Langsung ke konten utama

Jejak Pusaka Hilang di Pamekasan

Misteri Joko Piturun dan Bayang-Bayang Panembahan Ronggosukowati


Di Pulau Madura, sejarah berjalan seperti angin laut: kadang berembus lembut, kadang mencambuk tajam, namun selalu meninggalkan jejak yang tak pernah pudar. Di sini, sejarah tidak hanya menyimpan fakta — ia juga memelihara dongeng, legenda, dan kisah tutur yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semua itu melebur menjadi satu, membentuk corak khas yang membuat Madura tak pernah kehabisan cerita untuk didengar.

Salah satu cerita yang paling memikat adalah tentang sebilah keris pusaka yang keberadaannya kini hilang ditelan waktu: Keris Joko Piturun, pusaka sakti yang pernah menjadi lambang kewibawaan seorang raja besar Pamekasan, Panembahan Ronggosukowati (1530–1616 M). Kisahnya bergaung dari desa ke desa, dari pengajian ke pasar, dari ruang keraton ke dapur keluarga — seolah legenda ini bernafas bersama kehidupan orang Madura.

Sejarah yang Menjadi Seni

Sejarah kadang kaku, tegas, menetapkan hitam dan putih. Namun pada sisi lainnya, ia menjadi seni yang lentur, mengalir bebas bagai lukisan di atas kanvas. Kisah Joko Piturun berada pada sisi yang kedua — penuh simbol, penuh pesan, dan penuh misteri.

Orang Madura memahami bahwa tidak semua kisah harus dipercaya secara harfiah. Namun sebuah kisah yang hidup selama ratusan tahun pasti menyimpan makna tentang siapa mereka, bagaimana leluhur mereka, dan nilai-nilai apa yang dijunjung.

Joko Piturun adalah salah satu cermin itu.

Tiga Tamu Misterius yang Membawa Tiga Bagian Pusaka

Awal kisahnya seperti adegan dalam dongeng kuno. Diceritakan dalam buku Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-daerah di Kepulauan Madura karya Kanjeng Zainalfattah, bahwa pada masa awal pemerintahan Panembahan Ronggosukowati, datanglah tiga tamu asing — satu per satu, pada tiga hari berbeda.

Hari pertama, seorang lelaki asing datang membawa landiyan, yakni gagang keris. Tanpa menjelaskan asal atau maksudnya, ia menyerahkan benda itu kepada Panembahan, lalu pergi begitu saja.

Hari kedua, tamu berbeda datang lagi, membawa warangka, sarung keris lengkap dengan perlengkapannya.

Hari ketiga, datanglah tamu ketiga yang membawa bilah keris.

Tak satu pun dari mereka saling mengenal, namun ketiganya membawa potongan dari sesuatu yang kelak menjadi simbol pamungkas Pamekasan.

Panembahan memanggil seorang empu keris untuk merangkainya. Ajaibnya, semua bagian itu menyatu tanpa perlu dipangkas, dipoles, atau dibentuk ulang. Seolah ketiga benda itu memang diciptakan untuk satu tujuan.

Maka bersemilah sebuah keris elok yang memancarkan wibawa tajam:
Kiai Joko Piturun.

Tak ada yang tahu apa makna “Piturun” dalam konteks keris ini. Ada yang menafsirkan sebagai “turunan” dari wahyu. Ada pula yang melihatnya sebagai simbol kekuatan yang “turun” dari langit kepada pemiliknya. Namun satu hal pasti: keris itu membawa kewibawaan yang tak terlukiskan.

Kekuatan yang Menghidupkan dan Mematikan

Dalam legenda Pamekasan, keris ini memiliki keampuhan yang tak masuk akal bagi nalar manusia.

Dikisahkan, suatu ketika Panembahan Ronggosukowati memeriksa seorang tahanan yang terkenal kejahatannya. Dengan hanya mengarahkan ujung keris ke tahanan itu, sang penjahat seketika roboh dan mati.

Lalu, setelah keris disarungkan kembali dan kembali dihunjamkan ke arah jasad itu — mayat itu hidup kembali.

Cerita ini tidak dimaksudkan untuk mengajak kita mempercayai bahwa sebuah keris benar-benar bisa menghidupkan atau mematikan. Tetapi legenda ini menggambarkan sesuatu yang jauh lebih penting bagi masyarakat Madura: kewibawaan seorang pemimpin. Bahwa seorang raja yang arif tidak perlu mengayunkan pedang untuk membuat rakyatnya tertib — cukup wibawa, cukup integritas.

Dan betul saja: sejak keris itu berada di tangan Panembahan Ronggo, Pamekasan dikisahkan menjadi negeri paling tenteram, aman, dan damai.

Panembahan Ronggosukowati: Raja Ksatria Tanpa Ambisi Tanah

Panembahan Ronggosukowati bukan sembarang raja. Ia dikenal sebagai sosok ksatria yang menolak memperluas wilayah lewat perang. Keberaniannya besar, tetapi bukan untuk menyerang — untuk melindungi.

Etos keberaniannya lengkap:

taktis, sabar, sopan, adil, tabah, dan setia pada kebenaran.

Ketika pasukan Bali menyerbu Sumenep dan membunuh Pangeran Lor I, Panembahan datang sendiri ke garis depan di wilayah yang kini disebut Desa Jungcangcang. Di sana, pasukan Bali dihancurkannya tanpa ampun. Legenda menyebut, tak ada satu pun prajurit Bali yang lolos. Cerita ini, meski berlebihan jika dilihat dengan kacamata sejarah, menggambarkan kebesaran nama Panembahan yang menjadikan Pamekasan dihormati sekaligus ditakuti.

Sosoknya semakin menarik karena ia berasal dari garis keturunan bangsawan besar Madura — keluarga Demang Plakaran, keraton tertua di Arosbaya.

Ketegangan Dua Sepupu: Ronggo dan Lemah Duwur

Kisah Joko Piturun tidak bisa dipisahkan dari hubungan dramatis antara Panembahan Ronggosukowati dan sepupunya: Panembahan Lemah Duwur dari Arosbaya.

Awalnya hubungan mereka baik. Suatu hari Lemah Duwur berkunjung ke Pamekasan dan menginap di Keraton Mandilaras, dijamu bak saudara. Seluruh rombongan disambut dengan meriah. Namun konflik bermula dari sesuatu yang sangat manusiawi: salah paham.

Saat Lemah Duwur ingin menangkap ikan di rawa kerajaan bernama Se Ko’ol, ia memerintahkan para menterinya melepas pakaian luar mereka dan turun ke rawa. Para pejabat Pamekasan, mendengar kehadiran sang tamu, langsung turun ikut membantu — tetapi mereka tetap memakai pakaian resmi lengkap sebagai bentuk penghormatan pada rajanya.

Alih-alih melihat itu sebagai penghormatan, Lemah Duwur tersinggung. Ia merasa dipermalukan, lalu pulang ke Arosbaya tanpa pamit. Dan di sinilah tragedi bermula.

Tusukan ke Pohon, Tusukan ke Takdir

Mendengar kabar itu, Panembahan Ronggosukowati murka. Ia menyusul sepupunya ke arah Sampang. Di Sampang, ia bertemu adiknya — Adipati Sampang — yang memberi tahu bahwa Lemah Duwur sempat beristirahat di bawah sebuah pohon di daerah Blega.

Pohon itu ditunjukkan.

Dalam diam, Panembahan Ronggo menghunus Keris Joko Piturun dan menusukkan bilahnya ke pohon tersebut. Sebuah tindakan simbolik — atau mungkin sebuah lontaran kemarahan yang tak ia sadari akan berdampak besar.

Ia lalu pulang tanpa kata.

Beberapa hari kemudian, sebuah surat datang dari permaisuri Lemah Duwur. Isinya mengguncang batin Panembahan.

Pada hari ketika keris ditusukkan ke pohon itu, Lemah Duwur bermimpi dirinya ditusuk keris yang sama. Keesokan paginya muncul bisul besar di tubuhnya, semakin lama semakin parah, dan dua hari kemudian sang Panembahan Arosbaya wafat.

Antara kebetulan atau mistis, legenda ini sudah hidup ratusan tahun lamanya.

Ronggosukowati menyesal setengah mati.

Keris yang Dibuang dan Suara dari Rawa

Dilanda penyesalan, Panembahan pergi ke rawa Se Ko’ol — tempat awal terjadinya kesalahpahaman — dan melemparkan Keris Joko Piturun ke dalam rawa itu.

Begitu keris tenggelam, terdengar suara gaib:

“Seandainya keris Joko Piturun tidak dibuang,
Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor.”

Suara itu menjadi misteri yang terus diceritakan: apakah maksudnya kekuatan keris itu begitu besar hingga bisa mengubah sejarah Jawa dan Madura? Apakah suara itu pertanda bahaya jika keris tetap disimpan?

Yang jelas, setelah keris dilemparkan, tak satu pun prajurit berhasil menemukannya. Rawa Se Ko’ol menguburnya selamanya.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1592.

Hari ini, rawa itu tidak lagi ditemukan jejaknya. Diduga letaknya sangat dekat dengan kawasan yang kini menjadi Pendopo Agung Ronggosukowati, pusat pemerintahan Kabupaten Pamekasan.

Jejak yang Menguap, Namun Tidak Pernah Hilang

Seperti banyak pusaka Nusantara lainnya, Joko Piturun hilang tanpa meninggalkan bentuk fisik. Namun bukan berarti ia lenyap. Sebab sebuah pusaka bukan hanya bilah logam; ia adalah cerita, nilai, dan identitas.

Dalam budaya Madura, keris selalu lebih dari sekadar senjata. Ia adalah penjaga kehormatan, tanda wibawa, dan simbol keadilan. Maka hilangnya Joko Piturun justru menambah aura mistiknya. Ia berubah dari benda menjadi legenda — sesuatu yang justru lebih kuat.

Kekuatan legenda adalah ia tidak bisa dicuri, tidak bisa berkarat, dan tidak bisa hilang dari ingatan.

Kini: Antara Rawa yang Hilang dan Kenangan yang Menetap

Jika Anda berjalan ke Pendopo Agung Ronggosukowati hari ini, Anda mungkin tidak menemukan jejak apa pun tentang Se Ko’ol. Tidak ada papan penanda, tidak ada sisa rawa, tidak ada tanda bahwa di tempat itulah drama besar seorang raja terjadi.

Namun ketika angin sore bertiup pelan di halaman pendopo, ketika pepohonan bergerak lembut seperti melambai, barangkali Anda bisa merasakan getaran masa lalu. Ada kisah yang menetap di udara, menunggu didengar kembali.

Mungkin keris itu benar-benar telah hilang. Mungkin ia tertidur di dasar tanah Pamekasan, tak tersentuh manusia. Atau mungkin — seperti legenda yang baik — ia hanya menunggu waktu untuk muncul kembali dalam kisah lain, pada generasi yang lain.

Sejarah yang Menjadi Nafas

Masyarakat Madura tidak hanya mewarisi tanah dan laut. Mereka mewarisi cerita. Cerita yang mereka pelihara bukan sebagai mitos kosong, melainkan sebagai cermin yang memantulkan nilai-nilai:

  • kewibawaan pemimpin,
  • harga diri yang harus dijaga,
  • bahaya kesalahpahaman,
  • konsekuensi dari kemarahan,
  • dan pentingnya kebijaksanaan.

Kisah Keris Joko Piturun bukan sekadar kisah tentang sebuah pusaka yang hilang, melainkan tentang perjalanan manusia — tentang kekuasaan, penyesalan, persaudaraan, kehormatan, dan takdir.

Dalam setiap legenda, selalu ada pelajaran.
Dan dalam setiap pusaka, selalu ada jiwa yang berbicara.

Begitulah cara Madura mengajarkan sejarah: bukan melalui angka dan tabel, tetapi melalui cerita yang hidup. Cerita yang tak akan pernah selesai dituturkan.

 (Pustaka_Madura/Mamira)

© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close