22. Gajahmada dan Tumenggung Kanduruwan ke Japan
Kembali ke Kerajaan Majapahit, disana diceriterakan bahwa Raja Majapahit Brawijaya mempunyai seorang selir dari bangsa Cina. Puteri tersebut diwaktu sedang mengandung diserahkan oleh Brawijaya kepada puteranya yang ada di Palembang yang bernama Aria Damar untuk dijadikan selirnya. Tak lama kemudian puteri dari Cina itu melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Raden Pata. Sesudah kelahirannya itu sang puteri Cina dikawin oleh Aria Damar. Dan dari hasil perkawinannya lahir pula seorang anak laki-laki bernama Raden Kusin (Raden Aria Tandaterung). Setelah Raden Pata dewasa ia diambil menantu oleh seorang alim ulama di Ampel dan dikawinkan dengan puteri Sunan Paddusan.
Pada suatu hari alim ulama itu mengatakan kepada Raden Pata katanya : Hendaknya engkau sekarang membuka sebuah pedukuhan di desa Bintara dan bawa juga isterimu kesana. Nanti pada suatu waktu kamu akan menemukan kedigjayaan besar disana. Singkat ceritera Raden Pata lalu pamit dan berangkat ke Bintara yang saat itu masih berupa hutan. Hutan tersebut kemudian dibabatnya (dibuka,ind.) dan dibuatnya tegalan, persawahan dan perkebunan sampai daerah itu menjadi suatu daerah pemukiman baru yang akhirnya banyak pula orang datang dari daerah lain dan menghuninya pula. Setelah beberapa tahun ia tinggal di Bintara tak lama kemudian ia dikaruniai seorang putera dan diberi nama Raden Kanduruwan.
Dilain pihak dituturkan bahwa Brawijaya sang Raja Majapahit berada dipendapa sedang dihadap para menteri. Selanjutnya ia bertanya kepada Raden Tandaterung : Siapakah yang sekarang membuka pedukuhan di Bintara ? Raden Tandaterung : Ia adalah saudara hamba hanya lain ibu tapi satu ayah. Selanjutnya Raja Majapahit menugaskan Raden Tandaterung untuk memanggil Raden Pata menghadap. Raden Tandaterung selanjutnya berangkat ke Bintara dan sesampainya disana dijumpainya Raden Pata sedang duduk-duduk bersama isteri dan puteranya.
Raden Tandaterung selanjutnya meminta Raden Pata menghadap Raja Majapahit di istana karena sang Raja sangat ingin tahu padanya. Dua bersaudara itu selanjutnya berangkat ke Majapahit dan sesampainya disana langsung menghadap Raja. Raden Tandaterung bertutur kepada Raja : Inilah saudara hamba yang membuka pedukuhan di Bintara. Setelah Raja melihat raut muka Raden Pata dia tercengang dan selanjutnya diambillah sebingkai kaca. Dibandingkannya raut wajahnya dengan rupa Raden Pata yang mirip itu.
Sebab itu lalu ia berkata kepada Raden Pata sambil tersenyum : Pata, siapa yang duduk dibelakangmu itu ? Raden Pata : Dia adalah anak hamba yang bernama Kanduruwan. Raja : Ooo, jadi anakku sekarang sudah mempunyai anak pula yang besarnya sudah sebegitu. Kalau engkau perkenankan maka anakmu Kaduruwan biarkan tinggal disini. Nanti akan aku tugaskan ke Japan untuk menemani kakak perempuanmu Dewi Maskumambang yang sekarang telah kuangkat menjadi Ratu disana.
Karena kakakmu perempuan maka kukira memang sepantasnya kalau keponakannya ikut menjaga dan membantunya. Raden Pata sangat berterimakasih atas kebaikan Brawijaya dan ia tak merasa keberatan jika Kanduruwan tetap tinggal di Majapahit. Raja berkata lagi : Anakku Pata, aku sekarang mengijinkan kamu menjadikan Bintara sebagai suatu negara dan engkau yang memangkunya. Aku akan masukkan beberapa desa disekitarnya untuk menjadi wilayah dibawah pemerintahan Bintara. Selanjutnya aku memberi ijin padamu untuk mengangkat para punggawa seperti Patih, Tumenggung, Jaksa dan Menteri. Sekarang aku akan memberimu dan Bintara bala tentara sebanyak seribu orang dan engkau kuangkat sebagai Bupati Bintara dengan gelar Pangeran Palembang.
Setelah itu Raden Pata lalu mohon pamit pulang dan sesampainya di Bintara ia melaksanakan apa yang diperintahkan Raja Majapahit. Beberapa tahun kemudian jadilah Bintara suatu negara yang aman sejahtera, ramai dan makmur keadaannya.
Di Negara Majapahit pada suatu hari Raja memanggil Gajahmada. Setelah ia menghadap maka Raja memerintahkan agar Gajahmada mengantarkan cucunya Kanduruwan ke Japan dan diangkatnya dia sebagai Patih disana. Raja : Mada, sekarang engkau aku perintahkan untuk mengantar cucuku Kanduruwan ke Japan dan dia kuangkat sebagai Patih disana dengan gelar Tumenggung Kanduruwan. Selanjutnya katakan pada Ratu Japan bahwa dia adalah keponakannya anaknya Pata.
Setelah itu berangkatlah Gajahmada dan Tumenggung Kanduruwan ke Japan. Sesampainya di Japan keduanya melihat Ratu Japan sedang berada di paseban sedang dihadap para punggawanya. Tumenggung Kanduruwan melihat para menteri yang menghadap kelihatannya mereka bermuka kecut dihadapan Ratunya. Karena itu ia bertanya kepada Gajahmada. Patih Gajahmada mengatakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini terutama yang menyangkut tabiat Ratu Japan.
Gajahmada : Para punggawa yang menghadap itu nampak kecut wajahnya lantaran sudah merupakan suatu tabiat Ratu Japan bahwa kalau ada diantara para Tumenggung yang tampan rupa maka diajaknya ia tidur bersama. Tetapi setelah selesai melampiaskan nafsu birahinya lalu Tumenggung tadi akan dibunuhnya. Sedangkan kuburnya digunakan pekarangan keraton sehingga rakyat banyak tidak ada yang tahu.
Namun karena Tumenggung Kanduruan ini pandai mengambil hati dan tahu cara menasihati Ratu maka sejak adanya dia sebagai Patih Japan kebiasaan jelek Maskumambang sedikit demi sedikit menjadi hilang.
Beberapa tahun kemudian Tumenggung Kanduruwan kawin dengan puteri Tandaterung dan dari perkawinannya lahir dua orang putera. Yang sulung bernama Raden Banten dan yang seorang lagi bernama Raden Wetan. Selanjutnya sekarang diceriterakan bahwa setelah meninggalnya Patih negara Sumenep yaitu Aria Banyak Modang pangkat kepatihannya digantikan kepada puteranya yang bernama Tumenggung Tankondur.
Selain itu beberapa waktu kemudian Raja Sumenep yaitu Aria Wigananda juga sakit keras. Dan diwaktu sakitnya itu Wigananda sempat memanggil menantunya yaitu adik Tumenggung Tankondur dan berkata : Engkau sesaudara hendaknya berbaik-baiklah jangan memancing permusuhan dan hendaknya engkau menurut terhadap apa nasihat kakakmu.
Setelah menyampaikan nasihatnya ia juga memanggil Tumenggung Tankondur dan berkata : Aku akan titip adikmu supaya kamu lapang dada untuk memberi wejangan dan nasihat. Engkau jangan tanggung-tanggung untuk melaksanakan wasiatku ini karena engkau adalah yang tertua yang kedudukannya sebagai penggantiku kalau aku sudah tiada. Jika nanti sudah sampai waktuku untuk meninggalkan dunia ini maka bawalah adikmu menghadap Ratu Japan dan mintakan kepadanya supaya dia dapat menggantikanku menjabat sebagai Raja disini. Setelah berwasiat demikian Aria Wigananda lalu meninggal dan jenazahnya dimakamkan di Paddusan.
Pada suatu hari alim ulama itu mengatakan kepada Raden Pata katanya : Hendaknya engkau sekarang membuka sebuah pedukuhan di desa Bintara dan bawa juga isterimu kesana. Nanti pada suatu waktu kamu akan menemukan kedigjayaan besar disana. Singkat ceritera Raden Pata lalu pamit dan berangkat ke Bintara yang saat itu masih berupa hutan. Hutan tersebut kemudian dibabatnya (dibuka,ind.) dan dibuatnya tegalan, persawahan dan perkebunan sampai daerah itu menjadi suatu daerah pemukiman baru yang akhirnya banyak pula orang datang dari daerah lain dan menghuninya pula. Setelah beberapa tahun ia tinggal di Bintara tak lama kemudian ia dikaruniai seorang putera dan diberi nama Raden Kanduruwan.
Dilain pihak dituturkan bahwa Brawijaya sang Raja Majapahit berada dipendapa sedang dihadap para menteri. Selanjutnya ia bertanya kepada Raden Tandaterung : Siapakah yang sekarang membuka pedukuhan di Bintara ? Raden Tandaterung : Ia adalah saudara hamba hanya lain ibu tapi satu ayah. Selanjutnya Raja Majapahit menugaskan Raden Tandaterung untuk memanggil Raden Pata menghadap. Raden Tandaterung selanjutnya berangkat ke Bintara dan sesampainya disana dijumpainya Raden Pata sedang duduk-duduk bersama isteri dan puteranya.
Raden Tandaterung selanjutnya meminta Raden Pata menghadap Raja Majapahit di istana karena sang Raja sangat ingin tahu padanya. Dua bersaudara itu selanjutnya berangkat ke Majapahit dan sesampainya disana langsung menghadap Raja. Raden Tandaterung bertutur kepada Raja : Inilah saudara hamba yang membuka pedukuhan di Bintara. Setelah Raja melihat raut muka Raden Pata dia tercengang dan selanjutnya diambillah sebingkai kaca. Dibandingkannya raut wajahnya dengan rupa Raden Pata yang mirip itu.
Sebab itu lalu ia berkata kepada Raden Pata sambil tersenyum : Pata, siapa yang duduk dibelakangmu itu ? Raden Pata : Dia adalah anak hamba yang bernama Kanduruwan. Raja : Ooo, jadi anakku sekarang sudah mempunyai anak pula yang besarnya sudah sebegitu. Kalau engkau perkenankan maka anakmu Kaduruwan biarkan tinggal disini. Nanti akan aku tugaskan ke Japan untuk menemani kakak perempuanmu Dewi Maskumambang yang sekarang telah kuangkat menjadi Ratu disana.
Karena kakakmu perempuan maka kukira memang sepantasnya kalau keponakannya ikut menjaga dan membantunya. Raden Pata sangat berterimakasih atas kebaikan Brawijaya dan ia tak merasa keberatan jika Kanduruwan tetap tinggal di Majapahit. Raja berkata lagi : Anakku Pata, aku sekarang mengijinkan kamu menjadikan Bintara sebagai suatu negara dan engkau yang memangkunya. Aku akan masukkan beberapa desa disekitarnya untuk menjadi wilayah dibawah pemerintahan Bintara. Selanjutnya aku memberi ijin padamu untuk mengangkat para punggawa seperti Patih, Tumenggung, Jaksa dan Menteri. Sekarang aku akan memberimu dan Bintara bala tentara sebanyak seribu orang dan engkau kuangkat sebagai Bupati Bintara dengan gelar Pangeran Palembang.
Setelah itu Raden Pata lalu mohon pamit pulang dan sesampainya di Bintara ia melaksanakan apa yang diperintahkan Raja Majapahit. Beberapa tahun kemudian jadilah Bintara suatu negara yang aman sejahtera, ramai dan makmur keadaannya.
Di Negara Majapahit pada suatu hari Raja memanggil Gajahmada. Setelah ia menghadap maka Raja memerintahkan agar Gajahmada mengantarkan cucunya Kanduruwan ke Japan dan diangkatnya dia sebagai Patih disana. Raja : Mada, sekarang engkau aku perintahkan untuk mengantar cucuku Kanduruwan ke Japan dan dia kuangkat sebagai Patih disana dengan gelar Tumenggung Kanduruwan. Selanjutnya katakan pada Ratu Japan bahwa dia adalah keponakannya anaknya Pata.
Setelah itu berangkatlah Gajahmada dan Tumenggung Kanduruwan ke Japan. Sesampainya di Japan keduanya melihat Ratu Japan sedang berada di paseban sedang dihadap para punggawanya. Tumenggung Kanduruwan melihat para menteri yang menghadap kelihatannya mereka bermuka kecut dihadapan Ratunya. Karena itu ia bertanya kepada Gajahmada. Patih Gajahmada mengatakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini terutama yang menyangkut tabiat Ratu Japan.
Gajahmada : Para punggawa yang menghadap itu nampak kecut wajahnya lantaran sudah merupakan suatu tabiat Ratu Japan bahwa kalau ada diantara para Tumenggung yang tampan rupa maka diajaknya ia tidur bersama. Tetapi setelah selesai melampiaskan nafsu birahinya lalu Tumenggung tadi akan dibunuhnya. Sedangkan kuburnya digunakan pekarangan keraton sehingga rakyat banyak tidak ada yang tahu.
Namun karena Tumenggung Kanduruan ini pandai mengambil hati dan tahu cara menasihati Ratu maka sejak adanya dia sebagai Patih Japan kebiasaan jelek Maskumambang sedikit demi sedikit menjadi hilang.
Beberapa tahun kemudian Tumenggung Kanduruwan kawin dengan puteri Tandaterung dan dari perkawinannya lahir dua orang putera. Yang sulung bernama Raden Banten dan yang seorang lagi bernama Raden Wetan. Selanjutnya sekarang diceriterakan bahwa setelah meninggalnya Patih negara Sumenep yaitu Aria Banyak Modang pangkat kepatihannya digantikan kepada puteranya yang bernama Tumenggung Tankondur.
Selain itu beberapa waktu kemudian Raja Sumenep yaitu Aria Wigananda juga sakit keras. Dan diwaktu sakitnya itu Wigananda sempat memanggil menantunya yaitu adik Tumenggung Tankondur dan berkata : Engkau sesaudara hendaknya berbaik-baiklah jangan memancing permusuhan dan hendaknya engkau menurut terhadap apa nasihat kakakmu.
Setelah menyampaikan nasihatnya ia juga memanggil Tumenggung Tankondur dan berkata : Aku akan titip adikmu supaya kamu lapang dada untuk memberi wejangan dan nasihat. Engkau jangan tanggung-tanggung untuk melaksanakan wasiatku ini karena engkau adalah yang tertua yang kedudukannya sebagai penggantiku kalau aku sudah tiada. Jika nanti sudah sampai waktuku untuk meninggalkan dunia ini maka bawalah adikmu menghadap Ratu Japan dan mintakan kepadanya supaya dia dapat menggantikanku menjabat sebagai Raja disini. Setelah berwasiat demikian Aria Wigananda lalu meninggal dan jenazahnya dimakamkan di Paddusan.
Post a Comment