Episode Tiga
Berkat bantuan Haji Mastur, Marlena bisa masuk sekolah dasar Lebak. Hari pertama masuk sekolah dilalui dengan kegembiraan. Tas plastik yang berisi buku pelajaran, dijinjinghnya sambil bernyanyi riang. Sesekali ia berlari, berhenti sejenak, kemudian melompat-lompat, berhenti sejenak, kemudian berjalan lagi. Marlena nampak begitu bersemangatmenghadapi hari barunya.
Marlena tidak mau melewatkan waktunya sedikitpun. Sepulang sekolah dia hanya istirahat sebentar. Kemudian pergi ke Madrasah Diniyah. Disini Marlena belajar ilmu agama. Dan ketika bedug magrib bergema, Marlena segera berangkat mengaji di surau. Begitulah hari-hari yang dilalui Marlena.
Tak sia-sia Bruddin nekat mencari pinjaman uang untuk biaya sekolah Marlena. Karena prestasi Marlena di sekolah sangat bagus. Bahkan dalam raport kenaikan kelas kemarin, Marlena mendapat rangking 1. Namun dibalik kebanggaan itu, ada yang mengganjal dihati Bruddin. Baru beberapa hari Marlena menduduki bangku kelas 2, dia nampak lesu dan nafsu makannya berkurang. Dulu, bila dusuguhkan nasi hangat sama tongkol bakar, pasti disikatnya hingga ludes. Tapi kini makanan kesukaannya itu hanya disentuh sedikit.
“Assalamualaikum…,” terdengar suara di depan pintu rumah Bruddin.
“waalaikumsalam…,” jawab Bruddin.
“Oooo…, Pak Warno…, mari masuk Pak…,” ujar Bruddin tergopoh-gopoh.
“Ah…tak usah repot Pak…, saya cuma mampir kok. Marlena mana?”, tanya pak Suwarno, guru Marlena di SD Lebak. Pak Suwarno adalah guru asal Jawa yang ditugaskan saat program Guru Impres tahun 1976.
“Ngaji Pak…,”, timpal Bruddin cepat.
“Anu Pak…, nampaknya putri bapak, marlena harus dapat perhatian khusus,” ujar guru asal Blitar itu penuh kekhawatiran.
“Apakah anak saya nakal di sekolah, Pak?”, tanya Bruddin khawatir.
“Ah tidak. Sebaliknya, prestasi anak bapak sangat patut diacungi jempol. Hanya….,” Pak warno berhenti sejenak. “Begini pak…akhir-akhir ini Marlena sering lesu, dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Saya khawatir dia sakit. Karena itu, untuk lebih jelasnya, sebaiknya Marlena dibawa ke Puskesmas,” jela guru itu hati-hati.
“Oh…., eh trima kasih Pak, ya Pak besok pagi Lena saya bawa ke Puskesmas,” jawab Bruddin gugup. Dia sangat kawatir atas kesehatan Marlena, putri satu-satunya.
Pikiran Bruddin dilanda kegalauan, semenjak dokter menyatakan bahwa Marlena positif terjangkit demam berdarah, jiwa Bruddin terasa terombang-ambing oleh sejuta kemungkinan. Dia tak ingin jiwa Marlena terancam malapetaka. Karena dia banyak melihat contoh bahwa anak-anak yang terjangkit demam berdarah tidak tertolong jiwanya.
“Ya Allah…,sembuhkan anak saya,” demikian doa Bruddin setiap habis sholat. Terbayang kembali dimatanya keceriaan Marlena saat berangkat sekolah, atau kemanjaan Marlena ketika meminta uang jajan. Dalam hat,i Bruddin bertekat untuk menyelamatkan jiwa Marlena.
“Bagaimana Lena, sudah terasa enak ya badanya?”, tanya Bu Rahma, guru agama di sekolah Marlena yang rajin membessuknya ke pukesmas bersama-sama guru-guru yang lain.
Mendengar pertanyaan itu Marlena hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Nah, untuk selanjutnya Marlena harus berhati-hati dalam menjaga kebersihan rumah,” nasehat guru yang lain.
Lagi-lagi Marlena hanya mengangguk. Tubuhnya masih terasa lemas.
“Terima kasih atas petunjuk dan saran-saran ibu serta bapak sekalian. Dokter mengatakan bahwa kesehatan Marlena sudah mulai membaik. Mungkin esok atau lusa, Marlena sudah boleh pulang,”, ujar Bruddin seraya membayangkan lembaran puluhan ribu rupiah yang harus melayang demi perawatan Marlena. Dia tidak tahu, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang sebanyak itu, sementara dirinya setiap hari harus menunggui Marlena di Puskesmas. Yang dia tahu hanyalah Allah yang Maha Adil, dan selalu mendengarkan doa hambanya.
Itulah yang terjadi, bila Tuhan berkehendak, maka akan banyak jalan untuk ditempuh dan dilaluinya. Berkat doa orang tua dan ketulusan anak semata wayangnya untuk segera sembuh, menjadikan Marlena makin membaik, dan kembali sehat sebagaimana sedia kala.
*****
Memasuki perayaan tahunan hari kemerdekaan Indonesia, warga kampung Lebak mulai mempersiapkan untuk menyambut dan meramaikannya. Dari pengeapuran pagar sampai pemasangan umbul-umbul dan bendera. Rumah-rumah penduduk sudah nampak bersih. Setia gerbang kampung di hiasi rumbaian janur dan gambar-gambar para pahlawan. Sepanjang gang kampur dihiasi untaian merah putih, yang umumnya hasil karya warga sekitar.
Berbagai perlombaan dan kegiatan 17 Agustusan ini telah disiapkan oleh berbagai kelompok warga. Demikian pula guru dan murid SD Lebak juga sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan di kecamatan.
Namun kemeriahan peringatan hari bersejarah itu tidak mempengaruhi kehidupan Bruddin. Dia tetap seperti biasanya, menjaring ikan di laut, atau mengangkut ikan-ikan hasil tangkapan untuk mendapat upah dari cukong atau tengkulak. Terik matahari tak mengurangi semangat Bruddin dalam bekerja. Semua itu demi mendapatkan dua atau tiga lembar ribuan, yang hanya cukup untuk makan sehari.
Sampai di rumah, Bruddin sedikit kaget, karena di depan rumah telah disambut tiga gadis kota yang sejak tadi telah menunggunya. Gadis itu tidak lain adalah Fatimah, putri pasangan Pak Toha dan Bu Rasmi, bersama dua rekannya yang sama-sama duduk di bangku SMA. Mereka berada di kampung Lebak dalam rangka mengadakan penelitian terhadap budaya dan kehidupan warga nelayan di kampung Lebak.
Bagi pandangan Fatimah yang berasal dari keluarga mampu dan tinggal di kota, keberadaan warga kampung Lebak termasuk memprihatinkan. Fatimah tak kan pernah tahu brgitu sulitnya mengais rejeki di pinggir pantai. Yang dia tahu, ayahnya, Pak Toha, tiap pagi hanya membaca koran serta mendengarkan kokok ayam bekisar di emper rumahnya yang dibelinya dari Pulau Kangean beberapa tahun lalu. Sementara ibunya, Bu Rasmi, setiap pagi hanya berjalan-jalan di halaman yang luas sambil menikmati indahnya bunga anggrek bulan kesukaannya. Begitulah kehidupan yang tentram di keluarga Pak Toha. Jauh sekali yang dilihat Fatimah di pesisir kampung Lebak. Justru perbedaan itulah yang membuat Fatimah tertarik untuk mengangkat kehidupan warga kampung Lebak dalam bentuk tulisan.
Setelah berbasa-basi sejenak, Fatimah bersama dua orang temannya, menyampaikan niat mereka untuk sekedar berbincang-bincang dengan Bruddin. Dan Bruddin tidak keberatan.
“Penghasilan bapak dari menjaring ikan, apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?”, Fatimah memulai wawancara, sementara dua orang temannya sibuk mencatat.
“Ya…, kalau hanya makan kami berdua cukup,” jawab Bruddin polos.
“Istri bapak?”,
Pertanyaan ini justri membuat wajah Bruddin merunduk. Tapi harus menjawabnya.
“Meninggal ketika anak kami lahir,” jawab Bruddin.
“Maaf pak, bila pertanyaan saya kurang berkenan;” Fatimah segerang menimpali.
“Anak bapak?. tanya teman Fatimah.
“Satu. perempuan. Kini dia sedang sekolah,” sahutnya.
“Kalau begitu penghasilan bapak di laut, dapat mencukupi kebutuhan sekolah putri bapak?”, Fatimah memancing.
Mendengar pertanyaan itu, pikiran Bruddin merasa tersudut. Ia agak kesulitan menanggapi pertanyaan tersebut. Dahinya berkerut, pertanda bahwa dia sedang berfikir keras untuk mencari jawaban. Bruddin menerawang jauh, seakan ingin melupakan keadaan yang sebenarnya. Suatu perjalanan panjang yang harus dilaluinya di masa lalu.
“Atau mungkin bapak mempunyai penghasilan lain selain melaut?”, suara Fatimah tiba-tiba memecah alam pikiran Bruddin.
Bruddin menggeleng. “dicukupi orang lain,”jawabnya lirih.
“Maksud bapak, sebagai anak asuh?”, Fatimah melanjutkan pertanyaan.
“Begitulah,” jawab Bruddin pasrah.
“Baik sekali. Dengan demikian, kesempatan putri bapak untuk mengenyam pendidikan dapat terlaksana,” ujar Fatimah.
Ketika Fatimah akan mengajukan pertanyaan berikutnya, dikejauhan tampak sekelompok anak-anak berbondong-bondong seraya menyanyikan koor lagu “Maju Tak Gentar”, dengan diiringi tepuk tangan meriah. Tiba-tiba Fatimah merasa haru dan bangga melihat antusias mereka melantunkan lagu kebangsaan, meskipun dalam kalimat-kalimat kurang sempurna. Dengan serentak Bruddin, Fatimah, serta dua orang rekannya, mengalihkan perhatian pada gerak-gerik mereka. Anak-anak itu bagai sekelompok prajurit kecil yang baru pulang dari medan perang.
Keharuan Fatimah makin menjadi-jadi, betapa mereka merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, meski dalam kondisi yang terbatas dan memprihatinkan. Tapi semangat mereka untuk maju nampak jelas dari raut wajah mereka, paling tidak untuk menentukan nasib mereka pada masa yang akan datang.
“Itu anak saya,” ujar Bruddin seraya menunjuk anak perempuan dengan seragam sekolah yang warnanya hampir pudar. Marlena bergegas. Dia heran melihat beberapa orang kota berada di rumahnya yang kumuh. Kulit Marlena nampak semakin legam terbakar matahari.
“Lena, ayo kenalkan pada kakak-kakak ini,” perintah Bruddin.
Mereka menyalami tamu-tamunya dengan mencium tangan mereka. Jantung Fatimah berdegup, terasa ada arus dingin mengalir melalui pori-pori tangan mungil itu. Kelebihan anak ini nampak, tidak seperti anak lainnya yang ia lihat di kampung ini. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik keluguan anak ini. Ia tatap dalam-dalam wajah Marlena. Marlena keheranan sekaligus bangga dapat berkenalan dengan orang kota. Hal ini suatu kehormatan bagi Marlena.
“Namanya siapa?” Tanya Fatimah ramah.
“Lena. Marlena, Kak.” Jawabnya malu-malu.
“Sekolah kelas berapa?”
“Dua,”. Marlena menjawab sambil tersenyum-senyum.
Suasana akrab mulai terjalin antara Marlena dan Fatimah. Sementara dua rekannya melanjutkan perbincangan dengan Bruddin, Fatimah asik ngobrol dengan Marlena. Diam-diam dalam hati siswi SMA itu timbul rasa kagum pada gadis kecil didepannya itu. Dia cerdas dan supel. Tidak canggung menghadapi orang yang baru dikenalnya. Bahkan tanpa diminta Marlena berceloteh berbagai hal yang dialaminya.
“Dalam perayaan tujuhbelasan ini Lena ikut lomba cerdas cermat dan lomba baca puisi,” oceh Marlena bangga.
“Waw…bagus itu,” Fatimah memuji dengan tulus. “Lalu…, yang mengajari baca puisi siapa?”
“Bu Parmi,” jawab Marlena singkat. Kemudian Marlena mengambil kertas lusuh dalam tas plastik yang ditentengnya. Dia mundur beberapa langkah. Kakinya tegak, matanya menatap lurus pada kertas dihadapannya, kemudian menoleh kea rah Fatimah yang sudah duduk di lencak bersama ayahnya. Dengan lantang Marlena membacakan puisi “Aku” karya Cairil Anwar.
“Dan aku akan lebih tidak peduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi,” Marlena mengakhiri puisinya, kalimat terakhir ini bergema diruangan yang sempit. Ada getar aneh yang tak dimengerti oleh Fatimah. Tetapi dia benar-benar terkesan dengan gadis kecil yang papa itu.
Matahari tegak diatas kepala. Marlena merasa lapar dan segera menuju ke dapur. Sementara Fatimah dan kedua rekannya bersiap-siap kembali kekota.
“Pak…., besok malam Lena akan tampil di pendopo kecamatan. Dalam acara itu nanti akan hadir para pejabat. Ayah nonton ya…?” ucap Marlena manja.
Esoknya, Marlena bersama rekan dan gurunya sudah duduk di depan panggung hiburan di pendopo kecamatan. Mereka sengaja datang lebih awal, karena jarak antara kampung Lebak dengan pendopo agak jauh. Sedang satu-satunya alat transportasi yang tersedia hanyalah sepeda.
Mata Marlena yang indah, tak bosan-bosannya mengagumi pemandangan yang terhampar dihadapannya. Lampu-lampu neon terpasang disana-sini. Panggung yang ditata apik dengan bergagai dekorasinya, membuat suasana menjadi meriah. Belum lagi sederet penjual soto babat, kucur, serta berbagai jualan makanan lainnya, siap meludeskan isi dompet orang-orang berduit. Suara anak-anak kota kecamatan yang bersenda gurau dan berkejaran tak luput dari perhatian Marlena. Semua itu merupakan pengalaman baru yang seumur hidupnya tak akan pernah ia lupakan.
Ketika pembawa acara telah berdiri di depan mice, semua perhatian ditujukan ke atas pangung. Setelah acara sambutan dari bapak Camat serta sambutan yang lain usai, maka masuklah acara hiburan. Tampil pertama kali adalah tari muwang sangkal yang merupakan tarian penghormatan yang biasa digelar untuk meyambut tamu-tamu agung.
“Acara selanjutnya adalah pembacaan puisi yang akan dibawakan oleh adik kami Marlena, sang juara dari SDN Lebak. Tepuk tangan untuk adik Marlena,” sang pembawa acara mempersilakan Marlena naik panggung.
Ketika melangkah menuju panggung, kaki Marlena terasa berat, jantungnya berdegup keras. Matanya sempat menatap deretan kursi paling depan. Disitu tampak bapak Camat bersama istri, dan pejabat-pejabat kematan dan desa lainnya. Sementara diluar pendopo, pengunjung tampak menyebut dan ramai sekali.
Marlena menarik nafas panjang. “anggap saja semua itu sebagai benda mati,” batin Marlena sebagaimana disarankan pembinanya. Sambil menghembuskan nafas dalam-dalam. Marlena segera mengambil sikap untuk membacakan puisi Chairil Anwar yang sudah mendarah-mendaging dalam ingatannya. “Aku” buah karya Chairil Anwar “//kalau sampai waktuku/aku mau tak seorang kan merayu/tidak juga kau//tak perlu sedu sedan itu//aku ini binatang jalang/dari kumpulan yang terbuang//biar peluru menembus kulitku/aku tetap meradang menerjang//luka dan bias kubawa berlari/berlari//hingga hilang pedih perih//dan aku akan lebih tidak peduli/aku mau hidup seribu tahun lagi//”
Tepuk tangan menggema di seluruh arah ketika Marlena usai membawakan puisinya. Angan Marlena melambung, seperti putri cinderela bertemu sang pangeran. Tubuhnya lunglai namun ada rasa bangga dan puas menyelimuti hatinya. Dua tetes air matanya bergulir di pipinya yang montok. Sampai di tempat duduknya kembali, dia sudah tak dapat membendung keharuannya. (*)

