Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr ,
Episode Empat
Perjalanan hidup manusia sebenarnya seumpama roda, setiap kali putaran, akan mendapatkan posisi yang berbeda. Dan bila kondisi roda tersebut kurang layak untuk melandas ditempat pijakannya, maka tak ayal, pada gilirannya nanti manusia akan mengalami kegoncangan jiwa. Kecuali bagi manusia yang sadar, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran, “Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177]
Demikian juga putaran roda kehidupan Bruddin, justru selama ini ia selalu berpijak pada posisi di bawah, sehingga gerak geriknya selalu dibayangi oleh ketidakmenentuan. Setiap langkahnya dan sering menimbulkan masalah dan tanda tanya. Meski demikian, Bruddin masih berusaha bersikap sabar dan tawakal.
Nyalang mata Bruddin masih menatap jauh, ketika ayam berkokok menyambut fajar. Sementara Marlena yang pulas disampingnya tidak mampu lagi diajak berdialog, yang terdengar hanya dengkur lirih dengan nafas teratur. Bruddin tertegun. Dipandanginya wajah Marlena yang pulas. Nampak seraut wajah yang lembut dan lugu, seakan tidak mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Namun di pihak Marlena, ada kehidupan lain yang berlanjut. Hal ini tentu tidak terlihat dan dirasakan oleh Bruddin.
“Ternyata kau telah besar dan cantik nak…!, bahagia aku melihatmu,” terdengar suara wanita menyapa lembut pada Marlena. Marlena tersentak kaget, tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
“Si…, siapa kau?” tegur Marlena dalam keterkejutannya.
Wanita itu tersenyum dan berucap, “aku ibumu nak.”
“Kamu bohong! Aku tidak punya ibu. Ibuku telah meninggal dunia,” sentak Marlena.
“Tidak! Aku tidak percaya. Ibu telah tiada,” Marlena kebingungan. Sebenarnya Marlena ingin berontak, namun tiba-tiba tubuhnya terbelenggu olah sejuta lilitan. Maka Marlena hanya mampu diam, bahkan kerongkongannya pun serasa terkunci. Lunglailah tubuh Marlena, dan tak mampu menggerakkan sendi-sendinya.
Wanita itu merapat ketubuh Marlena, dengan tiba-tiba tangannya meraih kepala Marlena, kemudian membelai-belai seakan sebuah magnet yang menyentuh aliran darahnya. Hati Marlena luluh. Pasrah!
“Bagaimana keadaan ayahmu ak?”, tanya wanita itu.
“Baik-baik saja,” jawab Marlena ringan. “tapi sebenarnya siapa ibu?”. Tanyanya kemudian.
“Aku ibumu. Apakah ayahmu tidak pernah cerita?”, tanyanya lagi.
“Ya, ayah pernah cerita. Kata ayah, ibuku cantik, baik hati dan setia kepada ayah. Tapi, katanya ibuku meninggal ketika melahirkan aku,” jawab Marlena dengan polos.
Wanita itu merunduk, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, ia ingin melontarkan keadaan yang sebenarnya, namun setiap kali suaranya akan keluar, bibirnya selalu terkatup rapat. “benar kata ayahmu, ibumu sangat mencintainya, juga mencintaimu,” kata wanita itu lirih.
Marlena semakin heran. “ibukukah wanita ini”, batin Marlena penuh tanda tanya.
“Apakah ayahmu pernah meyebut nama Suleha?”, tanya wanita itu lagi.
“Pernah, kata ayah itu nama ibuku,” jawab Marlena spontan.
“Aku suleha nak. Aku ibumu,” kata wanita itu meyakinkan Marlena.
Mendengar pengakuan itu, Marlena tersentak kaget. Ia pandangi wajah wanita itu. Terasa sejuk menyentuh jiwa. Lama sekali ia mengharapkan perjumpaan seperti ini. Tangan mungilnya segera terulur menyambut wanita yang diyakini sebagai ibunya. “Maafkan Lena, Bu,” seru Marlena sambil memeluk tubuh ibunya sambil menangis.
“Sudahlah jangan menangis, karena tangis tidak akan menyelesaikan permasalahan yang kau hadapi,” hibur ibunya seraya membimbing ke sebuah batu yang menghampar. Lalu keduanya duduk berdampingan.
“Anakku percayalah bahwa sebenarnya ibu sangat sayang padamu dan ayahmu,” kata wanita itu kemudian.
Marlena mengangguk.
“Terimakasih, nak,” sahutnya puas. “Sebenarnya maksud ibu menemuimu, ada sesuatu yang ibu harap darimu, nak,”. Ia diam sejenak. “Pada suatu hari nanti, aku ingin berkumpul kembali dengan ayahmu. Maksud ibu, sudah saatnya bila kami bersatu kembali. Apa kamu tidak keberatan?” tannyanya pada Marlena.
“Kenapa harus keberatan, Bu. Itupun Lena kira akan jadi lebih baik,” spontan Marlena memberi dukungan.
“Terima kasih, nak. Ini semua demi kebaikan ayahmu,” kata Suleha.
Marlena sangat bahagia, ketika membayangkan dirinya akan bersatu kembalidengan ibu dan ayahnya. Namun tiba-tiba asap melintas dihadapannya, membuat pandangannya menjadi kabur. Dan ketika matanya nyalang kembali, ibunya telah lenyap dari hadapannya. Ia meraba-raba sekitarnya, tetapi tangannya memang tidak menyentuh apa-apa.
“Ibu…, ibu…, dimana kau, ibu…!” teriak Marlena sambil terus meraba-raba. “Ibu…, Ibu…, aku ikut…!” teriaknya semakin keras. Namun suaranya hilang dan tak terdengar. Marlena menjadi ketakutan dan terus menjerit ketakutan. Tangannya menggapai-gapai ke udara.
Bruddin yang siap-siap untuk sholat tersentak kaget mendengar jeritan Marlena. Ketika tiba di pembaringan Marlena, nampak tubuh Marlena menggelinjang-gelinjang seraya mengigau menyebut nama ibunya. Tubuh Marlena diguncang-guncang. “Istigfar, istigfar Nak…,” bisik Bruddin sambil membantu Marlena duduk. Beberapa saat kemudian Marlena sadar bahwa ia baru bermimpi ketemu ibunya. Ia menyesal, kenapa pertemuan itu muncul dalam mimpi yang menakutkan.
“Lena mimpi ketemu ibu, Ayah, ” ucap Marlena.
“Kau, mimpi ibumu nak,” kata Bruddin haru. Bruddin berharap mimpi itu tidk berakibat buruk bagi Marlena.
Namun nyatanya justru Bruddin yang merasa terganggu oleh mimpi Marlena. Ketika Bruddin berada di tengah laut dengan sampannya, pikirannya masih dihantui oleh mimpi Marlena, hingga tak terasa sampannya sudah jauh dari pantai. Degup jantungnya tidak stabil, membuat lemparan jala Bruddin tak mampu meraih jangkauan yang diharapkan. Dan tanpa diduga ,tiba-tiba tangan Bruddin kesemutan. Namun ia paksakan juga untuk melempar jalanyanya kuat-kuat. Pada saat yang bersamaan datang ombak besar menampar buritan sampan. Sampan oleng, Bruddin kehilangan kendali dan kakinya terpeleset ke laut. Jatuh.
Dalam keadaan seperti itu, Bruddin masih berusaha meraih bibir sampan. Tapi malang, ombak yang menghampirinya tak kenal kompromi, akhirnya ombakpun menghantam badan sampan hingga tertelungkup. Bruddin tak kehilangan akal, dengan sisa tenaganya yang masih ada, Bruddin berusaha menaiki punggung sampan dalam posisi telungkup. Ia biarkan sampan dan dirinya dihalau arus, hingga akhirnya menepi ke bibir pantai.
Kecelakaan itu berakibat fatal bagi Bruddin. Sendi-sendinya tidak lagi mampu digerakkan, sedang kepalanya terasa mau pecah terkena benturan badan sampan. Dadanya terasa sesak dan mengalami kesulitan untuk bernafas. Dengan sendirinya Bruddin tak mampu lagi melakukan tugas-tugasnya sebagai buruh angkut ikan atau menjaring ikan dilaut.
Sementara Marlena sendiri merasa selalu dihantui mimpi buruk yang telah menimpanya. Walaupun dia merasa ketakutan, tetapi Marlena tetap bungkam dan tidak menceritakan mimpi itu pada ayahnya. “Lena mimpi ketemu ibu,” hanya itulah jawaban yang diberikan pada ayahnya.
Kini setelah ayahnya mengalami kecelakaan di laut, beban hidup Marlena menjadi semakin berat. Waktunya banyak tersita untuk mengurus ayahnya yang sedang sakit, sehingga tak ada lagi waktu untuk belajar atau bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya. Lambat laun prestasi Marlena di sekolah semakin merosot.
Dalam keadaan seperti ini, banyak tetangga Bruddin yang membantu untuk meringankan beban mereka. Haji Mastur dan istrinya, tak pernah lupa untuk memberi bantuan untuk kebutuhan Marlena dan Bruddin sehari-hari. Namun demikian, Marlena yang masih kelas dua SD itu tidak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain. Maka dipilihlan jalan ini, dengan tangannya yang mungil dia harus menjinjing keranjang dan menjual jasa sebagai buruh ankut ikan-ikan yang baru turun dari perahu. Demi kegiatannya yang baru, Marlena terpaksa dia sering bolos sekolah.
Biarpun Marlena sudah banting tulang bekerja di pantai, toh kebutuhannya sehari-hari belum tercukupi. Apalagi makin hari penyakit Bruddin semakin parah. Bahkan Pak Mantri Kesehatan Puskesmas menyarankan agar Bruddin di rawat di rumah sakit Kabupaten. “Penyakitnya cukup parah. Satu-satunya jalan, Pak Bruddin harus rawat tinggal di rumah sakit Kabupaten, agar mendapatkan perawatan secara intensif,” begitu saran Pak Mantri pada Haji Mastur yang rajin mengantar dan membiayai Bruddin berobat.
“Biar aku di rumah saja Man Haji,” kata Bruddin lemah.
“Tapi kamu butuh pengobatan serius Din,” bujuk Haji Mastur. “Dan kamu tak perlu memikirkan biaya. Soal itu biar aku yang nanggung,” tambahnya.
“Terima kasih. Man Haji telah banyak membantu kebutuhan keluarga kami bahkan semua biaya pengobatanku Man Haji yang nanggung. Tapi biarlah aku di rumah saja,” Bruddin ngotot.
Man Haji tak diam. Rupanya dia telah kehabisan kata-kata untuk merayu Bruddin.
Beberapa hari selanjutnya tubuh Bruddin yang kurus kering itu sudah mulai bisa duduk. Berkat perawatan Marlena yang sabar dan telaten, kesehatan Bruddin berangsur-angsur membaik. Hal ini membuat semangat Marlena rajin masuk sekolah untuk mengejar ketinggalannya. Dan sebagai anak yang pintar, Marlena tidak memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan prestasinya.
Bila Marlena pergi sekolah, Bruddin tinggal di rumah sendirian. Kadang di temani tetangganya, kadang pula di temani Haji Mastur. Namun kali ini kedatangan Haji Mastur agak istimewa. Dia tidak datang sendiri, tetapi ditemani istrinya yang membawa sebuah bungkusan yang besar dan rapi.
Pada awalnya, pembicaraan mereka santai dan ringan. Namun setelah berbasa-basi secukupnya, Haji Mastur mulai mengungkapkan maksud yang sesungguhnya.
“Sebenarnya aku ingin mempererat tali persaudaraan kita,”mkata Haji Mastur hati-hati. Sementara Bruddin mendengar dengan serius.
“Nah, karena itulah setelah kami pertimbangkan masak-masak, kami akan sangat senang dan bahagia, bila Marlena di jodohkan dengan Kamil. Itu pun bila Lè’ Bruddin tidak keberatan,” kata Haji Mastur pada pokok persoalan.
Mendengar itu, Bruddin terhenyak. Ia tidak yakin bila kata-kata itu keluar dari bibir Haji Mastur yang selama ini banyak berkorban untuk kebutuhannya. “Apa Man Haji tidak salah ?’’ tanya Bruddin ragu.
“Maksudnya, Lè’ Bruddin menolak ?” tanya Hajjah Minah, istri Haji Mastur, penasaran.
“Bukan begitu Buk (embuk: panggilan akrab kakak wanita Madura),” Bruddin segera menimpali. “ Kami ini tak lebih dari seonggok daging yang tidak mempunyai harapan apa-apa. Sementara sekarang ini Buk Minah kan tahu keadaan kami, lalu apa yang yang dijadikan modal perkawinan mereka?” tanya Bruddi masygul.
“Itulah hidup, Din,” timpal Haji Mastur. “Sesungguhnya aku memandangmu bukan dari keadaan rumahtanggamu. Tapi lebih jauh dari itu. Kita ini, pada hakikatnya sama saja, kaya miskin itu tidak ada bedanya,’’ tandas Haji Mastur.
“Benar Lè’ Bruddin. Sebenarnya kekayaan itu terletak di hati kita,” sambung Hajjah Minah. “Banyak contoh yang dapat kita simak. Ada sementara orang dengan kekayaan di dunia yang melimpah ruah, nyatanya mereka semakin tersiksa oleh keadaan dirinya. Bila demikian, kita akan lupa diri dan melupakan dari mana asal usul harta benda itu. Padahal harta itu hanya titipan Allah semata,” kata Hajjah Minah.
Mendengar itu, Bruddin justru salah tingkah. Ucapan itu sebenarnya sering ia dengar. Namun hampir tidak yakin bila kali ini ia mendengar kata-kata itu dari bibir Buk Minah. Sebenarnya dibalik hatinya Bruddin tidak setuju dengan rencana keluarga Haji Mastur. Karena dengan alasan apapun Haji Mastur telah dianggapnya sebagai dewa penolong. Kalaupun Haji Mastur bermaksud menjodohkan Kamil dengan Marlena, dalam anggapan Bruddin hal itu terlalu berlebihan. Namun semuanya telah tumpah, dan tak mungkin Bruddin menolaknya. (*)

