Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr
Episode Delapan
Kekenyalan hidup ternyata membawa pengaruh besar terhadap perkembangan watak Marlena. Ia lebih sensitif dan peka dalam mengejawantahkan kenyataan masa lalunya. Kemudian dijadikan acuan menuntun langkah pada masa berikutnya. Untuk itu selama ia masih mampu berfikir dengan akal sehat, Marlena telah siap menundukkan gelombang kehidupan yang maha dahsyat.
Sebagai anak desa yang dilahirkan dalam kondisi alam penuh keberingasan, ia merasa berdosa, sakit, getir, dan dendam bila membiarkan begitu saja tumpah darahnya diinjak-injak oleh jaman. Karena itu, Marlena berjanjanji, selama ia masih punya kesempatan, akan terus berupaya untuk memajukan dan menyempurnakan tatanan yang ada di pulau garam ini.
Lembayung senja mulai membilas langit barat. Marlena tersadar dari lamunannya, ketika Pak Tohamenegurnya.
“Ada kesulitan Marlena?” kata Pak Toha seraya duduk disamping Marlena. Seekor kelelawar berkelebat dalam rimbunan pohon mangga, sehingga beberapa helai daun gugur melayang-layang dan jatuh ke tanah.
“Ada masalah disekolah?,” ulang Pak Toha.
“Tidak ayah,” jawab Marlena singkat.
Pak Tohamencoba mereka-reka apa gerangan yang menjadi beban anak angkatnya. “Aku mengerti, kamu masih dibayang-bayangi oleh kenangan yang sebenarnya telah jauh meninggalkanmu,” katanya kemudian.
“Kenangan itu kadang datang begitu saja. Namun Marlena tak sampai larut di dalamnya,” jawab Marlena sambil mengawasi ayah angkatnya.
Wajah tua itu tampak sabar dan penuh pengertian, pantas menjadi panutan. Tak heran bila semua warga menaruh hormat padanya. Dulu, dikantor pun Pak Toha selalu menjadi tauladan bagi rekan sejawat. Kini setelah pensiun, tetap disegani.
“Tapi kali ini pikiran Lena tidak mengarah kesana, ayah,” sambung Marlena, setelah terdiam beberapa saat.
“Lalu kamu tadi mikir apa? Kok tampak seperti menerawang jauh begitu?” tanya Pak Toha ingin tahu.
“Dalam negara Indonesaia yang adil dan makmur ini, mengapa masih banyak orang-orang miskin dan tak berpendidikan? Di belahan bumi lain, orang-orang sudah bisa rekreasi kebulan, tapi mengapa disekitar kita masih ada orang-orang yang berjalan tanpa alas kaki?” ungkap Marlena dengan nada protes.
“Ha ha ha, itu namanya proses. Sebab permasalahan yang masih menjadi ganjalan di sebagian masyarakat kita, sebenarnya terletak ditangan generasimu. Maksud ayah, kesenjangan sosial yang ada ini masih akan terus terjadi, selama proses demokratisasi itu masih berlangsung,” ujar Pak Tohasambil tersenyum. Dalam hatinya mengembang rasa bangga pada anak Bruddin ini. Biarpun dilahirkan dalam kondisi terbelakang, tetapi Marlena mempunyai wawasan yang cukup luas.
“Tapi proses ini berjalan begitu lamban,” sahut Marlena.
“Disini, di Madura, nak. Menuntaskan permasalahan di pulau ini tak semudah membalikan telapak tangan. Memang kita akui, disini kerap timbul permasalahan-permasalahan baru, yang sebenarnya permasalahan itu diangkat oleh masyarakat itu sendiri.”
“Maksud ayah?” Marlena mulai tertarik.
“Begini, dengan menyusupnya arus modernisasi, yang ditimbulkan gejolak jaman didunia luar, ternyata membawa pengaruh terhadp tata kehidupan masyarakat kita. Nah, yang menjadi masalah sekarang, arus tersebut tidak mungkin kita tolak begitu saja. Sebab didalamnya terdapat hal-hal yang patut kita jadikan acuan dalam rangka melengkapi wawasan kita yang semakin dituntut oleh keberadaan jaman,” jelas Pak Toha.
“Apakah itu tidak membahayakan etiket kebudayaan kita, yah?” tanya Marlena.
“Tergantung,” jawab Pak Toha singkat.
“Arus dari luar sangat kuat, karena itu, kita harus membekali diri dengan iman yang kuat, agar kita tidak gampang terbawa arus. Tak semua budaya asing cocok dengan kita. Karena itu setiap budaya yang datang, perlu disaring terlebih dahulu. Disaring pakai apa? Tentu saja dengan wawasan. Pengetahuan dan agama kita. Kamu mengerti maksud ayah?” Pak Toha balik bertanya.
Marlena hanyamengangguk-angguk saja, pertanda setuju dengan ucapan ayah angkatnya. Sementara bedug mahgrip mulai bertalu-talu diiringi gema adzan magrib yang memanggil segenap umat Islam untuk segera melaksanakan kewajibannya.
Ayah dan anak itu kemudian bangkit menuju musholla untuk menunaikan sholat maghrib. Sudah menjadi kebiasaan bagi anggota keluarga ini, dari pembantu, majikan, tukang kebun serta sopir, melakukan sholat berjamaah. Keluarga Toha tidak pernah membedakan kaya dan miskin. Karena mereka sadar, harta hanya titipan, yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh yang Maha Kuasa.
Namun demikian bukan berarti keluarga harmonis ini tidak ada kerikil-kerikil yang membentang. Kerikil itu selalu ada, bahkan kerikil itu bagai duri dalam daging. Setiap keributan, tentu ada penyebabnya. Yang menjadi ganjalan munculnya keributan kerap lahir dari sikap Joko yang merupakan adik kandung Bu Rasmi.
Seperti yang terjadi di pagi tadi, Joko datang ke rumah Pak Toha dengan menggenggam amarah yang membara. “Aku ingin ketemu mbak !,” serunya kemudian.
Nu Rasmi, istri Pak Toha segera muncul di ruang tamu depan. “Ada apa Joko!”
“Aku datang kesini hanya mengharap pengertian mbak Rasmi,” demikian awal ungkapan Joko.
“Maksudmu apa dik ,?” sahutnya.
“Begini mbak,” katanya. Matanya mengarah tajam kearah kakak kandungnya. “Setelah aku teliti, ternyata warisan yang kami terima dari orang tua kita tidak sepadan dengan yang diterima mbak Rasmi. Kakak mendapat warisan terbanyak dari yang lain,” lanjutnya.
“Joko, kamu ini jangan mengada-ada. Warisan yang telah kita terima, sudah menjadi ketetapan orang tua kita. Apa yang sebenarnya kamu inginkan, kok tega-teganya kamu merongrong ketetapan itu?” tanya Bu Rasmi tersinggung.
“Aku tidak merongrong, cuma minta pengertian,” tandas Joko.
“Minta pengertian? Sudah berapa kali kukatakan padamu, jika kamu menuntut bagian warisan yang sudah menjadi ketetapan, apapun alasannya, aku tetap tidak bergeming. Tetapi bila kamu menghendaki bantuan sekedarnya, aku tidak keberatan,” kata kakak perempuannya.
Memang, bila Joko mau bersyukur, keluarga Toha sebenarnya sudah sering membantu berbagai kebutuhannya. Tapi sayang, mata hati Joko sudah tertutup untuk itu semua. Bahkan dia tega menuduh kakaknya menerima warisan paling banyak.
Keterpurukan Joko ini sebenarnya tidak akan begitu parah, seandainya saja dia tidak terjebak dalam pola kehidapan yang salah. Ia terjerumus ke lembah hitam. Perempuan nakal, perjudian dan minuman keras telah akrab dalam kehidupannya. Belakangan tersiar berita bahwa Joko berkomplot dengan sindikat peredaran obat terlarang. Kini semua harta peninggalan orang tuanya telah ludes termakan nafsu iblis yang mengeram dalam dada Joko.
“Benar dik Joko, ketetapan warisan itu sudah merupakan ketetapan hukum, jadi tidak bisa diutik-atik,” Pak Toha mencoba menengahi.
“Ah, persetan dengan hukum. Hukum itu hanyalah catatan. Banyak pejabat kita yang mengerti hukum, toh mereka dengan enak melanggarnya. Korupsi, manipulasi dan sebangsanya itu apa bukan pelanggaran hukum? Siapa yang peduli dengan tingkah mereka?” hujat Joko dengan mata memerah menahan emosi.
“Itu tidak benar dik..!” kalaupun ada sedikit penyimpangan, itu hanyalah ulah oknum-onum tertentu. Dan itupun sudah diproses sesuai hukum yang berlaku,” timpal Pak Toha.
“Omong kosong! Nyatanya hukum itu hanya berlaku bagi orang kecil. Maling ayam dihukum penjara, tetapi pelaku kejahatan kelas kakap, seperti yang terjadi selama ini dibiarkan lolos begitu saja. Aku tidak peduli dengan hukum,” amarah Joko sudah meledak, sehingga omongannya kurang terkontrol.
Pak Toha sudah hapal dengan karakter adik iparnya itu, maka dari itu dia tidak meladeni ocean adik iparnya yang semakin panas. Karena berdebat dengan Joko hanya akan membuang-buang waktu saja. Setiap kata yang dikeluarkan Pak Toha selalu dibantah oleh Joko. Bahkan persoalan yang sedang dibicarakan semakin mengembang dan tak terarah, karena itu Pak Toha membiarkan adik iparnya terus menceracau, tanpa menanggapi secara serius.
“Terserah mbak rasmi dan Kak Toha. Tapi ingat, jangan salahkan aku bila suatu ketika nanti kakak menyesal,” ancam Joko serayal pergi meninggalkan ruang tamu. Ancaman itu membuat kecut hati sekeluarga, karena siapa pun tahu Joko, dia tak segan-segan untuk melakukan kekerasan demi kepentingan pribadinya.
Dengan wajah dendam, Joko melangkahkan kaki keluar menuju pintu pagar, tapi belum selangkah dia keluar pintu, sudah dihadang oleh dua orang petugas polisi. Joko sadar, bahwa petugas itu akan menangkap dirinya. Secepat kilat dia membalikan tubuh untuk menghindar. Tetapi gerakl polisi lebih cepat, dan Joko berhasil diringkus tanpa perlawanan yang berarti.
Sementara Bu Rasmi yang melihat peristiwa, tergopoh-gopoh menghampiri petugas yang mengarahkan moncong senjata tubuh adiknya.
“Maaf, bu, orang ini target kami, ia terlibat tindakan pidana kekerasan,” belum sempat Bu Rasmi bertanya, seorang petugas telah memberi penjelasan.
“Akibat perbuatannya sendiri,” gumam Pak Toha, sambil membimbing Bu Rasmi memasuki rumah.
Bagaimanapun juga Bu Rasmi sangat sayang kepada adiknya, karena itu, peristiwa penangkapan Joko merupakan pukulan hebat bagi hidupnya. Sejak itu Bu Rasmi banyak menghabiskan waktunya untuk termenung dan memikirkan adiknya. Akibatnya fisik Bu Rasmi menjadi lemah dan sering sakit. Pak Toha sebagai suami dengan sabar memompakan semangat pada istrinya, serta tak lupa memohon kekuatan pada yang Maha Kuasa.
Setelah pensiun, Pak Toha memang meyibukkan diri dengan mengelola panti asuhan yang didirikan sebelum pensiun dulu. Gagasan mendirikan panti asuhan itu timbul, sejak keluarga tersebut menerima Marlena sebagai anggota keluarga. Kebetulan rumah warisan Bu Rasmi dapat dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan bagi anak-anak yatim piyatu yang diberi nama “Tunas Harapan” itu.
Sementara Fajar telah berhasil meraih gelar insinyur dari Falkultas Pertanian Universitas di Surabaya. Kini dia ditugaskan didaerah transmigrasi diluar pulau Jawa bersama istrinya. Sebenarnya Bu Rasmi keberatan atas keberangkatan Fajar. Tetapi tekad untuk mengabdi pada masyarakat demikian kuat, akhirnya Fajar berhasil meyakinkan hati ibunya untuk mengabdikan diri kepulau seberang.
Keberhasilan Fajar diikuti oleh Fatimah yang kini sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum, di sebuah perguruan tinggi di Pamekasan, Fatimah segera ingin menikah dengan pujaan hatinya.
Sedang Marlena kini tumbuh sebagi gadis yang cantik lincah dan cerdas. Masa-masa SMA ini dimanfaatkan sebai-baiknya oleh Marlena. Berbagai kegiatan diikuti, dari olah raga, pramuka, dan yang paling disukai adalah aktif dalam kegiatan sanggar kesenian. Nampaknya bakat yang dulu terpendam, kini nampak semakin menonjol. Setiap dia tampil di panggung seni, Marlena terasa makin hidup.
Marlena bersyukur hidup dalam keluarga Toha. Dia tidak pernah menyangka akan dapat merasakan kehidupan yang demikian menyenangkan. (*)

