silakan unduh Madurese Folktales

Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah...

43. Keraton Batuputih Musnah Tiada Bekas


Dalam pingsannya ia didatangi Pangeran Batuputih yang berkata : Sekarang marilah engkau ikut denganku ke sorga. Tentang kedua anakmu utuslah seseorang untuk mengantarkannya ke kota sebab sebentar lagi kerajaan ini akan musnah dan menjadi hutan. Setelah permaisuri Pangeran Batuputih siuman maka diceriterakanlah apa yang dilihat dan didengar dalam pingsannya kepada embannya katanya : Emban, bawalah kedua anakku kekeraton kota (Sumenep) sedangkan aku akan ikut suamiku bermi’raj. Kerajaan ini sebentar lagi akan musnah menjadi hutan belantara. Sang Emban lalu menangis sedih karena akan berpisah dengan tuannya. Setelah itu segera dibawanya kedua puteri Pangeran Batuputih keluar dari keraton menuju ke Sumenep. 


Sesampainya di Sumenep, emban berkata kepada isteri Pangeran Wetan, katanya : Hamba diutus bibi paduka untuk menyerahkan kedua puteri ini kemari dan selanjutnya diharapkan supaya keduanya diasuh oleh paduka. Sedangkan bibi paduka sekarang sudah mi’raj mengikuti paman paduka yaitu Pangeran Batuputih yang telah meninggal dipeperangan. Keraton Batuputih sekarang sudah berobah jadi hutan belantara. Kedua isteri Pangeran Wetan segera merangkul kedua puteri itu dan menangisinya. 


Dilain pihak sekarang diceriterakan bahwa tentara Bali telah sampai di Batuputih. Sesampainya disana mereka tercengang karena keraton Batuputih sudah musnah tiada bekas yang ada hanya hutan belantara. Patih Kebbowaju berkata kepada bala tentaranya, katanya : Nyata benar orang disini sakti dan prajurit, suatu tanda yang dapat aku saksikan adalah raibnya jenazah Pangeran Batuputih juga kerajaannya. 


Diceriterakan bahwa yang menyusul Pangeran Wetan adalah anaknya yang bernama Raden Kedduk. Sesampainya di Jambaringin dia menjumpai ayahnya yang kebetulan baru sampai dari perjalanan ke Demak. Raden Kedduk lalu menceriterakan kepada ayahnya tentang kerajaan Sumenep yang diserang tentara Bali dari awal hingga akhir. Setelah mendengar kabar itu Pangeran Wetan dan Pangeran Jambaringin lalu segera berangkat diiringi para pengikutnya.


Sesampainya di Sumenep mereka langsung ke mesjid untuk menemui dan membantu menyelesaikan perawatan jenazah Pangeran Lor dan Patih Wangsadumetra. Jenazah keduanya kemudian dikuburkan dalam congkop (bangunan batu) Tumenggung Kanduruwan berdampingan kearah timur. Sedangkan Wangsadumetra dikuburkan diluar congkop tepat disebelah barat pintu. Congkop tersebut dicat berwarna merah seluruhnya yang menandakan bahwa disitu terbaring jenazah penghulu perang yang tewas dalam pertempuran.


Dipintu pagar congkop ada tulisan hurup Jawa kuno dan Arab yang menerangkan wafatnya Pangeran Lor tanggal 8 bulan Jumadilakhir 1504 tahun Jawa (1573 Masehi). Namun hurup itu sekarang banyak yang rusak sehingga sulit dibaca. Hurup itu tertulis dibatu tembok. 


Setelah itu Pangeran Wetan kemudian memerintahkan supaya membunyikan bendi perang dan mengundang bala tentara yang masih tersisa. Tak berapa lama berkumpullah bala tentara Sumenep dan Pangeran Wetan berkata kepada Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron : Sekarang pilih empat puluh orang menteri yang perkasa, sedangkan empat puluh orang lagi untuk menyertai mertuaku Sunan Nugraha (Pangeran Jambaringin). Sedangkan kamu dan yang lain segera berangkat dan gempurlah benteng tentara Bali. Kalian berdua menjadi wakilku. Aku dan mertuaku akan membersihkan musuh dari pinggiran kota sesudah itu aku akan menyusul kalian. 


Setelah itu berangkatlah mereka. Empat puluh menteri menyertai Pangeran Wetan, empat puluh yang lain menyertai Sunan Nugraha sedangkan sisanya menyertai Kiyai Ranggamering dan Kiyai Tandamaneron. Sesampainya di Paddusan mereka bertemu dengan sekumpulan tentara Bali. Pangeran Wetan segera memukul isyarat menyerang. Ketika Patih Kebbowaju melihat musuhnya datang senang hatinya. 


Ia lalu memakai baju perangnya dan maju kekancah pertempuran sambil sesumbar. Setelah melihat Pangeran Wetan ia heran dan berkata kepada lasykarnya, katanya : Hai lasykar Bali berhati-hatilah kalian karena Pangeran Lor hidup lagi. Kalau begini orang Sumenep tak dapat dimusuhi. Siapa yang akan berperang dengan orang yang tak bisa mati. Sudah mati mereka bisa hidup lagi ?? 


Lasykar Bali melihat raut muka Pangeran Wetan memang mirip dengan rupa Pangeran Lor. Karena itu semangat tempur tentara Bali sedikit kendor akibat waswas. Perang semakin menjadi. Sunan Nugraha melawan Patih Kebbowaju. Patih Kebbowaju tak lama kemudian terkena tombak oleh Sunan Nugraha lalu roboh dan tewas. Karena itu lasykar Bali semangatnya semakin menurun bahkan sebagian ada yang melarikan diri dan bersembunyi di kampung-kampung sebelah selatan kawasan pertempuran. 


Sunan Nugraha lalu menantang, katanya : Hai lasykar Bali, kemarikan Rajamu. Temui aku yang tua-renta ini !! Akulah yang bernama Sunan Nugraha yang memerintah kerajaan Jambaringin, putera Lembupetteng dari Majapahit. Aku adalah mertua Pangeran Wetan dan kakek Pangeran Batuputih. Hayo, keluarkan Rajamu yang telah sesumbar untuk menaklukkan kerajaan Sumenep. Kalau aku dan Pangeran Wetan masih hidup takkan gampang orang Sumenep bertekuk lutut.


Pangeran Wetan mengejar tentara Bali yang lari meloloskan diri tapi tak satupun dijumpainya. Ia lalu memerintahkan menteri-menterinya katanya : Sekarang kalian kuperintahkan untuk menghancurkan seluruh perahu orang Bali yang sekarang ada dipinggir-pinggir pelabuhan. Supaya nanti aku tak mendapat kesulitan untuk membunuh orang-orang Bali ; sebab kalau perahu-perahu mereka tidak dihancurkan mereka tentu akan lari keperahunya. Kedua pimpinan perang itu sangat bersemangat meski hanya dibantu empat puluh orang menteri dalam perangnya namun keempat puluh menteri itu sudah diberi ilmu keprajuritan dan kekebalan. 


Para menteri yang diperintah lalu berangkat dan setelah sampai dipelabuhan mereka membakar semua perahu yang ada tanpa pandang bulu. Tentara Bali lalu bertambah bingung dan kalang-kabut karena perahu sebagai alat penyelamat mereka telah dihancurkan. Tentara Bali banyak yang mati tenggelam sedangkan yang selamat naik lagi kedarat tanpa pakaian. Untuk melawan sudah tak mungkin lagi karena perkakas perang mereka sudah banyak yang tercebur kelaut. 


Pangeran Nugroho bersama dengan empat puluh orang menterinya melanjutkan penyerangan kedaerah sebelah timur dan sesampainya di Lapataman mereka bertemu dengan Patih Ranggamering yang juga sedang melakukan perlawanan. Benteng Lapataman yang sebelumnya merupakan benteng pertahanan tentara Bali dapat mereka rebut, tetapi Raja Bali dapat meloloskan diri. Raja Bali dengan dua saudaranya meloloskan diri ke benteng Bilangan. 


Dua saudara Raja Bali yaitu Gusti Jalantik dan Gusti Pamadi. Mereka ada disana dengan maksud supaya dapat lolos dan kembali ke Bali. Setelah benteng Lapataman direbut tentara Sumenep Raja Bali saat itu konon belum mendengar kalau semua perahu yang ada telah dihancurkan. Tak lama kemudian Pangeran Wetan, Sunan Nugroho dan Patih Ranggamering serta bala tentaranya telah sampai didaerah Bilangan. Mereka langsung menyerang tentara Bali disana. Beberapa saat kemudian lasykar Bali dapat dihancurkan. 


Setelah melihat tentaranya banyak yang tewas dan pihaknya merasa mulai kalah, Raja Bali keluar dari benteng dengan perkakas perangnya. Sesampainya dipintu benteng ia diserang oleh Pangeran Wetan. Mereka lalu saling tusuk seorang lawan seorang. Awalnya mereka saling serang memakai tombak setelah patah dipakailah kerisnya. Tetapi tak lama kemudian keris mereka juga patah maka bergantilah mereka memakai pedang. Rupanya kedua pimpinan perang ini kebal senjata karena masing-masing mempunyai ilmu kekebalan dan ilmu perang yang tangguh. Maka kemudian patah pulalah pedang mereka sampai menjadi tiga bagian.