajalela. Rakyat Pamekasan saat itu sungguh dirundung kemelaratan. Dari sebab itu Raja Pamekasan lalu memerintahkan para Alim Ulama supaya mengadakan shalat dan berpuasa untuk meminta hujan. Berkali-kali usaha itu dilakukan tetapi sang hujan tak mau turun juga sehingga Raja sangat susahnya. Setiap hari dirinya tak henti-henti berpuasa dan bersadaqah.

Disuatu malam pada saat Raja tidur ia bermimpi didatangi seseorang yang perawakannya sudah renta dan berkata kepadanya : Yang menjadi lantaran mengapa negara ini tidak turun hujan sebab disini ada dua orang yang sedang bertapa. Selama ini mereka hanya berlindung disebuah pohon besar yang terletak di alas (hutan) rawa. Karenanya kalau kamu mau minta turun hujan hendaknya kedua orang itu kamu beri tempat berlindung supaya tidak kehujanan.





Sekejap saja tentara Pak Lesap banyak yang tersungkur dan tewas bermandi darah terkena peluru-peluru yang dimuntahkan senapan dan meriam mus...



Sekejap saja tentara Pak Lesap banyak yang tersungkur dan tewas bermandi darah terkena peluru-peluru yang dimuntahkan senapan dan meriam musuhnya. Mereka terus ditekan dan tidak diberi kesempatan untuk mengadakan perlawanan. Orang-orang Sampang dan Baliga yang sebelumnya berdiri dibelakang Pak Lesap akhirnya menyerah pada Pangeran Cakraningrat V. Hanya tinggal orang-orang Pamekasan dan Sumenep yang terus bertahan dipihak Pak Lesap.

Para Menteri Pak Lesap yang empat puluh orang sekarang mulai khawatir dan berkata kepada Pak Lesap : Kami rasa bahwa kemenangan sekarang bukan lagi dipihak kita. Orang-orang Sampang dan Baliga sudah menyerah kepada musuh. Apalagi sekarang Pangeran Cakraningrat sedang membawa tombak pusaka si Nanggala dan si Talagura.

Kedua pusaka sakti itu sekarang telah terhunus dan mengeluarkan warna merah membara. (Ceritera orang-orang kuno bahwa, kalau kedua pusaka itu dibawa berperang dan dari padanya keluar warna merah membara maka itu pertanda bahwa perang akan dimenangkan). Maka itu kalau jadi kerelaan paduka lebih baik mari kita kembali saja ke Sumenep. Paduka menjadi Raja di Sumenep dan Pamekasan dan dari sana nanti kita atur perlawanan lagi. Kalau sekarang besar kemungkinan kita akan kalah. Paduka bersama kami dan seluruh lasykar sudah tentu akan tewas secara menyedihkan.

Pak Lesap : Ayo, sekarang aku yang akan menghadapinya sendiri dan saksikan tentang keprajuritanku. Keempat puluh Menteri Pak Lesap menuruti kehendak tuannya. Namun hati mereka tetap khawatir. Tak berapa lama kemudian maka terjadilah perang tanding. Tentara Pak Lesap maju lagi tapi dalam sekejap mereka tewas tertembus peluru Kompeni sedang sebagiannya lagi lari dan berlindung dibelakang Pak Lesap.

Dengan begitu kamudian Pak Lesap mengeluarkan kesaktiannya dan datanglah kemudian hujan deras dan angin kencang serta gelaplah arena pertempuran. Namun dengan hanya mengibas-ibaskan si Nenggala cuaca menjadi terang kembali. Keempat puluh Menteri Pak Lesap segera menyerang kelompok tentara Kompeni. Serangan mendadak itu mengakibatkan beberapa serdadu Kompeni maupun sejumlah Menteri Pak Lesap tewas.

Serdadu Kompeni yang masih tersisa maju kedepan, sedangkan beberapa Menteri dipihak Pak Lesap mundur. Pada saat mereka mundur itulah kemudian disambut dengan tombak oleh para Kapetteng yang sudah lebih dulu mengepungnya. Melihat kejadian itu Pak Lesap makin kalap. Ia keluarkan kesaktiannya lagi maka bersambaran-lah halilintar sehingga para serdadu Kompeni banyak yang pingsan.

Namun Pangeran Cakraningrat V tak beranjak dari tempatnya. Dikibaskannya lagi tombak si Nanggala maka lenyap pula petir-petir itu dari langit. Tentara Bangkalan merangsek semakin maju sedang sebaliknya musuh semakin mundur.
Pak Lesap berdoa lagi. Sekejap kemudian datanglah beribu-ribu tentara dengan rupa bermacam-macam. Mereka adalah bangsa jin. Tetapi dengan sekali kibasan tombak si Nanggala dan si Talagura maka makhluk jadi-jadian itupun musnah. Merasa usahanya gagal maka kemudian Pak Lesap mengamuk dengan senjata Kodhi’. Senjata itu selanjutnya dilepas oleh Pak Lesap maka tersungkurlah berpuluh-puluh prajurit Bangkalan yang tertebas lehernya oleh senjata itu.

Senjata Kodhi’ itu kemudian terbang kearah Cakraningrat namun dengan cekatan si Pangeran mengibaskan si Nanggala sehingga senjata Pak Lesap itu patah dan jatuh ketanah. Senjata itu kemudian diambil oleh seorang Menteri dan diserahkan pada Pangeran Cakraningrat. Dengan peristiwa itu pucatlah wajah Pak Lesap.

Bala tentara Bangkalan kemudian maju sambil bersorak-sorai sampai-sampai tentara Pak Lesap tinggal sedikit. Saat itu tentara Pak Lesap bermaksud menyerah, tetapi Pak Lesap sendiri masih terus melakukan perlawanan. Akhirnya Pak Lesap maju kearah Cakraningrat dengan menusukkan senjatanya. Tetapi pada jarak kira-kira satu tombak Pak Lesap disambut dengan si Nanggala oleh Pangeran Cakraningrat. Pak Lesap terkena dadanya, jatuh tersungkur terus meninggal.

Pangeran Cakraningrat V lalu turun dari kudanya dan memotong kepala Pak Lesap. Sedangkan tubuh Pak Lesap diikat dijembatan Ormang yang letaknya disebelah timur benteng. Sesudah Pak Lesap tewas sisa tentaranya lari menyelamatkan diri.

Dilain tempat yaitu dinegara Sumenep, setelah Pangeran Cakranagara meloloskan diri lalu diganti oleh seorang Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtanagara. Dia adalah adik Pangeran Jimat. Sedangkan yang menjadi Patihnya ialah saudara sepupunya sendiri yang lebih tua bernama Raden Purwanagara.

Sementara saat itu ada pula seorang alim dan keramat bergelar Pangeran Katandur (nama ini diambil dari kesukaannya terhadap tanam-tanaman, tandur = menanam atau nandur). Ia adalah putera Panembahan Pakaos dinegara Kudus. Panembahan Pakaos ini adalah anak Sunan Kudus atau cucu Sunan Andung. Sunan Andung bersaudara dengan Sunan Paddusan di Sumenep, sama-sama putera Usmanhaji.

Diceriterakan bahwa pada saat Pangeran Katandur tiba di Sumenep keadaan negara ini sedang ditimpa kekeringan. Tanaman kering bertahun-tahun. Melihat itu Pangeran Katandur lalu turun kesawah ikut bertani. Hasil tani Pangeran ini sangat melimpah sehingga sebagian hasilnya dibagi-bagikan kepada para petani disekitarnya.

Oleh sebab itu banyak petani yang berusaha untuk bisa dekat dengannya sebab tanaman lain banyak yang gagal. Mereka juga ingin tahu ilmu dan tatacara bertani disamping ada pula yang minta jimat demi keberhasilan usaha taninya. Orang-orang yang datang ke Pangeran Katandur konon banyak yang berhasil sehingga ia dikenal oleh orang-orang termasuk dari negara lain.

Tiap hari tak ada putusnya orang yang berkunjung kerumah Pangeran itu sekaligus banyak pula yang belajar kitab suci Alqur’an serta kitab-kitab pelajaran agama Islam lainnya. Mulai saat itu orang-orang Sumenep lalu banyak yang taat beribadah dan beriman. Siapa saja yang dekat dengan Pangeran Katandur dan taat mengikuti perintahnya banyak yang makmur hidupnya sedangkan yang tidak tentu akan selalu menemui kesulitan.

Pangeran Katandur ini katanya seorang wali Allah dan bertuah ucapan-ucapannya. Maka dari itu tentang kekeramatannya masih ada tanda-tandanya sampai sekarang dengan masih banyaknya orang yang berziarah kemakamnya.

Pangeran Katandur mempunyai tiga orang putera : 

  1. Kiai Hatib Paddusan, bertempat tinggal di kampung Paddusan.
  2. Kiai Hatib Sendang, berdiam di Sendang. Sampai sekarang Sendang masih tetap menjadi pesantren dan banyak santri yang belajar ilmu agama Islam disana.
  3. Kiai Hatib Karanggan, berdiam di kampung Karanggan. 

(bersambung)


Pangeran Cakraningrat V segera memanggil Demang Raksanagara dan memerintahkan untuk mengundang Kabajan (Pangkat kepunggawaan istana yang ber...



Pangeran Cakraningrat V segera memanggil Demang Raksanagara dan memerintahkan untuk mengundang Kabajan (Pangkat kepunggawaan istana yang bertugas meneruskan perintah Raja kepada para Aria, Menteri dan sebagainya), Panompeng (Menteri rendah yang tidak mendapat kekuasaan desa), Lalora (Atasan Kabajan) Tarona (Pangkat ala Bangkalan yang sama artinya dengan papanombagan = semacam pangkat prajurit), Kapetteng (pangkat ala Pamekasan, sedangkan ala Sumenep menyebut Talempek yang artinya Penombak. Mereka berpakaian cekkakan, lengan bajunya hanya sampai dibahu berompi seperti Pangarsa), Garambang (Penombak yang rambutnya terurai), semuanya diperintahkan menghadap Raja.

Pangeran Cakraningrat V : Demang Raksanagara bagaimana pendapatmu karena Sampang dan Baliga sudah menyerah. Demang Raksanagara : Menurut hamba lebih baik kita lakukan perlawanan saja dan paduka tidak mungkin kalah. Pangeran Cakraningrat V : Kalau begitu baiklah. Segera undang bala tentara dan bunyikan tanda perang. Demang Raksanagara lalu segera keluar istana dan memaklumkan perang. Setelah suamuanya terkumpul mereka lalu berangkat menyongsong musuh.

Pangeran Cakraningrat V selanjutnya menugaskan seorang berpangkat komandan untuk memberitahu Residen di Surabaya. Pangeran Cakraningrat V : Beri kabar Tuan Paduka Residen di Surabaya bahwa musuh kita sudah hampir tiba. Katakan bahwa musuh kita sekarang sudah dapat menaklukkan negara Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Baliga. Mereka akan aku lawan serta aku mengharap bantuan dari pihak Kompeni. Komandan yang ditugaskan segera menulis surat kepada Residen di Surabaya, tak lama kemudian datang bantuan serdadu dari Surabaya lengkap dengan perkakas perangnya.

Pangeran Cakraningrat V selanjutnya berkata kepada seorang Mayor Kompeni katanya : Bagaimana menurut pendapat saudara karena saya sekarang sedang kedatangan seorang musuh yang sakti dan ahli bertapa. Mayor : Jangan khawatir dan paduka hendaknya jangan ikut bertempur. Seberapakah kekuatan musuh paduka itu ? Sekalipun mereka dapat terbang, kalau mesiu kompeni masih dapat terbakar paduka Raja tak perlu khawatir.

Diceriterakan bahwa lasykar Bangkalan berjumlah sepuluh ribu orang. Lasykar itu dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing ditugaskan mengepung musuh dari empat penjuru yaitu dari utara, selatan, barat dan timur. Akhirnya lasykar Pak Lesap terkepung tepatnya didesa Patemmon yang letaknya sebelah timur kota Bangkalan dan disitulah perang tersebut dimulai.

Dipihak lasykar Pak Lesap, Menterinya yang empat puluh orang dibagi menjadi empat kelompok pula. Masing-masing sepuluh orang diperintah memimpin tentara yang dari Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Baliga. Setelah lama perang berlangsung Pak Lesap melihat banyak tentaranya yang tewas dan sebagian lagi lari. Maka itu ia lalu maju sendiri kemedan tempur. Dilepaskannya senjata andalannya Si Kodhi’ Carangcang namun lasykar Bangkalan tak merasa gentar.

Melalui senjata sakti yang bisa membunuh sendiri lawan-lawannya hanya dengan aba-aba tuannya itu berguguranlah bala tentara Bangkalan. Pak Lesap semakin kalap lalu dengan sekejap ia mencipta dengan materanya. Sesaat kemudian datanglah angin ribut disertai hujan lebat dan petir yang menyambar-nyambar. Disaat itu gelaplah langit dan alam sekitarnya. Para prajurit yang berperang tidak tahu lagi siapa kawan dan lawannya. Maka itu lasykar Bangkalan kemudian mundur kembali ke kota dan sebagian lagi ada yang lari ke keraton. Pangeran Cakraningrat V pada saat itu juga pindah dari keraton kedalam benteng.

Pada keesokan harinya para serdadu Kompeni dan lima ribu orang lasykar Bangkalan yang terdiri dari para Menteri dan punggawa berangkat menuju Tonjung yang letaknya disebelah timur kota Bangkalan kira-kira jauhnya dua kilometer. Disana mereka berperang lagi seperti kejadian kemarin. Tentara Kompeni berhasil memporak-porandakan tentara Pak Lesap dengan bedil dan meriamnya. Pak Lesap selanjutnya turun lagi ke medan peperangan dengan senjata Kodhi’ Carancang ditangannya tetapi serangannya dapat ditangkis oleh tentara Kompeni.

Tak lama kemudian ia lalu memohon kembali datangnya hujan, angin serta petir sebagaimana kejadian yang sudah-sudah. Dengan demikian maka lasykar Bangkalan sekali lagi mundur kedalam kota dan sebagian lagi mundur ke benteng pertahanannya. Melihat bala tentaranya mundur Pangeran Cakraningrat V bingung pikirannya. Ia lalu berembuk dengan Mayor Kompeni : Bagaimana akal kita sekarang ? Pak Lesap sudah demikian besar semangatnya dengan menumpahkan keberanian dan kesaktiannya. Mayor : Paduka jangan khawatir karena kami masih punya akal.

Esok harinya sang Mayor lalu menata bedil dan ditempatkannya di sekeliling benteng. Sedangkan Pangeran Cakraningrat V berangkat ke desa Malaja diiringi sejumlah tentaranya. Pak Lesap dengan lasykarnya juga sudah tiba di desa Bancaran, Pajangan dan Geddungan mengepung kota. Selanjutnya Pak Lesap mengepung benteng.

Melihat bentengnya terkepung musuh, Mayor Kompeni lalu memberikan aba-aba menyerang. Meletuplah laras-laras bedil disana dan seiring dengan itu bergelimpanganlah korban dari tentara Pak Lesap. Dengan serangan itu Pak Lesap kalap dan mengamuk sampai-sampai banyak orang kota yang bertekuk lutut kepada Pak Lesap karena mereka menyangka Rajanya sudah menyerah. Setelah tahu bentengnya dikepung musuh Pangeran Cakraningrat V gundah hatinya. Ia konon tak mau makan dan tidur karena gelisah.

Pada suatu malam saat sang Pangeran berniat tidur ia meminta petunjuk Yang Kuasa lewat mimpinya. Ia tidur dengan hanya beralaskan daun pisang sedangkan yang dijadikan bantal hanya sebuah batu bata. Maksudnya supaya ia segera mendapat petunjuk dari Allah dan meminta agar peperangan bisa dimenangkan. Pada saat terlelap lalu datang padanya suara entah dari mana arahnya. Disana ia mendapatkan petunjuk untuk keluar dari kesulitan yang dihadapinya.

Keesokan harinya ia berkata kepada Mayor Kompeni : Sekarang aku akan menghadapi sendiri perang ini karena tentara dan pihak Kompeni sudah tidak bisa mengatasinya. Mayor dan Komandan Kompeni : Kami tidak setuju kalau paduka Raja pergi sendiri untuk berperang. Menurut kami lebih baik kalau kita memberi kabar Tuan Residen di Surabaya untuk memperoleh bantuan yang lebih kuat lagi. Pangeran Cakraningrat V : Sudahlah, kita tak perlu meminta bantuan lagi karena Tuan Residen tentu sudah lebih paham. Pangeran Cakraningrat V kemudian  memerintahkan seorang Menterinya untuk mencari dua orang pelacur yang cantik rupanya. Setelah Menteri berhasil mendapatkannya, kedua pelacur itu lalu diberi dandanan bagus. Pakaian yang diberikannya sangat indah dan mahal harganya.

Setelah dirias sedemikian rupa maka dipanggillah mereka menghadap Raja. Pangeran Cakraningrat V membujuknya begini : Aku sekarang minta tolong pada kalian supaya kalian mau kuhadiahkan pada Pak Lesap. Akuilah disana nanti, bahwa kalian adalah anakku sedangkan yang satu lagi mengaku sebagai saudaraku. Setelah itu lakukan apa yang dimaui Pak Lesap. Kalau kalian berhasil maka pakaian yang kalian pakai itu kuhadiahkan padamu sebagai penghargaan atas bantuan yang kalian berikan kepadaku. Kedua pelacur itu setuju dan sangat gembira hatinya karena mendapat hadiah pakaian yang demikian banyaknya.

Pangeran Cakraningrat V kemudian memerintahkan Menterinya agar kedua perempuan itu dibawa kehadapan Pak Lesap. Pangeran : Katakan kepada Pak Lesap bahwa kedua perempuan ini adalah anak dan saudaraku. Jadikanlah ini sebagai pertanda bahwa aku menyerah padanya. Menteri yang ditugaskan setuju lalu berangkatlah mereka diiringi upacara kerajaan. Kedua perempuan itu didudukkan diatas tandu yang dipikul oleh beberapa punggawa. Sedangkan dibelakangnya ikut pula para emban. Didepan, sebuah bendera putih dikibarkan sebagai tanda bahwa kerajaan Bangkalan telah menyerah.

Setelah Pak Lesap melihat iring-iringan dengan bendera putih berkibar didepannya sangat gembira hatinya. Ia lalu tertawa terbahak-bahak sambil menari-nari. Sesampainya iring-iringan tadi dihadapannya, Menteri tadi lalu menyerahkan kedua perempuan itu kepada Pak Lesap sambil menyampaikan pesan-pesan Rajanya. Mendengar ucapan Menteri itu Pak Lesap langsung merenggut dan memeluk kedua perempuan pampasannya. Mereka langsung didudukkan diharibaannya. Beberapa saat kemudian kedua perempuan itu dibawanya masuk kepondoknya dan dicumbu hingga beberapa lama.

Esok harinya Pak Lesap mengumpulkan lasykarnya untuk merayakan kemenangan. Sejak  mendapatkan kedua perempuan tadi ia lalu lupa diri memenuhi syarat-syarat ilmu yang dimilikinya kecuali hanya bercumbu rayu dan bermesraan setiap saat.

Dia sudah merasa bangga dengan kemenangannya dan lupa akan cita-citanya untuk menaklukkan Surabaya sampai ke Bali. Setelah beberapa hari berlangsung maka dilain pihak Raja Bangkalan Pangeran Cakraningrat V mengeluarkan perintah kepada para prajuritnya untuk membunyikan isyarat perang. Setelah bunyi bedil berdentum tiga kali maka dengan wajah gembira Pangeran Cakraningrat V meminta Mayor dan Komandan Kompeni untuk datang menghadapnya. Setelah datang Pangeran Cakraningrat V memerintahkan keduanya untuk mengumpulkan lasykarnya kembali guna mengadakan serangan balasan pada Pak Lesap.

Setelah semua siap maka berangkatlah mereka kemedan perang dan mereka mendapat dukungan pula dari penduduk Bangkalan yang tadinya menyerah kepada Pak Lesap. Dengan suka hati mereka bersatu kembali. Sesudah Pak Lesap mendengar ada rombongan lasykar bersorak-sorak menuju kearahnya hatinya terkesiap. Ia menyangka bukan lasykar Bangkalan tapi disangkanya musuh dari negara lain. Setelah dekat serdadu-serdadu Kompeni lalu menyerangnya dengan senjata bedil dan meriam yang berdentum-dentum sedangkan lasykar lainnya berada dibelakang barisan mereka. (bersambung …..)


Pada suatu hari Pak Lesap berkata pada Gunturgeni : Kalau engkau suka maka aku sekarang bermaksud menggempur negara Sumenep maka dari itu pe...



Pada suatu hari Pak Lesap berkata pada Gunturgeni : Kalau engkau suka maka aku sekarang bermaksud menggempur negara Sumenep maka dari itu persiapkanlah tentaramu. Gunturgeni : Apalagi yang akan kita tunggu ? Maka dengan empatpuluh orang menterinya yang diikuti ribuan prajurit Pak Lesap berangkat ke Sumenep untuk menantang perang. Disepanjang jalan yang dilalui prajurit Pak Lesap bersorak-sorak membangkitkan semangat. Mendengar adanya suara hiruk-pikuk dari kejauhan Raja Sumenep memerintahkan seorang Menterinya untuk menyelidiki. Sesampainya diluar kota sang Menteri melihat begitu banyak tentara pimpinan Pak Lesap yang saat itu sedang duduk ditandu sedang mendatangi pusat kota. Menteri yang juga diikuti beberapa tentara kerajaan Sumenep itu mencegatnya dan terjadilah perang.

Pak Lesap lalu turun dari tandunya dan mengamuk. Banyaklah korban di kedua pihak sedangkan tentara Sumenep yang masih hidup berusaha lari ke keraton dan melapor kejadian itu pada Rajanya. Mendengar laporan tentaranya Raja selanjutnya memerintahkan Ki Patih untuk menemui Pak Lesap. Ki Patih segera berangkat diikuti seratus orang Menteri dan bala tentara sebanyak limaratus orang. Selanjutnya mereka terlibat perang sampai sembilan hari lamanya. Korban saling berjatuhan dikedua belah pihak, tetapi Ki Patih dan Raden Tirtanagara tak bergerak dari tempatnya serta terus mengadakan perlawanan.

Sesudah tentara Pak Lesap hampir kalah maka Pak Lesap maju sendiri kemedan perang. Pak Lesap menyerang Ki Patih tetapi disambutnya dengan tusukan tombak sehingga Pak Lesap sempat terjengkang. Bersoraklah tentara Sumenep. Melihat keadaan yang tak memungkinkan itu Pak Lesap lalu mengeluarkan ilmu kedigjayaannya. Dan dengan hanya mengatakan ‘Gelap’ maka seketika datanglah angin dan hujan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Sebentar kemudian menjadi gelap-lah medan perang seperti malam layaknya.

Ki Patih bersama tentaranya kalang-kabut dan akhirnya kalah karena tak mampu melakukan perlawanan. Ki Patih dan bala tentaranya melarikan diri ke keraton dan melaporkan kejadian itu kepada Raja katanya : Seribu murka paduka akan hamba terima. Hamba dan kawan-kawan sudah tidak mampu lagi melawan Pak Lesap karena dia memiliki senjata Kodhi’ (semacam arit berpamor keris) yang bisa mengamuk sendiri. Maka dari itu lasykar Sumenep banyak yang menemui ajalnya. Disamping itu ia juga memiliki kedigjayaan dalam ucapannya (mandi pangoca’. Mad) sehingga apapun yang ia inginkan bisa terkabul. Seperti kalau ia menyebut petir maka datanglah petir, begitu juga kalau ia mengatakan gelap maka datanglah hujan dan angin.

Pangeran Sumenep : Kalau kamu sudah menyerah maka alangkah lebih baik kalau kita lari saja. Karena kalau terus kita lawan maka tak urung kita semua akan mati. Setelah itu mereka sepakat untuk meloloskan diri dan seluruh isi istana dibawa termasuk para Menterinya. Setibanya di pelabuhan Marengan mereka naik perahu. Sebagian dari mereka melaporkan peristiwa itu kepada tuan Residen di Surabaya, sedangkan sebagian lagi dikabarkan lari ke daerah Besuki. Oleh sebab ia lari karena kalah perang maka Pangeran itu lalu disebutnya sebagai Pangeran Lolos.

Dengan larinya Raja Sumenep maka Pak Lesap dan pengikutnya lalu memasuki keraton. Sesampainya di keraton Sumenep Pak Lesap menyelenggarakan keramaian dengan mengundang pesinden. Setelah setengah bulan lamanya ia di Sumenep Pak Lesap berembuk lagi dengan para Menterinya untuk mengadakan penyerangan ke Pamekasan.

Diceriterakan, bahwa Ki Patih Pamekasan sudah mendengar bahwa Sumenep telah ditaklukkan oleh Pak Lesap dan Rajanya meloloskan diri. Karena itu maka dia mengadakan perembukan dengan para Menterinya, katanya : Bagaimana kalau begini keadaannya sedang paduka Tumenggung Adikara masih belum datang dari Semarang ?? Dari hasil rembukan tersebut akhirnya diperoleh kesepakatan supaya seluruh rakyat Pamekasan melakukan perlawanan.

Dengan kesepakatan itu Ki Patih lalu memerintahkan untuk mengumpulkan lasykar lengkap dengan perkakas perangnya. Sementara Pak Lesap dengan tentaranya sudah berangkat ke Pamekasan dan berhenti di desa Kaduwara (tapal batas Sumenep-Pamekasan).

Dengan kesiapan yang ada lasykar Pamekasan berangkat menyongsong musuh kedesa dimaksud. Dalam pertempuran itu tentara Pak Lesap sempat kalang-kabut dan lasykar Pamekasan terus maju. Melihat kejadian itu Pak Lesap turun tangan dan mengamuk sendiri. Pada saat bersamaan bedil yang dipegang Ki Patih macet.

Karena itu lasykar Pamekasan banyak yang lari untuk menyelamatkan diri. Tak lama kemudian lasykar Pamekasan menyerah dan banyak rakyat Pamekasan yang lalu patuh pada Pak Lesap.
Keesokan harinya Pak Lesap menuju kota Pamekasan dan langsung memasuki keraton. Di keraton Pamekasan Pak lesap tidak menemukan apa-apa karena harta keraton sebelumnya sudah diselamatkan oleh lasykar Pamekasan.

Dibagian lain diceriterakan bahwa Raden Tumenggung Adikara sudah pulang dari Semarang. Sesampainya di Bangkalan ia sempat mampir pada mertuanya yaitu Pangeran Cakraningrat V. Pangeran Cakraningrat V berkata pada Tumenggung Adikara : Aku mendengar kabar bahwa negara Sumenep sekarang sudah dapat ditaklukkan oleh Pak Lesap sedangkan Rajanya telah meloloskan diri. Tumenggung Adikara : Kalau demikian sekarang nanda mohon pamit karena sudah pasti setelah menaklukkan Sumenep Pak Lesap akan menuju ke Pamekasan. Pangeran Cakraningrat V : Aku mengizinkanmu untuk segera kembali. Berhati-hatilah dan selalu ingat kepada Allah.

Setelah itu Tumenggung Adikara lalu berangkat diiringi tentara sebanyak delapan puluh orang diantaranya empatpuluh orang Menteri dari Bangkalan yang kesemuanya mengendarai kuda. Sesampainya di Sampang Tumenggung Adikara sudah mendengar tentang kesediaan rakyat Sampang untuk menyerah kepada Pak Lesap. Salah seorang rakyat Sampang menuturkan kepada Tumenggung Adikara, tuturnya : Aduh Gusti, kalau paduka suka maka alangkah baiknya kalau paduka segera kembali saja ke Bangkalan. Sebab kalau paduka tetap meneruskan perjalanan tentu akan mendapat celaka. Pamekasan sekarang sudah ditaklukkan oleh Pak Lesap.

Mendengar kabar itu Tumenggung Adikara semakin mempercepat lari kudanya untuk segera sampai di Pamekasan. Setelah memasuki kota Pamekasan mereka berpapasan dengan bala tentara Pak Lesap yang saat itu sedang bersiap menuju Sampang. Setelah Pak Lesap melihat Tumenggung Adikara dan tentaranya, lalu mengepungnya. Maka terjadilah peperangan.

Setelah jatuh beberapa korban dari kedua belah pihak maka Pak Lesap maju lagi ke arena pertempuran. Pak Lesap agak gentar menghadapi Tumenggung Adikara karena pada saat itu ia menggunakan tombaknya yang dikenal dengan tombak si Apoy (si Api). Keduanya lalu saling menyabung nyawa dan saling adu kepandaian dalam berperang. Pak Lesap dengan tentaranya sempat mundur ke desa Bulangan. Disana Pak Lesap lalu mengeluarkan senjata Kodhi’-nya yang bisa mengamuk sendiri sampai tentara Tumenggung Adikara habis samasekali.

Namun Tumenggung Adikara tetap tegar berdiri bahkan dengan tekad bajanya ia terus menyerang membabi buta. Dengan tombak si Apoy yang dipegangnya berguguranlah tentara Pak Lesap. Karena kemudian ia sudah tinggal seorang diri maka tak lama kemudian Tumenggung Adikara tewas dalam pertempuran itu. Maka dari itu orang-orang Pamekasan lazim menyebutnya sebagai Tumenggung Seda Bulangan (Tumenggung yang meninggal di Bulangan). Makamnya terletak di Kota Pamekasan didalam sebuah cungkup genteng di Asta-Daja (Asta Utara) dan berkumpul dengan Pangeran Rangga.

Sesudah tiga hari lamanya, Pangeran Cakraningrat V baru mendengar bahwa menantunya telah gugur di Bulangan. Ia sangat sedih hatinya. Waktu itu lalu datang seorang Menteri yang menjaga perbatasan Tanjung dan menghadap kepadanya. Pangeran Cakraningrat V : Apa maksudmu menghadap kemari ?? Menteri Tanjung : Hamba memberi kabar bahwa musuh paduka yakni Pak Lesap sekarang sudah sampai diperbatasan Sampang untuk menyerang Baliga. Orang-orang Sampang dan Baliga sudah bersiap-siap untuk menyerah.


Setelah itu Raden Tirtanagara lalu menjabat sebagai Raja sementara di Sumenep. Selanjutnya ia segera menulis surat untuk memberi kabar kepad...

Setelah itu Raden Tirtanagara lalu menjabat sebagai Raja sementara di Sumenep. Selanjutnya ia segera menulis surat untuk memberi kabar kepada Pangeran Cakranagara III bahwa negara Sumenep sekarang telah berhasil dia kuasai dan Raden Buka sudah tewas. Disebutkan pula bahwa pada saat itu dialah yang mewakili memegang tampuk pemerintahan di Sumenep. Pada saat itu situasi negara Sumenep kembali tenteram seperti sediakala.

 

Suatu hari diceriterakan bahwa Kanjeng Tuan Jenderal Baron Oyop datang ke Sumenep disambut oleh Raden Tirtanagara dengan upacara kerajaan. Jenderal Baron : Mengapa kamu yang menyambut ? Raden Tirtanagara : Benar, karena kami-lah yang sementara menggatikan paduka Raja. Jenderal Baron : Kemana gerangan beliau ? Raden Tirtanagara lalu menceriterakan awal peristiwa hingga akhirnya sebagaimana kejadian diatas.

 

Kanjeng Tuan Jenderal selanjutnya memerintahkan Raden Tirtanagara untuk melakukan serangan balasan ke Bangkalan dengan disertai serdadu Belanda sebanyak 250 orang selain ditambah tentara Sumenep sendiri sebanyak 1000 orang. Dalam penyerangan ke Bangkalan ini ikut pula seorang mayor memimpin serdadu Balanda dan dalam peperangan itu negara Bangkalan sempat dikalahkan serta pemerintahannya jatuh ketangan Kompeni Balanda.

 

Diceriterakan sekarang bahwa Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos) telah mendapat ampunan Kompeni dan diangkat kembali menjadi penguasa di Sumenep. Rakyat Sumenep merasa bersyukur karena bekas Rajanya sudah kembali atas jasa dan bantuan Raden Tirtanagara. Sesampainya di Sumenep Pangeran Cakranagara mengadakan acara selamatan yang dihadiri oleh seluruh rakyat besar maupun kecil. Setelah berkumpul Pangeran Cakranagara berkata : Aku sekarang telah menjabat lagi sebagai Raja di Sumenep berkat pertolongan Raden Tirtanagara serta kesetiaan seluruh rakyat.

 

Ini adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagiku dan semoga kalian semua tetap setia kepadaku sebagaimana kesetiaan yang ditunjukkan Raden Tirtanagara. Sejak Pangeran Cakranagara berkuasa kembali negara Sumenep semakin tenteram dan makmur serta rakyat patuh kepada perintah Rajanya.

 

Dilain tempat yaitu di negara Bangkalan diceriterakan bahwa ada seorang abdi tukang kuda (perawat kuda tunggangan Raja) bernama Pak Lesap. Pak Lesap ini tak ada lain cita-citanya selain ingin menjadi Raja yang bisa membawahi kerajaan-kerajaan lain. Dari sebab cita-citanya itu maka ia tak henti-hentinya memohon kepada Yang Kuasa dengan jalan melakukan puasa berhari-hari, mendatangi tempat-tempat sepi serta kuburan-kuburan keramat bahkan sering menyepi di goa-goa. Tak lama kemudian ia melarikan diri dari keraton dan bertapa di Gunung (bukit) Geger.

 

Kiyai Jiwantaka segera berangkat naik kuda tunggangan Raja ke Gunung Geger. Sesampainya disana ia bertemu dengan seorang laki-laki berpakaian putih mulus sedang duduk bertapa dibawah sebuah pohon yang rindang. Setelah diperhatikan lama-lama Kiyai Jiwantaka ingat bahwa laki-laki yang dijumpainya itu adalah bekas bawahannya yaitu pengasuh kuda Rajanya yang bernama Pak Lesap.

 

Namun Pak Lesap sudah lupa kepada Kiyai Jiwantaka maka itu ia bertanya : Siapakah tuan. Dan apa maksud tuan datang kemari. Kiyai Jiwantaka : Aku adalah bekas atasanmu di keraton Bangkalan bernama Kiyai Jiwantaka. Pak Lesap : Janganlah tuan marah karena kami sudah lupa setelah lama kita berpisah. Kiyai Jiwantaka : Kapan engkau menetap disini ? Pak Lesap : Sudah lama. Mari silakan Kiyai duduk disini. Kiyai Jiwantaka lalu duduk berhadap-hadapan dengan Pak Lesap seperti layaknya orang sedang bertamu.

 

Pak Lesap : Sebenarnya saya sangat bangga didatangi tuan dan rasa syukur kami kepada Yang Kuasa karena tuan telah sudi menjenguk kami. Kiyai Jiwantaka : Sebetulnya aku kesini ada kepentingan padamu. Dan kalau kamu suka memenuhi permintaanku maka aku seperti mendapat segunung emas. Pak Lesap : Apakah gerangan permintaan itu ? Kiyai Jiwantaka : Aku diutus paduka Raja untuk membawamu ke keraton. Tentang kepentingannya apa aku belum tahu. Aku hanya diutus dan kedudukanku hanya sebagai utusan. Pak Lesap : Seandainya bukan Kiyai yang diutus tentu kami tidak mau menghadap. Mari kita berangkat.

 

Selanjutnya berangkatlah Pak Lesap dengan senjata Songre’ (semacam arit kecil) yang diselipkan dipunggungnya menuju keraton dan langsung menghadap Raja diiringi Kiyai Jiwantaka. Raja Bangkalan : Apa kerjamu di Gunung Geger ?! Pak Lesap : Hamba melakukan perdukunan (menjadi dukun) disamping bertani menanam jagung, lombok, terung, ubi, talas dan semacamnya. Raja Bangkalan : Apa engkau dapat menyembuhkan sesuatu penyakit ? Pak Lesap : Ya, bisa sedikit-sedikit dan terkadang banyak juga yang berhasil sembuh.

 

Raja Bangkalan : Mulai sekarang kamu jangan kembali lagi ke Gunung Geger dan tinggallah saja dikota. Aku sediakan bagimu rumah yang bagus serta akan kubuatkan langgar sebagai tempat untukmu mengajar ngaji. Tentang makan dan keperluan sehari-hari akan kujamin semuanya dan aku juga akan menganugerahkan kepadamu sebanyak duaratus orang perdikan. Tinggallah didesa Pajagan dan desa itu menjadi hakmu. Pak Lesap : Atas semua anugerah yang telah paduka berikan hamba menghaturkan banyak terimakasih, semoga paduka tetap kasih pada hamba.

 

Kemudian Raja Bangkalan memanggil Mas Aria Mancanagara dan Kiyai Wanayuda. Kepada mereka diperintahkan untuk membuat sebuah rumah dan langgar didesa Pajagan untuk Pak Lesap. Setelah rumah dan langgar selesai Pak Lesap diantar untuk mendiaminya. Sejak ada dirumah itu Pak Lesap menjadi terkenal. Banyak orang datang untuk mengobati penyakitnya bahkan ada yang minta jimat sebagai penglaris dagangannya. Kebanyakan orang-orang yang datang dari luar negara Bangkalan dan mereka berhasil mencapai maksudnya.

 

Tetapi dengan kegiatan itu Pak Lesap belum puas hatinya. Ia terus menjalankan tapanya. Kalau siang ia berpuasa dan malam hari ia tidak tidur. Maksud dan cita-citanya tiada lain kecuali ingin menjadi seorang Raja Agung yang dapat membawahi negara-negara seperti misalnya negara Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Gresik, Lamongan, Sedayu, Bangil, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Probolinggo, Panarukan dan juga Bali.

Pada suatu malam Pak Lesap berpikir begini : Kalau terus aku jadi dukun disini sudah tentu tak akan tercapai cita-citaku. Dari sebab itu maka pada suatu tengah malam Pak Lesap melarikan diri dan tak ada seorangpun yang tahu.

 

Ia menuju kearah timur dan kalau pagi tiba ia bersembunyi digoa-goa yang terlindung seperti digoa Gunung Kampek karena takut diketahui orang termasuk para punggawa karaton Bangkalan yang sudah tentu ditugaskan untuk mencarinya. Kalau hari mulai gelap ia melanjutkan perjalanannya lagi. Setiap hari ia lakukan seperti itu sampai akhirnya Pak Lesap tiba di Goa Pajudan dan melangsungkan tapanya disana.

 

Setelah Raja Bangkalan mengetahui kalau Pak Lesap lari, maka ia memerintahkan para punggawanya untuk mencari. Dicarinya Pak Lesap kebukit-bukit, kehutan dan goa-goa tetapi usahanya tak berhasil.

 

Di Goa Pajudan Pak Lesap bertapa dengan cara menghadapkan dirinya kesegala arah. Ia menghadap kearah barat masing-masing selama empatpuluh hari, ketimur, keselatan, keutara, keatas, kebawah, bahkan menggantung diatap goa dengan kedudukan kepalanya ada dibawah. Tak lama kemudian apa yang diinginkan Pak Lesap terkabulkan. Pak Lesap diberi kemampuan ilmu tembus pandang. Ia dapat mengetahui sesuatu hal yang belum terjadi serta diijinkan menjadi Raja untuk membawahi negara-negara sebagaimana yang diinginkannya tadi.

 

Dari sebab itu dia mencoba kedigjayaannya seperti : Kalau anjing ia sebut kambing maka anjing lalu menjadi kambing. Kuda disebut sapi maka kuda itu lalu menjadi sapi. Ayam dikatakan burung lalu ayam jadi burung, batu dikatakan emas lalu batu jadi emas bahkan burung yang terbang-pun dapat dipanggilnya turun. Karena itu Pak Lesap lalu banyak pengikutnya dan mereka terdiri dari orang-orang disekitar tempat tapanya. Pak Lesap kemudian mengangkat Menteri sebanyak empatpuluh orang diantaranya diberi gelar Gunturgeni, Gunturgunung, Sengnga Amok, Sengnga Rangsang dan sebagainya.

Setelah Pangeran Rama meninggal dunia lalu diganti oleh puteranya yaitu Pangeran Jimat dengan gelar Pangeran Cakranagara II. Pangeran Rama d...


Setelah Pangeran Rama meninggal dunia lalu diganti oleh puteranya yaitu Pangeran Jimat dengan gelar Pangeran Cakranagara II. Pangeran Rama dikebumikan di Asta Raja berkumpul dengan Tumenggung Pulangjiwa disebelah barat makam Sultan Sumenep hanya berjarak tembok pagar.

Makam tersebut beratap genteng dan masih baik keadaannya. Pagar tembok sekelilingnya memakai pintu pekarangan berundak dua. Pintu pekarang sebelah dalam menghadap keselatan dan diluarnya terdapat pendapa. Orang Sumenep lazim menyebut Asta Pangeran Jimat. Asta tersebut masih baik karena terawat. Di nisan Pangeran Rama tidak ada tulisan yang dapat menyebutkan kapan meninggalnya.

Yang satu atap dikuburan tersebut dari arah barat deret paling utara : 

1. Paling barat, makam seorang perempuan (tidak diketahui siapa namanya).
2. Pangeran Anggadipa.
3. Pangeran Sepuh (Raja Wirasari) suami Raden Ayu Kacang.
4. Pangeran Rama.
5. Raden Ayu Tumenggung Pulangjiwa (Raden Ayu Arta’).
6. Tumenggung Pulangjiwa. Banyak lagi diurutan nisan kakinya tetapi bukan Raja, hanya bala sentana atau keturunan para Raja diatas.

Pada waktu Pangeran Jimat (Pangeran Cakranagara II) menjabat Raja di Sumenep, negara Pamekasan, Besuki, Blambangan (Banyuwangi) dibawah pemerintahan Sumenep. Pegunungan didaerah Besuki yang membabat adalah Pangeran Jimat yang kemudian mengirim beberapa orang dari Sumenep untuk menempatinya (semacam Transmigrasi). Kamudian Pangeran Jimat juga pernah berjasa kepada pemerintah Belanda sewaktu peperangan dengan Pangeran Sidhing Kapal di Bangkalan. Jasa Pangeran Jimat diterima oleh Pemerintahan Belanda karena ia dapat memenangkan peperangan tersebut.

Pangeran Jimat meninggal pada tanggal 25 bulan Syaffar 1144 tahun Arab, 1656 tahun Jawa, 1725 tahun Masehi. Pangeran Jimat lalu digantikan oleh keponakannya yaitu Raden Apsara yang bergelar Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos). Pangeran Jimat dikebumikan disebuah cungkup genteng sebelah selatan Pangeran Rama, dikumpulkan dengan saudaranya. Disebelah baratnya adalah makam Ratu Ari (Raden Ayu Aria Adipati Saccaadiningrat), meninggal pada tahun 1147 tahun Arab, 1659 tahun Jawa, atau 1728 tahun Masehi. Makam Pangeran Jimat terletak ditengah, sebelah timurnya adalah makam Ratu Wirawangsa (ibu Pangeran Lolos) yang meninggal 1139 tahun Arab, 1651 tahun Jawa atau 1720 tahun Masehi.

Cungkup tersebut berbentuk seperti rumah dan didepannya ada bangunan seperti pendapa. Kayu penyangga cungkupnya terbuat dari kayu disusun motif tumpang sari berukir dan alas gentengnya dicat warna emas. Didalam bangunan itu terdapat pula semacam gedek dari kayu dikanan-kiri pintu masuknya diukir bagus. Dibagian utara sebelah dalam cungkup juga terdapat gedek kayu berukir seperti diterangkan diatas dinamai alon-alon, ada juga disebelah dalam pintu masuk kira-kira tingginya setengah meter. Menurut kabar cungkup tersebut adalah pendapa kerajaan Pangeran Jimat tetapi kata sebagian orang Sumenep yang percaya menyebutkan bahwa itu adalah pendapa keraton Tumenggung Kanduruwan. Pekarangan cungkup itu kelihatannya angker meskipun pada keadaan siang hari.

Keraton dan Mesjid yang dibangun Tumenggung Kanduruwan di Karangduak sekarang sudah tidak berbekas karena sudah dijadikan hunian oleh penduduk sekitarnya. Kampung itu bernama kampung Karangsabu dan Kampung Karangdalem desa Karangduak.

Tak seberapa lama Pangeran Cakranagara III yang yang menjabat sebagai Raja di Sumenep kemudian mendapat suatu kesulitan menghadapi perang dengan seorang prajurit dari Bangkalan yang dibantu dengan punggawanya bernama Raden Buka. Nama prajurit dari Bangkalan itu adalah Pangeran Jurit. Setelah Pangeran Cakranagara mendengar kabar bahwa Pangeran Jurit menuju Sumenep untuk menantang perang ia memerintahkan Ajek Kabayan untuk mengumpulkan bala tentara dan membunyikan bendi perang. Setelah terkumpul maka berangkatlah mereka dibawah pimpinan seorang Menteri bernama Raden Tirtanagara.

Sesampainya di Desa Geddungan mereka bertemu dengan Pangeran Jurit dan lasykarnya. Raden Tirtanagara segera memberi isyarat bagi tentaranya untuk segera menyerang lasykar Bangkalan yang jumlahnya cukup banyak itu. Dalam peperangan itu banyak tentara Sumenep yang terbunuh dan luka-luka. Sebagian lagi memberi laporan kepada Pangeran Cakranagara, katanya : Hamba sudah tidak kuat lagi menghadapi lasykar dari Bangkalan yang demikian banyaknya. Sudah banyak prajurit Sumenep yang mati dan luka-luka.

Mendengar laporan itu sang Raja sangat murka lalu memerintahkan Patihnya katanya : Hai Patih, sekarang segera kamu hadapi Pangeran Jurit dan bawalah prajurit sebanyak empat puluh orang saja. Pilih diantara mereka yang perkasa. Ki Patih segera berangkat bersama Menteri sebanyak empat puluh dan lasykar empat ratus orang. Lama peperangan itu konon berlangsung delapan hari dan korban prajurit berjatuhan di kedua belah pihak. Melihat banyaknya korban maka keluarlah Pangeran Jurit ketengah pertempuran melawan Ki Patih sedangkan Raden Buka berhadapan dengan Raden Tirtanagara.

Tetapi kemudian Ki Patih bersama lasykarnya mundur dari pertempuran dan melapor halnya perang kepada Raja. Sedangkan Raden Tirtanagara tetap bertahan bersama lasykar sisanya. Kepada Pangeran Ki Patih berkata : Kami semua sudah tidak mampu melawan Pangeran Jurit karena selain banyak jumlah prajurit mereka juga sangat pandai dalam berperang. Raja Sumenep : Ada dimana sekarang Raden Tirtanagara ?? Ki Patih : Sekarang dia masih melakukan perlawanan. Tetapi menurut hamba tak mungkin perang akan dimenangkan karena lasykar Sumenep sudah banyak yang tewas dan luka-luka.

Raja Sumenep : Jadi bagaimana menurutmu, Patih ?! Ki Patih : Menurut hamba alangkah baiknya kalau paduka sendiri yang menghadapinya. Hamba semua bersedia mati kalau mendampingi paduka dalam pertempuran ini. Raja Sumenep : Kalau kalian sudah tak sanggup maka langkah yang lebih baik mari kita lari saja.

Sedangkan kepada Raden Tirtanagara perintahkan saja seseorang untuk menyusulnya. Katakan padanya bahwa aku bersama kamu telah lolos naik perahu. Setelah itu berangkatlah mereka menuju arah timur diiringi oleh orang-orang keraton. Sesampainya di Marengan mereka naik perahu menuju Surabaya. Maka dari itu a dia selanjutny disebut sebagai Pangeran Lolos.

Mendengar Raja Sumenep melarikan diri Raden Tirtanagara merasa sangat kesal karena dirinya masih merasa mampu menghadapi tentara musuh. Dengan raut muka memerah bara ia berkata kepada bala tentaranya katanya : Hai bala tentara Sumenep, aku kabarkan pada kalian bahwa paduka Raja dan Ki Patih sekarang telah meloloskan diri. Maka itu hentikan perang ini sekarang juga. Mari kita pulang. Tetapi hendaknya kalian jangan berkecil hati atas kejadian ini. Dilain hari aku yang akan memimpin perang sendiri dan akan kurebut kembali negara Sumenep. Kuharap kalian mengerti serta bersungguh hati supaya rakyat Sumenep tidak sampai jatuh dibawah pemerintahan Raja dari negara lain. Lasykar Sumenep setuju dan mereka pulang ke Sumenep.

Raden Buka selanjutnya memasuki kota dan memangku jabatan Raja menggantikan Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos). Sejak dirinya menjabat Raja di Sumenep keadaan negara lalu tidak aman. Pencurian dan perampokan merajalela disamping pembunuhan dan kekurangan pangan. Oleh karena itu maka banyak rakyat kecil yang meninggalkan kota bahkan banyak yang lari ke lain negara. Keadaan menjadi kacau apalagi Raden Buka banyak merobah aturan dan kebiasaan yang telah lama dijalankan oleh tata pemerintahan terdahulu.

Pada suatu hari Raden Tirtanagara mengumpulkan seluruh tentaranya dan mengambil sumpah mereka. Sesudah itu dikirimkan sepucuk surat tantangan kepada Raden Buka. Setelah Raden Buka menerima surat Raden Tirtanagara ia sangat gusar lalu berpesan pada utusan pembawa surat, katanya : Katakan kepada Raden Tirtanagara “perbanyak senjata perangnya“. Bagiku dia hanya seperti jari kelingking yang remeh. Sekarang pulang dan katakan pada majikanmu. Utusan segera pulang dan menyampaikan apa pesan Raden Buka kepada Raden Tirtanagara.

Setelah mendengar kabar itu Raden Tirtanagara kembali mengumpulkan tentara lengkap dengan perkakas perangnya. Dilain pihak Raden Buka juga bersiap tetapi tidak memberitahu tentaranya dengan siapa mereka akan bertempur. Diiringi kelengkapan keraton berangkatlah Raden Buka ke medan pertempuran dengan menunggang kuda. Setelah mengetahui siapa musuh yang akan dihadapi maka terkejutlah tentara Sumenep yang ada dibawah pimpinan Raden Buka. Mereka saling bertanya karena lawan mereka juga orang Sumenep dibawah pimpinan Raden Tirtanagara.

Setelah Raden Tirtanagara melihat Raden Buka, secepat kilat ia maju. Setelah dekat dipukullah Raden Buka. Namun Raden Buka masih sempat berkata : Apakah engkau masih merasa kuat untuk melawanku ?? Kalau tak mau menyerah maka kamu akan segera temui ajal sebentar lagi. Raden Tirtanagara tak menjawab namun segera menyarangkan pukulan tombaknya. Raden Buka sempat terjungkal dan jatuh dari kudanya tapi tak sedikitpun tergores luka dibadannya. Sementara tentara dikedua belah pihak masih diam dan terheran-heran. Setelah beberapa waktu berselang Raden Buka tewas akibat terkena senjata Raden Tirtanagara dilambungnya.


Tumenggung Yudanagara selanjutnya kawin dengan Nyai Kane puteri Kiyai Jamantara dari Sampang yang juga merupakan kemenakan Pangeran Tarunaja...


Tumenggung Yudanagara selanjutnya kawin dengan Nyai Kane puteri Kiyai Jamantara dari Sampang yang juga merupakan kemenakan Pangeran Tarunajaya. Tak lama kemudian dari perkawinannya mereka dikaruniai empat orang anak sama-sama perempuan masing-masing bernama 

Raden Ayu Otok, Raden Ayu Kacang, Raden Ayu Arta’ dan Raden Ayu Batur.
Raden Ayu Otok selanjutnya kawin dengan Pangeran Gatutkaca dari Pamekasan yaitu cucu dari Pangeran Purbaya di Pamekasan atau buyut dari Pangeran Rangga di Pamekasan. Sedangkan Pangeran Rangga ini adalah putera dari Kiyai Adipati Parmana di Sampang yaitu keturunan Lembupetteng dan Aria Damar Raja Palembang sama-sama putera Brawijaya Raja Majapahit. Pangeran Gatutkaca kemudian dikaruniai anak empat orang masing-masing bernama :

1. Tumenggung Adikara, menjadi Bupati Pamekasan dan meninggal di Ampel.
2. Raden Tumenggung Jayanagara, menjadi Bupati di Pamekasan.
3. Pangeran Rama, menjadi Bupati di Sumenep.
4. Raden Ayu Anggajaya.

Raden Ayu Kacang menjadi isteri Tumenggung Wirasari di Sumenep dan mempunyai anak :

1. Raden Ayu Tumenggung Jayanagara di Pamekasan.
2. Raden Wiramanggala di Sumenep.
3. Raden Ayu Purwasari di Sumenep.

Raden Ayu Arta’ menjadi isteri Raden Tumenggung Pulangjiwa di Sumenep dan mempunyai anak :

1. Raden Ayu Gumbrek, yaitu isteri Pangeran Rama.
2. Raden Ayu Suri, menjadi isteri Raden Pulangjiwa (Patih dari Pangeran Rama).
3. Raden Ayu Kasi, menjadi isteri Raden Jayakusuma (kemenakan Tumenggung Pulangjiwa).

Raden Ayu Batur menjadi isteri Tumenggung Baskara di Pamekasan tetapi mereka tidak memiliki keturunan.

Diceriterakan bahwa Kiyai Carebun atau guru Tumenggung Yudanagara meninggal di Sumenep dan dimakamkan didesa Kepanjin kampung Bujanggan. Makam ini dianggap keramat dan tetap sampai sekarang. Setelah Tumenggung Yudanagara berusia lanjut negara Sumenep diserahkan kepada dua orang menantunya yaitu Tumenggung Wirasekar yang beberapa saat kemudian bergelar Raja Wirasari, sedangkan yang seorang lagi yaitu Tumenggung Pulangjiwa. Raja Wirasari ini oleh orang Sumenep lazim disebut Pengeran Sepuh.

Beberapa waktu kemudian Tumenggung Yudanagara meninggal dunia dan dikebumikan didesa Kebonagung. Makamnya tak ada tulisan yang dapat menerangkan kapan ia meninggal. Disebelah utara, barat dan selatan makam itu ada sungainya dan sekarang disebelah timurnya-pun ada. Jadi sekarang Asta tersebut dikelilingi sungai karena pada tahun 1912 Masehi atau 1842 tahun Jawa sungai di Kebonagung dirobah dan dibangun sebagai tambak irigasi. Airnya dialirkan kearah timur.

Sampai didesa Pandian dibangun tambak irigasi lagi yang dinamai Tambak Karaton. Air yang dialirkan kearah selatan dan ketimur daya (tenggara) dari tambak irigasi ini dipakai mengairi sawah-sawah, sedangkan yang dialirkan ketimur melewati Keraton (Kabupaten) dan ke Tangsi (Asrama Tentara) alirannya melewati seputar alon-alon kota.

Setelah Tumenggung Pulangjiwa dan Pangeran Sepuh meninggal dunia, pimpinan negara Sumenep digantikan oleh menantu Tumenggung Pulangjiwa bernama Pangeran Rama yang akhirnya bergelar Pangeran Cakranagara. Jenazah Pangeran Sepuh dan Tumenggung Pulangjiwa dikuburkan didesa Kebonagung juga, yang letaknya disebelah barat laut makam Yudanagara berkumpul dengan makam Pangeran Anggadipa. Kawasan itu selanjutnya dibuat sebagai tempat pemakaman Raja-Raja setelahnya.

Asta tersebut selanjutnya lazim disebut Asta Raja (makam para pembesar). Di makam Tumenggung Pulangjiwa maupun Pangeran Sepuh tak ada tulisan yang menerangkan kapan mereka meninggal.

Diceriterakan bahwa putera Raden Ayu Oto’ (isteri Pangeran Gatutkaca) adalah :

1. Raden Tumenggung Adikara, beristeri puteri Pangeran Cakraningrat II di Bangkalan dan memiliki putera Tumenggung Adikara (Tumenggung Seda Bulangan) atau menatu Pangeran Cakraningrat V Bangkalan.

2. Raden Tumenggung Jayanagara berkedudukan di Pamekasan beristeri puteriRaden Ayu Kacang yang sulung dan mempunyai putera : 

   a. Raden Jayanagara, menjabat sebagai Jaksa pada saat pemerintahan Pangeran Jimat.
   b. Raden Ayu  Adikusuma, menjabat Menteri Pararanda (para janda) di Sumenep.
   c. Raja Ari (Ratu Ari).

3. Pangeran Rama (Pangeran Cakranagara) mempunyai empat orang putera : 

   a. Raden Ahmad (Pangeran Jimat).
   b. Raden Aria Adipati (Ratu Ari).
   c. Raja Wiranagara.
   d. Ratu Tirtanagara, bekedudukan di Sumenep.

4. Raden Ayu Anggajaya tidak berputera.   Putera-putera Raden Ayu Kacang :

   1. Raden Ayu Tumenggung Jayanagara. dan
   2. Raden Wiramanggala yang berputera : 

      a. Raden Wirasari.
      b. Raden Wiramanggala.
      c. Raden Sumasari.
      d. Raden Kertakusuma.
      e. Raden Wangsarajja.
      f. Raden Patramanggala.
      g. Raden Alsa (ayah Patih Raden Prawiranagara). h. Raden Anggawijaya.

   3. Raden Ayu Purwasari berputera :

     a. Perempuan, menjadi selir Raden Tumenggung Adikara (Tumenggung Seda Bulangan).
     b. Raden Purwanagara (patih di Sumenep).

Putera-putera Raden Ayu Arta’ (Raden Tumenggung Pulangjiwa) :

  1. Isteri Pangeran Rama.
  2. Isteri Patih Pulangjiwa (tidak memiliki putera).
  3. Raden Ayu Jayakusuma (Raden Ayu Kasi) berputera : 

     a. Raden Surakusuma.
     b. Raden Zita, bergelar Pulangjiwa (Patih Pangeran Jimat).
     c. Raden Atma, bergelar Pulangjiwa II menjadi pengganti Raden Zita setelah ia meninggal.
     d. Raden Ayu Wangsakusuma, pegawai pesisir di Sumenep.

  Putera-putera Pangeran Rama (Pangeran Cakranagara) yaitu :

 1. Pangeran Jimat (Pangeran Cakranagara II), tidak berputera.
 2. Ratu Ari (Raden Ayu Aria Adipati) tidak berputera.
 3. Raja Wiranagara, memiliki putera : 

     a. Tumenggung Askara, berkedudukan di Pamekasan.
     b. Pangeran Cakranagara III (Pangeran Lolos) berkedudukan di Sumenep.

4. Ratu Tirtanagara, tidak berputera berkedudukan di Sumenep.

Keesokan harinya konon datang lagi orang-orang Sampang yang tak terhitung banyaknya dengan kelengkapan perang lengkap sebagai bantuan untuk ...


Keesokan harinya konon datang lagi orang-orang Sampang yang tak terhitung banyaknya dengan kelengkapan perang lengkap sebagai bantuan untuk melawan orang-orang Sumenep. Pangeran Lor II dan puteranya masih gigih memberi perlawanan. Tetapi karena jumlah tentaranya tak sebanding maka meski dirinya berurat kawat, bertulang besi dan berkulit tembaga sekalipun tentu tak seberapa kekuatannya. Akhirnya kedua pemimpin negara Sumenep itupun tewas.

Kedua orang tersebut kemudian sama-sama dikuburkan di Sampang. Pangeran Lor II dikubur di Asta Pangeranan kota Sampang sedangkan Pangeran Cakranegara dikuburkan didesa Palakaran sebelah barat Kota Sampang. Oleh orang-orang Sampang kedua kuburan tersebut lazim disebut sebagai Asta (makam) Pengeran Sumenep. Sedangkan Raden Bugan oleh sebagian para pengiringnya berhasil diloloskan ke Carebun dan terus dihadapkan ke Sultan Demak. Setelah Sultan Demak mendengar laporan dari orang-orang Sumenep yang berhasil lolos tadi sangat sedih hatinya. Singkat ceritera kemudian Raden Bugan disuruh mondok dan belajar mengaji ke Kiyai Carebun dan Kiyai itu konon paling terkenal kealiman maupun kekeramatannya.

Yang menggantikan sebagai pemimpin negara di Sumenep adalah orang dari Jepara bernama Mas Anggadipa berpangkat Tumenggung. Tak lama kemudian Tumenggung Anggadipa lalu diangkat sebagai Pangeran Anggadipa. Selama di Sumenep Pangeran ini sempat mendirikan sebuah Mesjid yang sekarang dinamai Mesjid Lama (Mesjid Laju) yang letaknya berada disebelah utara Kantor Kabupaten sekarang. Menurut tulisan yang ada dipintu mesjid pembangunan Mesjid itu didirikan pada 1370 tahun Jawa, atau 1639 tahun Masehi.

Tetapi akibat fitnah dari Raja Sampang, Pangeran Anggadipa dipecat dari jabatannya oleh Sultan Demak lalu diganti orang dari Sampang bernama Raden Aria Jayengpati berpangkat Tumenggung. Dengan kejadian itu Pangeran Anggadipa lalu tidak pulang lagi ke Jepara dan menetap di Sumenep karena disini banyak anak-cucunya. Dia meninggal di Sumenep dan dikubur disebuah bukit pekuburan didesa Kebonagung.

Saat Raden Aria Jayengpati menjabat Raja di Sumenep, Raden Bugan sudah dewasa. Pada saat itu guru ngajinya (Kiyai Carebun) berkata padanya : Mari sekarang kamu pulang ke Sumenep dan aku akan ikut serta untuk mendampingimu. Kamu adalah keturunan Raja di Sumenep semoga negara Sumenep akan kembali padamu. Raden Bugan : Terimakasih atas saran yang telah diberikan pada kami tetapi hasrat hati rasanya sudah tak ada keinginan lagi untuk menjabat sebagai Raja karena masih belum ada jalan menuju kesana.

Kalau mungkin, kami akan mencontoh sikap guru saja dan terus belajar mengaji untuk menjadi orang yang berilmu. Kiyai Carebun : Ucapanmu itu benar, tapi lebih baik sekarang kamu pulang untuk mengabdikan diri pada Raja Sumenep. Dibelakang hari akan ada orang alim yang punya kuasa dan dia akan menolongmu.

Singkat ceritera Raden Bugan dan gurunya lalu pulang ke Sumenep. Sesampainya didaerah pesisir mereka menumpang sebuah perahu. Setelah sampai ditengah laut, konon perahu itu tak mendapat angin . Meski telah diupayakan untuk didayung tetapi perahu itu tetap tak mau jalan. Raden Bugan lalu mengambil tombaknya untuk dibuat dayung maka lajulah perahu itu. Tombak itu selanjutnya dinamai Serrang-Dayung (mempercepat jalan perahu).

Perahu itu selanjutnya sampai di Pulau Mandangil yang letaknya berada disebelah selatan Sampang. Disana Raden Bugan bertemu dengan seorang yang sedang nyepi bernama Raden Tarunajaya seorang putera dari Bangkalan keturunan Cakraningrat. Ibunya masih keturunan Arya Kudapanole dari Sumenep. Dia dilahirkan di Sampang dan sampai sekarang tempat kelahirannya itu dinamai Pababaran (tempat kelahiran).

Setelah keduanya bertemu dipulau Mandangil mereka kemudian saling bertegur-sapa dan keduanya sepakat untuk nyepi disana beberapa saat. Setelah keduanya mendapatkan apa yang diinginkan Raden Tarunajaya berkata kepada Raden Bugan katanya : Sekarang pulanglah tuan ke Sumenep dan mengabdilah kepada Raja disana. Pada suatu saat kami akan mengadakan penyerangan ke Sumenep. Tapi kami tidak akan mengadakan pengrusakan dan tidak akan memasuki kota. Kami ingin supaya tuan menjemput kami nanti didesa Duwara dan upayakan supaya saat tuan menjumpai kami tanpa diketahui orang. Setelah keduanya sepakat Raden Bugan bersama gurunya berangkat dan pulang ke Sumenep.

Sesampainya di Sumenep mereka langsung menghadap Raja dan mengajukan keinginannya untuk mengabdi. Permintaannya diterima oleh Raja dan selanjutnya ia dijadikan punggawa bawahan dengan pangkat Kabayan bergelar Wangsajaya. Karena Raden Bugan rajin dan jujur, tak lama kemudian ia diangkat jadi Menteri dan didudukkan sebagai Ajek Kabayan.

Dilain pihak diceriterakan bahwa Raden Tarunajaya sudah banyak menaklukkan negara-negara. Maka ia lalu diberi julukan Pengeran Tarunajaya berkedudukan di Sampang. Pada suatu hari Pangeran Tarunajaya berangkat ke Sumenep. Sesampainya didesa Bangkoneng yaitu batas Sumenep dan Pamekasan ia lalu berhenti. Keesokan harinya lalu membuat surat tantangan kepada Raden Aria Jayengpati Raja Sumenep dan disuruh antarkan kepada beberapa orang pengiringnya.

Setelah Raden Aria Jayengpati menerima surat tersebut dan surat tersebut selesai dibacanya maka ia mengatakan pada Ajek Kabayan dan para Menteri yang lain begini : Aku menerima surat dari Pangeran Tarunajaya untuk menantang perang dan sekarang mereka sedang berada diperbatasan negara yaitu didesa Bangkoneng. Siapa diantara kalian sekarang yang berani menghadapinya ??

Para Menteri : Lebih baik paduka Raja saja yang berangkat kesana biar kami akan mengikuti dibelakang. Kami dengar kabar bahwa Pangeran Tarunajaya sangat terkenal keprajuritannya serta kekebalannya sehingga banyak para Raja yang takluk kepadanya. Kalau kami yang menemuinya sama saja seperti ketimun menantang lalap.

Tetapi kalau paduka sendiri sudah tentu masih jaya-dijaya. Wangsajaya : Kalau menjadi suka paduka perkenankan kami saja untuk menemui Pangeran Tarunajaya. Kami rela mengemban tugas dari paduka Raja dan berikanlah kepada kami sebanyak tujuh ratus tentara. Raja Sumenep sangat gembira mendengar kesediaan Wangsajaya lalu diperintahkannya untuk mengumpulkan tentara sebanyak yang diminta serta membunyikan bendi perang. Sesudah tentara Sumenep berkumpul maka berangkatlah mereka kemedan pertempuran.

Sesampainya didesa Prenduan hari sudah senja jadi orang-orang Sumenep bermalam disana. Pada saat orang-orang tidur nyenyak di tengah malam Wangsajaya menemui Pangeran Tarunajaya. Dia membawa senjata berbentuk tombak yaitu si Serrang-Dayung. Setelah berjumpa lalu mereka duduk berdua. Orang-orang Sampang tercengang melihat Rajanya duduk bersama seorang bawahan.

Pada saat pagi hari tiba tentara Sumenep terkejut sesudah mengetahui bahwa pimpinannya yaitu Wangsajaya hilang. Setelah Raden Aria Jayengpati mendengar kabar itu dia sangat marah, sedih bercampur khawatir kalau Wangsajaya sampai tertangkap musuh dan dibunuhnya.

Keesokan hari berikutnya Pangeran Tarunajaya bersama bala tentaranya berangkat ke Sumenep. Sesampainya di desa Prenduan orang-orang Sumenep sudah tak ada. Jadi Pangeran Tarunajaya terus memasuki kota. Sesampainya dibatas kota orang-orang Sumenep pada berlarian mengungsi kedalam keraton karena takut pada tentara musuh yang sedang datang. Raden Aria Jayengpati kebingungan dan memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang seisi keraton. Setelah terkumpul lalu mereka melarikan diri kearah barat.

Maka itu Wangsajaya kemudian lalu dilantik oleh Pangeran Tarunajaya menggantikan Tumenggung Jayengpati dengan gelar Tumenggung Yudanagara. Pada masa itu juga diceriterakan bahwa rakyat Sumenep menentang pelantikan itu karena mereka masih belum mengetahui bahwa Tumenggung Yudanagara adalah keturunan Raja Sumenep juga.

Maka itu Tumenggung Yudanagara lalu menceriterakan asal-usul keturunannya kepada para kawulanya. Sesudah mengetahui rakyat Sumenep merasa bersyukur karena negaranya sekarang jatuh ketangan ahli warisnya sehingga mereka bertambah setia kepada Tumenggung Yudanagara. Negara Sumenep saat itu konon bertambah tenteram keadaannya. (bersambung)



Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. P...


Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah¬wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua¬tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po¬leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di-tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men¬jadi ramai karena sering kedatangan tamu– tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud – maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa¬ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu¬ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut¬nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka¬rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceritera–ceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.