Langsung ke konten utama

Jejak Batu yang Mulai Sunyi: Menelusuri Peralatan Tradisional Madura di Tengah Arus Modernitas


Di berbagai pelosok Nusantara, tradisi daerah tumbuh sebagai benang merah yang menjahit perjalanan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat. Setiap wilayah memelihara warisan turun-temurun yang memuat nilai-nilai luhur, pengetahuan lokal, hingga cara hidup yang membentuk identitas mereka. Namun, ketika dunia bergerak cepat—lebih cepat dari apa yang bisa dikejar oleh ingatan nenek moyang—banyak tradisi mulai bergeser ke tepian. Sebagian tetap bertahan dengan gagah, sebagian meredup perlahan, dan sebagian lainnya hanya tinggal nama.

Madura, sebuah pulau dengan karakter budaya kuat, memiliki banyak tradisi yang unik. Salah satu yang kini mulai jarang diperhatikan adalah keberadaan peralatan tradisional dari batu—alat yang pernah menjadi jantung kehidupan dapur serta pusat aktivitas rumah tangga.

Meski tampak sederhana, peralatan-peralatan itu menyimpan kisah panjang tentang kreativitas manusia dalam menjawab kebutuhan hidup, jauh sebelum teknologi modern hadir. Dalam batu-batu bisu itu, terdapat rekaman tentang ketekunan, nilai-nilai kesahajaan, dan cara masyarakat Madura mengolah alam menjadi sahabat.

Kini, alat-alat tersebut perlahan bergeser menjadi pajangan, barang antik, atau tersimpan diam di sudut rumah tua. Namun maknanya jauh dari sekadar benda purba—mereka adalah saksi bisu peradaban.

Tulisan ini mengajak kita menyelami kembali jejak peralatan tradisional dari batu, bukan hanya untuk bernostalgia, tetapi untuk memahami nilai budaya yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Madura.

Batu sebagai Penjaga Peradaban: Sebuah Kilas Balik

Dalam sejarah panjang umat manusia, batu selalu menjadi sahabat pertama. Dari alat pemotong, pelindung, hingga media pengolahan makanan, batu memainkan peran besar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kebudayaan Madura, batu juga digunakan sebagai bahan utama untuk berbagai peralatan dapur dan alat rumah tangga lainnya.

Kuat, tahan lama, dan mudah ditemukan di alam, batu dipilih bukan hanya karena fungsinya, tetapi juga karena masyarakat memahami bagaimana alam bekerja. Mereka memilih batu dengan tekstur tertentu, mengolahnya dengan cara tertentu, dan mencocokkannya dengan kebutuhan tertentu.

Pilihan itu bukan tanpa perhitungan. Setiap pahatan pada batu, setiap lubang, setiap permukaan bergaris memiliki alasan. Ada prinsip ergonomi tradisional yang diwariskan secara turun-temurun—bahwa alat bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga harus nyaman di tangan, bertahan lama, dan aman.

Dari situlah muncul berbagai alat yang kini menjadi bagian penting dari sejarah budaya Madura.

Pangghilisân: Jejak Paling Tua dalam Dapur Madura


Di banyak desa, panggilisan dulu menjadi alat yang membentuk ritme kehidupan rumah tangga. Alat ini terbuat dari batu hitam atau batu gunung yang kuat, dengan permukaan bergaris-garis seperti sisir kasar. Garis-garis itu bukan ornamen—tetapi gigi-gigi pemecah biji jagung dan kacang.

Setiap rumah yang memiliki lahan jagung hampir dipastikan memiliki panggilisan. Aktivitas menghaluskan jagung bukan sekadar pekerjaan dapur, tetapi bagian dari aktivitas harian yang dilakukan sambil berbincang, sambil mengasuh anak, atau sambil menunggu masakan lain matang.

Di banyak keluarga Madura, tepung jagung hasil panggilisan menjadi bahan baku makanan tradisional seperti jagung gebret, serbuk jagung, dan adonan makanan ringan. Hasil gilingannya memiliki tekstur dan aroma khas yang tidak bisa ditiru oleh mesin modern.

Kini, panggilisan hanya dimiliki oleh beberapa keluarga tua. Fungsinya banyak digantikan blender, grinder, dan mesin penggiling. Namun bagi orang-orang tua yang masih menggunakannya, suara gesekan biji dengan batu tetap menghadirkan rasa nostalgia—semacam panggilan masa lalu ketika hidup berjalan lebih perlahan dan lebih intim.

Lessong Rajâ: Dentang yang Pernah Menjadi Musik Panen

Jika ada alat tradisional yang menjadi simbol kebersamaan, maka lessong raja adalah salah satunya. Dibuat dari batu besar yang dipahat membentuk cekungan lebar, alat ini digunakan untuk menumbuk jagung, padi, singkong kering, hingga biji-bijian lainnya.

Dengan alat tumbuk kayu (gentong), kegiatan menumbuk sering dilakukan oleh dua atau tiga orang secara bergantian. Ritme tumbukan menciptakan dentang yang khas—suara yang dulunya akrab terdengar di banyak kampung.

Suara itu menjadi bagian dari musik panen, membangun suasana gembira setelah hasil bumi terkumpul. Bahkan dalam beberapa tradisi, kegiatan menumbuk dilakukan sambil menyanyikan tembang-tembang sederhana, menjadikan aktivitas berat terasa lebih ringan.

Kini, kegiatan itu hampir hilang. Panen tidak lagi ditandai dengan dentang lessong, tetapi dengan suara mesin pemipil atau penggiling. Orang-orang yang masih menyimpan lessong raja melakukannya lebih sebagai bentuk penghormatan pada warisan keluarga daripada karena kebutuhan.

Namun bagi mereka, lessong raja menyimpan memori tentang kerja keras, kebersamaan, dan masa ketika hidup berjalan harmonis dengan alam.

Lessong Kene’: Aroma Kopi yang Tak Terlupakan


Bagi para pecinta kopi, ada rahasia lama yang sering dilupakan: kopi yang ditumbuk dengan batu memiliki aroma lebih kuat. Lessong kene’, alat penumbuk kopi tradisional Madura, membuktikan hal itu.

Alat ini sepenuhnya dibuat dari batu: wadah kecil dan penumbuknya. Para ibu dulu menumbuk kopi sangrai setiap pagi sebelum menghidangkannya untuk suami atau tamu. Prosesnya sederhana, namun menghasilkan bubuk kopi yang teksturnya lembut, aromanya pekat, dan rasanya khas.

Kini, aroma kopi tumbuk batu semakin langka. Mesin giling menggantikan ritual kopinya. Tetapi di beberapa rumah, para orang tua masih menyimpan lessong kene’ untuk sesekali digunakan ketika ingin mengenang masa lalu.

Lèghân: Jantungnya Pengobatan Tradisional


Salah satu peralatan yang paling sering digunakan dalam dunia pengobatan tradisional Madura adalah legan. Alat ini digunakan untuk menumbuk berbagai bahan herbal: kunyit, daun pacar, rempah jamu bayi (cekko’), dan ramuan tradisional lainnya.

Banyak orang tua percaya bahwa obat yang ditumbuk manual memiliki kekuatan berbeda dibandingkan obat blender. Proses tumbuk dianggap mengeluarkan sari alami secara lebih maksimal. Selain itu, prosesnya mengandung unsur ketelatenan yang menjadi bagian dari filosofi pengobatan tradisional: bahwa merawat tubuh membutuhkan kesabaran.

Kini, legan lebih sering terlihat sebagai barang pajangan daripada alat fungsional. Namun bagi para peracik jamu tradisional yang masih bertahan, legan adalah alat yang tak tergantikan.

Gandhi’ dan Pèpèsan: Jantungnya Jamu Nusantara

Berbeda dari alat batu lainnya, gandik dan pipisan memiliki akar budaya yang merentang dari Madura hingga Jawa. Pipisan adalah papan batu pipih, dan gandik adalah batu penggilas yang digerakkan maju mundur.

Gerakan gandik di atas pipisan menjadi suara yang paling identik dengan jamu tradisional. Para penjual jamu gendong menggunakan alat ini untuk menghaluskan rempah-rempah sebelum direbus menjadi minuman. Proses manual itu menghasilkan jamu yang diyakini lebih “hidup”—lebih segar dan kaya aroma.

Meski jarang digunakan saat ini, gandik dan pipisan menjadi koleksi berharga bagi pecinta budaya dan sejarah kuliner.

Teknologi Modern: Solusi atau Ancaman?

Tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi. Blender, mixer, dan grinder memang lebih praktis, higienis, dan cepat. Namun di balik efisiensi itu, ada pengalaman budaya yang perlahan hilang—ritual, suara, kebersamaan, dan kearifan lokal yang melekat dalam peralatan tradisional.

Kita kehilangan:

  • Suara dentang lessong yang dulu menjadi tanda panen.
  • Aroma jamu yang ditumbuk perlahan di atas pèpèsan.
  • Tekstur kopi tumbuk batu yang tak bisa ditiru mesin.
  • Ritual dapur yang dulu menjadi tempat interaksi sosial keluarga.

Modernitas membawa kenyamanan, tetapi juga membawa keheningan. Suara-suara tradisi hilang digantikan oleh dengung mesin.

Lebih dari Sekadar Alat: Nilai dan Manfaat yang Terabaikan

Peralatan batu bukan hanya alat dapur. Ia menyimpan banyak nilai:

  1. Ramah Lingkungan

Tidak memerlukan listrik, tidak menimbulkan limbah plastik, tidak berbahaya bagi kesehatan.

  1. Ekonomis

Tidak mudah rusak dan dapat digunakan puluhan tahun tanpa biaya perawatan berarti.

  1. Bernilai budaya

Setiap alat adalah representasi dari kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Madura.

  1. Mengandung nilai sejarah

Peralatan ini menjadi bukti perjalanan peradaban manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup.

  1. Mengajarkan ketelatenan

Proses manual mengajarkan kesabaran—nilai yang sering terlupakan dalam dunia serba cepat.

Gerabah: Tanah yang Berbicara

Selain alat batu, Madura juga memiliki kekayaan gerabah. Dari gentong air, kuali tanah liat, hingga periuk untuk memasak sayur. Gerabah bukan hanya alat, melainkan karya seni. Setiap bentuk adalah hasil keterampilan tangan yang terasah oleh waktu.

Kini perajin gerabah semakin sedikit. Persaingan dengan peralatan modern membuat banyak pengrajin kehilangan pasar. Padahal gerabah memiliki keunggulan tersendiri: menjaga rasa masakan, menahan panas lebih lama, dan memberikan karakter unik pada makanan.

Menjaga yang Tersisa: Sebuah Ajakan

Peralatan tradisional mungkin tidak lagi menjadi kebutuhan utama, namun keberadaannya penting untuk dijaga sebagai identitas budaya. Banyak ahli antropologi menyebut bahwa hilangnya peralatan tradisional sama dengan hilangnya satu bab dari sejarah manusia.

Pelestarian bisa dilakukan dengan:

  • Menyimpan alat-alat tradisional sebagai koleksi keluarga.
  • Mengadakan pameran budaya di sekolah atau komunitas.
  • Mendokumentasikan alat-alat tersebut dalam tulisan, foto, dan video.
  • Mendorong pemerintah daerah membuat museum khusus alat tradisional.
  • Melibatkan generasi muda dalam kegiatan pengenalan budaya lokal.

Batu yang Berbicara

Peralatan tradisional dari batu mungkin tidak lagi menjadi alat utama dalam dapur modern, namun ia tetap menjadi saksi perjalanan panjang manusia. Dari batu-batu itu, kita belajar tentang kerja keras, kebersamaan, dan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan alam.

Ketika dunia semakin cepat berubah, peralatan tradisional mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu harus terburu-buru. Ada nilai-nilai sederhana yang patut dipertahankan—nilai yang melekat pada bunyi dentang lessong, aroma kopi tumbuk batu, atau tekstur jamu yang ditumbuk pelan dengan legan.

Batu-batu itu mungkin bisu, tetapi mereka berbicara tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan kita.

 (Pustaka Madura/Mamira)

© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close