Langsung ke konten utama

Jejak Awal Revitalisasi Kebudayaan Jawa: Dari Keraton ke Arena Kerapan Sapi 1926

Pertunjukan Karapan Sapi di Madura pada 1947.(istimewa)
 

Upaya pelestarian dan revitalisasi kebudayaan Jawa bukanlah gerakan yang muncul belakangan. Jauh sebelum wacana “kebangkitan budaya” menjadi tema diskusi para akademisi dan pegiat seni hari ini, para raja dan bangsawan Mataram telah mengambil langkah strategis sejak awal abad ke-20. Di masa ketika modernitas kolonial mulai merambah kehidupan masyarakat Hindia Belanda, pihak keraton justru menjadikan modernitas sebagai peluang untuk merawat tradisi.

Salah satu tonggak pentingnya adalah berdirinya Java-Instituut pada tahun 1919. Lembaga kebudayaan ini menjadi ruang pertemuan para intelektual, bangsawan, dan pemerhati budaya yang memiliki misi sama: melestarikan dan memperkenalkan khazanah kebudayaan Jawa secara lebih sistematis.

Menariknya, sejak awal Java-Instituut tidak membatasi diri hanya pada wilayah Jawa saja. Budaya Madura, Bali, dan Lombok turut menjadi bagian dari fokus kajiannya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya cakupan perhatian para pendiri lembaga tersebut terhadap kebudayaan Nusantara.

Para tokoh utama yang berada di balik gerakan itu pun bukan figur sembarangan. Sultan Hamengkubuwana VIII dan KGPAA Mangkunegara VII, dua pemimpin kerajaan Mataram yang terkenal berwawasan modern, menjadi motor penggerak. Keduanya bukan hanya simbol tradisi, tetapi juga figur yang mampu melihat bahwa kebudayaan harus bergerak mengikuti zaman jika ingin tetap hidup.

Oleh karena itu, ketika Java-Instituut menggelar Kongres Kebudayaan di Surabaya tahun 1926, keduanya hadir tidak hanya sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai sponsor sekaligus pengarah visi kebudayaan Jawa.

Namun, ada satu hal menarik yang jarang dibahas: dalam perhelatan tersebut, para pemimpin Jawa ini mendukung secara langsung sebuah tradisi dari luar Jawa—Kerapan Sapi dari Madura. Langkah itu menegaskan bahwa gerakan kebudayaan pada periode tersebut tidaklah bersifat eksklusif, melainkan lintas etnis dan lintas wilayah.

Kerapan Sapi 1926: Ketika Tradisi Agraris Menjadi Panggung Bergengsi

Melalui laporan Tuan John Scolte di De Indische Courant, kita mendapat gambaran hidup yang sangat menarik tentang penyelenggaraan Kerapan Sapi pada Ahad pagi tahun 1926. Hari itu, alun-alun Bangkalan tidak ubahnya lautan manusia. Ribuan pria dan wanita berbondong-bondong datang, memenuhi setiap sudut lapangan.

Kerumunan itu membentuk mozaik warna yang mencolok—kain batik, sarung, baju tradisional, hingga ikat kepala menciptakan pemandangan meriah yang menunjukkan betapa pentingnya acara tersebut bagi masyarakat.

Di sekitar arena, bendera-bendera kecil dari berbagai tim berkibar tertiup angin. Para penonton berdiri mengelilingi lintasan, sementara dari kejauhan suara saronen—alat musik tiup khas Madura—menderu-deru, menambah ketegangan sekaligus keindahan suasana. Kerapan Sapi bukan sekadar lomba; ia adalah sebuah pertunjukan budaya yang menyatukan olahraga, musik, ritual, dan identitas agraris Madura.

Perlombaan akbar ini berlangsung selama tiga hari. Dua hari pertama digunakan sebagai babak penyisihan, untuk memilih tim-tim terbaik dari tingkat distrik dan kabupaten. Barulah di hari terakhir, para juara terbaik se-Karesidenan Madura dipertemukan dalam pertandingan puncak. Sebanyak 24 pasang sapi kerap dari empat kabupaten—Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep—dipilih untuk berlaga.

Setiap peserta diwajibkan mengenakan bendera warna tertentu sebagai penanda asal daerah: oranye untuk Bangkalan, merah untuk Sampang, putih untuk Pamekasan, dan biru untuk Sumenep. Selain sebagai identitas, bendera-bendera ini juga menjadi simbol kebanggaan daerah yang membuat para pendukung semakin bersemangat.

Panggung Ritual Sebelum Adu Cepat

Pagi hari sebelum pertandingan dimulai, para pemilik dan joki mengarak sapi-sapi mereka di hadapan tamu kehormatan. Arak-arakan ini bukan semata seremoni, tetapi juga bagian dari tradisi penghormatan terhadap hewan yang menjadi tumpuan kehormatan pemiliknya. Sapi-sapi itu dihias dengan kain warna-warni, lonceng kecil, dan ornamen khas. Kepala mereka disematkan kalung, tanduk mereka dipoles hingga berkilau.

Ketika nama sebuah pasangan sapi dipanggil, joki dan timnya maju ke lintasan sepanjang sekitar 150 meter. Dalam hitungan detik, suasana berubah drastis. Penonton yang semula berdiri menunggu, tiba-tiba meledak dalam sorak sorai. Suara saronen meninggi, berpadu dengan teriakan pendukung masing-masing daerah.

Adu cepat itu berlangsung sekilas namun penuh ketegangan. Joki berdiri di atas kaleles—papan kayu tempat ia menumpu—seraya mengendalikan dua ekor sapi yang berlari sekuat tenaga. Keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik sapi, tetapi juga teknik joki, keharmonisan dua ekor sapi, serta strategi pelatihan yang dilakukan berbulan-bulan sebelumnya.

Para Juara, Hadiah Keraton, dan Diplomasi Budaya

Pada pertandingan kali itu, pasangan sapi dari Kabupaten Bangkalan keluar sebagai juara pertama untuk golongan “menang”. Juara kedua diraih tim dari Pamekasan, dan posisi ketiga kembali jatuh pada tuan rumah Bangkalan. Para pemenang mendapatkan medali emas dan uang tunai yang disiapkan oleh Departemen Urusan Pertanian Pemerintah Kolonial.

Namun yang membuat acara 1926 ini istimewa adalah kehadiran hadiah dari pihak keraton Jawa. Dalam golongan “kalah”—kategorisasi yang tetap memberikan penghargaan bagi tim terbaik yang tidak lolos ke final—hadiah pertamanya berupa medali emas persembahan Keraton Yogyakarta. Sementara hadiah kedua berupa piala unik berbentuk sepasang sapi dari perak, pemberian Puro Mangkunegaran. Menurut laporan yang sama, piala tersebut diberikan kepada tim dari Sumenep.

Hadiah-hadiah ini sesungguhnya lebih dari sekadar simbol penghargaan. Di baliknya, ada pesan diplomatik yang kuat: bahwa kebudayaan Madura bukan hanya penting bagi Madura sendiri, tetapi diakui dan dihormati oleh pusat kebudayaan Jawa. Keraton, dalam konteks ini, menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada batas teritorial, tetapi mencakup seluruh khazanah budaya Nusantara.

Kerapan Sapi dan Visi Kebudayaan Nusantara

Peristiwa tahun 1926 ini kini dapat dibaca sebagai salah satu contoh awal sinergi kebudayaan antara wilayah-wilayah Nusantara. Keraton Jawa yang kerap dianggap sebagai pusat budaya Jawa ternyata justru menjadi pelindung bagi tradisi lain. Hal ini memperlihatkan bahwa visi kebudayaan pada masa itu sudah mengarah pada keberagaman dan inklusivitas.

Seabad berlalu, catatan-catatan lama seperti laporan John Scolte mengingatkan kita bahwa kolaborasi lintas budaya bukanlah hal baru. Tradisi dapat hidup ketika ia ditempatkan pada ruang yang lebih luas—melampaui daerah asalnya, menjadi bagian dari imajinasi kebudayaan nasional.

Kerapan Sapi, dengan gemuruh saronennya dan sorak ribuan penonton di alun-alun Bangkalan tahun 1926, bukan hanya peristiwa lokal. Ia adalah bukti bahwa budaya bergerak, bertemu, dan tumbuh melalui perjumpaan. Dan dalam sejarah itu, para raja Jawa telah lebih dulu memberi teladan bagaimana merawat dan menghidupkannya.

(Pustaka_Madura, Mamira.id)

 

© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close