silakan unduh Madurese Folktales

Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelo...

40. Serangan Tentara Bali Memasuki Kota Sumenep


Bala tentaranya tak terhitung banyaknya dan dalam perjalanan hamba dari Lapataman sampai ke Baraji tak putusnya bertemu dengan kelompok-kelompok musuh yang bertingkah gila dan mengamuk. Banyak sudah rakyat kecil terbunuh dan mereka tidak pilih-pilih apakah anak kecil atau bukan. Para perempuan banyak yang mereka boyong dan harta mereka dirampas. Rakyat kecil sekarang sangatlah kesusahan dan yang bisa lolos melarikan diri kekota. 

Sebentar kemudian gegerlah kota Sumenep karena orang-orang desa yang lolos dari serangan tentara Bali memasuki kota dan tak seberapa lama penuhlah kota dengan orang-orang yang mengungsi. Pangeran Lor mendengar itu lalu murka. Terdengar gemeretak giginya dan sekujur tubuhnya bergetar. Pangeran Lor berkata : Hai.., Wangsadumetra sekarang juga aku perintahkan kamu bunyikan bendi perang bersama Kyai Saragenni. Perintahkan semua tentara berkumpul dan bersiap dengan perkakas perangnya untuk menyerang tentara Bali. Panas hati ini rasanya karena mereka benar-benar memalukan. Wangsadumetra lalu menunaikan tugasnya dan memerintahkan kepada para menteri sebagaimana perintah Rajanya. 


Tak lama kemudian berkumpullah bala tentara Sumenep di alun-alun lengkap dengan perkakas perangnya. Yang mengatur bala tentara tersebut adalah Kyai Ranggamerong, Kyai Tandamoi dan Kyai Tandamaneron. Setelah siap Wangsadumetra lalu memberitahu Pangeran Lor. 


Di alun-alun keadaannya sekarang ramai dengan tetabuhan dan bunyi bendi perang. Bala tentara yang berasal dari bagian utara, selatan dan barat sekarang telah berkumpul penuhlah alun-alun. Lautan manusia meluas sampai ke desa Kebonagung, keutara sampai ke desa Pamolokan, keselatan sampai ke desa Karangraba sedangkan ketimur sampai ke Karangtoroy. Bala tentara Sumenep bertekad untuk rela mati demi membela Rajanya. 


Tak seberapa lama datanglah Pangeran Batuputih bersama lasykarnya pula dengan maksud untuk menyerang lasykar Bali. Ia berpakaian putih mulus berpayung putih, benderanya juga putih bertulis arab disamping pelana kuda tunggangannya juga serba putih. Disepanjang perjalanan ia tak lepas membaca doa menandakan bahwa dia memang orang yang alim. Pangeran Lor melihat kedatangan Pangeran Batuputih sangat gembira hatinya. Setelah dipersilakan duduk lalu Pangeran Lor berhatur sungkem dan berkata : Paman, nanda sangat gembira atas kesediaan dan kedatangan paman kemari dengan maksud membela negara Sumenep dan suka bergabung dengan kami untuk menghadapi lasykar Bali. Dengan halus Pangeran Batuputih berkata : Kalau tidak keberatan maka aku mempunyai saran yang nanti akan sangat menentukan. 


Pangeran Lor : Apakah itu paman ? Pangeran Batuputih : Permintaanku kalau diperkenankan dan ini juga merupakan sebuah usul, supaya kita tidak berangkat berperang pada hari ini. Karena hari ini bagi kita merupakan saat yang jelek dan waktu nahas ada diposisi kita. Disamping itu aku juga bermimpi kurang baik. Jadi, kalau ini memang merupakan petunjuk maka semoga kamu menerimanya dengan suka hati sambil-lalu menunggu adikmu yaitu Pangeran Wetan yang saat ini masih menghadap ke Demak. Menurutku beberapa saat lagi ia akan segara datang mengingat sudah tujuh bulan lamanya ia disana. 


Tunggulah barang sehari atau dua hari lagi dan kalau kamu khawatir takut ia tak segera datang maka utuslah seseorang untuk menjemputnya. Katakan padanya supaya segera pulang untuk membantu perang disini. Kemudian untuk mengatasi masalah yang ada disini utuslah sementara beberapa menteri dan sejumlah tentara untuk mencegah tentara Bali memasuki kota. Kita kirim sedikit demi sedikit bala tentara untuk sekedar mencegah sambil menunggu saat yang baik untuk menyerang sambil menunggu kedatangan Pangeran Wetan.


Pangeran Lor : Semua nasihat paman sudah nanda maklumi dan terimakasih atas kesudian memberi pertimbangan kepada nanda. Tapi keinginan nanda sudah bulat dan pada hari ini nanda harus berangkat untuk menyambut serangan tentara Bali dengan perang pula. Kalau nanda mati karena merebut kedaulatan negara maka banggalah hati nanda karena tindakan demikian bisa terdengar juga kenegara lain. Kalau nanda tak mengangkat senjata dan menangkis serangan tentara Bali tentu nanda akan menjadi bahan tertawaan Raja lain atau bisa jadi bahan pergunjingan sepanjang waktu tentang kekerdilan jiwa nanda. Orang Sumenep-pun akan mencibirkan bibir pada nanda akan sikap kebancian itu. 


Disamping itu nanda juga kasihan kepada anak nanda si Rajasa dan keturunannya kalau kejadian ini nanda biarkan. Sudah tentu keturunan si Rajasa tak akan dihormati orang bahkan takkan ada orang yang mau mengabdi padanya dan keturunannya disebabkan nanda telah jelek nama. Kalau paman tak mau ikut bersama nanda itupun tak mengapa dan alangkah baiknya apabila paman sudi berada diistana ini sambil menjaga para wanita. Setelah mendengar perkataan Pangeran Lor, Pangeran Batuputih tertegun. Tak satupun kalimat terucapkan. Sekarang seolah ia dituduh sebagai penakut maka ia lalu pasrah diri kepada Yang Kuasa pikirnya : Kalau begini maka takdir Allah telah tertulis padaku bahwa aku akan mati dalam pertempuran ini bersama Pangeran Lor. 


Tak lama kemudian datang juga puteri Pangeran Jambaringin (Isteri Pangeran Wetan) menghatur sungkem pada Pangeran Lor dan berkata : Kalau menjadi suka Pangeran maka kami mohon supaya jangan berangkat perang pada hari ini. Lebih baik Pangeran menunggu kedatangan adik Pangeran yaitu Pangeran Wetan yang saat ini telah kami susul ke Demak. Apalagi kami pernah bermimpi tentang Pangeran. Dalam mimpi itu kami melihat Pangeran bersama bala tentara Sumenep pergi berlayar. Disana kami melihat perahu yang membawa Pangeran dan bala tentara Sumenep karam dan kemudian tenggelam. Satu-pun tak ada lagi yang terlihat muncul ke permukaan. 


Pangeran Lor : Ada saja ceriteramu yang hanya membuat kekhawatiran. Tekadku sudah bulat bahwa hari ini aku harus berangkat. Mimpimu itu menurutku adalah mimpi seseorang yang tidur terlalu lama, maka itu lalu dirasuki setan pagar. Orang yang terlalu banyak tidur itu bisa dimasuki setan sehingga mimpinya jadi semrawut tak karuan. Sudahlah masalah yang menimpaku tak perlu kau pikir panjang. Ingat bahwa takdir itu tak akan bergeser seujung rambut-pun. Hanya pesanku padamu kalau nanti aku benar-benar mati dalam pertempuran ini kutitipkan anakku Rajasa padamu supaya dihadapkan ke Demak. Mintakan pada Sultan Demak supaya ia dapat menggantikan pangkatku disini. Masalah harta peninggalanku akan kuserahkan pada Rajasa. 


Pangeran Batuputih lalu menghatur sungkem juga kepada isteri Pangeran Wetan karena dia adalah saudara ayahnya yaitu Pangeran Siding Langgar sama-sama anak Pangeran Nugraha di Jambaringin. Sedangkan Pangeran Lor adalah kemenakan Pangeran Batuputih sebab ayah Pangeran Batuputih yaitu Pangeran Siding Langgar bersaudara dengan ibu dari Tumenggung Kanduruwan. Keduanya sama-sama anak Sunan Paddusan. Jadi Tumenggung Kanduruwan dengan Pangeran Batuputih adalah saudara sepupu. Sedangkan Tumenggung Kanduruwan adalah ayah dari Pangeran Lor dan Pangeran Wetan.