Langsung ke konten utama

Madegan: Gerbang Tua yang Menyimpan Rahasia Kekuasaan Madura

Pasarean Rato Ebhu, Mandegan

 Di balik hiruk-pikuk kehidupan masyarakat pesisir Madura, Sampang menyimpan lapis-lapis sejarah panjang yang tak hanya membangun identitas lokal, tetapi juga menjadi fondasi terbentuknya kekuasaan politik Madura pada masa-masa awal. Sejarah itu kini terkunci di antara tembok-tembok kuno, jejak cerita lisan, hingga relief tua pada gapura paduraksa di kompleks Asta Madegan. Dari situlah penetapan Hari Jadi Sampang ditarik, bersandar pada simbol-simbol yang sengaja diabadikan para leluhur sebagai penanda zaman.

Membaca Candra Sengkala: Kalender yang Menjadi Penanda Kota

Candra Sengkala, sistem penanggalan berbasis simbol khas budaya Jawa, menjadi rujukan utama dalam penetapan usia Sampang. Bukan sekadar angka tahun, namun rangkaian makna yang membentuk sebuah memori kolektif masyarakat. Di situs Ratu Ebu Madegan—sering disebut Rato Ebu Madegan—tersimpan sebuah sangkala memet yang terukir pada gapura paduraksa, pintu masuk menuju makam utama di Kampung Madegan, Kelurahan Polagan.

Relief itu menggambarkan seekor naga yang tertusuk panah sampai ke ekornya. Dalam tafsir Candra Sengkala, simbol tersebut dibaca sebagai “naga kapana titis ing midi”, merepresentasikan angka 1546 Saka, atau tahun 1624 Masehi. Tahun inilah yang diabadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sampang—tahun ketika terjadi tonggak penting dalam perjalanan kekuasaan Madura Barat.

Ratu Ibu Madegan: Perempuan yang Menjadi Poros Dinasti

Sosok sentral dalam narasi Madegan adalah Ratu Ibu, istri utama Raden Koro atau Pangeran Tengah, penguasa Madura Barat yang berkedudukan di Sampang. Gelar “Ratu” merujuk pada statusnya sebagai permaisuri, sementara “Ibu” menunjukkan kedudukannya sebagai ibu suri, yaitu ibu dari putra mahkota.

Putra mahkota itu adalah Raden Prasena, kelak lebih dikenal sebagai Pangeran Adipati Cakraningrat I, penguasa penting dalam sejarah Madura yang sekaligus menjadi figur kunci hubungan politik antara Madura dan Mataram.

Namun kehidupan keluarga istana ini berubah drastis ketika Mataram menyerbu Madura. Banyak bangsawan Madura tewas dalam penaklukan tersebut. Raden Prasena hampir mengalami nasib serupa, tetapi menurut catatan sejarah, Sultan Agung justru tertarik pada kecerdasan dan kecakapan sang anak, dan memilih menjadikannya anak angkat. Bukan hanya itu, ia dinikahkan dengan salah satu saudari Sultan Agung, menjadikan Cakraningrat I bukan hanya keluarga angkat tetapi juga kerabat ipar sang raja Mataram.

Dari pernikahan itu lahirlah Raden Demang Mlayakusuma—dalam salah satu versi sejarah—yang kemudian menjadi ayah dari tokoh terkenal Pangeran Trunojoyo, pemberontak besar abad ke-17 yang mengguncang Mataram.

Setelah Prasena dewasa, ia dikembalikan ke Madura Barat sebagai penguasa Sampang. Namun karena usianya masih muda, kekuasaan diwakilkan kepada seorang wali, yaitu Pangeran Santomerto, adik Ratu Ibu. Momentum penobatan inilah yang kemudian diabadikan dalam sangkalan naga pada gapura paduraksa.

Asta Madegan: Kompleks Makam yang Menjadi Pusat Jejak Sejarah

Asta Madegan bukan hanya makam bagi seorang tokoh penting, namun menjadi tempat yang menyimpan narasi genealogis penguasa Madura Barat. Makam Ratu Ibu sendiri dihiasi ornamen khas bangsawan tinggi, memperlihatkan betapa besar penghormatan bagi perempuan yang memainkan peranan politik begitu penting pada masanya.

Di sekitar area juga berdiri Masjid Madegan, yang diperkirakan lebih tua daripada rumah makam Ratu Ibu. Masjid ini diyakini didirikan oleh Raden Adipati Pramono, penguasa Sampang yang sangat dikenal dalam sejarah Madura. Ia merupakan leluhur penting dalam jaringan genealogis dinasti Cakraningrat dan penguasa lainnya di Madura bagian tengah.

Raden Adipati Pramono: Penguasa Sampang yang Memperluas Pengaruh

Membicarakan sejarah kerajaan-kerajaan di Madura tak mungkin lepas dari nama Adipati Pramono, sosok yang jejaknya tersebar di berbagai catatan genealogis keluarga bangsawan Sumenep, Pamekasan, dan Sampang sendiri. Walaupun tidak ditemukan Candra Sengkala khusus yang mencatat masa kekuasaannya, pengaruh Pramono tercatat jelas dalam berbagai teks kuno.

Pada masa Adipati Pramono, wilayah Sampang dan Pamelingan (nama lama Pamekasan) bersatu di bawah satu payung kekuasaan. Hal ini terjadi karena ia menikahi Ratu Banu, satu-satunya putri Kiai Wonorono, raja Pamelingan. Dari hubungan ini lahir tokoh-tokoh besar seperti Panembahan Ronggosukowati—salah satu raja besar Pamekasan.

Dalam catatan lain, Adipati Pramono juga dikenal dengan nama Pangeran Bonorogo atau Wonorogo, menandakan bahwa ia memiliki lebih dari satu sebutan bergantung pada naskah yang digunakan sebagai acuan.

Ronggosukowati dan Jaringan Kerajaan di Pamelingan

Setelah wafatnya Adipati Pramono, Sampang dan Pamelingan kembali dipisahkan menjadi dua wilayah kekuasaan. Panembahan Ronggosukowati menjadi raja Pamelingan, sementara kekuasaan Sampang diberikan kepada Pangeran Adipati Pamadegan, yang dalam beberapa silsilah dikenal juga sebagai Pangeran Saba Pele.

Pada masa Ronggosukowati, Pamelingan menjadi pusat kekuasaan yang dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan kecil. Ada keraton Blumbungan yang dipimpin Pangeran Nurogo, adiknya sendiri; ada pula keraton Jambringen yang diperintah Pangeran Pradoto, menantu Adipati Pramono.

Dengan demikian, struktur kekuasaan Madura pada masa itu tidak bersifat tunggal. Ia lebih menyerupai jaringan kerajaan-kerajaan keluarga yang saling terhubung melalui perkawinan dan hubungan darah.

Jejak Pangeran Macan Alas dan Peran Keturunan Timur

Kisah genealogis keluarga bangsawan Madura tidak berhenti di Sampang dan Pamelingan. Dari keturunan Pangeran Saba Pele tampillah tokoh Pangeran Macan Alas dari Waru, Pamekasan. Selain dikenal sebagai “pembabat Waru”, ia juga dihormati sebagai seorang ulama besar yang diyakini memiliki kedudukan spiritual tinggi.

Keturunannya, seperti Raden Sutajaya dan Raden Entol Anom, kemudian berperan penting di Sumenep dan Pamekasan. Bahkan beberapa menjadi penguasa sementara (adipati) atau pejabat tinggi kerajaan.

Hal ini menunjukkan bahwa jaringan kekuasaan Madura sangat dinamis, dan pengaruh para bangsawan Sampang menjangkau hingga ke ujung timur pulau.

Kembali ke Sampang: Masa Pangeran Mertosari hingga Cakraningrat I

Setelah era Pangeran Saba Pele alias Adipati Pamadegan, kekuasaan Sampang tidak lagi jatuh pada keturunannya langsung. Yang muncul kemudian adalah Pangeran Mertosari, cucu Adipati Pramono dari jalur Ratu Zuhra dan Pangeran Pradata.

Namun peta kekuasaan berubah lagi ketika pengaruh Arosbaya menguat. Setelah Raden Prasena (Cakraningrat I) dilantik oleh Mataram dan kembali ke Madura, Sampang kemudian masuk ke dalam wilayah kekuasaan Dinasti Cakraningrat yang berpusat di Arosbaya.

Perubahan ini menjadi awal dominasi keluarga Cakraningrat dalam politik Madura selama beberapa abad berikutnya.

 (Pustaka_Madura/Mamira)

© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close