Sesudah berpakaian Pangeran Sumenep pamit kepada isterinya katanya : Isteriku relakan aku pergi. Jangan dinda terlalu banyak berharap tap...

28. Pesan Pangeran Sumenep Kepada Bala Tentaranya


Sesudah berpakaian Pangeran Sumenep pamit kepada isterinya katanya : Isteriku relakan aku pergi. Jangan dinda terlalu banyak berharap tapi selalu ingat sajalah kepada taqdir Allah. Kepergianku sebenarnya adalah kepergian untuk mati. Maka dari itu aku titip anak-anak kita padamu selaku ibu. Perlakukan mereka dengan sepenuh kasih sayang. Aku telah membekali mereka dengan uang emas sebanyak tiga peti sekaligus isi keraton ini sebagai bekal kemudian hari bagi mereka bertiga.

Setelah berkata demikian lalu dipeluknya isteri yang dicintainya itu disamping ketiga puteranya ia gendong dan diciuminya secara bergantian. Sang isteri sambil tersedu menangis memohon dan memaksa suaminya agar dirinya diperkenankan ikut berperang katanya : Kanda perkenankan dinda ikut berperang. Meskipun dinda seorang perempuan jangan kanda khawatir karena dinda juga berdarah prajurit. Ijinkan dinda menjadi perisai dada kanda dipeperangan ini.

Para abdi keraton melihat kaduanya merasa tak tega merekapun ikut menangis karena kasihan pada Raja yang selama ini memang tak pernah menyakiti. Pangeran Sumenep lalu membuka cincin yang dipakai dan diserahkannya pada isterinya sambil berkata : Dinda janganlah engkau bimbang. Bukan aku bermaksud menghalangimu untuk ikut berjuang. Biarlah kanda saja yang melawan musuh ; hanya saja doakan kepada Yang Esa supaya aku dan Ki Patih mendapat keselamatan dan kemenangan sehingga kita dapat bertemu lagi.

Ini cincinku pakailah sebagai tanda kenangan jika engkau sedang mengingatku. Dengan benda ini anggaplah diantara kita tidak ada jarak yang dapat memisahkan antara aku dan kamu dunia dan akhirat. Permaisuri : Memang tak ada yang salah semua yang kanda katakan . Keinginanku hanya untuk menyertai kanda dan ingin membantunya dalam peperangan.

Pangeran Sumenep selanjutnya tak menghiraukan lagi permintaan isterinya dan dengan rasa pilu ia meninggalkan menuju pendapa keraton. Disana ia duduk bersama Patihnya Tumenggung Tankondur dihadap para menterinya. Pangeran Sumenep lalu kembali memerintahkan untuk mengeluarkan uang sedekah kepada juru bayar keraton untuk dibagikan kepada yang berhak serta kepada orang yang ikut berperang juga mendapat bagian.

Para tentara semakin gembira hatinya untuk ikut berperang demi membela Raja yang dicintainya. Pikirnya : Aku sudah rela meninggalkan anak isteriku untuk mengikuti jejak Raja. Kiranya tidak ada sesuatu yang bisa aku balaskan kepadanya kecuali jiwa dan ragaku. Beliau sangat baik kepada rakyat kecil dan tak pernah membuat penderitaan bagi rakyatnya. Makah penderitaan rakyatnya yang selalu diperhatikan dan dibantu penanggulangannya.

Kepada bala tentaranya Pangeran Sumenep berpesan katanya : Hai rakyat Sumenep, tua muda besar kecil semoga engkau semua rela mengorbankan jiwa dan raga untukku. Semoga kalian akan setia selalu. Kalau nanti aku tewas dalam peperangan ini tolong kalian rebut mayatku dari tangan musuh dan kuburkanlah aku dengan pantas. Bala tentara : Kami semua sudah rela mati bersama paduka. Semoga kamilah yang mendahului paduka untuk mati dalam pertempuran ini. Kami semua berjanji akan memenuhi permintaan paduka itu. Pangeran : Aku berterimakasih pada kalian semua atas kerelaannya berkorban demi membela negara dan aku sebagai Rajamu.

Tiada kiranya yang dapat aku balaskan kepada kalian atas semua ini kecuali doaku kepada Yang Kuasa semoga kalian diberi pahala yang lebih besar lagi kelak. Pada saat bala tentara Sumenep berkumpul dialun-alun terdengar kabar bahwa diluar pintu gerbang negara ada utusan Patih Japan membawa surat. Mendengar hal tersebut Pangeran Sumenep menyuruh salah seorang hulubalang untuk mempersilakan sang utusan masuk.

Penjaga pintu gerbang selanjutnya mempersilakan utusan itu masuk. Sesampainya didalam pagar betapa kecut hati mereka setelah melihat lasykar Sumenep yang sekian banyak berkumpul lengkap dengan perkakas perangnya. Pikirnya : Wah, sungguh pria berjiwa prajurit Pangeran Sumenep ini. Sebab dengan jumlah tentara yang sekian tak mungkin bisa menandingi banyaknya lasykar Japan. Mereka benar-benar berjiwa pemberani menantang perang.