Langsung ke konten utama

Keluarga Mohammad Toha


Marlena
, Perjalan Panjang Perempuan Madura
; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh
Syaf Anton Wr

Episode Lima            

Rumah megah di tepi jalan raya itu tampak asri. Halamannya yang luas dengan taman anggrek yang luas tertata rapi, serta sederet sangkar burung dari berbagai jenis, membuat rumah ber cat hijau tambah keren. Di rumah itulah Fatimah bersama Fajar, kakak lelakinya, dibesarkan. Biarpun berasal dari keluarga terpandang, Fatimah dan kakaknya merupakan remaja yang supel dan disukai teman-temannya.

Sore itu Fatimah duduk di teras sambil mencermati hasil penelitiannya di Kampung Lebak. Tiba-tiba matanya terhenyak ketika melihat seorang anak perempuan yang nenadahkan tangan di halaman muka. Serta merta Fatima merogoh sakunya dan memberikan uang logam pada anak itu. Hati Fatima begitu terenyuh. Bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah harus mempertaruhkan hidupnya yang ia dapat mengais nasib dari pintu ke pintu.

Sebenarnya Fatimah tidak perduli, kalau bukan anak perempuan. Ia merasakan betapa beratnya mengulur hidup tanpa bimbingan dan kasih sayang orang lain. Sebenarnya dirinya yang banyak diperhatikan oleh kedua orangtuanya, kadang merasa tidak puas kalau membiarkan begitu saja anak­­-anak yang terlantar.

Setelah anak itu menghilang dari pintu pagar, Fatima baru ingat bahwa waktu penelitian di Kampung Lebak tempo hari, dia berkenalan dengan anak perempuan sekecil itu. “Yah…, Marlena, aku ingin menjumpainya,” pikir Fatimah.

 “Den…, dipanggil Bapak ,” tegur Bik Sira, pembantu rumah tangga ini dari belakang seraya mencolek   punggung Fatimah. Fatimah tersentak seketika.

 “Ada apa Bik?” tanya Fatimah.

“Dipanggil Bapak den,” sambung Bik Sira sambil tersenyum. “Mengenang pacar ya?” ujar Bik Sira yang menduga Fatimah sedang melamuni dan mengenang pacarnya.

 “Hehehe…,pacar apa? Mikir diri sendiri saja belum cukup, kok mau mikir orang lain,” ujar Fatimah ketus. Disambut tawa renyak Bik sira.

Bik Sira, pembantu rumahtangga keluarga Pak Toha, sebenarnya sudah berusia lanjut. Tetapi dia masih gesit dalam bekerja. Pembantu setia ini sudah ikut keluarga Pak Toha sejak Fajar, putra pertama pasangan Toha dan Rasmi belum lahir. Sedang fajar sendiri kini kuliah di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Sementara Fatimah, kini sudah duduk di bangku SMA. Saking lamaya mengabdi, Bik Sira sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Karena itu, biarpun Fatimah berperan sebagai “juragan” dia masih sering membantu meringankan pekerjaan Bik Sira. Bahkan Fatimah sudah menganggapnya sebagai orangtua sendiri.

Diruang tamu, Pak Toha sudah menanti kehadiran Fatimah, sambil duduk di kursi panjang. Cara ini adalah kebiasaan Pak Toha, bila ada sesuatu yang perlu dipertanyakaan atau dimusyawarahkan. Begitu juga Bu Rasmi, ibu Fatimah, duduk di samping Pak Toha.

 “Ada apa Ayah?” tanya Fatimah agak heran.

 “Ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan,” Pak Toha memulai.

 “Ayah dan Ibumu rencana mau pulang kampung.”

 “Ke Bangkalan, Maksud Ayah ?”

 “Ya…, tadi pagi aku mendapat berita bila kakekmu sakit.”

 “Lalu kapan berangkat ayah?”

 “Insya Allah besok,” sela Bu Rasmi.

 “Tapi Cuma satu atau dua hari. Sebab kalau memungkinkan ayah dan ibumu akan langsung ke Surabaya menemui pamanmu,” tambah Pak Toha. Memang adik Pak Toha ada yang tinggal di Surabaya, dan kini sudah sukses sebagai pengusaha. Bahkan kini sudah naik haji dua kali.

 “Tapi bila pamanmu ada di Bangkalan, maka kami akan pulang lebih cepat,” sambung ibunya.

 “Kemungkinan hari ini kakakmu akan pulang. “

 “Baik ayah.”

Sebenarnya Fatimah mau bangkit dari tempat duduknya, namun tiba-tiba Pak Toha mencegahnya.

 “Bagaimana hasil penelitianmu?” tanya Pak Tohaingin tahu.

 “Sudah selesai semua ayah.”

 “Coba ceritakan pengalaman selama kamu terjun di lapangan.”

 “Bukan di lapangan ayah, di Kampung Lebak,” sahut Fatimah memancing suasana. Ketiganya tertawa.

 “Yah…, terserahlah!” timpal Pak Toha.

Lalu Fatimah membuka cerita pengalamannya selama melakukan penelitian di Kampung Lebak. Pak Toha mendengarkan dengan seksama. Ceritanya tentang bagaimana mereka berjuang melawan hidup di tengah lautan, masalah pendidikan yang masih terbelakang, tentang lingkungan, serta masalah lain yang berkaitan langsung dengan latar belakang penelitiannya.

Fatimah menceritakan semua pengalamannya, tanpa kecuali Marlena. Karena gadis cilik anak nelayan miskin itu, begitu lain dengan gadis desa pada umumnya. Marlena mempunyai kemauan yang kuat umtuk meraih cita-cita. Dia begitu gigih untuk berjuang menghadapi perjuangan hidup. Biarpun anak perempuan, tapi Marlena mempunyi potensi yang begitu besar, sayang kurang mendapat perhatian dan pengembangan. Ternyata Pak Toha sangat tertarik dengan cerita tentang Marlena.

 “Itulah ayah, aku kasihan melihat keadaannya,” keluh Fatimah, seakan meminta ayahnya untuk turut memikirkan gadis itu.

 “Yah…, memang benih unggul terkadang tumbuh dari pelosok. Banyak para petinggi kita di negara ini juga dari pelosok desa. Berkat usaha dan pendidikannya,  toh kini beliau mampu memimpin sebuah negara,” cerita Pak Toha.

 “Ayahmu itu juga berasal dari desa,” celetuk ibunya.

 “Yah…, begitulah. Ternyata kekayaan di negara kita bukan hanya berupa kekayaan bumi yang tidak ada habis-habisnya untuk digali. Tetapi juga potensi manusia yang sebenarnya mampu menandingi kemampuan negara maju di dunia, selama kita sadar memanfaatkan kesempatan yang sebaik-baiknya,” jelas Pak Toha.

Sebenarnya Fatimah setuju  dengan pendapat ayahnya. Tetapi masih ada keraguan dalam hatinya. “Tapi bagaimana mungkin potensi mereka dapat berkembang, bila kondisi mereka selalu terjepit oleh posisi kehidupannya?” tanya Fatimah.

 “Kalau mereka tidak berusaha, bagaimana mungkin bisa berkembang? Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, bila kaum itu sendiri tidak berusaha mengubahnya. Bukankah demikian?” sela Bu Rasmi.

 “Bisa saja mereka berkembang. Asal ada pihak lain yang mau membantu mereka,” tukas Pak Toha.

 “Maksud ayah, membantu yang bagaimana?,” tanya Fatimah penasaran.

 “Membantu meringankan beban mereka, hingga mereka mendapat peluang untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bidang dan kemampuan mereka masing-masing,” tandas Pak Toha.

“Bener juga ya...! Kalau begitu apa kira-kira gagasan ayah?” Fatimah terus memburu.

Mendengar ucapan anaknya itu, Pak Toha tersenyum. Seolah merasakan apa maksud pertanyaan Fatimah. “Menurut pendapatmu bagaimana?” ujarnya kemudian.

 “Dibantu,” sahut Fatimah cepat.

 “Yah…,dibantu,” tegas Pak Toha.

Kesepakatan ayah dan anak ini kurang menarik perhatian Bu Rasmi. Dia sama sekali tidak mendukung gagasan itu. Hal itu dapat dirasakan oleh Fatimah maupun Pak Toha. Mereka maklum. Karena selama ini Bu Rasmi masih sering menampakkan “keakuannya” di hadapan suami dan anak-anaknya. Apalagi terhadap orang lain.

Sikap demikian ini sebenarnya mempunyai latar belakang tersendiri bagi kehidupan Bu Rasmi. Sebagai keturunan dari keluarga berdarah biru, derajat dan kehormatan kadang masih membelenggunya dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini sering membuat Pak Toha kesulitan dalam memberikan pengertian, bagaimana sepantasnya melakukan sesuatu tanpa dibayangi oleh cara kehidupan feodalisme.

Sebenarnya perkawinan antara Pak Toha dengan Bu Rasmi dahulu, dinilai sebagai “pemberontakan” terhadap nilai-nilai yang dianut oleh kaum bangsawan. Perkawinan itu nyaris gagal, kalau Pak Toha tidak pandai menyiasati diri. Apalah artinya seorang manusia yang terlahir dari keluarga sederhana dari desa, dibanding dengan putri seorang Wedana yang karismatik dan dihormati.

Tetapi bukan Mohammad Toha, kalau tidak mendapatkan akal untuk menyunting kembang keraton yang elok rupawan, Raden Ayu Surasmi Sastrodimejo. Karena perbedaan latar belakang itulah, tak heran bila mereka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk saling menyelami pandangan hidup pendampingnya. Tapi syukurlah, sedikit demi sedikit Bu Rasmi dapat menyesuaikan diri, hingga mampu bergaul dengan masyarakat pada umumnya.

*****

Minggu pagi, matahari bersinar cerah. Hanya segelintir awan tipis bergerak perlahan, seakan untaian cat warna putih meloncat-loncat dari sebatang kuas seorang pelukis. Lukisan alam itu terasa indah, karena pantulan sinar bias matahari yang masih bergantung di ufuk, mencuatkan warna merah transparan dibagian tepinya.

Fatimah saat itu merasakan suasana damai. Karena kakak satu-satunya telah tiba di rumah tadi malam. Sementara Bapak dan Ibu Toha sudah berangkat ke Bangkalan sehabis subuh tadi.

Dengan manja Fatimah menghampiri sang kakak yang sedang sibuk memandikan sepeda motor kebanggaanya, yang setia mengantarnya menuntut ilmu di di kota pahlawan.

“Kak …,” panggil Fatimah.

Suara Fatimah yang keras mengagetkan ayam bekisar yang sedang mematuk-matuk jagung dalam sangkarnya.

 “Kak…!” teriak Fatimah mengulangi panggilannya. Rupanya Fajar tidak mendengar panggilan adiknya, karena dia sedang menghidupkan mesin kendaraannya.

 “Ada apa?” sahut Fajar agak nyaring. Lalu dia mematikan deru sepeda motornya. “Ada apa sih…! Seperti anak kecil saja,” gerutu Fajar.

“Kak antarkan aku ke Kampung Lebak ya…,” pinta Fatimah pada kakaknya.

 “Ada apa? Nampaknya kok serius banget?” tanya Fajar agak heran. Karena seingatnya, mereka tidak punya saudara atau kenalan di kampung itu. Bahkan selama ini, yang dia tahu Fatimah tidak mempunyai teman yang tinggal di sana. Tapi mengapa tiba-tiba Fatimah mengajaknya ke sana? Lalu apa maunya?

 “Sudahlah…, nanti kakak akan tahu sendiri. Sekarang, Kak Fajar mau apa nggak mengantarku ke sana?” kata Fatimah setengah memaksa.

Fajar sudah hafal betul dengan karakter adiknya yang lincah dan manja ini. Kalau sudah maunya, pasti tak bisa ditolak. Selain itu, Fajar tak pernah tega untuk menolak kemauan adiknya yang sangat dia sayangi. Bahkan Fajar rela berkorban apa saja untuk kesenangan adiknya.

 “Kak…, mau nggak sih?” desak Fatimah sambil cemberut.

                   “Oke  oke…! Untuk adik tersayang, kapan saja dan ke mana saja, pasti aku mau. Asal…, kamu jangan cemberut begitu. Jelek!” goda Fajar.

Seperti kucing mendapat umpan, Fatimah langsung menerjang dan mencubit kakaknya tanpa ampun. Namun yang dicubit malah tertawa cekikian. Sementara Bik Sira yang melihat dari jauh hanya tersenyum-senyum saja. (*)


© 2020 Babad Madura

Designed by Open Themes & Nahuatl.mx.

close