silakan unduh Madurese Folktales

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. P...


Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah¬wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua¬tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po¬leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di-tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men¬jadi ramai karena sering kedatangan tamu– tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud – maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa¬ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu¬ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut¬nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka¬rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceritera–ceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.




Semua tindakan yang akan diambil hendaknya berembuk dulu dengan ayah dan ibumu, saudaramu juga para sepuh, janganlah kalian merasa pandai se...


Semua tindakan yang akan diambil hendaknya berembuk dulu dengan ayah dan ibumu, saudaramu juga para sepuh, janganlah kalian merasa pandai sendiri. Sebab semua pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan sendiri oleh seseorang yang meskipun mempunyai kemampuan dan kepandaian sampai setinggi langit sekalipun. Orang yang tanpa berembuk dalam melaksanakan dan memutuskan sesuatu banyaklah ia yang menuju kepada kegagalan.

 

Siapa saja yang merasa dirinya paling pandai, senyatanya ia adalah orang bodoh. Artinya : Orang yang tak mau berembuk dan yang mengaku dirinya pandai, karena sebenarnya ia takut ketahuan ketololannya oleh orang lain. Jangan kalian suka mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan suka melupakan kebaikan orang lain pada kalian. Tingkah demikian adalah pohon dari kedurjanaan. Dengan nasihat yang diberikan Sultan diatas keduanya berkata : Semoga mendapat berkah paduka.

 

Keesokan harinya Sultan berkata kepada Patihnya : Delapan hari lagi aku akan melantik Pangeran Lor II dan Pangeran Wetan II maka itu hendaknya kamu undang semua Bupati, Menteri dan Punggawa supaya mereka mempersiapkan pesta dan keramaian. Ki Patih lalu segera membuat surat undangan. Setelah sampai saatnya pelantikan, mereka lalu bersiap di alon-alon.

 

Sultan duduk disinggasana didampingi Pangeran Wetan dan kedua puteranya. Setelah dipaseban Sultan Demak lalu berkata : Dengan ini aku memberitahukan kepada para Bupati, para Menteri dan Punggawa bahwa sekarang anak Pangeran Wetan yang bungsu bernama Raden Rajasa atas perkenanku ia kuberi gelar sebagai Pangeran Lor II menggantikan kedudukan Pangeran Lor yang tewas berperang melawan tentara Bali. Dan yang sulung bernama Kedduk kuberi gelar dia sebagai Pangeran Wetan II untuk menjadi calon pengganti Pangeran Wetan I. Sepeninggal Pangeran Wetan I maka Pangeran Wetan II-lah yang akan menggantikan kedudukannya.

 

Kedua anak Pangeran Wetan ini juga kuangkat sebagai Pangeran karena Pangeran Wetan I telah bisa mengalahkan tentara Bali dalam suatu peperangan. Ini namanya orang yang menghargai kedaulatan negaranya, disamping setia dan menyelamatkan kedudukanku. Maka kepada para Bupati, para Menteri dan Punggawa dapatnya mencontoh kesetiaan Pangeran Wetan I.  Sedangkan Pangeran Lor I juga Pangeran Batuputih, semoga anak cucunya dapat menggantikan kedudukannya kelak. Para Bupati, para Menteri dan Punggawa serentak berkata : Semoga mendapat berkah Paduka.

 

Pangeran Wetan bersama kedua puteranya tak lama kemudian pulang ke Sumenep. Sesampainya di Sumenep dirayakanlah suatu pesta keramaian lagi dengan mengundang para Menteri dan para Punggawa. Pangeran Wetan lalu berkata : Sekarang aku beritahukan bahwa anakku Raden Rajasa telah mendapat pangkat dan bergelar Pangeran Lor II menggantikan kedudukan kakanda Pangeran Lor I. Sedangkan Raden Kedduk mendapat gelar sebagai Pangeran Wetan II dan akan menjadi calon penggantiku kelak apabila aku sudah tiada.

 

Kedua anakku mendapat gelar Pangeran karena atas jasa seluruh bala tentara dan rakyat Sumenep, sehingga dengan bantuan itu aku dapat memenangkan perang melawan tentara Bali. Bantuan itu juga ditambah dengan perjuangan kakanda Pangeran Lor yang sekarang telah meninggalkan kita semua. Dengan kemenangan itu aku telah berhasil memotong kepala Raja Bali bersama saudaranya sehingga  jasaku diterima oleh Sultan Demak.

 

Oleh karena itu saya minta kepada semua rakyat Sumenep untuk menghargai kedua anakku tak beda dengan kalian menghargaiku sampai pada akhir hayatku nanti. Yang hadir : Berkat paduka, dan kami bersyukur atas tindakan kami yang berkenan dihati paduka. Kami semua mohon kepada Allah semoga keturunan paduka akan tetap menjadi Raja disini dan bisa menjadi tumpuan harapan anak cucu kami.

 

Beberapa waktu kemudian diceriterakan bahwa Pangeran Lor II (Raden Rajasa) kawin dengan puteri Pangeran Batuputih yang bernama Dewi Susila. Dari hasil perkawinannya mereka mempunyai anak laki-laki dua orang yang sulung diberi nama Raden Abdullah sedangkan yang bungsu diberi nama Masgada. Sedangkan Raden Kedduk (Pangeran Wetan II) karenanya ia hanya mengahli-kan ilmu keagamaan saja maka Pangeran ini tidak mempunyai keturunan.

 

Tak lama kemudian Pangeran Wetan I meninggal dunia dan jenazahnya dikubur disebelah barat makam Tumenggung Kanduruwan, diberi atap genteng. Tetapi sekarang atap genteng kuburan itu sudah rusak dan hanya tinggal pagar temboknya saja. Saat meninggalnya tak diketahui, karena pada nisan maupun barang disekitarnya tidak ada tulisan yang menjelaskannya.

 

Sepeninggal Pangeran Wetan I, Pangeran Wetan II (Raden Kedduk) lalu menggantikan kedudukannya. Semua harta maupun kerajaan Pangeran Wetan I tetap dipunyai dan dikuasainya. Pada saat itu negara Pamekasan berada dibawah pemerintaan negara Sumenep. Beberapa waktu kemudian Pangeran Wetan II meninggal dan dikuburkan disisi Pangeran Wetan I. Saat meninggalnya juga tidak diketahui karena tidak ada tulisan yang menerangkan baik di nisan maupun benda lain disekitarnya.

 

Sepeninggal Pangeran Wetan II bangunan keraton dan harta bendanya diwarisi oleh Pangeran Lor II (Raden Rajasa). Sedangkan pangkat dan kedudukannya dianugerahkan kepada putera sulungnya yaitu Raden Abdullah dengan gelar Pangeran Cakranegara. Pangeran Cakranegara ini kemudian kawin dengan Raden Ayu Pacar, yaitu cucu dari Pangeran Arosbaya (Bangkalan).

 

Masgada kawin dengan puteri Dewi Sara yang bernama Dewi Galu. Dari perkawinan mereka tidak dikaruniai putera sedangkan Dewi Sara ini adalah puteri Pangeran Batuputih. Dari perkawinan Pangeran Cakranegara (Raden Abdullah) kemudian dikaruniai seorang putera bernama Raden Bugan.

 

Diceriterakan bahwa pada suatu hari Pangeran Lor II (Raden Rajasa) sedang menghadap ke kerajaan Demak bersama puteranya yaitu Pangeran Cakranegara dan cucunya (Raden Bugan) yang waktu itu masih kecil. Sesampainya didesa Palakaran (Sampang) mereka dicegat oleh sekawanan perampok yaitu orang-orang suruhan dari Pangeran Sampang. Harta mereka dirampas setelah melalui perlawanan oleh tentara Sumenep yang menjadi pengiringnya. Karena tentara Sumenep jumlahnya sedikit dan tidak dilengkapi peralatan perang yang memadai maka mereka banyak yang mati dan kalah.

 

Pangeran Lor II dan Pangeran Cakranegara tak mau mundur setapakpun sehingga sebagian perampok itu banyak juga yang mati. Sedang sebagiannya lagi ada yang melapor kepada pimpinannya tentang peristiwa perampokan yang mendapat perlawanan.

Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan...


Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan. Tapi panah itu tidak mengena sasaran justeru melesat mengenai beberapa lasykarnya sendiri yang ada diluar benteng. Kemudian Raja Bali dapat ditewaskan oleh Pangeran Wetan. Mengetahui saudaranya meninggal, Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi lalu keluar dari benteng dan menyerang. Gusti Jalantik ditemui Pangeran Wetan sedangkan Gusti Pamadi dilayani Sunan Nugroho. Gusti Jalantik akhirnya terkena tusukan didadanya oleh Pangeran Wetan dan tewas, sedangkan Gusti Pamadi tertusuk lambungnya oleh Sunan Nugroho dan tewas pula. 

Ketiga pimpinan Bali itu karena termasuk orang yang pandai perang dan disegani maka kemudian dipotonglah kepala mereka untuk dipersembahkan ke Demak sebagai bukti bahwa negara Sumenep telah menang perang dan dapat menewaskan Raja Bali yang Agung. 


Bala tentara Bali yang masih hidup berlarian kesana-kemari. Mereka kebingungan mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Hasrat mau kembali kenegaranya tak bisa karena perahunya sudah rusak binasa sedang dirinya harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Konon untuk mencari makan, mereka banyak yang menjadi peminta-minta namun tak seorangpun mau memberi sedekah pada mereka. Maka bagi mereka yang sudah merasa putus asa banyak yang melakukan bunuh diri dengan cara membakar dirinya. Tempatnya di kampung Karang sebelah selatan Paddusan sedangkan yang berada di kawasan barat juga mengikutinya. Maka itu tempat dimana mereka membakar diri dikawasan bagian timur disebut kampung Karangpanasan, sedangkan daerah bagian barat disebut kampung Billa’an (membela diri). 


Demikian nama kampung itu disebutnya sampai sekarang. Sisanya yang tidak ikut membakar diri melarikan diri kearah timur daya (tenggara), disana selanjutnya mereka berdiam dan kampung itu diberi nama Pinggirpapas sedangkan sebagian lagi berdiam didesa Kebondadap. Mereka turun-temurun disana sampai sekarang. Orang-orang tersebut selanjutnya menganut adat Sumenep tetapi mempunyai dialek bahasa sendiri yakni yang disebut bahasa Madura-Pinggirpapas. Kehidupan mereka menjadi petani garam sampai sekarang. 


Diceriterakan bahwa kepala Raja Bali yang dipenggal oleh lasykar Sumenep serta kepala Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi sudah diantar ke Demak. Sultan Demak merasa senang hati. Tetapi ketika membuka surat Pangeran Wetan ia sedih dan menangis karena perang di Sumenep telah menewaskan Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih. Beberapa waktu kemudian Pangeran Wetan menghadap kekerajaan Demak diikuti kedua puteranya yaitu Raden Rajasa dan Raden Kedduk. Sesampainya di Demak Pangeran Wetan berceritera sendiri tentang halnya perang di Sumenep dari awal sampai akhir. 


Setelah Sultan Demak mendengar berita tersebut ia tertegun dan berkata : Semua yang engkau kabarkan kepadaku sangat menyenangkan dan besar penghargaanku kepadamu. Aku bangga atas perjuangan kalian dalam membela kedaulatan negaramu. Aku berharap juga kepada semua rakyat disana untuk meniru jiwa prajurit sebagaimana yang tertanam didada Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih serta dapat berkaca pada segala tingkah laku dan keberanianmu. 


Pangeran Wetan : Segala tutur paduka Sultan akan kami perhatikan. Selanjutnya sekarang kami sedang membawa anak kami Rajasa yang selama ini telah diasuh oleh kakanda Pangeran Lor dengan  maksud untuk memenuhi wasiatnya supaya dihadapkan kepada paduka. Dalam wasiatnya kanda Pangeran Lor minta untuk membawa Rajasa kemari dengan harapan supaya dia dapat mengganti kedudukannya. 


Bagi kami tentu sangat bangga apabila paduka Sultan dapat memenuhi permintaannya. Disamping itu juga merupakan harapan kami. Kalau suatu saat nanti kami tak ada lagi didunia ini sudilah kiranya paduka Sultan untuk mengangkat anak kami si Kedduk sebagai pengganti kedudukan kami kelak. Kami jugalah yang mempunyai anak ini kedua-duanya, dengan maksud agar supaya paduka Sultan dapat memberi kedudukan serta pangkat yang sama. 


Sultan Demak : Semua permintaanmu takkan kutolak karena itu sudah merupakan kehendakku dan aku hanya berdoa semoga anak cucumu diberi kemampuan menduduki Raja disana karena aku sangat sayang kepada kalian. Pangeran Wetan : Semua sabda paduka akan kami hargai dan kami ikat dalam hati. Semoga paduka  Sultan akan tetap kasih kepada kami dan  kepada keturunan kami. Keturunan paduka Sultan juga nantinya semoga akan menjadi pelindung bagi anak cucu kami sampai pada akhirnya. 


Sultan Demak : Semoga doamu dikabulkan oleh Allah. Sekarang Rajasa akan kuberi gelar Pangeran Lor II dan kedudukannya untuk menggantikan Pangeran Lor almarhum. Sedangkan Kedduk akan kuberi gelar sebagai Pangeran Wetan II yang kedudukannya sebagai calon penggantimu kelak. Kalau kamu meninggal kelak maka Kedduk-lah yang akan menggantikan, tetapi sekarang Kedduk belum kuberi wewenang dalam pemerintahan karena masih ada kamu. Sedangkan sumber penghasilan negara Sumenep akan kuserahkan pada kamu dan Rajasa. Peraturannya seperti halnya yang telah terlaksana. Sedangkan untuk mengadakan penghadapan ke Demak biarlah Rajasa dan Kedduk saja sementara kamu Wetan tidak usah. Tetapi kalau kamu mau maka aku sangat bersyukur. 


Kepada Rajasa dan Kedduk Sultan Demak berkata begini : Kalian berdua sekarang sudah menjadi Pangeran maka hati-hatilah jangan sampai dicela orang. Lagi pula jangan sampai gampang didamprat orang karena yang demikian akan celaka. Kalau perkataan sudah keluar tak dapat ditarik kembali maka itu hati-hatilah berbicara dan jangan sampai terlanjur berkata jelek. Ingatlah akan kewajiban dan bertingkah lakulah yang baik. Semua tingkah laku yang tak benar tidak akan bisa mengantarkan kalian kepada puncak cita-cita. 


Kalian harus patuh pada ayah dan ibumu. Sebab orang yang melanggar perintah keduanya apalagi menentangnya tentu takkan selamat didunia dan akhiratnya. Ini sudah banyak contoh. Sekalipun ayah dan ibumu sangat marah janganlah sekali-kali engkau membantah atau mengerutkan alis. Kiasan, sekalipun kamu dipukuli sampai patah lebih baik kalian terima. Kasih sayang orang tua kepada anak takkan sebanding dengan seribu kasih sayang anak terhadap orang tuanya. Jadi orang tua tak mungkin menjerumuskan anaknya pada kenistaan. Harapan orang tua tiada lain hanya untuk kebaikan anaknya. Hayatilah ucapanku ini supaya kalian selamat didunia dan akhirat. 


Janganlah bersifat seperti ayam karena ayam dari mulai berbentuk telur dan menetas jadi pitik induknya mengeram sampai badannya kurus kering. Mulai dari pitik sampai dewasa induknya selalu mengalah dalam soal makan.Tetapi kalau sudah tua induknya lalu dipatuk dan terkadang dikawini. Sedang pejantannya mereka tantang berkelahi, sifat ini hendaknya kalian hindari.


Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah...


Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah seseorang untuk mengantarkannya ke kota sebab sebentar lagi kerajaan ini akan musnah dan menjadi hutan. Setelah permaisuri Pangeran Batuputih siuman maka diceriterakanlah apa yang dilihat dan didengar dalam pingsannya kepada embannya katanya : Emban, bawalah kedua anakku kekeraton kota (Sumenep) sedangkan aku akan ikut suamiku bermi’raj. Kerajaan ini sebentar lagi akan musnah menjadi hutan belantara. Sang Emban lalu menangis sedih karena akan berpisah dengan tuannya. Setelah itu segera dibawanya kedua puteri Pangeran Batuputih keluar dari keraton menuju ke Sumenep. 


Sesampainya di Sumenep, emban berkata kepada isteri Pangeran Wetan, katanya : Hamba diutus bibi paduka untuk menyerahkan kedua puteri ini kemari dan selanjutnya diharapkan supaya keduanya diasuh oleh paduka. Sedangkan bibi paduka sekarang sudah mi’raj mengikuti paman paduka yaitu Pangeran Batuputih yang telah meninggal dipeperangan. Keraton Batuputih sekarang sudah berobah jadi hutan belantara. Kedua isteri Pangeran Wetan segera merangkul kedua puteri itu dan menangisinya. 


Dilain pihak sekarang diceriterakan bahwa tentara Bali telah sampai di Batuputih. Sesampainya disana mereka tercengang karena keraton Batuputih sudah musnah tiada bekas yang ada hanya hutan belantara. Patih Kebbowaju berkata kepada bala tentaranya, katanya : Nyata benar orang disini sakti dan prajurit, suatu tanda yang dapat aku saksikan adalah raibnya jenazah Pangeran Batuputih juga kerajaannya. 


Diceriterakan bahwa yang menyusul Pangeran Wetan adalah anaknya yang bernama Raden Kedduk. Sesampainya di Jambaringin dia menjumpai ayahnya yang kebetulan baru sampai dari perjalanan ke Demak. Raden Kedduk lalu menceriterakan kepada ayahnya tentang kerajaan Sumenep yang diserang tentara Bali dari awal hingga akhir. Setelah mendengar kabar itu Pangeran Wetan dan Pangeran Jambaringin lalu segera berangkat diiringi para pengikutnya.


Sesampainya di Sumenep mereka langsung ke mesjid untuk menemui dan membantu menyelesaikan perawatan jenazah Pangeran Lor dan Patih Wangsadumetra. Jenazah keduanya kemudian dikuburkan dalam congkop (bangunan batu) Tumenggung Kanduruwan berdampingan kearah timur. Sedangkan Wangsadumetra dikuburkan diluar congkop tepat disebelah barat pintu. Congkop tersebut dicat berwarna merah seluruhnya yang menandakan bahwa disitu terbaring jenazah penghulu perang yang tewas dalam pertempuran.


Dipintu pagar congkop ada tulisan hurup Jawa kuno dan Arab yang menerangkan wafatnya Pangeran Lor tanggal 8 bulan Jumadilakhir 1504 tahun Jawa (1573 Masehi). Namun hurup itu sekarang banyak yang rusak sehingga sulit dibaca. Hurup itu tertulis dibatu tembok. 


Setelah itu Pangeran Wetan kemudian memerintahkan supaya membunyikan bendi perang dan mengundang bala tentara yang masih tersisa. Tak berapa lama berkumpullah bala tentara Sumenep dan Pangeran Wetan berkata kepada Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron : Sekarang pilih empat puluh orang menteri yang perkasa, sedangkan empat puluh orang lagi untuk menyertai mertuaku Sunan Nugraha (Pangeran Jambaringin). Sedangkan kamu dan yang lain segera berangkat dan gempurlah benteng tentara Bali. Kalian berdua menjadi wakilku. Aku dan mertuaku akan membersihkan musuh dari pinggiran kota sesudah itu aku akan menyusul kalian. 


Setelah itu berangkatlah mereka. Empat puluh menteri menyertai Pangeran Wetan, empat puluh yang lain menyertai Sunan Nugraha sedangkan sisanya menyertai Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron. Sesampainya di Paddusan mereka bertemu dengan sekumpulan tentara Bali. Pangeran Wetan segera memukul isyarat menyerang. Ketika Patih Kebbowaju melihat musuhnya datang senang hatinya. 


Ia lalu memakai baju perangnya dan maju kekancah pertempuran sambil sesumbar. Setelah melihat Pangeran Wetan ia heran dan berkata kepada lasykarnya, katanya : Hai lasykar Bali berhati-hatilah kalian karena Pangeran Lor hidup lagi. Kalau begini orang Sumenep tak dapat dimusuhi. Siapa yang akan berperang dengan orang yang tak bisa mati. Sudah mati mereka bisa hidup lagi ?? 


Lasykar Bali melihat raut muka Pangeran Wetan memang mirip dengan rupa Pangeran Lor. Karena itu semangat tempur tentara Bali sedikit kendor akibat waswas. Perang semakin menjadi. Sunan Nugraha melawan Patih Kebbowaju. Patih Kebbowaju tak lama kemudian terkena tombak oleh Sunan Nugraha lalu roboh dan tewas. Karena itu lasykar Bali semangatnya semakin menurun bahkan sebagian ada yang melarikan diri dan bersembunyi di kampung-kampung sebelah selatan kawasan pertempuran. 


Sunan Nugraha lalu menantang, katanya : Hai lasykar Bali, kemarikan Rajamu. Temui aku yang tua-renta ini !! Akulah yang bernama Sunan Nugraha yang memerintah kerajaan Jambaringin, putera Lembupetteng dari Majapahit. Aku adalah mertua Pangeran Wetan dan kakek Pangeran Batuputih. Hayo, keluarkan Rajamu yang telah sesumbar untuk menaklukkan kerajaan Sumenep. Kalau aku dan Pangeran Wetan masih hidup takkan gampang orang Sumenep bertekuk lutut.


Pangeran Wetan mengejar tentara Bali yang lari meloloskan diri tapi tak satupun dijumpainya. Ia lalu memerintahkan menteri-menterinya katanya : Sekarang kalian kuperintahkan untuk menghancurkan seluruh perahu orang Bali yang sekarang ada dipinggir-pinggir pelabuhan. Supaya nanti aku tak mendapat kesulitan untuk membunuh orang-orang Bali ; sebab kalau perahu-perahu mereka tidak dihancurkan mereka tentu akan lari keperahunya. Kedua pimpinan perang itu sangat bersemangat meski hanya dibantu empat puluh orang menteri dalam perangnya namun keempat puluh menteri itu sudah diberi ilmu keprajuritan dan kekebalan. 


Para menteri yang diperintah lalu berangkat dan setelah sampai dipelabuhan mereka membakar semua perahu yang ada tanpa pandang bulu. Tentara Bali lalu bertambah bingung dan kalang-kabut karena perahu sebagai alat penyelamat mereka telah dihancurkan. Tentara Bali banyak yang mati tenggelam sedangkan yang selamat naik lagi kedarat tanpa pakaian. Untuk melawan sudah tak mungkin lagi karena perkakas perang mereka sudah banyak yang tercebur kelaut. 


Pangeran Nugroho bersama dengan empat puluh orang menterinya melanjutkan penyerangan kedaerah sebelah timur dan sesampainya di Lapataman mereka bertemu dengan Patih Ranggamering yang juga sedang melakukan perlawanan. Benteng Lapataman yang sebelumnya merupakan benteng pertahanan tentara Bali dapat mereka rebut, tetapi Raja Bali dapat meloloskan diri. Raja Bali dengan dua saudaranya meloloskan diri ke benteng Bilangan. 


Dua saudara Raja Bali yaitu Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi. Mereka ada disana dengan maksud supaya dapat lolos dan kembali ke Bali. Setelah benteng Lapataman direbut tentara Sumenep Raja Bali saat itu konon belum mendengar kalau semua perahu yang ada telah dihancurkan. Tak lama kemudian Pangeran Wetan, Sunan Nugroho dan Patih Ranggamering serta bala tentaranya telah sampai didaerah Bilangan. Mereka langsung menyerang tentara Bali disana. Beberapa saat kemudian lasykar Bali dapat dihancurkan. 


Setelah melihat tentaranya banyak yang tewas dan pihaknya merasa mulai kalah, Raja Bali keluar dari benteng dengan perkakas perangnya. Sesampainya dipintu benteng ia diserang oleh Pangeran Wetan. Mereka lalu saling tusuk seorang lawan seorang. Awalnya mereka saling serang memakai tombak setelah patah dipakailah kerisnya. Tetapi tak lama kemudian keris mereka juga patah maka bergantilah mereka memakai pedang. Rupanya kedua pimpinan perang ini kebal senjata karena masing-masing mempunyai ilmu kekebalan dan ilmu perang yang tangguh. Maka kemudian patah pulalah pedang mereka sampai menjadi tiga bagian.


Diceriterakan pula bahwa Pangeran Batuputih yang juga sedang berperang disuatu kawasan agak ke timur semangatnya tak berbeda dengan Pangeran...


Diceriterakan pula bahwa Pangeran Batuputih yang juga sedang berperang disuatu kawasan agak ke timur semangatnya tak berbeda dengan Pangeran Lor. Dia-pun mengamuk memporak- porandakan tentara Bali sampai banyak para Bupati dan lasykar Bali yang tewas. Pangeran Batuputih juga menantang para musuhnya katanya : Hai orang Bali, mana Rajamu keluarkanlah !! Apa dia tidak belas-kasihan kepada para Bupati dan lasykar sepertimu yang sudah banyak tewas ??

Tak lama kemudian maju Patih Kebbowaju diiring para lasykarnya dan berkata : Hai laki-laki, katakan padaku tentang siapa namamu. Apa pangkat dan darimana asal negaramu. Aku merasa sayang kalau ajalmu tiba tanpa kukenal namamu. Sekarang akulah musuhmu. Jangan kau bangga karena telah dapat menewaskan beberapa Bupati Bali, para menteri dan rakyat kecil sebab itu semua memang bukan tandinganmu. Maka hati-hatilah kamu sekarang.


Pangeran Batuputih mendengar pertanyaan Patih Kebbowaju tidak menjawabnya. Namun seketika dilangkahkan kaki dan diayunkan tombaknya kearah Kebbowaju. Melihat gelagat musuhnya itu Kebbowaju juga melepaskan pukulan tombaknya kearah Pangeran Batuputih. Keduanya lalu saling tombak sampai akhirnya tombak keduanya patah. Setelah itu mereka saling menghunus keris maka terjadilah saling tusuk dan Kebbowaju terluka. Melihat Kebbowaju terluka salah seorang saudaranya maju dan menusuk Pangeran Batuputih. Tusukan saudara Kebbowaju ini mengena lengan kanan Pangeran Batuputih.


Pangeran Batuputih terkejut sampai kerisnya terjatuh. Secepat kilat Kebbowaju meraih keris Pangeran Batuputih yang terjatuh itu lalu ditusukkan ke dada siempunya. Pangeran Batuputih terluka dan dari luka didadanya mengucurlah darah putih yang konon harum dan aromanya segera menyebar kesekitarnya. Setelah Kebbowaju mendekat kejazad Pangeran Batuputih dengan maksud untuk memotong lehernya, maka seketika itu pula jazad Pangeran Batuputih raib. Karena itu bala tentara Bali sangat terkejut dan dihatinya berkata : Barangkali kalau dia tak segera mati maka habislah orang Bali dibunuhnya.


Setelah itu Kebbowaju memerintahkan untuk menghitung sisa tentaranya. Tentara yang masih tersisa dibawanya untuk membantu peperangan di wilayah barat. Di peperangan wilayah barat meskipun Pangeran Lor dan Wangsadumetra terluka mereka masih memimpin perlawanan. Setelah keduanya muntah darah lalu Wangsadumetra berkata kepada Pangeran Lor : Kalau menjadi perkenan maka menurut hamba lebih baik kita mundur dahulu. Apalagi sekarang sudah senja dan tentara Bali sudah banyak pulang kebarak masing-masing. Hamba sudah merasa capek. Kalau hamba tewas maka siapa yang akan mendampingi paduka ? Apalagi kalau paduka yang meninggal siapakah yang akan merebut jenazah paduka dari tangan musuh ? Karena sekarang hamba sudah merasa tak kuat lagi.


Dengan demikian Pangeran Lor lalu mengikuti keinginan patihnya, lalu ia mundur. Dipihak Bali Kebbowaju lalu menghitung sisa bala tentaranya lagi dan diketahui sekarang jumlahnya tinggal lima ribu orang. Kebbowaju kemudian mengutus salah seorang prajurit untuk melapor kepada Raja Bali di Lapataman. Sedangkan Pangeran Lor, Wangsadumetra dan beberapa sisa tentaranya pada malam itu pulang ke Sumenep.


Di sepanjang perjalanan kuduanya tak pernah berpisah dan ikat pinggang mereka masih tetap terikat satu sama lain. Meskipun Pangeran Lor parah lukanya tapi dia masih tetap memegang keris secara terhunus. Pakaiannya penuh darah dan tak seorangpun berani mendekatinya. Bala tentara yang luka juga dibawa ke Sumenep dengan cara digendong oleh tentara lainnya yang selamat.


Sesampainya di Per-emper para kuda tunggangan sudah disiapkan. Tetapi Pangeran Lor tak mau menaikinya sehingga semua lasykar Sumenep ini pulang bersama jalan kaki. Kiyai Rembun berkata : Kalau menjadi suka Paduka maka sebaiknya Paduka duduk ditandu saja. Biar hamba dan kawan-kawan yang akan memikulnya. Pangeran Lor : Semua penghargaanmu kepadaku sangat aku hargai. Tapi ketahuilah bahwa sampai sekarang aku masih bisa berjalan. Jangan kau dekati aku takut aku lupa daratan, sebab disaat seperti ini aku masih haus darah.


Bala tentara Sumenep sangat takut mendekatinya sebab Pangeran Lor masih tetap memegang kerisnya dengan terhunus. Bala tentara Sumenep sebagian berpikir begini : Aku heran pada Pangeran dan Wangsadumetra meskipun mereka terluka parah tapi ketampanannya kian Nampak serta keberaniannya masih tetap saja. Seandainya orang lain mungkin takkan kuat. Aku ini hanya sedikit luka tapi perasaan rasanya takkan sampai kerumah. Semoga Pangeran diberikan panjang umur meskipun kalau dilihat luka-lukanya memang sudah bukan tempatnya beliau hidup.


Sesampainya dipekarangan keraton Pangeran Lor lalu berkata lirih : Wangsadumetra, sekarang aku dan kamu sudah sampai pada ajal. Maka marilah kita panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa supaya kita diberi ketetapan hati dalam Islam dan iman. Pada saat kritis itu keduanya masih sempat berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Setelah itu keduanya lalu rebah dan meninggal. Karena itu para peryayi dan penjaga pintu terperanjat lalu mendekati jenazah keduanya. Jenazah tersebut selanjutnya dibaringkan diatas balai-balai sedangkan sebagiannya memberi kabar kedalam keraton.


Puteri Jambaringin dan Raden Rajasa langsung berlari menemui jenazah Pangeran Lor dan Wangsadumetra diikuti yang lainnya. Keduanya lalu sungkem kekaki jenazah Pangeran Lor sambil menjerit. Gegerlah isi keraton dengan jerit dan tangis sehingga seperti pasar terbakar layaknya.


Setelah itu jenazah keduanya dibawa ke mesjid dan disana mereka disemayamkan sampai tujuh hari lamanya. Yang menjaga jenazah itu adalah para penghulu dan orang alim. Kedua jenazah itu sambil ditunggukan pada adiknya yaitu Pangeran Wetan dan Raden Kedduk yang sekarang masih disusul ke Demak. Meski telah lama disemayamkan kedua jenazah itu tak berobah keadaannya. Karena itu rakyat Sumenep semakin percaya bahwa keduanya adalah wali Allah yang diterima doa maupun perjuangannya dalam membela negara Sumenep dari serangan tentara Bali.

Dilain tempat diceriterakan bahwa Kiyai Ranggamiring dan Kiyai Tandamaneron yang dibantu lasykar lainnya telah selesai membangun sebuah benteng pertahanan diluar kota. Lebar temboknya satu depa (satu setengah meter) tanpa pintu. Perkakas perang juga sudah dipersiapkan disekeliling benteng. Persiapan itu dimaksudkan supaya lasykar Sumenep dapat bertahan dari serangan orang Bali dan takut terjadi serangan sebagaimana dialami Pangeran Lor.


Sekarang diceriterakan pula bahwa tentara Bali yang akan melakukan serangan lagi kepusat kerajaan Sumenep telah siap. Tetapi karena lasykar Sumenep telah meninggalkan desa Baraji maka mereka terus maju kearah barat sampai ke desa Parsanga, Paddusan dan Per-emper. Yang memegang komando sebagai panglima perang adalah Patih Kebbowaju. Maksud mereka akan memboyong isteri Pangeran Batuputih serta merampas harta benda keraton.


Di kerajaan Batuputih diceriterakan bahwa saat itu permaisuri Pangeran Batuputih sedang makan dengan kedua puterinya. Puteri yang sulung bernama Dewi Susila sedangkan yang bungsu bernama Dewi Sara. Tiba-tiba datang pemegang payung Pangeran Batuputih yang lolos dari peperangan dan berkata : Hamba menyampaikan kabar bahwa Pangeran Batuputih telah meninggal dalam peperangan, tetapi jenazah beliau telah raib. Isteri Pangeran Batuputih mendengar kabar itu lalu menjerit dan pingsan.

 

Pangeran Batuputih berkata pada Puteri Jambaringin : Maafkan segala kesalahan kami bibi karena mungkin hari ini adalah saat terakhir perjump...


Pangeran Batuputih berkata pada Puteri Jambaringin : Maafkan segala kesalahan kami bibi karena mungkin hari ini adalah saat terakhir perjumpaan kita. Puteri Jambaringin menjawabnya sambil menangis : Anakku, sungguhkah engkau akan meninggalkan bibi ? Sebagai kemenakan aku masih ingin melihatmu panjang umur dan sebagai pengganti kerinduan pada ayahmu (Pangeran Siding Langgar). Tegakah kamu meninggalkan bibi ?? 

Dalam suasana perpisahan itu Pangeran Lor segera masuk keraton untuk berpakaian. Wangsadumetra (patihnya) juga diberi pakaian yang bagus. Setelah itu lalu berangkatlah mereka. Pada saat itu R.Rajasa juga bersikeras mau ikut tapi sang ibu segera memeluknya. 


Setelah sampai diluar pintu keraton Pangeran Lor segera meloncat keatas kudanya begitu juga Pangeran Batuputih. Di alon-alon rakyat dari kedua pemimpin itu banyak yang menangis. Mereka melihat pakaian keduanya seakan sebagai tanda bahwa pemimpin mereka akan segera menemui ajal dalam peperangan itu. Pada saat bersamaan konon datang seekor burung gagak dari timur yang seketika menyambar kepala Pangeran Lor sehingga Kolo (topi,ind) Pangeran ini jatuh ketanah. Meskipun saat itu ia telah berusaha menangkapnya. Pucat-lah wajah sang Pangeran waktu itu karena kejadian demikian memang dianggap sebagai pertanda jelas akan kejatuhan dirinya segera tiba. 


Kolo yang terjatuh akibat sambaran burung gagak itu kemudian diambil dan dikenakannya lagi. Kemudian dia segera memerintahkan  Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandameron katanya : Paman, engkau berdua jangan ikut. Tetaplah disini untuk menjaga negara. Ambillah sebagian lasykar dan selanjutnya buatlah suatu benteng pertahanan diluar kota. Sesudah itu Pangeran Lor berangkat ditandai dentuman bedil tiga kali. Kiyai Patramanggala bersama kelompok lasykarnya ada didepan, Wangsadumetra berada dibelakang Pangeran Lor dengan menunggang kuda berbulu merah. Sedangkan Pangeran Batuputih berjejer dengan Pangeran Lor.


Sesampainya disatu simpang jalan kampung Paddusan Pangeran Lor merasa haus. Oleh seorang tentaranya ia disuguhi air dalam kendi. Pangeran Lor kemudian menerima air tadi sambil memegang leher kendi dan meminumnya. Tetapi tiba-tiba leher kendi yang dipegangnya putus dan perut kendi beserta airnya jatuh berantakan ketanah. Pangeran Lor semakin merasa bahwa ajal yang menantinya telah semakin dekat. Pangeran Lor lalu bertanya kepada Wangsadumetra : Apakah engkau memang setia dan setulus hati mendampingiku dalam perang ini ?!


Wangsadumetra : sebelum paduka mengeluarkan perintah kepada hamba, hamba memang sudah berniat dan bertekad untuk mati lebih dulu. Hasrat hamba dimaksudkan agar paduka tidak sampai menanggung penderitaan sebelum hamba tewas. Pangeran Lor : Demikian pula niatku Patih. Wangsadumetra lalu membuka ikat pinggangnya dan Pangeran Lor mengerti isyarat itu, maka dibukanya pula ikat pinggangnya. Sesampainya di desa Per-emper disebelah timur kali, Pangeran Lor berhenti sejenak. Disana ia menyambung ikat pinggang dengan ikat pinggang Wangsadumetra sebagai pertanda dan lambang kecintaan seorang Raja pada bawahannya. 


(Per-emper sekarang menjadi sebuah kampung di desa Kacongan termasuk Kecamatan Marengan. Selanjutnya Marengan sekarang telah menjadi sebuah desa masuk wilayah kecamatan Kota Sumenep). 


Ditempat itu pula Pangeran Lor memerintahkan seluruh bala tentaranya untuk berjalan kaki saja dan kuda-kuda tunggangan mereka ditempatkan disana. Sesampainya di desa Baraji Pangeran Lor berkata kepada Pangeran Batuputih : Kami bersama Wangsadumetra akan menemui perang dengan tentara Bali disini. Sedangkan Pamanda Pangeran Batuputih nanda persilakan untuk menemui lasykar Bali agak kesebelah timur supaya tentara Bali dapat segera kita habisi. 


Pangeran Batuputih mengikuti petunjuk Pangeran Lor dan akhirnya mereka memasuki kancah pertempuran. Pangeran Lor dan Patih Wangsadumetra selama berhari-hari tak pernah berpisah. Dalam peperangan itu keduanya mengamuk seperti singa kelaparan. Setiap matahari terbenam peperangan dihentikan. Bala tentara Bali banyak yang mati sedangkan Pangeran Lor dan Wangsadumetra tidak terluka sedikitpun. 


Esok harinya ketika fajar tiba Pangeran Lor berkata pada bala tentaranya : Hai, semua tentaraku kalian tak usah ikut bertempur, jadilah sebagai penonton saja. Berikan saja aku semangat dengan sorak-sorai kalian sebab tentara Bali sekarang sudah tinggal sedikit jumlahnya. Cuma saja kalau nanti aku tewas, kalian harus dapat merebut jazadku jangan sampai dibawa musuh. Sebagian tentara menyetujui tapi sebagian lagi berkata : Kami takkan terima kalau kami tidak diperkenankan ikut berperang karena kami sudah berjanji untuk mati bersama paduka. Kami juga sudah berjanji kepada anak maupun isteri hamba untuk mati dalam pertempuran ini dan kami takut melanggar janji. Kiranya perlu diingat bahwa sejak jaman dahulu tak pernah ada ceritera tentang orang-orang Sumenep merasa takut untuk  menghadapi musuhnya. 


Setelah itu Pangeran Lor berperang lagi diikuti semua bala tentaranya. Semangat mereka semakin menjadi sehingga bala tentara Bali semakin banyak pula yang terbunuh, mayatnya tumpang tindih seperti tumbangnya batang padi. Pangeran Lor lalu sesumbar : Hai, orang Bali keluarkan Rajamu karena jumlah kalian sudah makin sedikit. Kalau Rajamu memang berjiwa perwira maka jangan adu rakyat kecil. Inilah aku, seorang keturunan Raja Majapahit yang juga keturunan Aria Kudapanole.  


Setelah Gusti Jumenna dan Gusti Pameccut mendengar sesumbar itu lalu maju sambil berucap : Hai, Pangeran Lor lebih baik engkau menyerah saja dan engkau akan kuhadapkan pada Raja Bali supaya kalian dapat selamat dari kematian. Pangeran Lor tak menanggapinya lalu seketika menyerang dan menombak Gusti Jumenna sehingga Gusti Jumenna jatuh tersungkur dan tewas seketika. 


Melihat kejadian itu Gusti Pameccut segera pula menombak Pangeran Lor dari sisi kiri. Tombak Gusti Pameccut mengena sasarannya dan menenbus lambung kiri Pangeran Lor hingga tembus ke lambung kanannya. Pangeran Lor tak bergeser dari tempatnya dan keduanya kemudian saling tombak sampai senjata tombak keduanya patah. Pangeran Lor lalu mencabut kerisnya tetapi Gusti Pameccut melarikan diri. 


Pangeran Lor berkata : Hai, jangan lari jika engkau memang jantan. Meskipun kamu bisa terbang tinggi atau bersembunyi dalam lobang semutpun akan aku kejar. Kemudian Pangeran Lor mengejar Gusti Pameccut dan didapatinya. Keris Pangeran Lor menghunjam dada Gusti Pameccut lalu dia roboh dan tewas. Setelah lasykar Bali mengetahui para pembesarnya tewas maka secara bersama-sama kemudian mengamuk dan mengerubuti Pangeran Lor serta Wangsadumetra. Disitu Wangsadumetra terluka sampai isi perutnya terburai. 


Kedua pahlawan perang ini masih tidak patah semangat bahkan merekapun mengamuk membabi-buta. Merasa terganggu dengan ususnya, Wangsadumetra memotongnya sekalian. Tetapi tak lama kemudian usus yang lainnyapun keluar lagi. Maka selanjutnya ia mengalungkan usus itu kelehernya seperti seorang mempelai berkalung melati layaknya. 


Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelo...


Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelompok musuh yang bertingkah gila dan mengamuk. Banyak sudah rakyat kecil terbunuh dan mereka tidak pilih-pilih apakah anak kecil atau bukan. Para perempuan banyak yang mereka boyong dan harta mereka dirampas. Rakyat kecil sekarang sangatlah kesusahan dan yang bisa lolos melarikan diri kekota. 

Sebentar kemudian gegerlah kota Sumenep karena orang-orang desa yang lolos dari serangan tentara Bali memasuki kota dan tak seberapa lama penuhlah kota dengan orang-orang yang mengungsi. Pangeran Lor mendengar itu lalu murka. Terdengar gemeretak giginya dan sekujur tubuhnya bergetar. Pangeran Lor berkata : Hai.., Wangsadumetra sekarang juga aku perintahkan kamu bunyikan bendi perang bersama Kyai Saragenni. Perintahkan semua tentara berkumpul dan bersiap dengan perkakas perangnya untuk menyerang tentara Bali. Panas hati ini rasanya karena mereka benar-benar memalukan. Wangsadumetra lalu menunaikan tugasnya dan memerintahkan kepada para menteri sebagaimana perintah Rajanya. 


Tak lama kemudian berkumpullah bala tentara Sumenep di alun-alun lengkap dengan perkakas perangnya. Yang mengatur bala tentara tersebut adalah Kyai Ranggamerong, Kyai Tandamoi dan Kyai Tandamaneron. Setelah siap Wangsadumetra lalu memberitahu Pangeran Lor. 


Di alun-alun keadaannya sekarang ramai dengan tetabuhan dan bunyi bendi perang. Bala tentara yang berasal dari bagian utara, selatan dan barat sekarang telah berkumpul penuhlah alun-alun. Lautan manusia meluas sampai ke desa Kebonagung, keutara sampai ke desa Pamolokan, keselatan sampai ke desa Karangraba sedangkan ketimur sampai ke Karangtoroy. Bala tentara Sumenep bertekad untuk rela mati demi membela Rajanya. 


Tak seberapa lama datanglah Pangeran Batuputih bersama lasykarnya pula dengan maksud untuk menyerang lasykar Bali. Ia berpakaian putih mulus berpayung putih, benderanya juga putih bertulis arab disamping pelana kuda tunggangannya juga serba putih. Disepanjang perjalanan ia tak lepas membaca doa menandakan bahwa dia memang orang yang alim. Pangeran Lor melihat kedatangan Pangeran Batuputih sangat gembira hatinya. Setelah dipersilakan duduk lalu Pangeran Lor berhatur sungkem dan berkata : Paman, nanda sangat gembira atas kesediaan dan kedatangan paman kemari dengan maksud membela negara Sumenep dan suka bergabung dengan kami untuk menghadapi lasykar Bali. Dengan halus Pangeran Batuputih berkata : Kalau tidak keberatan maka aku mempunyai saran yang nanti akan sangat menentukan. 


Pangeran Lor : Apakah itu paman ? Pangeran Batuputih : Permintaanku kalau diperkenankan dan ini juga merupakan sebuah usul, supaya kita tidak berangkat berperang pada hari ini. Karena hari ini bagi kita merupakan saat yang jelek dan waktu nahas ada diposisi kita. Disamping itu aku juga bermimpi kurang baik. Jadi, kalau ini memang merupakan petunjuk maka semoga kamu menerimanya dengan suka hati sambil-lalu menunggu adikmu yaitu Pangeran Wetan yang saat ini masih menghadap ke Demak. Menurutku beberapa saat lagi ia akan segara datang mengingat sudah tujuh bulan lamanya ia disana. 


Tunggulah barang sehari atau dua hari lagi dan kalau kamu khawatir takut ia tak segera datang maka utuslah seseorang untuk menjemputnya. Katakan padanya supaya segera pulang untuk membantu perang disini. Kemudian untuk mengatasi masalah yang ada disini utuslah sementara beberapa menteri dan sejumlah tentara untuk mencegah tentara Bali memasuki kota. Kita kirim sedikit demi sedikit bala tentara untuk sekedar mencegah sambil menunggu saat yang baik untuk menyerang sambil menunggu kedatangan Pangeran Wetan.


Pangeran Lor : Semua nasihat paman sudah nanda maklumi dan terimakasih atas kesudian memberi pertimbangan kepada nanda. Tapi keinginan nanda sudah bulat dan pada hari ini nanda harus berangkat untuk menyambut serangan tentara Bali dengan perang pula. Kalau nanda mati karena merebut kedaulatan negara maka banggalah hati nanda karena tindakan demikian bisa terdengar juga kenegara lain. Kalau nanda tak mengangkat senjata dan menangkis serangan tentara Bali tentu nanda akan menjadi bahan tertawaan Raja lain atau bisa jadi bahan pergunjingan sepanjang waktu tentang kekerdilan jiwa nanda. Orang Sumenep-pun akan mencibirkan bibir pada nanda akan sikap kebancian itu. 


Disamping itu nanda juga kasihan kepada anak nanda si Rajasa dan keturunannya kalau kejadian ini nanda biarkan. Sudah tentu keturunan si Rajasa tak akan dihormati orang bahkan takkan ada orang yang mau mengabdi padanya dan keturunannya disebabkan nanda telah jelek nama. Kalau paman tak mau ikut bersama nanda itupun tak mengapa dan alangkah baiknya apabila paman sudi berada diistana ini sambil menjaga para wanita. Setelah mendengar perkataan Pangeran Lor, Pangeran Batuputih tertegun. Tak satupun kalimat terucapkan. Sekarang seolah ia dituduh sebagai penakut maka ia lalu pasrah diri kepada Yang Kuasa pikirnya : Kalau begini maka takdir Allah telah tertulis padaku bahwa aku akan mati dalam pertempuran ini bersama Pangeran Lor. 


Tak lama kemudian datang juga puteri Pangeran Jambaringin (Isteri Pangeran Wetan) menghatur sungkem pada Pangeran Lor dan berkata : Kalau menjadi suka Pangeran maka kami mohon supaya jangan berangkat perang pada hari ini. Lebih baik Pangeran menunggu kedatangan adik Pangeran yaitu Pangeran Wetan yang saat ini telah kami susul ke Demak. Apalagi kami pernah bermimpi tentang Pangeran. Dalam mimpi itu kami melihat Pangeran bersama bala tentara Sumenep pergi berlayar. Disana kami melihat perahu yang membawa Pangeran dan bala tentara Sumenep karam dan kemudian tenggelam. Satu-pun tak ada lagi yang terlihat muncul ke permukaan. 


Pangeran Lor : Ada saja ceriteramu yang hanya membuat kekhawatiran. Tekadku sudah bulat bahwa hari ini aku harus berangkat. Mimpimu itu menurutku adalah mimpi seseorang yang tidur terlalu lama, maka itu lalu dirasuki setan pagar. Orang yang terlalu banyak tidur itu bisa dimasuki setan sehingga mimpinya jadi semrawut tak karuan. Sudahlah masalah yang menimpaku tak perlu kau pikir panjang. Ingat bahwa takdir itu tak akan bergeser seujung rambut-pun. Hanya pesanku padamu kalau nanti aku benar-benar mati dalam pertempuran ini kutitipkan anakku Rajasa padamu supaya dihadapkan ke Demak. Mintakan pada Sultan Demak supaya ia dapat menggantikan pangkatku disini. Masalah harta peninggalanku akan kuserahkan pada Rajasa. 


Pangeran Batuputih lalu menghatur sungkem juga kepada isteri Pangeran Wetan karena dia adalah saudara ayahnya yaitu Pangeran Siding Langgar sama-sama anak Pangeran Nugraha di Jambaringin. Sedangkan Pangeran Lor adalah kemenakan Pangeran Batuputih sebab ayah Pangeran Batuputih yaitu Pangeran Siding Langgar bersaudara dengan ibu dari Tumenggung Kanduruwan. Keduanya sama-sama anak Sunan Paddusan. Jadi Tumenggung Kanduruwan dengan Pangeran Batuputih adalah saudara sepupu. Sedangkan Tumenggung Kanduruwan adalah ayah dari Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. 

Setelah mendapat wejangan demikian kemudian berangkatlah kedua Pangeran itu pulang diikuti para pengiringnya. Sesampainya di Pamekasan para ...

Setelah mendapat wejangan demikian kemudian berangkatlah kedua Pangeran itu pulang diikuti para pengiringnya. Sesampainya di Pamekasan para kepala desa dan para demang menyambutnya disepanjang jalan sambil memberikan bingkisan. Setibanya di Jambaringin mereka bermalam dan keesokan harinya baru berangkat lagi menuju Sumenep. Sesampainya di Sumenep mereka mengadakan pertemuan dengan para punggawanya. Setahun kemudian Pangeran Lor menghadap lagi ke Demak bersama Pangeran Jambaringin. Setahun berikutnya Pangeran Wetan bersama Pangeran Jambaringin menghadap demikian secara bergiliran dilakukan. Pangeran Jambaringin selalu bersama-sama karena memang waktu menghadap kebetulan bersamaan.

Sekarang diceriterakan yaitu di negara Bali sedang berkuasa seorang Raja yang masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang kisahnya telah diceriterakan terdahulu. Raja Blambangan tersebut pernah dikalahkan oleh Aria Kudapanole dan beberapa puteri dari Blambangan pernah diboyong ke Majapahit oleh Aria Kudapanole sebagai pampasan perang. Sedangkan yang menjadi Patih Raja Bali ini bernama Patih Kebbowaju yang buyutnya dulu pernah dibunuh oleh Aria Damar di negara Majapahit.

Sekarang Raja Bali dan Patihnya itu bermaksud melakukan balas dendam menantang perang dengan Majapahit. Mereka mempunyai tekad dan keberanian itu karena Raja Bali sudah menjadi Raja Agung dan sudah banyak mempunyai pengikut. Raja Bali bersama Patih dan prajuritnya sebanyak tiga ribu orang lalu berangkat menuju Majapahit dengan mengendarai puluhan perahu menyusuri selat Madura.

Namun sampai ditengah perjalanan diperoleh kabar bahwa Raja Majapahit telah tewas dalam suatu peperangan dan keraton Majapahit juga telah hancur tiada bekas. Karena itu Raja dan tentara Bali lalu mengalihkan perhatiannya ke Sumenep dengan maksud untuk membalas perang pada anak-cucu Kudapanole dan Banyak Wedi. Taklama kemudian sampailah mereka dipesisir LaPatahman. Mereka langsung ke sana disangka keraton Sumenep masih ada di LaPatahman.

Penjaga pantai : Perahu dari manakah ini kok sangat banyaknya ? Orang Bali : Kami bukan pedagang dan perlu kamu ketahui bahwa aku ini adalah orang Bali yang kedatanganku kemari untuk menyincang Rajamu. Mendengar itu si penjaga pantai segera melompat keatas kudanya dan lari menuju kota untuk melapor kepada Pangeran Lor. Sementara orang-orang Bali di pesisir LaPatahman sudah tuntas naik kedarat kecuali para awak perahunya.

Sesampainya didarat secara membabi-buta mereka mengamuk. Sejumlah ternak rakyat dirampas dan para perempuan diboyongnya sedangkan para pria dan anak-anak dibunuhnya. Maka paniklah rakyat kecil disana karena ulah lasykar dari Bali itu. Banyak rakyat yang terbunuh sedangkan yang punya kesemPatahn lolos mereka menuju kota sementara harta dan rumah mereka sudah tak dipikirkannya lagi. Gegerlah kota kerajaan Sumenep.

Setelah lasykarnya semua naik kedarat Raja Bali lalu memerintahkan untuk membuat pesanggrahan disana. Raja Bali mendiami pesanggrahan itu didampingi para isteri dan selirnya. Diantaranya juga ada tiga orang bersaudara yaitu Gusti Jalantik, Gusti Pameccut dan Gusti Jumenna selain para Menteri Sentana seperti Dewa Kaleran, Tawangalun, Kakumdila dan para pendeta serta tukang tenung termasuk Patihnya si Kebbowaju. Patih Kebbowaju ini memang pimpinan perang, badannya tinggi besar, berkumis panjang sampai dibahunya, jenggotnya juga panjang sampai kepusarnya, tatapannya tajam menakutkan.

Pendek kata mereka semua adalah para pemuka perang yang pemberang dan pemberani tiada tanding.

Raja Bali : Hai, lasykar Bali semuanya. Aku ingin tahu apa mau kalian sekarang. Apakah kita akan langsung menuju kota atau tidak ?!! Kalau kita langsung ke kota dan bertemu Pangeran Sumenep apa mereka sudah siap melawan kita ?? Aku ingin segera tahu wajah Pangeran Sumenep yang sekarang. Apakah dia benar-benar seorang prajurit. Kalau dia menyerah padaku tentu aku akan memakluminya. Patih Kebbowaju : Kalau menjadi suka paduka rasanya hamba masih mampu dan tidak usah paduka yang pergi kekota biarkan hamba yang akan menghadapinya. Lebih baik paduka tetap saja di pesanggrahan ini sambil menunggu tertangkapnya sang Pangeran. Sekarang izinkan hamba berangkat bersama beberapa prajurit dan sebagian menteri, hamba semua rela berkorban diri.

Setelah berembuk Raja Bali berkata lagi : Kalau semua lasykar Bali telah setuju terhadap pendapatmu maka aku-pun sepakat dan bawalah separuh lasykar kita kekota. Sedangkan yang separuh lagi beserta adikku si Jalantik jangan ikut. Aku memerlukannya disini untuk menjadi pemimpin lasykar yang tersisa.

Keesokan harinya Patih Kebbowaju, Gusti Pameccut dan Gusti Jumenna bersama prajuritnya lalu berpakaian dan berangkat dengan perahu sambil bersorak-sorai. Sesampainya di Pajalan perahu-perahu tersebut berlabuh berjejer di pelabuhan itu. Sebagian lagi berlabuh di Gersik Putih. Setelah semua prajurit turun kedarat dengan senjata masing-masing dan disini bendi perang ditabuhnya. Bala tentara Bali diatur berkelompok dan berjalan menyusuri desa Pajalan, Karang Buddi, Bennosan, Baraji dan disepanjang jalan itu penuh dengan orang Bali. Orang-orang disekitar desa yang dilewatinya lari ketakutan.

Pada suatu hari Pangeran Lor duduk di paseban didampingi Patih yang disayanginya yaitu Wangsadumetra dihadap pula oleh bala sentananya. Waktu itu seakan-akan ada yang sedang dipikirkan oleh Pangeran Lor karena kelihatan muram mukanya. Orang-orang yang sedang menghadap heran dibuatnya pikirnya : Kok baru sekarang Pangeran menunjukkan wajah begitu  apakah gerangan sebabnya ? Pangeran Lor berkata : Sebenarnya aku tadi malam bermimpi. Dalam mimpiku aku sedang mandi dilaut darah bersama pamanku Pangeran Batuputih dan bala tentaranya. Sedangkan pengiringku waktu itu adalah Wangsadumetra serta para menteri dan sebagian besar tentara Sumenep. Semuanya mandi dilaut itu.

Para Menteri berkata : Sebetulnya tadi malam juga kami bermimpi terbawa banjir bersama paduka Raja dan Pangeran Batuputih bersama lasykarnya. Tak lama kemudian lalu datang penjaga pelabuhan LaPatahman dan tanpa tatakerama ia menghadap sambil tersengal-sengal dan berkata : Hamba membawa kabar bahwa sekarang telah datang bala tentara Bali. Mereka menaiki perahu beratus banyaknya pelabuhan LaPatahman sampai Gersik Putih penuh. Rajanya sudah mendarat dan mendirikan pesanggrahan di desa Bilangan.


Bab III Di lain tempat diceriterakan bahwa Raden Patah yang menjabat sebagai Raja di Bintara semakin hari semakin banyak rakyatnya bahkan ra...



Bab III

Di lain tempat diceriterakan bahwa Raden Patah yang menjabat sebagai Raja di Bintara semakin hari semakin banyak rakyatnya bahkan rakyat Majapahit sudah banyak pula yang pindah ke Bintara sekaligus pindah keyakinan agama dari Budda  ke agama Muhammad. Jadi rakyat Majapahit semakin hari semakin menyusut jumlahnya dan mulai banyak yang mogok (tak patuh) terhadap perintah Rajanya.

Diantara mereka sudah banyak retak hubungan karena perbedaan agama yang mereka anut tidak sama dengan agama kerajaan. Rakyat yang sudah memeluk agama Muhammad sangat menyegani ajaran guru-guru mereka seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Darajad di Sedayu dan Sunan Kudus di Japara.

Tak lama kemudian Raden Patah mendirikan mesjid di Demak. Disuatu hari Raden Patah mengumpulkan rakyatnya untuk menyusun kekuatan guna menyerang Majapahit. Tetapi yang menyatakan kurang setuju terhadap keinginan itu adalah Sunan Ampel yang melarang penyerangan secara kekerasan dengan alasan karena Raja Majapahit meskipun tak ikut agama Muhammad namun ia tak pernah dengki terhadap orang-orang yang menganut agama itu.

Karena gagal mendapat persetujuan Raden Patah mengurungkan niat untuk menyerang kerajaan Majapahit. Namun setelah Sunan Ampel wafat Raden Patah meneruskan niatnya untuk menyerang kerajaan Majapahit dan itu sesudah mendapat persetujuan wali sanga lainnya yaitu ; Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Darajad, Sunan Kudus, Sunan Andung, Sunan Parapin, Sunan Baribin dan Sunan Cerebun.

Setelah semua mufakat mereka lalu mengatur siasat untuk mengepung Majapahit. Mereka bersama tentaranya lalu menyerang negara tersebut tetapi kalah dan lasykarnya banyak yang tewas sedangkan yang selamat lari berpencaran. Karena kemudian para pembesar Majapahit teledor maka kesemPatahn itu digunakan dengan baik oleh para lasykar Sunan yang tersisa untuk berhimpun kembali. Setelah itu mereka melakukan penyerangan yang kedua dan tentara Islam menang kemudian mereka terus memasuki keraton. Semua barang dan perkakas dirampas dan dirusaknya terutama barang-barang yang dianggap tak diperlukan oleh Islam termasuk penghancuran keraton. Saat itu diperkirakan 1478 tahun masehi.

Sesudah itu Raden Patah menuju ke negara Japan. Tetapi Ratu Japan dan seluruh tentaranya sudah terlebih dulu meloloskan diri lari entah kemana. Setelah peperangan selesai Raden Patah lalu menjabat sebagai Raja Demak dan para Raja yang ada dibawah pemerintahannya diberitahu supaya mereka tunduk kepada pemerintahan Demak.

Dibagian lain yaitu di negara Sumenep Pangeran Lor dan Pangeran Wetan pada suatu hari mengadakan pertemuan di paseban dengan dihadap para sentananya. Disaat bersamaan datanglah utusan dari Demak. Setelah dipersilakan duduk dan disuguhi sekedar hidangan lalu keduanya bertanya tentang maksud dan tujuan orang Demak itu.

Utusan : Gusti Pangeran, hamba diutus oleh kakek paduka untuk memberi kabar bahwa sekarang dan seterusnya paduka berdua diperintahkan untuk tidak lagi menghadap ke Japan maupun ke Majapahit. Paduka berdua diperintahkan untuk menghadap ke Demak karena Majapahit dan Japan telah dihancur-leburkan oleh kakek paduka yaitu Raden Patah alias Sultan Demak bersama-sama para wali.

Kedua negara itu sudah dikalahkannya dan beliau hancurkan karena Raja Majapahit dan Ratu Japan tidak mau menganut agama Islam. Raja Majapahit, Ratu Japan maupun Patih Gajahmada dapat meloloskan diri dan kabur entah kemana. Sultan Demak tidak mau bertahta di dua kerajaan itu karena telah rusak binasa dihancurkan oleh tentara Islam. Lagi pula kedua kerajaan itu sekarang telah rata dengan tanah.

Maka itu kakek paduka lalu bertahta di Demak dan paduka berdua diharap kedatangannya kesana karena kakek paduka sudah sangat rindunya. Sesudah Pangeran Lor dan Pangeran Wetan mendengar kabar itu gembira rasa hatinya dan selanjutnya memerintahkan kepada bala sentananya : Aku hari ini juga akan berangkat ke Demak untuk menghadap kakekku yang baru menjabat sebagai Sultan disana.

Barang siapa yang ingin ikut maka bersiaplah dengan bekal masing-masing. Engkau Wangsadumetra (patihnya) segera kumpulkan bala sentana yang akan mengiringkan aku. Setelah semuanya siap maka berangkatlah mereka ke Demak dengan melewati jalan yang lebih singkat.

Sesampainya di Demak kebetulan Sultan sedang dihadap para Raja yang ada dibawah kekuasaannya dan mereka memenuhi paseban. Sultan Demak duduk diatas kursi terbuat dari gading bertatakan intan lengkap dengan tata upacaranya. Saudara Sultan yaitu Raden Lembupetteng juga hadir dan duduk disamping kirinya. Sesudah Sultan melihat kedatangan Pangeran dari Sumenep lalu segera mempersilakannya mendekat. Dipeluknya dua Pangeran itu dan diciuminya sambil berkata : Cucuku berdua, kakek sangat rindu pada kalian.

Dengan melihatmu maka terkenang aku pada ayahmu yang sekarang sudah tiada. Jangan dulu kalian pulang karena kalian baru sampai dari perjalanan jauh. Istirahatlah dulu diruangan keraton ini. Kedua Pangeran itu selanjutnya diberi pakaian yang bagus-bagus. Sesudah lima bulan lamanya mereka pamit kepada Sultan katanya : Perkenankan cucu berdua pulang ke Sumenep karena kami rasa telah lama berada disini.

Permaisuri Sultan : Aku masih rindu maka kalau berkenan janganlah kalian pulang dahulu. Karena keinginan keduanya sudah tak bisa dicegah untuk pulang lalu Sultan mengizinkannya katanya : Kuijinkan kalian pulang tapi jangan kalian lupa untuk datang menghadap. Bergiliran-lah kalian kemari.

Selain itu berhati-hatilah kalian memerintah negara kalau bisa ikuti jejak ayahmu. Jangan sampai kalian bertingkah kurang menyenangkan pada bawahanmu dan jangan banggakan kepandaian atau keberanianmu. Sebab kalau menjadi seorang pembesar karena ditakuti maka ibaratnya “seperti ular” ketika ia lengah akan dicincang oleh rakyatnya. Maka jadilah kalian sebagai pembesar yang disenangi, dicintai dan disegani oleh bawahanmu supaya kalian bisa selamat dan sejahtera.


Setelah itu Tandaterung lalu pulang ke Majapahit dan sesampainya disana dituturkannya semua pesan kakaknya kepada Raja Majapahit. Raja Ma...


Setelah itu Tandaterung lalu pulang ke Majapahit dan sesampainya disana dituturkannya semua pesan kakaknya kepada Raja Majapahit. Raja Majapahit mendengar semua itu lalu sedih hatinya dan berkata begini : Kalau sekarang kakakmu itu memang sudah ikut agama Muhammad dan sudah tak suka lagi pada agamaku aku tak melarangnya. Meski orang diseluruh tanah Jawa sekalipun ikut agama itu aku-pun suka hati karena mereka tak lagi menjadi beban bagiku.

Diceriterakan sekarang bahwa Pangeran Lor dan Pangeran Wetan beserta ibunya sudah sampai di Sumenep. Keduanya telah diangkat menjadi Raja Sumenep dan hasilnya dibagi dua. Tatacara menghadap ke Japan juga telah diatur sesuai permintaan Ratu Japan dan secara setahun sekali mereka bergiliran menghadap. Setelah keduanya lama menjadi Raja, negara Sumenep semakin sejahtera melebihi keadaan pemerintahan Tumenggung Kanduruwan. Bala sentana dan menteri serta punggawa lainnya semakin banyak jumlahnya sehingga kota pemerintahan Sumenep semakin ramai keadaannya.

Di sekeliling alun-alun penuh dengan rumah kediaman para putera dan bala sentana. Disitu lalu dinamai kampung Bangselok. (Nama kampung ini mengambil istilah bahasa Jawa yang artinya Bangsa=Macam, Elok=Bagus. Jadi maksudnya Kampung tempat orang-orang bangsa yang bagus). Nama ini masih dipakai sampai sekarang.

Pada suatu hari Pangeran Lor dan Pangeran Wetan berjalan-jalan berkeliling kota diiringi Patih setianya bernama Wangsadumetra. Mereka melihat-lihat keadaan kota lalu beristirahat disebuah kebun didepan keraton sambil bercengkerama dengan para menteri yang lain. Pangeran Lor sedang bercakap-cakap dengan adiknya dipertamanan itu.

Pangeran Wetan : Kanda, ini merupakan permintaan yang sungguh-sungguh dari dinda dan ini muncul setelah dinda memahami tentang kedudukan kita sebagai Raja. Melihat keadaan kota yang semakin ramai dan kehidupan rakyat yang semakin sejahtera kiranya kanda takkan menolak kalau dinda mohon agar kanda segera beristeri. Kita juga tahu bahwa tidak ada para leluhur kita yang tidak kawin. Apalagi kakanda sebagai Raja, maka perlu ada seorang pendamping sebagai Raden Ayu (Permaisuri). Adik sangat menyayangkan kalau kakanda tidak punya keturunan. Karenanya sebagai pengharapan kalau kanda ada keturunan ingin rasanya dinda pertemukan dengan keturunan dinda sendiri supaya hubungan kita tidak hilang.

Pangeran Lor : Dinda, semua ucapanmu itu benar. Tapi engkau masih belum tahu tentang takdir Yang Kuasa. Sebetulnya takdir itu memang tak bisa berubah. Kalau memang sudah tertulis di Lohmahfud tak mungkin ada manusia yang bisa merubahnya. Jadi sesungguhnya manusia ini hanya menjalankan adat (usaha) saja namun ketetapan tidak ada yang tahu kecuali Yang Maha Kuasa. Begitu juga aku yang senang nyepi bertahun-tahun lamanya. Disana aku mendapat tanda-tanda bahwa anakku Raden Rajasa sampai ke anak-cucunya kelak akan memerintah di negara Sumenep ini. Sedangkan anak-cucumu yaitu yang dari Kedduk sudah dipastikan jadi kawulanya.

Pangeran Wetan : Meskipun Nanda Kedduk dari anak selir dan Rajasa dari anak padmi yang diangkat anak oleh kanda menurut dinda nyata-nyata tak ada beda. Mereka masih merupakan anak dinda dan ibu merekapun masih keturunan para Raja. Oleh karena itu dinda mohon supaya keduanya bisa menjadi Raja sampai keturunannya. Pangeran Lor : Dinda, ini sudah tidak bisa menurut petunjuk seperti yang aku katakan tadi. Aku sudah bilang bahwa takdir adalah dari Yang Maha Kuasa yang tak dapat diubah.

Pangeran Wetan : Meskipun menurut kanda demikian dinda masih akan memohon karena Allah tidak akan menyia-nyiakan permohonan hambanya. Kalau belum terkabul sekarang barangkali nanti dibelakang hari. Pangeran Lor : Kalau dinda memang tak percaya mari kita sama-sama nyepi ditempat pertapaan Kyai Kodapandengngan dibawah pohon Nangger pangongngangan (tempat melihat,ind.) disana kita berdiri bersama-sama dalam jangka satu tahun.

(Nangger Pangongngangan terletak disebelah utara makam Sultan Sumenep agak kesebelah barat. Tempat itu dinamai demikian karena dahulu dipakai juga untuk melihat bulan tanggal satu bulan puasa).

Siapa diantara kita yang tak bisa melakukannya menandakan keturunannya akan jadi kawula. Kalau diantara itu ada yang mampu melakukannya maka menandakan bahwa anak-cucunya akan memangku Raja selamanya.

Kedua bersaudara itu lalu berangkat menuju Nangger Pangongngangan dengan masing-masing berpakaian putih mulus serta membawa bekal hanya sepotong apem. Sesampainya ditempat mereka lalu berdiri menghadap arah barat sedang pikirannya hanya menyatu pada apa yang mereka maksud. Kedua Pangeran tersebut memang ahli bertapa.

Sampai beberapa waktu kemudian badan keduanya dililit akar pepohonan tetapi karena tekad baja yang dimilikinya mereka tak bergerak dari tempatnya. Setelah setahun kurang sehari Pangeran Wetan badannya mulai melemah bahkan sampai jatuh tersungkur. Ketika ia jatuh masih sempat berpikir begini : Benar apa kata kakanda Pangeran Lor dan memang kesalahan ada padaku karena melanggar ucapan saudara tuaku. Jadi nyata benar bahwa saudara yang tertua itu harus diikuti nasihatnya karena beliau ibarat pengganti ayah. Apa perkataan dan nasihatnya patut dipatuhi dan merupakan hal yang wajib dihormati oleh para adiknya kecuali perintah dan perkataan yang menjurus pada jalan maksiat. Mudah-mudahan pertapaanku tidak sia-sia sebab segala perbuatan yang baik itu tak akan terbuang. Kalau keinginan dan upayaku sekarang belum mendapat ijin-Nya mungkin dilain waktu.

Konon Pangeran Lor belum bergeser sedikitpun dari tempatnya. Ia tetap khusuk melakukan tapa sampai waktu setahun genap. Setelah selesai diraihnya tongkat yang ada didekatnya dan ia bersihkan dirinya dari lilitan akar yang mengotorinya lalu diraihnya pula tangan adiknya yang masih dalam keadaan terbaring sambil mengajak : Mari bangun adikku.

Pangeran Wetan : Rasanya benar bahwa kakanda adalah seorang wali Allah. Kanda bisa mengetahui suatu peristiwa yang masih belum terjadi. Maafkan segala kesalahan dinda lahir dan batin karena dinda telah berbuat kekeliruan yang besar. Pangeran Lor : Semua permintaan maaf dinda aku terima begitupun sebaliknya aku. Setelah itu mereka pulang ke keraton dan sesampainya disana mereka sungkem pada ibunya. Kedua isteri dan anak Pangeran Wetan juga sungkem padanya serta kepada Pangeran Lor juga. Setelah itu Pangeran Lor menggendong Raden Rajasa sedangkan Raden Kedduk digendong oleh Pangeran Wetan. Mereka saling melepas rindu dari perpisahannya selama setahun.

Pangeran Lor berkata kepada isteri muda Pangeran Wetan yaitu Ratna Taluki katanya : Adikku, kalau nanti aku sudah tiada maka anakmu Raden Rajasa yang akan menggantikanku sebagai Raja. Selain itu aku juga sudah menerima petunjuk dari Allah bahwa kalau nanti sudah sampai pada keturunan Rajasa yang ketujuh maka kekuasaannya akan putus karena pada saat itu disini akan diperintah oleh orang lain atau dari negara lain. Yang mengganti itu adalah dari keturunan Pangeran Siding Puri karena memang keturunan dialah yang menjadi hak-nya. Sedangkan keturunanmu nanti hanya akan manjadi bawahannya.

Setelah Ratna Taluki mendengar ramalan Pangeran Lor lalu menangis dan setelah itu berkata : Kanda, dinda sangat berterimakasih atas kabar itu tapi kalau bisa tolonglah sambungkan doa dan permohonan adik kepada Yang Kuasa semoga nanda Rajasa selalu mendapat keselamatan dunia- akhirat serta semoga ia tetap menurunkan para Raja sampai diakhir jaman.

Pangeran Lor : Dinda, sudah merupakan karunia yang sangat besar dari Allah pada anakmu juga kepada anak-cucunya. Allah telah menganugerahkan jiwa prajurit melebihi dari Raja yang lain sifat kejantanan termasuk sebagai pembesar prajurit meskipun sayang mereka takkan lama umurnya. Kalau nanti ada keturunan Rajasa yang panjang umur tentu dialah yang akan memangku jabatan Raja lebih lama dan memiliki kelebihan dari para Raja yang lain. Karena itu hendaklah engkau bersyukur kepadaNya. Kalau soal Rajasa diharapkan untuk tetap menurunkan para Raja jangan terlalu banyak kau pikirkan. Ibarat kita meminjam suatu barang yang sewaktu-waktu harus dikembalikan.



Selain itu semua harta yang aku tinggalkan adalah untuk kalian berdua. Keraton yang ada disebelah barat aku berikan kepada anakku yang s...


Selain itu semua harta yang aku tinggalkan adalah untuk kalian berdua. Keraton yang ada disebelah barat aku berikan kepada anakku yang sulung yaitu Raden Banten (Pangeran Lor) sedangkan yang disebelah timur aku serahkan kepada Raden Wetan (Pangeran Wetan).

Kepada isterinya kemudian juga berpesan : Kalau aku mati kedua anak kita hadapkan ke Japan. Sampaikan salam dan bhaktiku pada Ratu dan kalau ada suatu kesalahan padanya aku minta maaf. Sampaikan pula permintaanku padanya semoga Ratu Japan selalu mengasihi anak-anak kita. Setelah itu ia memberi nasihat pula pada kedua puteranya : Kalau nanti engkau jadi seorang kawula jangan sekali-kali menonjolkan diri dan jangan kau andalkan kewibawaan serta kepangkatan yang kau sandang.

Selain itu jangan pula kamu aniaya pada para bawahanmu karena semua itu perbuatan yang tidak baik dan tercela dibelakang hari. Kalau engkau pernah memberi jasa baik pada orang lain maka jangan engkau ingat. Tetapi kebaikan orang lain kepada kalian jangan sampai engkau lupakan. Kalau ada kesalahan yang diperbuat orang lain padamu maka jangan engkau dendam. Dan jangan pula sekali-kali kalian membicarakan tingkah-laku orang lain yang tidak baik. Kalau kamu pernah berbuat salah kepada orang lain ingatlah selalu dan jangan sampai mengingkari kesalahan itu. Segala tingkah-laku hendaknya berhati-hati karena sial itu datang tanpa janji. Kalau orang lupa terhadap kesalahannya maka sudah tentu akhirnya akan celaka.

Berselang waktu kemudian Tumenggung Kanduruwan wafat karena penyakitnya itu. Jenazahnya dikubur disebelah barat mesjid yang dibangunnya di kampung Karangsabu desa Karangduak. Kemudian kuburan Tumenggung Kanduruwan itu dibangun sebuah cungkup dari batu dan sampai sekarang keadaannya masih baik karena mendapat perawatan dari negara. Dikuburan tersebut tidak terdapat suatu tulisan yang menerangkan kapan meninggalnya Tumenggung Kanduruwan. Sejak meninggalnya Tumenggung konon anak-anak serta bala sentananya selalu mengundang pemuka agama di keraton untuk berdoa. Setelah sampai keempat puluh hari dari kematiannya sang isteri membawa kedua anaknya menghadap ke Japan. Saat itu kebetulan Ratu Japan sedang ada di paseban duduk di satinggil. Setelah menghatur sungkem mereka lalu menceriterakan semua pesan Tumenggung Kanduruwan sambil menangis. Setelah Ratu mendengarnya ia lalu ikut menangis.

Sesudahnya lalu berkata kepada Raden Banten dan Raden Wetan katanya : Aku sangat menyayangkan kalau aku menolak permohonan ayahmu. Sekarang kamu Banten, akan kunobatkan sebagai Pangeran Lor sedangkan Wetan aku beri gelar Pangeran Wetan. Negara Sumenep sekarang aku serahkan pada kalian berdua dan kalian hendaknya menghadap kemari setiap tahun secara bergiliran. Kalau seorang sedang menghadap maka yang lainnya menjaga negara. Dan sekarang kalian kuijinkan untuk pulang kembali ke Sumenep. Tentang kabar meninggalnya ayahmu, kepada ramanda Raja Majapahit dan kepada adikku Pangeran Bintara tak usah kalian pikirkan. Biar aku yang akan menulis surat pada beliau. Setelah menghatur sungkem dan mengucapkan terimakasihnya kedua Pangeran dan ibunya kembali pulang ke Sumenep.

Ratu Japan sekarang menulis surat untuk mengabarkan meninggalnya Tumenggung Kanduruwan kepada Raja Majapahit. Dan surat itu kemudian diberikan kepada dua menterinya yang bernama Jayalalana dan satunya lagi bernama Saccayuda. Kedua menteri itu segera berangkat dan sesampainya di Majapahit surat itu diserahkannya kepada Raja di paseban. Patih Gajahmada juga sedang ada disana dan sedang duduk dihadapan Raja berdampingan dengan Raden Tandaterung yaitu cucu Raja Majapahit. Surat itu berbunyi begini : Nanda memberi kabar bahwa cucu nanda yang memerintah di negara Sumenep yaitu Tumenggung Kanduruwan telah meninggal dan ia meninggalkan dua orang putera.

Yang sulung bernama Raden Banten dan nanda sudah mengangkatnya menjadi Pangeran Lor sedangkan yang bungsu bernama Raden Wetan dan oleh nanda juga sudah diangkat pula menjadi Pangeran Wetan. Sedangkan negara Sumenep sudah nanda pasrahkan kepada mereka untuk dibagi dua. Untuk menghadap ke Japan nanda perintahkan sekali setahun secara bergiliran. Setelah Raja Majapahit mendengar berita itu lalu menangis juga Patih Gajahmada dan Raden Tandaterung. Setelah itu Raden Tandaterung segera pulang utnuk mengabarkan berita itu kepada isterinya. Isteri Tandaterung menjerit mendengar berita dari suaminya itu.

Keesokan harinya Raja Majapahit memanggil Raden Tandaterung dan menyuruhnya untuk menyampaikan berita itu kepada kakaknya yaitu Pangeran Bintara. Raja Majapahit : Sekarang secepatnya engkau beritahu kakakmu Pangeran Bintara. Bawalah surat kakak perempuanmu ini (Ratu Japan), supaya dia segera tahu bahwa anaknya yaitu Tumenggung Kanduruwan sudah meninggal. Karena hanya kamu yang patut untuk membawa surat ini. Sesudah itu kirimkan pula surat itu kepada Pangeran Palembang dan kalau mau ajaklah pula kakakmu yaitu Raden Bintara kemari karena aku sudah rindu padanya. Tanyakan pula padanya apa sebabnya dia lama tak menghadap kemari. Apa dia sudah tidak menyukai aku ?!

Raden Tandaterung segera menerima surat itu lalu langsung menuju Bintara. Disepanjang jalan ia menangis sedih mengenang Tumenggung Kanduruwan. Sesampainya di Bintara ia langsung masuk keraton tanpa hiraukan tatakerama. Setelah Raden Bintara melihat adiknya datang tergesa-gesa lalu dipersilakannya duduk dan bertanya : Adikku, ada apa kau datang dengan tergesa-gesa dan menangis pula ? Raden Tandaterung : Adik ditugas oleh kakek membawa surat dari Ratu Japan yang memberitakan tentang wafatnya nanda Tumenggung Kanduruwan.

Raden Bintara lalu menerima surat itu dan setelah membacanya isinya ia pingsan dan jatuh kepangkuan Raden Tandaterung. Setelah isterinya tahu tentang kejadian itu lalu diambilnya pula surat yang masih dalam genggaman suaminya itu. Setelah membaca isinya lalu ia menjerit dan pingsan juga diharibaan Raden Tandaterung. Ketiganya lalu saling berpelukan sambil menangis sedih. Setelah kesedihan dilepaskan dan pikirannya tenang lalu Raden Tandaterung berkata : Selain yang dinda sampaikan tadi ada pesan lain dari kakek pada kakanda. Kakanda dipersilakan menghadap ke Majapahit karena kakek sudah sangat rindu dan ingin melihat kakanda karena sudah lama tak jumpa. Pesan kakek lagi, mengapa kanda tak mau ber-orangtua pada beliau dan tak pernah datang lagi untuk menghadap.

Kalau kakanda memang tak mau apa gerangan  sebabnya ? Pangeran Bintara berkata sambil tersenyum : Katakan dengan halus pada ramanda jangan beliau marah karena aku takut mendapat bala. Aku tak pernah kesana akhir-akhir ini karena agamaku dengannya tidak sama. Beliau beragama Budha sedangkan aku beragama Muhammad. Raden Tandaterung : Semua ungkapan kanda sudah dinda maklumi dan kalau mendapat perkenan dinda sekarang mohon pamit. Pangeran Bintara : Baiklah, kalau begitu dan sampaikan pesanku kepada beliau dengan halus.



Setelah mendamprat Tumenggung Kanduruwan Ratu Japan segera masuk ke keraton sambil menjinjing bindaga emas yang berisi kepala Pangeran ...


Setelah mendamprat Tumenggung Kanduruwan Ratu Japan segera masuk ke keraton sambil menjinjing bindaga emas yang berisi kepala Pangeran Sumenep didalamnya. Sedangkan para penghadap satu persatu pulang kerumahnya masing-masing. Didalam keraton Ratu Japan selalu menimang-nimang kepala Pangeran Sumenep. Dipandangi dan disentuhnya ia berkali-kali seperti orang sinting layaknya.

Tumenggung Kanduruwan setelah sampai dikepatihan terus menemui isterinya dan bertutur tentang kejadian perang di Sumenep dari awal sampai akhir serta  diceriterakannya pula murka Ratu Japan kepadanya katanya : Aku sekarang mendapat marah dari Ratu dan diusir ke Sumenep bersama seluruh tentaraku. Aku disangka membunuh Pangeran Sumenep dengan maksud untuk mengganti kedudukannya. Jadi aku sekarang terusir dari negara ini untuk selanjutnya menjabat Raja di Sumenep. Maka dari itu segeralah engkau berpakaian takut nanti aku dapat marah lagi.

Raden Ayu Tumenggung selanjutnya segera berpakaian dan bersiap untuk berangkat mengikuti suaminya. Tak lama kemudian datang utusan Ratu yang membawa perintah supaya Tumenggung Kanduruwan segera meninggalkan Japan. Maka dari itu kemudian Tumenggung bersama keluarga dan bala tentaranya segera berangkat ke Sumenep. Pendek ceritera sampailah sekarang Tumenggung Kanduruwan bersama keluarga dan pasukannya di Sumenep. Tumenggung langsung menemui Pangeran Malaja dan Pangeran Jambaringin dan kepadanya diceriterakan semua hal yang menimpa dirinya. Kedua Pangeran itu tercengang dan diam seribu bahasa. Beberapa saat kemudian mereka pamit kepada Tumenggung Kanduruwan untuk pulang kenegaranya masing-masing.

Setelah Tumenggung Kanduruwan duduk sebagai Raja di Sumenep ia membangun dua buah keraton yang didirikan berjejer di kampung Karangsabu desa Karangduak. Kedua bangunan keraton itu menghadap ke selatan berpagar tembok sekelilingnya dan memakai kisi terali terbuat dari batu bermotif cendana ukir. Bangunan pasebannya berundak tiga, pintu gerbangnya dipertinggi. Sedangkan yang diangkat menjadi penjaga pintu gerbang adalah penjaga goa sarang burung karenanya disebut pintu goa.

Sebuah mesjid juga dibangun letaknya disebelah barat alun-alun. Disekeliling alun-alun itu ditanami pohon beringin yang teratur berderet sampai ke sebelah barat mesjid. Sejak pemerintahan Sumenep dipimpin Tumenggung Kanduruwan masyarakat semakin makmur dan tak kurang suatu apa. Para pedagang dari negara lain banyak berdatangan memperdagangkan beraneka ragam barang. Dengan begitu rakyat Sumenep semakin mencintai Tumenggung Kanduruwan meski ia berasal dari lain negara.

Setelah Tumenggung Kanduruwan agak lama memerintah negara Sumenep dan sudah berkali-kali pula ia menghadap ke Japan maka kedua puteranyapun sekarang sudah mulai menginjak dewasa sehingga merasa sepantasnya kalau mereka ditawari untuk bertunangan. Tetapi anak yang tertua yaitu Raden Banten menolak dengan alasan ia lebih ingin memperdalam ilmu dan menyepi. Tempat yang sering digunakan untuk berhening diri (nyepi) Raden Banten itu ada disebelah barat kota dibawah sebuah pohon Nangger yang dinamai pangongngangan (menjenguk,ind.) dan dibawah pohon Nangger itu ada goanya.

Sedangkan adik Raden Banten yaitu Raden Wetan ditunangkan dengan puteri Pangeran Nugraha yang bungsu dari Jambaringin yang bernama Ratna Taluki. Sebelum dipertemukan dengan Ratna Taluki Raden Wetan telah beristeri puteri Pangeran Sumenep (Siding Puri). Sedangkan puteri Siding Puri yang tertua diperisteri Pangeran Batuputih dan yang bungsu diperisteri Kyai Rawan yaitu putera Andasmana cucu dari Pangeran Bukabu. Kyai Rawan ini berdukuh di Sendir sekarang menjadi desa wilayah Kecamatan Lenteng Kawedanan Timur Daya. Di desa Sendir ini ada kepala perdikannya yang bertugas untuk merawat makam Kyai Rawan dan keturunannya.

Sekarang diceriterakan lagi bahwa Raden Wetan mempunyai putera laki-laki bernama Raden Kedduk (Keddhu’). Setelah berputera Raden Kedduk, Raden Wetan kawin dengan puteri Pangeran Jambaringin yaitu Ratna Taluki tadi. Beberapa saat setelah perkawinannya Raden Wetan pamit kepada mertuanya yaitu Pangeran Jambaringin (Pamekasan) untuk memboyong isterinya ke Sumenep haturnya : Karena kami sudah lama berada di Jambaringin maka perkenankan kami untuk pulang ke Sumenep. Kami rindu pada ayah dan anak kami disana, sekaligus puteri ramanda akan kami bawa. Pangeran Jambaringin : Kalau demikian kuijinkan kamu pergi. Aku mohon padamu cintailah isterimu Ratna Taluki semoga kalian bahagia sampai akhir nanti.

Seterusnya Pangeran Jambaringin juga memberi nasihat kepada anaknya katanya : Ratna Taluki anakku, hendaknya kamu selalu menajadi orang yang penurut terhadap suamimu. Selain itu sebentar lagi kau akan jauh dariku maka berhati-hatilah. Seandainya suamimu marah jangan sekali-kali kau melawan sebab perempuan yang berani kepada suami tidak akan selamat didunia maupun diakhirat. Jadi ikutilah perintah suamimu asal bukan perintah yang menjurus pada hal-hal yang maksiat.
Sudah banyak contoh tentang perempuan yang tidak penurut terhadap suaminya dan akhirnya menyesal sendiri. Dan lagi aku ingin mengingatkan padamu karena suamimu sekarang sudah mempunyai isteri dan sudah punya anak pula maka hendaknya kau bersabar dan mengalah karena kamu adalah isteri yang muda.

Orang yang suka mengalah pada akhirnya akan terselamatkan dirinya. Jangan engkau suka mengambil fitnah supaya dirimu terjaga. Karena sudah lazim dijaman ini bahwa banyak perempuan yang saling cakar dengan madunya hal itu hendaknya engkau hindari. Ingatlah bahwa engkau keturunan orang baik-baik maka jangan sampai dicela orang. Kalau bisa tingkatkan sifat-sifat kebaikan itu disana selain tatakerama terhadap suami. Kalau ada ucapan jelek jangan sampai terdengar oleh suamimu.

Singkat ceritera Raden Wetan beserta isterinya sekarang sudah berangkat ke Sumenep. Disana lalu ditemuinya ayah dan isteri tuanya yaitu puteri Pangeran Siding Puri yang pada saat itu ikut menyambut kedatangannya. Isteri tua Raden Wetan selanjutnya duduk berdua dengan madunya Ratna Taluki seperti saudara layaknya. Tumenggung Kanduruwan melihat kedua menantunya itu sangat bangga hatinya. Setiap hari kedua isteri Raden Wetan itu tetap akur-akur saja seperti saudara seayah dan seibu. Sungguh nyata bahwa keduanya memang perempuan yang arif dan berbudi luhur.

Setelah beberapa waktu perkawinan Raden Wetan dan Ratna Taluki membuahkan keturunan seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Rajasa. Wajah Raden Rajasa ini konon amat mirip dengan wajah kakaknya yaitu Raden Kedduk. Raden Rajasa kemudian diasuh dan diambil anak oleh pamannya yaitu Raden Banten.

Beberapa waktu kemudian diceriterakan bahwa Tumenggung Kanduruwan sakit cukup lama sedangkan yang menjaga saat sakitnya adalah isteri, menantu, anak serta bala sentananya. Pada saat sakitnya dia sempat menasihati kedua puteranya katanya : Kalau besok atau lusa aku mati maka aku minta pada kalian rukun-rukunlah selalu.

Sebab orang yang selalu berselisih dengan saudara itu tidak baik dan akan menimbulkan musibah besar pada dirinya masing-masing. Orang yang selalu akur akan menjadi pohon kebaikan. Umpamakan sebuah sapulidi. Andainya ia hanya sebatang tak mungkin dirinya mampu membersihkan sampah dan juga akan gampang patah. Dari sebab akur (bersatu) maka serapuh-rapuhnya lidi akan menjadi kuat dan tidak akan ada orang yang bisa mematahkan sebuah sapulidi.