Header Ads

21. Pangeran Siding Wafat Saat Sujud


Dan Keputusan dari-Nya itu takkan bergeser sedikitpun. Hidup, mati, untung dan celaka sudah tertulis di Luhmahfud. Adanya kita ini hanya melaksanakan hidup beserta kewajibannya. Tahukah kamu bahwa manusia ini sebenarnya tak punya pilihan dan kekuatan sendiri. Semua tingkah laku hanya karena kuasa-Nya juga. Tetapi manusia itu memang wajib berikhtiar mencari rejeki, untuk kesenangan dan keselamatannya dunia akhirat. Karena itu camkanlah nasihatku ini.

Kalau engkau terus-menerus dalam keadaan susah begini hanya akan membuat penyakit bagi dirimu. Lebih baik marilah pulang saja ke Jambaringin. Atau kalau engkau berkenan segeralah cari gadis lain. Siapa tahu dia akan dapat menghapus rasa dukamu itu.

Pangeran Siding Langgar : Ayah, nasihatmu seujung rambutpun tak ada yang salah. Semua nasihat ayah akan nanda ikat selalu didalam hati. Maafkan nanda karena sampai saat ini nanda belum ada hasrat untuk pulang apalagi untuk beristeri lagi. Nanda sudah kerasan tinggal disini. Hidup sampai mati rasanya tak ingin nanda berpisah dengan almarhumah karena nanda yakin takkan ada wanita yang bisa menduduki hati nanda kecuali dinda, puteri ayahanda.

Selanjutnya diceriterakan bahwa pada suatu hari Pangeran Siding Langgar sedang shalat disuatu langgar bersama banyak orang. Dia sendiri bertindak sebagai imam. Pada saat sujud yang diikuti pula makmumnya tapi selanjutnya ia tak bangun dari sujudnya. Karena sudah sekian lama tak bangun-bangun maka para makmum tadi melanjutkan shalatnya sendiri-sendiri. Setelah para makmum selesai tak seorangpun diantara mereka yang berani mendekat. Masih ditunggunya sang imam yang masih dalam posisi sujud itu.

Kecurigaan para makmumnya kemudian mulai nampak dan akhirnya secara bersama-sama sang imam yang masih tetap dalam posisi sujud itu dibangynkannya. Betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa sang imam yang sedang sujud berlama-lama itu ternyata telah meninggal dunia. Oleh karena itu kemudian ia dikenal dengan sebutan Pangeran Siding Langgar karena dia meninggal di Langgar.

Setelah itu beberapa orang menghadap Sunan Paddusan untuk memberitahu sedang sebagiannya lagi memberi kabar kepada Pangeran Nugraha. Setelah keduanya tiba ditempat kejadian maka dirembuklah sekarang tentang pelaksanaan penguburannya. Setelah rembukan keduanya membuahkan kata sepakat maka jenazah Pangeran Siding Langgar dibawa ke Pamekasan dan dikuburkan di Jambaringin.

Putera Pangeran Siding Langgar yang sekarang sudah piatu selanjutnya diasuh Sunan Paddusan. Daerah Paddusan ini berada diarah timur laut Kota Sumenep sekarang yang jaraknya kira-kira satu kilometer. Paddusan sekarang menjadi sebuah kampung yang bagian sebelah baratnya termasuk desa Pamolokan sedangkan bagian timurnya masuk wilayah desa Bangkal. Tempat tersebut dinamai Paddusan (pemandian,ind.) karena disekitar tempat itu mengalir sebuah kali. Yang pada waktu dulu digunakan sebagai tempat mandi Raja. Kali tersebut dipilih sebagai tempat pemandian Raja karena hulu kali itu berasal dari sumber-sumber mata air yang asalnya dari bukit-bukit dan ditebing. Dan dikali tersebut juga banyak terdapat akar-akar pohon besar.

Menurut orang Sumenep kuno air seperti itu banyak mengadung zat untuk kesehatan badan. Dikali Paddusan ini sekarang talah dibangun Dam Irigasi yang airnya dialirkan ke sawah-sawah sekitarnya. Pembangunannya dilakukan pada tahun 1912 Masehi.
Diberdayakan oleh Blogger.
close