silakan unduh Madurese Folktales

Setelah mendapat wejangan demikian kemudian berangkatlah kedua Pangeran itu pulang diikuti para pengiringnya. Sesampainya di Pamekasan para ...

39. Raja Majapahit Tewas dalam Peperangan dan Keratonnya Hancur

Setelah mendapat wejangan demikian kemudian berangkatlah kedua Pangeran itu pulang diikuti para pengiringnya. Sesampainya di Pamekasan para kepala desa dan para demang menyambutnya disepanjang jalan sambil memberikan bingkisan. Setibanya di Jambaringin mereka bermalam dan keesokan harinya baru berangkat lagi menuju Sumenep. Sesampainya di Sumenep mereka mengadakan pertemuan dengan para punggawanya. Setahun kemudian Pangeran Lor menghadap lagi ke Demak bersama Pangeran Jambaringin. Setahun berikutnya Pangeran Wetan bersama Pangeran Jambaringin menghadap demikian secara bergiliran dilakukan. Pangeran Jambaringin selalu bersama-sama karena memang waktu menghadap kebetulan bersamaan.

Sekarang diceriterakan yaitu di negara Bali sedang berkuasa seorang Raja yang masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang kisahnya telah diceriterakan terdahulu. Raja Blambangan tersebut pernah dikalahkan oleh Aria Kudapanole dan beberapa puteri dari Blambangan pernah diboyong ke Majapahit oleh Aria Kudapanole sebagai pampasan perang. Sedangkan yang menjadi Patih Raja Bali ini bernama Patih Kebbowaju yang buyutnya dulu pernah dibunuh oleh Aria Damar di negara Majapahit.

Sekarang Raja Bali dan Patihnya itu bermaksud melakukan balas dendam menantang perang dengan Majapahit. Mereka mempunyai tekad dan keberanian itu karena Raja Bali sudah menjadi Raja Agung dan sudah banyak mempunyai pengikut. Raja Bali bersama Patih dan prajuritnya sebanyak tiga ribu orang lalu berangkat menuju Majapahit dengan mengendarai puluhan perahu menyusuri selat Madura.

Namun sampai ditengah perjalanan diperoleh kabar bahwa Raja Majapahit telah tewas dalam suatu peperangan dan keraton Majapahit juga telah hancur tiada bekas. Karena itu Raja dan tentara Bali lalu mengalihkan perhatiannya ke Sumenep dengan maksud untuk membalas perang pada anak-cucu Kudapanole dan Banyak Wedi. Taklama kemudian sampailah mereka dipesisir LaPatahman. Mereka langsung ke sana disangka keraton Sumenep masih ada di LaPatahman.

Penjaga pantai : Perahu dari manakah ini kok sangat banyaknya ? Orang Bali : Kami bukan pedagang dan perlu kamu ketahui bahwa aku ini adalah orang Bali yang kedatanganku kemari untuk menyincang Rajamu. Mendengar itu si penjaga pantai segera melompat keatas kudanya dan lari menuju kota untuk melapor kepada Pangeran Lor. Sementara orang-orang Bali di pesisir LaPatahman sudah tuntas naik kedarat kecuali para awak perahunya.

Sesampainya didarat secara membabi-buta mereka mengamuk. Sejumlah ternak rakyat dirampas dan para perempuan diboyongnya sedangkan para pria dan anak-anak dibunuhnya. Maka paniklah rakyat kecil disana karena ulah lasykar dari Bali itu. Banyak rakyat yang terbunuh sedangkan yang punya kesemPatahn lolos mereka menuju kota sementara harta dan rumah mereka sudah tak dipikirkannya lagi. Gegerlah kota kerajaan Sumenep.

Setelah lasykarnya semua naik kedarat Raja Bali lalu memerintahkan untuk membuat pesanggrahan disana. Raja Bali mendiami pesanggrahan itu didampingi para isteri dan selirnya. Diantaranya juga ada tiga orang bersaudara yaitu Gusti Jalantik, Gusti Pameccut dan Gusti Jumenna selain para Menteri Sentana seperti Dewa Kaleran, Tawangalun, Kakumdila dan para pendeta serta tukang tenung termasuk Patihnya si Kebbowaju. Patih Kebbowaju ini memang pimpinan perang, badannya tinggi besar, berkumis panjang sampai dibahunya, jenggotnya juga panjang sampai kepusarnya, tatapannya tajam menakutkan.

Pendek kata mereka semua adalah para pemuka perang yang pemberang dan pemberani tiada tanding.

Raja Bali : Hai, lasykar Bali semuanya. Aku ingin tahu apa mau kalian sekarang. Apakah kita akan langsung menuju kota atau tidak ?!! Kalau kita langsung ke kota dan bertemu Pangeran Sumenep apa mereka sudah siap melawan kita ?? Aku ingin segera tahu wajah Pangeran Sumenep yang sekarang. Apakah dia benar-benar seorang prajurit. Kalau dia menyerah padaku tentu aku akan memakluminya. Patih Kebbowaju : Kalau menjadi suka paduka rasanya hamba masih mampu dan tidak usah paduka yang pergi kekota biarkan hamba yang akan menghadapinya. Lebih baik paduka tetap saja di pesanggrahan ini sambil menunggu tertangkapnya sang Pangeran. Sekarang izinkan hamba berangkat bersama beberapa prajurit dan sebagian menteri, hamba semua rela berkorban diri.

Setelah berembuk Raja Bali berkata lagi : Kalau semua lasykar Bali telah setuju terhadap pendapatmu maka aku-pun sepakat dan bawalah separuh lasykar kita kekota. Sedangkan yang separuh lagi beserta adikku si Jalantik jangan ikut. Aku memerlukannya disini untuk menjadi pemimpin lasykar yang tersisa.

Keesokan harinya Patih Kebbowaju, Gusti Pameccut dan Gusti Jumenna bersama prajuritnya lalu berpakaian dan berangkat dengan perahu sambil bersorak-sorai. Sesampainya di Pajalan perahu-perahu tersebut berlabuh berjejer di pelabuhan itu. Sebagian lagi berlabuh di Gersik Putih. Setelah semua prajurit turun kedarat dengan senjata masing-masing dan disini bendi perang ditabuhnya. Bala tentara Bali diatur berkelompok dan berjalan menyusuri desa Pajalan, Karang Buddi, Bennosan, Baraji dan disepanjang jalan itu penuh dengan orang Bali. Orang-orang disekitar desa yang dilewatinya lari ketakutan.

Pada suatu hari Pangeran Lor duduk di paseban didampingi Patih yang disayanginya yaitu Wangsadumetra dihadap pula oleh bala sentananya. Waktu itu seakan-akan ada yang sedang dipikirkan oleh Pangeran Lor karena kelihatan muram mukanya. Orang-orang yang sedang menghadap heran dibuatnya pikirnya : Kok baru sekarang Pangeran menunjukkan wajah begitu  apakah gerangan sebabnya ? Pangeran Lor berkata : Sebenarnya aku tadi malam bermimpi. Dalam mimpiku aku sedang mandi dilaut darah bersama pamanku Pangeran Batuputih dan bala tentaranya. Sedangkan pengiringku waktu itu adalah Wangsadumetra serta para menteri dan sebagian besar tentara Sumenep. Semuanya mandi dilaut itu.

Para Menteri berkata : Sebetulnya tadi malam juga kami bermimpi terbawa banjir bersama paduka Raja dan Pangeran Batuputih bersama lasykarnya. Tak lama kemudian lalu datang penjaga pelabuhan LaPatahman dan tanpa tatakerama ia menghadap sambil tersengal-sengal dan berkata : Hamba membawa kabar bahwa sekarang telah datang bala tentara Bali. Mereka menaiki perahu beratus banyaknya pelabuhan LaPatahman sampai Gersik Putih penuh. Rajanya sudah mendarat dan mendirikan pesanggrahan di desa Bilangan.