Langsung ke konten utama

Jejak Marlena di Pasir Lebak



Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr

Episode Satu

Pesisir Lebak, Juni 1992

Ketika matahari mulai condong ke arah barat, para nelayan mulai bersiap menuju pantai untuk turun ke laut. Debur ombak laut utara Pulau Madura kian menggelegar bersamaan laut pasang. Bagaikan orkestra yang diciptakan oleh alam untuk mengantarkan semangat pelaut-pelaut perkasa ke medan laga.

Cakrawala bersih dalam sapuan bias matahari menimbulkan warna merah tembaga, yang tampak bagaikan permadani yang menghampar di kaki langit lepas. Demikan pula burung-burung camar mulai menggerayangi gari-garis pantai, seolah disitu terdapat sebuah permainan yang dikendalikan oleh berbagai latar kehidupan manusia.

Orang tua, kaum muda, laki-laki perempuan, bahkan anak-anak mulai sibuk mengemasi peralatan penangkapan ikan yang dibutuhkan untuk berlayar. Dan perahu yang di ombang- ambing ombak di pantai  seolah  melambai-lambai menyampaikan salam bagi sanak keluarga yang akan di tinggalkan oleh awaknya. Begitulah perjalanan nasib pelaut-pelaut Madura yang telah melekat kehidupannya dalam selimut angin dan berbantal ombak. Ollè olang.

Madura, menurut mereka adalah tanah galian yang dicipta oleh keringat dan darah para pendahulu mereka. Masih belum hilang dari ingatan mereka bagaimana perjuangan para masa kejayaan kerjaan di Madura, pahlawan Trunojoyo, Ke’ Lesap atau pahlawan mereka pada masa perjuangan merebut kemerdekaan di tanah Madura,  yang mereka terima kisah itu dari mulut nenek pendahulu mereka. Dan hingga saat ini pun semangat juang mereka masih melekat dalam dada generasi penerusnya.

Dengan perlahan, matahari mulai menulik dan menembus diketiak malam. Gerak manusia disekitar pantai, kini yang tampak hanya bayang-bayang dalam keremangan senja. Dan saat itu bulan muncul di cakrawala timur dengan wajah bulat penuh, bias sinar merona dalam warna kuning keemasan. Langit cerah hanya berawan tipis mengawang bagai tiupan kapas dalam semburan warna sumba. Sehingga nampak jelas bola lampu raksasa yang menggantung di bawah langit itu, sungguh mempesona tiada tara.

Sementara di kejauhan terdengar sayup-sayup suara adzan magrib dari sebuah surau perkampungan nelayan. Bersamaan itu, kesibukan dipantai lenyap perlahan-lahan. Yang tersisa hanya debur ombak pantai dan perahu-perahu yang bergoyang mengikuti irama gelombang.

Di perkampungan tak jauh dari pesisir, nampak kesibukan baru dalam menyambut malam. Orang laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang telah berpakaian rapi bergegas menuju surau. Tubuh yang tadi berlepotan pasir, kini telah bersih terbungkus sarung dengan setelan baju sederhana serta memakai kopiah, bershaf sholat berjamah. Peristiwa kecil ini menandakan begitu kuat kebutuhan rohani mereka yang diselaraskan dalam tradisi, baik saat melaksanakan ibadah, maupun dalam kehidupan sehari-harinya

Seperti hari-hari sebelumnya, nelayan yang akan berangkat menuju laut, dituntaskan setelah turun dari surau, kemudian bersiap merebut kemenangan dengan menjala ikan di tengah lautan. Sementara anak-anak meneruskan kegiatan mengaji hingga waktu sholat dalam kehidupan sehari-hari sampai sholat Isya tiba.

Bulan makin meraupi perkampungan nelayan. Kampung Lebak yang hampir semua penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan, adalah bagian kecil yang dihuni oleh masyarakat Madura. Madura pada dasarnya memiliki banyak kekayaan alam, tetapi dikampung ini justru masih tertinggal jauh perkembangannya bila dibanding dengan wilayah pesisir lainnya.

Namun menariknya  di kampung yang merupakan bagian desa Tlonto Raja, Pasean ini berbatasan langsung dengan laut. Kampung ini dilindungi oleh tangkis laut buatan untuk menghalau gelombang laut. Pun ditempat itu pula tempat sandar banyak perahu nelayan yang digunakan untuk melaut oleh warga. Perahu yang digunakan oleh warga yang umumnya berhias dan beraneka warna-warni.

Untuk mengejar ketertinggalan pembangunan, secara lambat laun membuahkan perangkat desa setempat mulai menumbuhkan pemikiran untuk maju. Dan ini dibuktikan dengan berdirinya beberapa sekolah atau madrasah. Sehingga anak-anak tidak lagi terlantar seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa hanya dengan pendidikan inilah mereka dapat memanfaatkan kesempatan meraih kemenangan pada masa mendatang. Sikap gotong-royong yang dilandai dengan nilaii kebersamaan dan senasib sepenanggungan mendorongnya dalam proses kemajuan lebih cepat. Kondisi ini didorong dengan adanya media elektronik yang mulai dimiliki oleh beberapa penduduk. Sehingga mereka mengetahui perkembangan dunia luar.

Saat-saat  bulan pernama bagi masyarakat pesisir merupakan saat yang paling menyenangkan karena pantai tak lagi gelap, seperti hari-hari sebelumnya. Warga kampung lebak memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Sebagian warga menggelar tikar dihamparan pasir yang lembab, karena tersiram hujan kemarin malam. Para oeng tua berleha-leha mempebincangkan nasib dan perkerjaan mereka. Sementara anak-anak bersuka cita dengan bermain dibawah siraman rembulan. Anak lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu. Mereka bermain kejar-kejaran, lompat-lompatan, serta bermain permainan tradisional seperti yang pernah dimainkan orang tuanya dahulu, misalnya lar-kolanjhãng, ke’-rangke’ kokkonèngan, dan lain sebaginya.

Sedang sekelompok lainnya kidungan seperti:

pa’ kopa’ èling èlingnga sakoranjhi eppa’na ollè paparing ana’ tambãng tao ngajhi ngajhi bãbãna cabbi ka’angka’na sarabhi potthon è cocco’ dãngdãng pote kebã mole è cocco’ dãngdãng celleng kebã melleng (bertepuk-tepuk ingat, sadar sekeranjang sang bapak mendapatkan anugerah anak bodoh jadi (bisa) mengaji mengaji di bawah cabai, suguhannya serabi gosong di patuk elang putih di bawa pulang di patuk elang hitam dibawa nakal) Ada juga melantunkan pantun seperti ini lir sa’alir alirkung, kan akowak epakajã, ma’ ta’ rengsa se nyarè lir sa’alir alirkung, reng ta’ kowat jã’ akarjã, ma’ ta’ sossa budi are lir sa’alir alirkung, ka ghunong ngala’ nyorowan, kopè bellã kabãddã’ã lir sa’alir alirkung, pèkkèr bhingong ta’ karowan, napè bulã katambã’ã (lir sa’alir alirkung, karena berteriak dengan nyaring, bila mencari biar tidak penat lir sa’alir alirkung, orang yang tidak kuat jangan bekerja (hajat besar-besaran), biar tidak sengsara hari selanjutnya lir sa’alir alirkung,ke gunung mengambil tawon, botol pesah buat wadah lir sa’alir alirkung,mpikiran bingung tidak menentu, apa yang harus jadi obatnya)

dan seterusnya

Keasyikan dalam bermain, sekelompok anak pessisir ini sampai melupakan waktu, hingga kelelahan ketika larut malam telah tiba.

*****

Ketika sinar matahari menembus dinding anyaman bambu, anak-anak yang kelelahan bermain semalaman itu mulai tersadar, bila pagi telah tiba. Hal ini juga dirasakan oleh tubuh Marlena. Dia mengeliat di atas lencak (balai bambu) tempay tubuh  Marlena tergolek. Sesekali tubuhnya menggeliat menghindari tikaman sinar matahari yang tepat mengarah wajahnya.

Marlena masih malas dipembaringan, saat Bruddin, ayah Marlena kembali dari pantai sebagai buruh angkut hasil penangkapan ikan. Kadangkala Bruddin menghabiskan waktu luangnya memancing ikan di laut dengan jhukong (sampan kecil). Sebab hanya itulah kemampuan Bruddin mengais rejeki setiap fajar menyingsing. Sementara kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk berlayar mengarungi lautan. Ia merasakan keterbatasan  ini menjadi belenggu yang sulit dilepaskan. Tapi ia sadar, bahwa Marlena, anak semata wayangnya itu  masih membutuhkan kasih sayang penuh dari seorang ayah.

“Lena:…, ayo bangun. Hari sudah pagi,” gugah Bruddin. Marlena masih tergolek lemah. “ayo bangun, sudah pagi,” ulang orang tua  tunggalnya itu.

“Capek ayah,” sahutnya tanpa menoleh

Bruddin menggeleng-gelengkan kepala. Ia biarkan Marlena meneruskan tidurnya. Dan ia langsung menuju dapur, meski sebenarnya antar tempat pembaringan dan dapur hanya dibatasi oleh selembar gedek seberdirian manusia.

Ia nyalakan api diatas kayu yang ia dapat dari mengumpulkan di sepanjang pantai tempo hari. Demikan pula beras yang ia beli dari upah juragan Muksin, diseduh-seduhkannya didalam polo’ (kuali) yang tergeletak diatas perapian tomang (tungku). Asap mengepul memenuhi ruangan tiga kali empat meter yang hanya pantas digunakan sebagai kandang sapi.

Saat Bruddin merasakan sesuatu yang kerap ia rasakan pada hari-hari sebelumnya. Ada sekeping luka melintas, bagai bara api menyulut hatinya.

Ia tiup kuat-kuat bara api dihadapannya. Sesaat kemudian api menjalar disekitar tunhku, sehingga polo’ yang berisi jelaga itu seakan akan meronta-ronta kepanasan. Mungkin itulah perumpamaan hati Bruddin bila merenungi nasibnya. Telah sekian kali ia berontak, tapi nasib itu masih lekat memeluk dirinya.

Api padam kembali, sehingga asap putih yang mengambang di hadapannya menembus tepat dicelah matanya. Ia ingin menjerit nyaring, tapi jeritan itu terhenti di kerongkongannya.

Dengkur Marlena terdengar makin lirih. Ia dekati anak itu, ia tatap wajahnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik keluguan wajahnya. Ada garis-garis yang menggambarkan kerinduan.

“Entah apa yang akan kupenuhi masa depanmu nak, sementara kita masih diburu oleh kemiskinan. Sedang kau yang pada saatnya nanti menuntut keadilan, sebagaimana keluhan-keluhan yang kerap menggetarkan jiwaku. Kini kau harus puas memamah derita. Tidak seperti temanmu Patimah, yang kadang mengiming-imingkan gelang emasnya di depanmu. Atau Marbuah yang kini mendapatkan kemenangan setelah disunting oleh juragan perahu.” kata hati Bruddin sambil mngusap dahi anaknya. Ada getaran yang mengalir dari sentuhan tangannya.

Dalam hati Bruddin merasa berdosa mendukung kelahiran anak itu dari rahim ibunya dulu. Kenapa ia harus lahir, kalau hanya bergelut dalam derita? Ia pandangi lagi wajah anaknya lebih dalam. Terasa ada sesuatu yang merasuk hatinya. Ada sesuatu yang tersembunyi dan terungkap jelas di mata Bruddin. Wajah itu, wajah yang pernah memberi kemenangan, kebanggaan dan kebahagiaan, yang kini terukir jelas di wajah anaknya. Yah, itulah wajah Salehah, istrinya.

Ada rasa sesal dihati Bruddin. Kenapa Tuhan terlalu cepat memanggilnya justru pada saat Marlena membutuhkan rasa sedap susu ibunya. Seandainya pada saat itu ia memiliki biaya melahirkan di rumah sakit kota, mungkin akan lain keadaannya. Tapi semuanya telah berlalu, meski akhirnya Marlena menjadi korban sebagai anak piatu.

Bruddin ngat betul, betapa pedih hatinya ketika merasakan saat-saat terakhir menjelang kepergian istrinya.  Saat-saat dirinya mengharapkan memetik hasil buah perkawinannya. Namun semuanya musnah, yang tersisa hanyalah tikaman yang dasyat ke dalam jantungnya.

“Tenangkan dan kuatkan jiwamu Leha. Pasti sebentar lagi anak kita lahir,” demikian Bruddin membujuk dan memaksa istrinya, Saleha, pada saat-saat kritis. “kau harus kuat, Leha. Berusahalah….berusahalah…!,” katanya waktu itu. Suleha memang sudah berusaha sekuat tenaganya. Tetapi takdir Tuhan menghendaki yang lain. Pada saat orok itu terlahir, Tuhan .justru memanggil Soleha. Ibu Marlena.

“Ayah menangis,” suara resah membisik disampingnya. Bruddin terjengah. Ternyata Marlena telah bangun dan sempat memperhatikan kekakuan orang tuanya.

“Oh, tidak Lena…tidak,” jawab Bruddin sekenanya. “Mata ayah kemasukan asap. Lihatlah asap ini memenuhi ruangan. Ayah lupa kalau sedang menanak.”, ujar Bruddin. Bau hangus menyengat hidung, dengan tergopoh-gogoh Bruddin memburu ke perapian.

“Ayah pasti menangis. Itu saya lihat mata ayah merah. Teringat ibu ya?”, kata Marlena sambil mendekat di samping Bruddin. Bruddin menggeleng. Ada rasa terenyuh dalam hatinya.

“Ayah bohong. Kata guru ngaji Lena, orang bohong itu dosa, dan bisa masuk neraka.” tandas Marlena. Bruddin terharu.

“Neraka itu panas ya, yah? Sama seperti api itu?,” tanya Marlena menunjuk ke arah perapian. Bruddin terpana.”

Kenyataan hidup ternyata telah menguasai jiwa anak itu. Tuntutan yang tidak diharapkan muncul saat seperti ini, ternyata harus di terimanya, meski harus pasrah. “Apa benar aku ini telah dipenuhi dosa?” pikir Bruddin.

“Ayah kok diam?”

“Ya.”

“Apa yang iya, Ayah”

“Ya. Api itu panas seperti di neraka.”. Marlena puas. Bruddin lega.

“Nah, sekarang ayo pergi mandi. Nanti ikut ayah ke pasar. Katanya ingin punya sandal?” suruh Bruddin pada anaknya. Marlena mengangguk girang. Kemudian bergegas menuju pakèbãn (tempat mandi sederhana) yang terletak disamping rumah. (*)


© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close