Header Ads

23 Pangeran Saccadiningrat III Mengumpulkan Pembesar Keraton dan Rakyatnya



Beberapa hari kemudian tepatnya tujuh hari setelah kematian Aria Wigananda Tumenggung Tankondur mertua perempuan adiknya serta keluarga adiknya juga berangkat ke Japan untuk menghadap Ratu disana. Sesampainya di Japan lalu beristirahat dibawah pohon beringin yang ada disekitar alun-alun kerajaan tersebut. Beberapa saat kemudian sampailah kabar kedatangannya itu kepada Ratu Japan yang selanjutnya memerintahkan Patih Kanduruwan untuk menjenguknya di luar istana. Ratu Japan : Patih, aku mendengar berita bahwa diluar istana ada suatu keluarga yang mungkin akan menemuiku. Cobalah tengok siapa mereka ?

Tumenggung Kanduruwan selanjutnya menuju alun-alun dan dia tertegun setelah diketahuinya yang datang itu adalah isteri sepupunya sendiri yaitu isteri Aria Wigananda beserta menantu dan cucu-cucunya. Dengan tergesa ia melapor kepada Ratu Japan tentang halnya itu. Ratu Japan selanjutnya maklum dan memerintahkan kepada mereka untuk segera menghadap. Patih Kanduruwan  selanjutnya mempersilakan sepupu dan rombongannya memasuki istana. Disana mereka menceriterakan segala hal yang terjadi di Sumenep termasuk meninggalnya Aria Wigananda.

Ratu Japan : Ada apa gerangan kalian datang kemari ? Rombongan masih belum sempat menceriterakan apa maksudnya karena mereka masih dalam isak tangis kesedihan. Dengan demikian Ratu Japan meminta penjelasan kepada Patih Sumenep Tankondur untuk menceriterakan maksud kedatangan mereka. Patih Tankondur : Sebenarnya saat sekarang Raja Sumenep yakni Aria Wigananda telah wafat. Tetapi sebelum beliau wafat masih sempat berwasiat supaya Pangeran Sumenep (adik Tumenggung Tankondur) dibawa menghadap ke Japan dan dimohonkan kepada paduka agar supaya ia dapat diangkat sebagai pengganti Raja di Sumenep. Setelah Ratu Japan mendengar itu lalu merasa iba hatinya karena selama ini mengingat keberhasilan Aria Wigananda selama memerintah di Sumenep tak pernah berbuat salah untuk negaranya. Ratu Japan juga ikut sedih dengan kepergian Raja Sumenep itu.

Ratu Japan : Patih Kanduruwan,  sekarang cepat kumpulkan para pembesar istana aku akan mengangkat cucuku ini (Pangeran Sumenep) untuk menggantikan ayahnya yakni Aria Wigananda. Setelah semua perintah Ratu Japan dilaksanakan maka berkumpullah para pembesar Kerajaan Japan. Disanalah Ratu Japan mengangkat anak Wigananda sebagai Raja Sumenep dengan gelar Pangeran Saccadiningrat III. Setelah itu Ratu Japan meminta supaya isteri Aria Wigananda tidak bersedih hati katanya : Sekarang janganlah engkau bersedih lagi sebab sudah merupakan ketetapan Yang Kuasa tentang kematian itu. Lebih baik engkau dapatkan kebahagiaan bersama anakmu karena dia sudah kuangkat sebagai Raja di Sumenep sebagai pengganti keponakanku yang telah tiada.

Isteri Aria Wigananda sangat berterimakasih kepada Ratu Japan dan setelah itu ia berpamitan untuk pulang kembali ke Sumenep. Sebelum mereka pulang Ratu Japan sempat berpesan kepada cucunya katanya : Engkau sebagai pejabat Raja di Sumenep hendaknya berhati-hati, jangan dengki, aniaya, dan jangan gampang menerima fitnah. Jangan pula sampai berhutang rasa kepada orang lain. Sedapatnya engkau harus bisa membina seluruh rakyat dan para punggawamu yang berpangkat tinggi atau rendah secara baik dan ikutilah jejak ayahmu almarhum.

Sesampainya di Sumenep Pangeran Saccadiningrat III mengumpulkan semua pembesar keraton dan rakyatnya di alun-alun. Disana ia mengumumkan bahwa dirinya sekarang sudah diangkat sebagai Raja Sumenep menggantikan ayahnya yaitu Aria Wigananda. Dalam kepemimpinannya Sumenep menjadi aman dan tenteram serta makmur sedangkan kota kerajaan Sumenep taklama kemudian ia pindahkan dari Gapura ke Parsanga.

Parsanga ini berada disebelah timur Kota Sumenep sekarang jauhnya kira-kira dua kilometer termasuk wilayah Kecamatan Sumenep Kawedanan Kota. Setelah lama menjabat Raja di Sumenep selain ia sering menghadap ke negara Japan maka tak lama kemudian Ratu Japan merasa tertarik pada cucunya ini untuk dijadikan suaminya. Pada suatu hari Raja Sumenep mengadakan pertemuan dipendapa keraton. Kepada Patihnya Tumenggung Tankondur ia minta supaya para pengiringnya yang akan mengikutinya ke Japan dipersiapkan karena waktu menghadap sudah tinggal tiga hari. Tumenggung Tankondur lalu meneruskan pesan Raja Sumenep itu kepada bawahannya.

Selesai pertemuan Raja Sumenep lalu pulang ke keraton. Setibanya di keraton dan setelah ia melihat ketiga anaknya yang akan ditinggalkan selama beberapa bulan nanti sangat sedihlah hatinya. Ia berlinangan air mata karena anak-anaknya masih kecil. Yang tertua masih berumur enam tahun yang kedua empat tahun dan yang bungsu tiga tahun. Setelah isterinya melihat kejadian yang ganjil itu ia mendekat untuk menanyakan mengapa sebabnya sang suami menangis.

Isterinya : Mengapa kanda menangis ? Pangeran : Aku menangis karena merasa kasihan pada dinda dan anak-anak yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Tiga hari lagi aku akan menghadap Ratu Japan. Isterinya : Mengapa kok baru kali ini melihat kanda menangis bukankah itu sudah merupakan kebiasaan bagi seorang Raja bawahan untuk menghadap Raja atasannya. Dan baru kali ini pula dinda melihat kakanda menangis. Adakah kira-kira suatu hal yang tersembunyi dibalik kepergian kakanda ? Pangeran : Ya dinda, sebab seingatku sejak aku menjabat sebagai Raja disini kalau aku ke Japan seakan-akan Ratu Japan menaruh perhatian padaku secara tak biasa.

Dia selalu memandangku dengan sinar mata yang tidak pada tempatnya. Layaknya kucing mengincar seekor tikus. Aku sering dikirimi makanan ke pondokan dan bedak bahkan para pengiring dan para Menteri dibuatnya kenyang. Dengan begitu maka sangu yang mereka bawa sebagai bekal tak sepeserpun terbelanjakan. Inilah yang selama ini aku resahkan sebab Ratu Japan ini kalau ada Tumenggung atau para Menteri yang tampan lalu diajaknya dia tidur. Kebiasaan ini sudah lama baginya dan setelah selesai melampiaskan  nafsu birahinya lalu sang Ratu akan membunuh laki-laki yang diajaknya tidur itu. Yang dijadikan sebagai kuburan korbannya Ratu Japan menanamnya di halaman keraton.
a
Diberdayakan oleh Blogger.
close