Kompleks Makam Agung Arosbaya Kerajaan Madura Barat secara masa terbagi menjadi tiga. Masa pertama ialah mulai bertahtanya Kiai Dem...

Raja Madura Barat, Hubungannya dengan Kerajaan Jawa

Kompleks Makam Agung Arosbaya
Kerajaan Madura Barat secara masa terbagi menjadi tiga. Masa pertama ialah mulai bertahtanya Kiai Demang Plakaran di keraton Anyar. Masa itu bisa disebut sebagai pra sejarah. Karena tidak bisa dipastikan tarikh atau tahunnya. Hanya diperkirakan di abad 15.

Kiai Demang Plakaran atau Pangeran Demang Plakaran memiliki beberapa anak laki-laki. Di antara yang menonjol ialah Raden Adipati Pramono dan Kiai Pragalba alias Pangeran Arosbaya.

Dari keduanya, bermunculan tokoh-tokoh penguasa yang mengendalikan nusa Madura mulai dari ujung Barat hingga ujung Timur.

Keturunan Raja dan Wali

Kiai Demang Plakaran menurut catatan silsilah kerajaan Madura Barat merupakan keturunan dari Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya. Turun kepada Ario Damar, penguasa Palembang. Lalu turun kepada Ario Menak Senoyo, yang menurut legenda mendarat di Madura dengan mengendarai seekor ikan.

Menak Senoyo lantas bertahta di Proppo, Pamekasan. Beliau ini menurunkan Ario Kedut, Ario Timbul, Ario Pojok, hingga Kiai Demang Plakaran.

Di samping naskah itu, ada naskah lain yang tidak umum. Naskah yang menyatakan jika Kiai Demang Plakaran adalah trah Giri Kedaton. Alias keturunan Sunan Giri I (Sayyid Ainul Yaqin).

Masa Kedua

Setelah mangkatnya Kiai Demang Plakaran, tahta Arosbaya jatuh ke tangan Kiai Pragalba. Beliau dikenal dengan nama Pangeran Arosbaya.

Di masa ini pengaruh Jawa kawi masih begitu kental. Baik bahasa maupun adat istiadat. Pada makam Pragalba, menurut kajian cagar budaya, batu-batunya sejenis dengan batu candi di Jawa.

Masa Pragalba menjadi penanda masuknya pengaruh Islam awal di Madura Barat. Kisah Empu Bageno yang penah diulas Mata Madura, hingga peran Sunan Kudus, salah satu anggota Wali Sanga Jawadwipa, hingga kearifan putra mahkota Pratanu membuat Islam berkembang menjadi agama penguasa.

Pratanu lantas mengendalikan Madura Barat sepeninggal ayahnya, Pragalba. Pratanu naik tahta dengan gelar Panembahan Lemah Duwur. Diabadikan dalam candra sengkala Sirna Pendawa Kertaning Nagari 1450 Saka.

Kala itu di Jawa bersamaan dengan pemerintahan Sultan Demak III, Trenggana. Setelah masa Trenggana, naiklah Sunan Prawata, yang berakhir dengan pemberontakan Aria Penangsang. Sekaligus kemudian beralihnya wahyu keprabon ke tangan Jaka Tingkir alias Adiwijaya, Sultan Pajang pertama. Jaka Tingkir merupakan menantu Trenggana.

Berdasar catatan silsilah Madura Barat, Pratanu alias Lemah Duwur menikah dengan salah satu putri Jaka Tingkir. Dari pernikahan tersebut lahir di antaranya Raden Koro alias Pangeran Tengah, pengganti Lemah Duwur.

Dengan demikian, di samping memiliki keterkaitan leluhur dengan Demak Bintara sekaligus Pajang, sejak periode Pratanu, hubungan perkawinan mendekatkan kedua keluarga besar. Karena baik Madura Barat dan Demak-Pajang merupakan keturunan raja-raja Majapahit.

Masa Ketiga

Saat Pajang berganti ke Mataram, Madura mulai menjadi incaran. Di masa Sultan Agung, sebuah invasi dilancarkan. Seluruh Madura digempur. Mulai Madura Barat hingga Madura Timur. Puncaknya pulau garam berhasil dikuasai.

Beberapa penguasanya gugur. Di Madura Barat ialah Raden Koro. Di Pamekasan, gugur Panembahan Ronggosukowati, dan penggantinya. Sementara di Madura Timur atau Sumenep, gugur Pangeran Lor II dan Pangeran Cakranegara.

Nah, kala itu Madura pun masuk dalam naungan Mataram. Meski sebagai penguasa-penguasanya tetap berasal dari trah sebelumnya.

Masuknya Belanda dengan VOCnya memiliki pengaruh selanjutnya dalam dinamika sistem pemerintahan di Madura. Madura semacam negeri vasal. Karena Mataram sendiri yang diikat dengan perjanjian-perjanjian akibat perang Trunojoyo dan pemberontakan-pemberontakan para pangeran Mataram sendiri.

Sejak abad 17, dimulai dari Raden Prasena alias Pangeran Cakraningrat I, perkawinan politik mulai berjalan. Penguasa-penguasa Madura Barat itu banyak yang memperisteri para putri raja-raja Mataram.

Tradisi selanjutnya memang banyak terjadi perkawinan silang. Sehingga Madura-Mataram, yang selanjutnya Mataram terbagi dalam banyak bagian, menjadi keluarga besar.

Sebut saja Pangeran Cakraningrat IV yang menikah dengan putri Paku Buwono I Kartasura. Begitu juga putranya, Panembahan Sido Mukti yang menikah dengan Ratu Maduretno, putri Sunan Amangkurat IV Kartasura. Dari perkawinan itu lahir Sultan Bangkalan I. Leluhur pembesar-pembesar Madura di masa mendatang.

(RM Farhan/matamadura.com)