Kalau nanda yang berangkat maka apabila Patih Japan tak bijak tentu akan nanda rampas dengan kekerasan melalui perang sampai dihancurka...

34. Kerajaan Sumenep Dirundung Duka



Kalau nanda yang berangkat maka apabila Patih Japan tak bijak tentu akan nanda rampas dengan kekerasan melalui perang sampai dihancurkannya tentara Japan itu. Raden Ayu Pangeran Sumenep : Sudahlah jangan paksakan dirimu. Biarlah aku saja yang pergi kesana. Kalau engkau yang kesana tentu bala tentara Japan akan curiga disangka kamu akan memulai perang lagi. Kalau demikian keadaannya maka perang akan berkobar lagi dan akulah yang akan bertambah susah sebagaimana yang kukatakan  tadi.

Pendek ceritera Raden Ayu Pangeran Sumenep dan Raden Ayu Patih Tankondur kemudian berangkat untuk memenuhi maksudnya menemui Patih Kanduruwan diiringi beberapa emban dan putera Pangeran Sumenep almarhum yang tiga orang itu. Disepanjang perjalanan kedua perempuan itu tak putusnya menangis dan memanggil-manggil nama suaminya. Taklama kemudian sampailah keduanya ditempat yang dituju yaitu bekas medan perang. Diantara mayat yang bergelimpangan keduanya berusaha menemukan suaminya.

Digolek-golekkannya mayat korban perang itu satu persatu sambil menangis tetapi yang dicari belum didapatkannya. Setelah beberapa tentara Japan melihat ada dua orang perempuan dan pengiringnya berusaha mencari seseorang diantara tumpukan mayat maka mereka memberitahu Tumenggung Kanduruwan katanya : Ki patih, hamba melihat dua orang Raden Ayu bersama tiga anak kecil dan beberapa pengiringnya sedang mencari-cari mayat seseorang di bekas medan pertempuran. Mereka kedengarannya menyebut-nyebut nama Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur disela-sela tangisnya.

Mendengar kabar itu Tumenggung Kanduruwan lalu terdiam dan menangis. Selanjutnya ia segera memerintahkan kepada pembawa kabar katanya : Kalau memang demikian maka aku perintahkan kalian untuk menghadapkan orang itu kemari dan beritahu bahwa mayat Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur ada disini. Setelah itu kalian dan teman-teman yang lain kutugaskan menyucikan mayat kedua orang itu, membungkus dan membawanya kekota Sumenep. Dan sekarang sampaikan uang ini kepada Raden Ayu sebesar lima ratus reyal dan sampaikan pula salam takzim dariku kepada mereka. Aku minta maaf bahwa bukan maksudku membunuh pamanda Pangeran Sumenep dan pamanda Patih Tankondur. Aku hanya menjalankan perintah Ratu Japan. Seandainya kedua pamanku terutama Pangeran Sumenep dengan suka hati mau kembali ke Japan mungkin peristiwa ini takkan terjadi.

Utusan itu lalu berangkat menuju ke bekas arena pertempuran itu untuk menemui kedua isteri pembesar perang negara Sumenep itu. Mereka juga membawa beberapa peralatan seperti keranda payung delapan buah serta beberapa bala sentana untuk mengusung jazad keduanya. Setelah kedua Raden Ayu itu melihat banyak orang datang menuju kepadanya maka mereka lalu berkata : Hai orang-orang Japan, mungkin suatu kesempatan telah datang pada kami. Kami kemari memang bermaksud mengikuti suami kami kealam baka. Sekarang, jangan kalian menunggu saat lagi mari bunuhlah kami supaya dapat segera lepas dari penderitaan yang berkepanjangan ini.

Utusan sambil menghaturkan sembah berkata : Gusti Raden Ayu, sebenarnya kami diutus nanda Raden Ayu yaitu Tumenggung Kanduruwan. Selanjutnya utusan tadi menyampaikan segala pesan dan tugas yang diembannya disamping disampaikannya pula kiriman uang sebanyak lima ratus reyal kepada keduanya. Kedua Raden Ayu itu menyuruh embannya untuk menerima kiriman uang itu dan selanjutnya berkata : Katakan kepada Tumenggung Kanduruwan bahwa aku menyampaikan banyak terimakasih semoga dia akan selalu kasih pada kami.

Permohonan maafnya juga aku terima. Sekarang mari kami beritahu dimana mayat Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur berada. Utusan selanjutnya menunjukkan dimana jenazah kedua pemuka perang itu berada dan setelah dilihatnya mayat suaminya itu tanpa kepala isteri Pangeran Sumenep lalu pingsan. Setelah siuman ia menjerit dan memeluk kedua kaki suaminya.

Pendek ceritera kemudian kedua jenazah sudah diangkat dan dimandikan. Setelah suci kemudian dibungkus dan diberi wewangian dan keduanya lalu dimasukkan kedalam keranda masing-masing dan dipikul dibawanya kekota. Iring-iringan pembawa jenazah tersebut konon diikuti para Menteri bala sentana serta para Arya dari Japan.

Sesampainya dikota kedua jenazah tersebut langsung disemayamkan dikeraton. Para pengiring dari Japan itu mengikutinya sampai penguburan selesai. Jenazah Pangeran Sumenep dan Patih Tankondur itu dikebumikan didekat makam Sunan Paddusan sedangkan Patih Tankondur berada disisi Pangeran Sumenep (Siding Puri) berjejer. Kuburan itu lazim disebut orang sebagai asta (makam) Siding Puri. Setelah penguburan itu bala tentara Japan pulang lagi ke baraknya dan disana mereka menceriterakan peristiwa penguburan Pangeran Sumenep dari awal sampai akhir kepada Tumenggung Kanduruwan.

Setelah isteri Pangeran Sumenep (Siding Puri) wafat jenazahnya juga dikubur di komplek makam suaminya (disebelah timurnya). Sesudah perang berakhir Tumenggung Kanduruwan mengumpulkan semua lasykarnya untuk pulang kembali ke Japan. Namun Pangeran Malaja dan Pangeran Jambaringin diperintahkan untuk menetap sementara di Sumenep untuk membenahi rakyat Sumenep selama negara itu belum ada Raja penggantinya.

Tidak diceriterakan keadaan diperjalanan Tumenggung Kanduruwan bersama orang-orangnya sekarang sudah sampai di Japan dan langsung masuk keraton. Saat itu kebetulan Ratu Japan sedang duduk di setinggil dengan dihadap para punggawa laki-laki dan perempuan. Tumenggung Kanduruwan segera menghadap Ratu Japan meski diliputi rasa takut dan khawatir karena perintah untuk menangkap Pangeran Sumenep hidup-hidup tak dapat ia laksanakan.

Dengan tekad besar ia memberanikan diri dan sambil bersila dihadapan Ratu Japan Tumenggung Kanduruwan berkata sambil menunduk : Kami tidak beruntung Paduka Ratu !? Seribu murka Paduka pada kami biarlah kami pikul. Pangeran Sumenep ternyata tak dapat kami tangkap hidup-hidup sebagaimana yang diinginkan Ratu. Beliau tetap tak mau kembali ke Japan malahan dengan berani menantang perang melawan Japan.

Setelah kami layani ternyata negara Japan banyak menanggung kerugian terutama banyaknya bala tentara yang tewas tak kepalang tanggung. Selain mereka tewas di pertempuran juga banyak yang mati karena terserang penyakit yang sedang merajalela sebagaimana yang telah kami laporkan kepada Paduka Ratu beberapa waktu yang lalu.

Sedangkan pada saat itu semangat perlawanan Pangeran Sumenep yang didampingi Patihnya Tumenggung Tankondur seperti setan layaknya. Mereka tak mempan senjata. Seandainya Pangeran Sumenep tetap hidup maka menurut kami bala tentara Japan mungkin akan habis ditewaskannya. Maka dari itu lalu kami sependapat dengan para pemuka perang untuk mengakali sendiri penangkapan Pangeran itu. Para Bupati dan bala sentana sempat mendengarkan percakapan Tumenggung Kanduruwan tersebut.

Mendengar laporan Patihnya Ratu Japan sangat murkanya. Tumenggung Kanduruwan didampratnya habis-habisan dan Ratu Japan kemudian meminta bidaga emas yang berisi kepala Pangeran Sumenep kepada Tumenggung Kanduruwan. Setelah dibuka dan dilihat isinya Ratu Japan merasa miris hatinya dan didampratnya Tumenggung Kanduruwan katanya : Semua pekerjaan yang telah kamu lakukan aku hargai. Tetapi yang menjadikan aku tak senang adalah kelancangamu mengubah perintahku dengan memenggal kepala Pangeran Sumenep seperti ini. Maka dengan perbuatanmu ini sudah nyata benar bahwa kamu adalah seorang Patih yang bodoh dan tak becus mengemban perintah.

Menurutku tidak ada pekerjaan yang sulit kalau yang menjalankannya mamiliki tekad tulus dan kesungguhan hati. Tidak ada perjalanan yang jauh kalau yang melakukan perjalanan benar-benar ingin sampai ketempat tujuan. Yang demikian engkau harus memikirkan dan menyimpannya dalam lubuk hati yang dalam. Kalau engkau memang menghayati perintahku apa perlunya engkau memotong kepala Pangeran Sumenep kecuali ada maksud lain dibalik itu.

Mungkin salah satunya keinginanmu untuk merebut kedudukannya sebagai Raja di Sumenep. Kalau memang begitu maksudmu maka pergilah kamu dari negara Japan ini. Bawa semua anak dan isterimu serta seluruh bala tentaramu jangan sampai tersisa. Aku tak ingin lagi melihat tampangmu disini. Masih banyak orang yang bisa menggantikan kedudukanmu dan yang masih bisa patuh menjalankan perintahku. Sekarang pergilah kamu dan penuhi kehendakmu untuk menggantikan kedudukan pamanmu di Sumenep.