Langsung ke konten utama

Marlena Ingin Sekolah


Marlena
, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton W

Episode Dua

Ketika Marlena lenyap dari hadapannya, Bruddin masih sempat menimang-minang kembali peristiwa yang baru saja dialami. Ia merasakan ada sesuatu keganjilan terhadap dirinya. Durabanya wajahnya, lengannya dan seluruh tubuhnya, kini terasa semakin tua, padahal ia belum berbuat apa-apa untuk anak satu-satunya. Atau mungkin  naluri Marlena lebih sempurna dibanding dirinya? “Tidak! Itu tidak mungkin”, bantah Bruddin. Marlena harus dewasa sesuai perjalanan usianya.

“Ayah kok masih duduk disitu?”, sapa Marlena yang tiba-tiba telah berdiri di samping Bruddin.

Marlena tampak cantik, meski hanya mengenakan baju yang sangat sederhana. Baju inilah satu-satunya yang menjadi kebanggaan Marlena. Baju itu pemberian teman Bruddin tatkala prahunya singgah di pulau seberang.

Warna kulit Marlena yang kuning kegelapan karena terpanggang sinar matahari, justru memberikan kesan serasi. Persis keserasian istrinya ketika mengenakan warna yang sama dahulu. Hal ini berkat perhatian Bruddin yang selalu menghargai makna keindahan. Khususnya yang menyangkut diri Marlena. Hanya itulah penghargaan satu-satunya terhadap Marlena, anaknya.

Dengan riang Marlena menarik lengan bapaknya untuk diajak pergi ke pasar membelikan sendal jepit. Namun ketika kaki Bruddin dan Marlena menginjakkan kakinya di halaman rumah, terdengar hiruk pikuk yang disebabkan oleh teriakan dan jeritan para tetangganya.

“Ada apa  Su’i,” tanya Bruddin penasaran pada tetangganya itu

“Perahu Man Suri karam,” sahut Su’i  yang kebetulan lewat.

“Bagaimana keadaan awaknya?” tanya Bruddin.

“Belum diketemukan. Man Ju’i sedang menyusul ke tengah,” jawab  Su’i singkat.

“Gawat! Makanya tadi pagi kok tidak kelihatan. Aku kira terus ke Masalembu.”

“Tujuannya memang kesana, tapi tiba-tiba ada angin kencang datang.” sahut Su’i sambil terus berjalan.

Berita karamnya perahu Man Suri, mulai tersiar keseluruh pelosok kecamatan. Petugas dari Kepolisian, Koramil maupun petugas lainnya telah tiba di pesisir pantai. Sementara masyarakat mulai berduyun-duyun mencari tahu keberadaan karamnya perahu tersebut. Sehingga sekitar pantai tak ubahnya sebuah keramaian yang langka bagi mereka.

Bagi warga kampung Lebak,  peristiwa kali ini merupakan musibah terbesar sejak peristiwa keramnya perahu Bruddin dua puluh tahun yang lalu. Peristiwa itu merenggut nyawa ayah dan adik Bruddin. Sekaligus merenggut harapan Bu’ Sarmi. Ibu Bruddin, Bu’ Sarmi juga kehilangan seluruh harta bendanya yang telah digunakan untuk membeli perahu juragan Kadir. Dan kini perahu itu telah hancur ditelan ganasnya gelombang lautan.

Bruddin masih mematung memandang ke arah batas laut. Tak ada tanda-tanda kedatangan perahu-perahu yang menyusul. Tanpa terasa jantungnya berdegup keras, seolah ingin memberontak ketidak adilan yang ditujukan pada warga Lebak. Tapi kemudian ia sadar, bahwa laut merupakan karunia yang banyak memberikan rejeki bagi manusia, meski kadang melahirkan petaka.

“Kasihan bapaknya Masriah,” gumam Marlena yang sejak tadi mengikuti jejak ayahnya. “Kalau Pak Suri tidak ditemukan, Masriah kan tidak punya bapak?” tanya Marlena sendu.

Bruddin hanya mengangguk tanpa mampu mengucap sepatah kata. Marlena begitu peduli kepada Masriah, anak bungsu Man Suri. Karena Masriah merupakan teman akrab Marlena dalam mengaji.

“Tapi kenapa ya, orang-orang masih senang turun ke laut?” tanya Marlena heran.

“Karena dari lautlah mata pencaharian kita,” jawab ayahnya.

“Di darat kan juga ada mata pencaharian, yah, seperti bapaknya Musa itu, dia berdagang, atau Pak Atmo yang bertani, Bu Sujak yang memelihara ayam, dan masih banyak lagi yang lain. Kalau di darat kan tidak terjadi kecelakaan seperti yang terjadi atas perahu Man Suri itu, ya?” tanya Marlena dengan pertanyaan yang khas anak-anak dan suka mengejar dan membanding-bandingkan.

“Lena, yang namanya musibah itu terjadi dimana-mana, baik didarat, laut ataupun di udara. Kalau Tuhan menghendaki demikian, manusia tidak akan mampu menolaknya. Manusia diwajibkan untuk berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan semuanya,” Bruddin berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan anaknya yang kritis itu.

“Tapi laut kan banyak bahayanya?” tanya Marlena penasaran.

Bruddin tak menjawab dan membiarkan Marlena mengoceh tentang berbagai hal. Entah karena capek, atau merasa tak diperhatikanm akhirnya Marlena menghentikan ocehannya.

Sebuah perahu mulai merapat ke pantai. Dua orang awak turun dari perahu seraya menggotong sesuatu. Suasana menjadi kacau. Hampir semua wajah yang ada di sekitar pantai diselimuti rasa duka. Sedang sanak kerabat terdekat, mulai bertangisan. Bahkan ada yang sampai menjerit-jerit histeris, seakan-akan banjir air mata di tempat itu.

“Suri dan Emmat telah ditemukan,” begitu komentar seseorang kepada warga yang berkumpul.

“Bagaimana keadaannya?” tanya yang lain.

“Keduanya tak tertolong. Meninggal.” jawab orang itu.

“Innalillahiwainnalillahirojiun,” gumam orang-orang yang hadir di tempat itu.

“Yang lain bagaimana?” tanya Bruddin.

“Belum di ketemukan. Tapi kabarnya perahu Man Suri terbelah dihantam ombak.”

“Astagfirullah,” seru Bruddin gemetaran.

Awan hitam bergerak dari arah tenggara, berarti sebentar lagi akan mendung langit diatas kampung lebak. Seakan menyampaikan belasungkawa atas kedua warganya yang telah memenuhi panggilan Sang Pencipta.

Tanpa terasa waktu liburan sekolah telah tiba. Anak-anak yang sempat menikmati sekolah di kota, menggunakan kesempatan ini untuk pulang ke kampung halamannya. Kampung Lebak. Pada saat liburan seperti ini, anak-anak menghabiskan waktunya dengan bermain di pantai bersama teman-teman lama.

Kamil, merupakan warga yang mempunyai nasib mujur dan dapat melanjutkan sekolah di kota kabupaten. Dia adalah anak Haji Mastur yang memiliki tiga buah perahu, dan merupakan satu-satunya warga kampung Lebak yang memiliki televisi.

“Di kota enak ya, kak..?” tanya Murni, anak kelas dua SD Lebak, saat bertandang ke rumah kamil bersama Marlena.

“Ya tentu, bila dibandingkan disini, di kota lebih ramai. Apapun yang kau perlukan pasti tersedia. Bahkan kalau malam hari, kamu tidak takut kegelapan, soalnya suasana malam hari menjadi terang benderang oleh sinar lampu, seperti di sini pada saat bulan pernama,” jawab Kamil bangga.

“Waw…, kalau begitu enak ya, hidup di kota?” tanya Marlena.

“Ya enak, kalau kalian punya uang banyak,” jawab Kamil.

“Kalu begitu orang di kota kaya-kaya ya?” tanya Murni kagum.

Kamil hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari anak-anak di kampung lebak yang rata-rata hanya mengenal penidikan dasar. Di mata Kamil, wajah-wajah dihadapannya adalah wajah lugu, sunyi, dan belum mengenal rumitnya jaman.

Mendengar penuturan Kamil, hati Marlena jadi berontak. Ingin rasanya dia mengikuti jejak Kamil untuk sekolah ke kota. “tapi apa yang harus diperbuat?” batin Marlena lesu.

Usia tujuh tahun sebenarnya terlalu dini untuk mengenal hakekat kehidupan. Tapi bagi Marlena usia  itu justru sudah menapaki tebing-tebing terjal  yang kadang belum terpikirkan oleh yang lain. Tebing-tebing yang membatasi tanah kelahirannya ke arah yang lebih maju. Marlena tercenung.

*****

“Apa yang kamu kerjakan di situ Lena?” tegur Bruddin yang baru tiba menjaring ikan di laut. Dia heran melihat Marlena termenung seorang diri dibawah pohon siwalan. Jaring di tangannya langsung disandarkan di atas pagar.

“Ada apa lena?” ulang Bruddin sambil mendekati Marlena.

Marlena menggeleng.

“Ayo katakan mengapa?”, Bruddin heren. Wajah Marlena merona “Diganggu Juki lagi ya?”, lanjut Bruddin.

Sekali lagi Lena menggeleng. Beberapa butir air mata meleleh di pipinya. Matanya sembab.

“Ayo jawab nak, ada apa sebenarnya?” tanya Bruddin semakin penasaran. Namun Marlena tidak menjawab. Bahkan wajahnya semakin merunduk.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita makan. Tadi telah kusediakan makanan kesukaanmu. Ada cakalan bakar dan kecap,” rayu Bruddin. Tanpa menunggu jawaban,  Bruddin langsung meraih tangan Marlena dan mengajaknya masuk ke rumah.

Dengan lahap Marlena menyantap makanan kesukaannya. Yang tersisa hanya duri-durinya saja. Setelah perut Marlena kenyang, Bruddin kembali mencoba menjajaki pikiran Marlena. Akhirnya, sambil bercengkrama Marlena mengungkapkan kekesalannya pada sang ayah.

“Ayah !”, seru Marlena ragu.

“Hem, ada apa lagi?” tanya Bruddin memancing.

“Lena ingin ..,” ucapnya ragu.

“Pasti telur penyu!”, tebak Bruddin.

“Tidak…,” jawab Marlena manja.

“Lalu ingin apa?” , tanya Bruddin kembali.

“Lena ingin sekolah,” tandasnya. .

“Se-ko-lah?”, ulang ayahnya pelan.

“Iya…,” sahut Marlena lirih. “Marlena ingin sekolah seperti Marbuah, Masduki dan lain-lainnya…,” tambahnya.

“Ayah mengerti…tapi dari mana ayah dapat uang untuk biaya sekolah nak?, kata Bruddin masygul.”

Mendengar itu, hati Marlena menjadi ciut. Ia tak mampu lagi mengucapkan kata kata. Lidahnya terasa kelu. Bahkan mulutnya terasa tersumbat. Bruddin harus maklum, bahwa anak seusia Marlena sudah sepantasnya duduk di bangku sekolah. Sebagai orang tua, Bruddin merasa prihatin dan sedih. Tapi apa yang harus ia perbuat? Apalah yang ia dapat lakukan sebagai buruh angkut penangkapan ikan? Untuk makan sehari-hari saja Bruddin sudah merasa keberatan. Apalagi harus memenuhi tuntutan anaknya untuk sekolah. Tapi  dia juga tidak tega menolak keinginan anaknya.

“Baiklah…ayah akan usahakan minta bantuan Haji Mastur. Mungkin beliau dapat menolong kita,” jawab Bruddin.

Marlena terpana. Tubuhnya seraya melayang-layang ke udara. Sesaat ia membayangkan berlari-lari seraya mengempit buku menuju sekolah. Hari ini, hari bahagia bagi Marlena.

*****

Haji Mastur sedang pergi ke kampung Pandan ketika Bruddin bertamu ke rumahnya. Sambil menunggu kedatangan H Mastur, Bruddin melayangkan pandangannya ke perabot rumah H Mastur yang tak mungkin ia milikinya. Barang-barang mewah itu terpajang begitu indah dan serasi dengan rumah yang bagus dan besar itu.

Khayalan Bruddin buyar, ketika tiba-tiba Haji Mastur telah muncul dihadapanna. “Sudah lama Din?” sapanya seraya menyalaminya.

“Belum. Baru saja  Man Haji,” sahut Bruddin tergagap.

“Ada sesuatu yang penting?” tanyanya kemudian

“Anu Man Haji, ” tutur Bruddin ragu. Suaranya terputus. Tapi karma didorong oleh rasa sayangnya pada Marlena, dia paksakan juga untuk mengemukakan maksud kedatangannya. “Begini…., Marlena anakku, ingin masuk sekolah. Tapi Man Haji tahu sendiri, bahwa keadaanku tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah Marlena,” ungkap Bruddin berani.

“Yah…aku mengerti maksud alè’ (adik) Bruddin. Marlena memang perlu sekolah. Akupun tidak keberatan memberikan bantuan. Tapi apakah kamu sudah memikirkan untung ruginya bagi seorang perempuan, toh akhirnya akan kembali ke dapur juga. Tapi pikirannya membantah pendapatnya sendiri.

“Aku setuju dengan pendapat Man Haji. Tapi kulihat kemauan Lena untuk sekolah, sudah tak dapat di bendung lagi. Bahkan ketika kukatakan bahwa aku akan berusaha mewujudkan impiannya, dia melonjak-lonjak kegirangan. Itulah Man, yang membuatku memberanikan diri untuk datang kemari,” kata Bruddin.

“Yah…kalau memang hal itu sudah merupakan keputusan kalian. Aku tidak keberatan membantumu,” jawab Haji Mastur mantap. “Tapi terus terang, aku hanya membantu semampuku,”ujarnya.

“Terima kasih Man Haji,” kata Bruddin dengan dada yang lega. Ia membayangkan betapa gembiranya hati Marlena bila keinginannya terpenuhi. Meskipun ia sendiri terkadang ragu akan kenyataan yang akan ia hadapi nantinya. Tapi apapun akibatnya, yang penting untuk kali ini Bruddin tak ingin mengecewakan anaknya. Untuk itulah, Bruddin tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa. (*)


© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close