silakan unduh Madurese Folktales

Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan...

44. Kepala Raja Bali Dipenggal Lasykar Sumenep


Melihat suasana itu satu kesempatan digunakan oleh Gusti Jalantik dengan menyerangkan mata panahnya dari balik benteng kearah Pangeran Wetan. Tapi panah itu tidak mengena sasaran justeru melesat mengenai beberapa lasykarnya sendiri yang ada diluar benteng. Kemudian Raja Bali dapat ditewaskan oleh Pangeran Wetan. Mengetahui saudaranya meninggal, Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi lalu keluar dari benteng dan menyerang. Gusti Jalantik ditemui Pangeran Wetan sedangkan Gusti Pamadi dilayani Sunan Nugroho. Gusti Jalantik akhirnya terkena tusukan didadanya oleh Pangeran Wetan dan tewas, sedangkan Gusti Pamadi tertusuk lambungnya oleh Sunan Nugroho dan tewas pula. 

Ketiga pimpinan Bali itu karena termasuk orang yang pandai perang dan disegani maka kemudian dipotonglah kepala mereka untuk dipersembahkan ke Demak sebagai bukti bahwa negara Sumenep telah menang perang dan dapat menewaskan Raja Bali yang Agung. 


Bala tentara Bali yang masih hidup berlarian kesana-kemari. Mereka kebingungan mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Hasrat mau kembali kenegaranya tak bisa karena perahunya sudah rusak binasa sedang dirinya harus berjuang untuk mempertahankan hidup. Konon untuk mencari makan, mereka banyak yang menjadi peminta-minta namun tak seorangpun mau memberi sedekah pada mereka. Maka bagi mereka yang sudah merasa putus asa banyak yang melakukan bunuh diri dengan cara membakar dirinya. Tempatnya di kampung Karang sebelah selatan Paddusan sedangkan yang berada di kawasan barat juga mengikutinya. Maka itu tempat dimana mereka membakar diri dikawasan bagian timur disebut kampung Karangpanasan, sedangkan daerah bagian barat disebut kampung Billa’an (membela diri). 


Demikian nama kampung itu disebutnya sampai sekarang. Sisanya yang tidak ikut membakar diri melarikan diri kearah timur daya (tenggara), disana selanjutnya mereka berdiam dan kampung itu diberi nama Pinggirpapas sedangkan sebagian lagi berdiam didesa Kebondadap. Mereka turun-temurun disana sampai sekarang. Orang-orang tersebut selanjutnya menganut adat Sumenep tetapi mempunyai dialek bahasa sendiri yakni yang disebut bahasa Madura-Pinggirpapas. Kehidupan mereka menjadi petani garam sampai sekarang. 


Diceriterakan bahwa kepala Raja Bali yang dipenggal oleh lasykar Sumenep serta kepala Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi sudah diantar ke Demak. Sultan Demak merasa senang hati. Tetapi ketika membuka surat Pangeran Wetan ia sedih dan menangis karena perang di Sumenep telah menewaskan Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih. Beberapa waktu kemudian Pangeran Wetan menghadap kekerajaan Demak diikuti kedua puteranya yaitu Raden Rajasa dan Raden Kedduk. Sesampainya di Demak Pangeran Wetan berceritera sendiri tentang halnya perang di Sumenep dari awal sampai akhir. 


Setelah Sultan Demak mendengar berita tersebut ia tertegun dan berkata : Semua yang engkau kabarkan kepadaku sangat menyenangkan dan besar penghargaanku kepadamu. Aku bangga atas perjuangan kalian dalam membela kedaulatan negaramu. Aku berharap juga kepada semua rakyat disana untuk meniru jiwa prajurit sebagaimana yang tertanam didada Pangeran Lor dan Pangeran Batuputih serta dapat berkaca pada segala tingkah laku dan keberanianmu. 


Pangeran Wetan : Segala tutur paduka Sultan akan kami perhatikan. Selanjutnya sekarang kami sedang membawa anak kami Rajasa yang selama ini telah diasuh oleh kakanda Pangeran Lor dengan  maksud untuk memenuhi wasiatnya supaya dihadapkan kepada paduka. Dalam wasiatnya kanda Pangeran Lor minta untuk membawa Rajasa kemari dengan harapan supaya dia dapat mengganti kedudukannya. 


Bagi kami tentu sangat bangga apabila paduka Sultan dapat memenuhi permintaannya. Disamping itu juga merupakan harapan kami. Kalau suatu saat nanti kami tak ada lagi didunia ini sudilah kiranya paduka Sultan untuk mengangkat anak kami si Kedduk sebagai pengganti kedudukan kami kelak. Kami jugalah yang mempunyai anak ini kedua-duanya, dengan maksud agar supaya paduka Sultan dapat memberi kedudukan serta pangkat yang sama. 


Sultan Demak : Semua permintaanmu takkan kutolak karena itu sudah merupakan kehendakku dan aku hanya berdoa semoga anak cucumu diberi kemampuan menduduki Raja disana karena aku sangat sayang kepada kalian. Pangeran Wetan : Semua sabda paduka akan kami hargai dan kami ikat dalam hati. Semoga paduka  Sultan akan tetap kasih kepada kami dan  kepada keturunan kami. Keturunan paduka Sultan juga nantinya semoga akan menjadi pelindung bagi anak cucu kami sampai pada akhirnya. 


Sultan Demak : Semoga doamu dikabulkan oleh Allah. Sekarang Rajasa akan kuberi gelar Pangeran Lor II dan kedudukannya untuk menggantikan Pangeran Lor almarhum. Sedangkan Kedduk akan kuberi gelar sebagai Pangeran Wetan II yang kedudukannya sebagai calon penggantimu kelak. Kalau kamu meninggal kelak maka Kedduk-lah yang akan menggantikan, tetapi sekarang Kedduk belum kuberi wewenang dalam pemerintahan karena masih ada kamu. Sedangkan sumber penghasilan negara Sumenep akan kuserahkan pada kamu dan Rajasa. Peraturannya seperti halnya yang telah terlaksana. Sedangkan untuk mengadakan penghadapan ke Demak biarlah Rajasa dan Kedduk saja sementara kamu Wetan tidak usah. Tetapi kalau kamu mau maka aku sangat bersyukur. 


Kepada Rajasa dan Kedduk Sultan Demak berkata begini : Kalian berdua sekarang sudah menjadi Pangeran maka hati-hatilah jangan sampai dicela orang. Lagi pula jangan sampai gampang didamprat orang karena yang demikian akan celaka. Kalau perkataan sudah keluar tak dapat ditarik kembali maka itu hati-hatilah berbicara dan jangan sampai terlanjur berkata jelek. Ingatlah akan kewajiban dan bertingkah lakulah yang baik. Semua tingkah laku yang tak benar tidak akan bisa mengantarkan kalian kepada puncak cita-cita. 


Kalian harus patuh pada ayah dan ibumu. Sebab orang yang melanggar perintah keduanya apalagi menentangnya tentu takkan selamat didunia dan akhiratnya. Ini sudah banyak contoh. Sekalipun ayah dan ibumu sangat marah janganlah sekali-kali engkau membantah atau mengerutkan alis. Kiasan, sekalipun kamu dipukuli sampai patah lebih baik kalian terima. Kasih sayang orang tua kepada anak takkan sebanding dengan seribu kasih sayang anak terhadap orang tuanya. Jadi orang tua tak mungkin menjerumuskan anaknya pada kenistaan. Harapan orang tua tiada lain hanya untuk kebaikan anaknya. Hayatilah ucapanku ini supaya kalian selamat didunia dan akhirat. 


Janganlah bersifat seperti ayam karena ayam dari mulai berbentuk telur dan menetas jadi pitik induknya mengeram sampai badannya kurus kering. Mulai dari pitik sampai dewasa induknya selalu mengalah dalam soal makan.Tetapi kalau sudah tua induknya lalu dipatuk dan terkadang dikawini. Sedang pejantannya mereka tantang berkelahi, sifat ini hendaknya kalian hindari.