Header Ads

24 Pangeran Sumenep Bersama Rombongan Menuju Japan.


Mendengar ceritera suaminya itu isterinya merasa terharu dan menangis pula. Sambil berpelukan mereka bersedu-sedan sampai terdengar suaranya oleh para emban dan pegawai istana. Setelah sampai waktunya untuk menghadap ke Japan para pengiring sudah bersiap di alun-alun. Pangeran Sumenep lalu pamit pada isterinya dan ketiga anaknya digendongnya satu-satu sambil bercucuran air mata. Melihat adegan itu para emban dan punggawa keraton ikut terharu dan menangis pula. Gegerlah keraton Sumenep dengan isak tangis mengiringi kepergian Rajanya ke Japan.

Tetapi suatu tekad yang tebal dalam hati Pangeran sudah tertanam sejak semula. Meskipun terasa berat meninggalkan wilayahnya tapi ia tetap bertanggungjawab sebagai Raja bawahan untuk berangkat menghadap. Dipakainya baju kebesarannya yang berwarna hitam dengan hiasan lipit emas ditiap sisinya, berdestar hijau dengan hiasan intan diujung-ujungnya. Ia memakai sabuk bermotif bunga dengan sulaman emas, bercelana hijau berlipit emas disamping keris pusakanya terselip dipinggangnya. Rompi yang dipakainya juga bermotifkan kembang bersulam emas.

Sang isteri melihat suaminya memakai busana demikian bertambah gundah hatinya ia menangis terisak-isak. Setelah semua rampung berangkatlah Pangeran Sumenep (Pangeran Saccadiningrat III) bersama Patihnya Tumenggung Tankondur dengan diiring para pengiringnya. Keduanya berpakaian sama dan menunggang kuda sedangkan raut wajah kedua pembesar itu seperti pinang dibelah dua. Perbedaan yang ada padanya hanya pangkat. Yang satu Raja yang satunya lagi Patih. Banyak orang yang katanya bersaudara tetapi banyak memiliki perbedaan.

Setelah perjalanan tujuh hari tujuh malam lamanya maka sampailah rombongan itu ke Japan. Mereka terus menuju tempat pemondokannya. Keesokan harinya Pangeran Sumenep mengganti pakaiannya. Dia sekarang memakai pakaian yang sudah lusuh, memakai rompi batik, bercelana putih, memakai tutup kepala (kolo) tanpa hiasan serta tidak memakai sumping. Tetapi dasar ia berwajah tampan maka tak berartilah perobahan pada busananya. Setelah itu ia berangkat menuju keraton diiringi Patihnya Tumenggung Tankondur. Sesampainya di pendapa ia bertemu dengan Patih Japan Tumenggung Kanduruwan.

Pangeran : Saya datang kesini untuk menyerahkan pajak negeri kepada Ratu sebanyak empat ratus reyal. Kanduruwan : Itu terserah. Apakah sekarang penyerahan itu akan dilakukan ? Pangeran : Ya, tapi saya mohon kesediaan Patih kalau berkenan. Tolonglah saya supaya Patih sendiri yang menyerahkannya kepada Ratu. Saya tidak usah dihadapkan. Kanduruwan : Saya masih akan menyampaikannya kepada Ratu. Tetapi menurut saya alangkah lebih baik kalau Pengeran sendiri menghadap langsung supaya tidak membuang tatakerama. Kalau Pangeran langsung pulang tanpa menjumpai Ratu terlebih dulu, menurut orang banyak itu kurang baik dan kurang pantas dilakukan. Semoga Pangeran maklum dan saya akan menghadap Ratu dulu. Kanduruwan selanjutnya pergi menghadap Ratu sementara keduanya menunggu di pelataran pendapa.

Didalam keraton Ratu Japan sedang dihadap para emban dan Menterinya yang juga sedang berbincang tentang ketampanan Pangeran Sumenep yang baru saja datang itu. Diantaranya ada yang bilang : Sungguh tampan Raja Sumenep itu dan aku rasa dialah mustikanya laki-laki. Jika melirik terenyuh rasa hati dan tumbuh gairahku untuk merengkuhnya. Seandainya aku punya suami seperti dia tentu tak akan kuperkenankan keluar rumah dan akan kucumbui terus dia di peraduan dan semua permintaannya akan aku turuti.

Si cebol bilang : Seandainya aku menjadi seorang perempuan maka aku akan berdandan setiap hari. Kupakai baju yang indah dan aku akan melamarnya. Ratu Japan hanya tersenyum mendengar obrolan para embannya sambil berkata : Kalian ini ada-ada saja yang dijadikan obrolan. Apa tak bosan kalian berceritera yang itu-itu saja ? Pada saat itu Kanduruwan sampai dihadapan Ratu dan mengabarkan tentang kedatangan Pangeran Sumenep yang maksudnya untuk menyerahkan pajak negeri. Ratu Japan tersentak hatinya lalu ia memerintahkan Tumenggung Kanduruwan untuk menghadapkan Pangeran Sumenep. Patih Kanduruwan selanjutnya kembali kependapa dan disampaikannya pesan Ratu supaya Pangeran Sumenep menghadap langsung kepada Ratu. Itu kemauan Ratu Japan.

Karena itu Pangeran Sumenep bersama Patihnya Tumenggung Tankondur menghadap Ratunya. Ratu : Terasa amat gembira hati ini atas kesediaanmu datang kemari. Bagaimana keadaan keluarga serta anak-anakmu disana ? Pangeran : Berkat doa Ratu semuanya dalam keadaan sehat dan kedatangan kami kemari tiada lain kecuali untuk mengantarkan pajak negeri kami. Ratu : Aku tak menginginkan pajak dari negerimu. Yang aku inginkan hanya keadaanmu sekeluarga sejahtera dan tak kurang suatu apa. Aku lebih suka kalau ada bawahanku selalu patuh kepada perintah Ratunya. Sekarang kembalilah ketempat podokanmu.

Pangeran Sumenep tertegun mendengar harapan yang disampaikan Ratunya. Dadanya berdebar dan bungkan seribu bahasa tetapi tak putusnya ia menoleh kepada Patihnya Tankondur untuk segera menyerahkan pajak dimaksud. Setelah didesak terus oleh Pangeran Sumenep akhirnya Ratu Japan menerima pajak negeri itu. Setelah pajak itu diberikan Pangeran Sumenep dan Patihnya pulang kembali ke pondokannya.

Ratu lalu memanggil para emban untuk menghadap dan selanjutnya berkata : Emban, ini seperangkat busana antarkan ke pemondokan Pangeran Sumenep. Katakan kepadanya aku kirim salam. Selanjutnya tiap hari dan malam aku perintahkan supaya kalian memasak nasi berserta lauk dan antarkan juga ke pondokan Pangeran Sumenep. Para emban selanjutnya berangkat memenuhi perintah Ratunya. Diantarkannya busana beserta makanan kepada Pangeran Sumenep di pondokannya. Pengeran Sumenep menerima semua pemberian Ratunya dengan rasa khawatir karena ia tahu bahwa ancaman kematiannya sekarang sudah diambang pintu. Tapi bagi para pengiring Pangeran Sumenep hal itu justeru merupakan keberuntungan besar. Karena setiap hari muncul kiriman lezat dari keraton.

Pada suatu malam Ratu Japan tak bisa tidur karena dirinya selalu ingat pada Pangeran Sumenep. Untuk mencari kesegaran pikirannya ia lalu keluar kehalaman istana dan duduk dibawah rerimbunan semak ditemani pembantunya tiga orang. Semalaman ia tak tidur karena semakin datang gelap mencekam semakin melintas jelas wajah Pangeran Sumenep. Pikirannya seperti orang setengah sadar karena konon saat itu ia melapas busana yang dipakainya. Selanjutnya pakaian itu dimasukkan kedalam suatu wadah yang diberi wewangian disertai cincin empat buah dan ditempatkannya dalam cupu. Cincin itu sangat indah karena dihiasi batu intan dan berlian.

Diberdayakan oleh Blogger.
close