Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr
Episode Sebelas
Langkah hidup masa remaja Marlena, telah banyak menjaring pengalaman-pengalaman yang jarang didapat oleh wanita-wanita pesisir Madura. Sekali dayung, ia rengkuh beberapa lintasan pengalaman untuk berikutnya nanti akan dijadikan perisai menghadapi tantangan dan kenyataan selanjutnya.
Sejak kecil, sebenarnya pengalaman hidup Marlena telah ditimbun semangat. Semangat untuk merebut kemenangan dalam pemberontakannya melawan siasat jaman. Untuk itu, Marlena segera menyusun ancang-ancang dengan berbagai aktifitas di masa remajanya, yang ditumpahkan sepenuh jiwa dan raga untuk menjaring pengalaman.
Pengalaman pertama yang telah direbut arus dan gelombang di tanah kelahirannya, kini harus memacu diri meraih kembali pengalaman dan semangat yang tertunda itu, meski kerap rasa kecewa membuntutinya. Namun demikian, Marlena tetap mencoba untuk bertahan.
Rasa kecewa itu justru telah diawali oleh Taufik. Taufik yang diharapkan dapat menjadikan dirinya bunga harum yang semerbak dalam kebun hati, ternyata tak lebih dari tiupan angin kencang yang menggugurkan putik sari. Meski demikian, kekecewaan itu justru menjadi lecutan untuk lebih mengerti membaca watak laki-laki pilihannya kelak.
Kokok ayam pertama telah luruh. Namun mata dan fikiran Marlena masih mengambang pada hari-hari yang dilaluinya. “Inikah jalan nasib yang harus kulalui?”
Dalam kehampaan itu, sekonyong-konyong dirasakan tubuhnya melayang-layang ke sekitar kamar tidurnya. Ada isyarat yang tak tampak melintas-lintas dalam remang. Ada desah, ada suara meraung-raung di gendang telinga Marlena. Desah itu, suara itu, kini semakin jelas dan tegas: “Jangan kau biarkan pikiranmu dalam duka.”
Marlena terhenyak. Mata dan telinganya mencoba meraba-raba asal suara itu. Sesaat kemudian, tepat di hadapannya tampak bayang-bayang ringan berdiri tegar seraya memandang aneh. “Ayah,” batin Marlena.
Bayang-bayang kabur itu lalu membentuk wujud sedikit terang dan tampak. Wujud wajah Bruddin, almarhum ayah Marlena. “Kau harus sadar akan kedudukanmu saat ini. Kau lahir bukan untuk dibelenggu oleh kehidupan sia-sia. Tapi untuk melahirkan semangat yang telah digariskan oleh masa lalumu. Penderitaan, kegagalan dan kekecewaan itu jadikanlah cambuk untuk merebut masa depanmu yang lebih berarti.”
Suara itu menggema seantero ruangan. Marlena hampir tidak yakin bila dalam keadaan terjepit seperti itu, ayahnya masih juga menuntun langkah-langkah Marlena. Setelah bermimpi bertemu ibunya delapan tahun yang lalu, kini almarhum ayahnya tiba-tiba muncul, hingga tanpa terasa tubuh Marlena menggigil seakan dibaluri timbunan es. Akibatnya, alir darah di nadinya terhenti seketika, tubuhnya terasa kejang dan kaku.
Belum sempat Marlena membalas suara-suara itu, tiba-tiba bayang-bayang di depannya kabur dan sirna. Marlena baru tersadar, lalu segera mengembalikan ingatannya. “Astaghfirullah,” ucap Marlena berulang-ulang. “Maafkan ayah, aku teralpa memandang dunia. Aku alpa bahwa sebenarnya semangat yang kau ajarkan padaku adalah wasiat yang kau limpahkan untuk masa depanku.”
Saat itulah Marlena mencurahkan sepenuhnya kelengahan dirinya dalam tangis malam. Ia segera bangkit dari pembaringan, lalu berwudlu untuk sholat malam.
Prosesi kehadiran almarhum ayahnya semalam, akhirnya menelorkan semangat baru bagi diri Marlena. Hal ini dibuktikan saat mengikuti latihan drama di Pendopo Agung.
Pilihan bidang drama, menurut Marlena merupakan jawaban obsesinya ketika ia merengkuh berbagai lintasan hidup di lingkungan sekitarnya. Drama adalah proyeksi kehidupan masyarakat yang tertunda mencapai tujuan. Untuk itu, kegigihan Marlena mengikuti bidang drama ini, setidak-tidaknya akan lebih memahami karakter-karakter manusia dengan segala tingkah lakunya yang diangkat dari pergolakan, kekecewaan, kekejaman, dan ketentraman kehidupan.
“Bermain drama bagiku akan lebih merangsang minat untuk mengetahui lebih jauh hal ihwal karakter manusia,” begitu kata Marlena ketika pertama kali memberi alasan sesaat Taufik menanyakan latar belakang keikutsertaan Marlena. “Itu hanya alasan klise yang didengungkan seniman,” kilah Taufik yang lebih senang mengamati bidang politik.
“Itu anggapanmu,” ungkap Marlena. “Selain agama, hanya senilah yang mampu meredam kebobrokan nilai dan norma kehidupan manusia yang diakibatkan oleh pergolakan politik,” tambahnya dengan mengutip pandangan seorang tokoh.
Kalimat-kalimat itu sering aku dengar. Tapi buktinya, kenapa seniman-seniman sekarang ini justru tenggelam dan tak mampu melakukan fungsinya lagi di masyarakat?”
“Masalahnya sekarang, status masyarakat kita masih ngambang. Mereka tidak bisa mendudukkan dirinya sebagai bangsa yang memiliki budaya luhur,” jawab Marlena. “Sebagai contoh yang paling gamblang, di Pulau Madura ini, sebenarnya warisan budaya yang ditinggali oleh nenek moyang kita sangat ampuh untuk menangkal arus modernisasi yang dibawa oleh negara maju. Tapi kenapa justru masyarakat Madura enggan menggali kembali nilai-nilai luhur itu?”
“Karena perubahan jaman menuntutnya demikian,” jawab Taufik. “Itu tidak benar. Sebab masyarakat kita lebih percaya dan tertarik budaya-budaya asing yang lebih menjajikan menuju taraf hidup masa depan. Apa kau yakin, bila jalur seni mampu mengubah status social masyarakat,” tambah Taufik.
“Yakin sekali, meski harus melalui proses panjang,” tegas Marlena.
Jadi alasan-alasan Marlena terjun ke bidang seni adalah wajar dan masuk akal. Untuk itu Marlena tidak tanggung-tanggung menyusup di dalamnya.
Matahari telah menarik siang. Gladi resik drama “Bangsacara-Ragapatmi” garapan Halili Alief itu dinyatakan berakhir. Marlena segera mengambil sepedanya lalu menggenjotnya pulang.
Terik panas tanah garam seakan membelah bulat kepala Marlena. Untuk itu seperti biasanya, Marlena membelokkan setir sepedanya menuju kedai es degan. Belum lagi tuntas menyegari tenggorokannya, tiba-tiba tanpa diduga seorang laki-laki muncul di depannya. Laki-laki tegap berwajah keras. Marlena hampir tidak percaya, bila laki-laki itu nampak lebih tua dari dugaannya. Yah, laki-laki yang dulu dianggapnya sebagai singa buas pernah menerkam jiwa dan raganya.
Belum sempat Marlena menghindar, namun laki-laki itu telah menatapnya tajam-tajam, hingga Marlena tidak mampu menghindar.
“Kau…..,” sebut laki-laki itu tidak percaya.
Marlena tersudut. Ia pandangi wajah itu. Ada gurat luka tergambar di wajahnya. “Kak Kamil,” tanggap Marlena dipaksakan. Wajah Kamil merunduk.
Jantung Marlena berdegup keras, seakan ia merasa ngeri menghadapi kenyataan yang bakal terjadi. Pikirannya serasa diombang-ambing oleh masa lalu. Masa lalu yang tercipta dari gesekan nafsu Kamil. Degup itu makin keras. Hati Marlena jadi gamang dan takut.
“Delapan tahun aku mencarimu. Dan kini, Tuhan telah menunjukkan tempat ini,” ungkap Kamil.
Mendengar ungkapan Kamil itu, hati Marlena semakin tersudut. Ia tidak mampu berbuat sesuatu atas dirinya. Tubuhnya terasa dililit oleh seribu temali di sekitarnya. Ia ingin menampik ucapan Kamil, tapi lidahnya terasa kelu dan kaku.
“Kau masih baik-baik Len?” tanya Kamil kemudian.
Marlena mengangguk.
“Lalu kenapa Kak Kamil harus mencari Lena?” tanya Marlena.
Kamil tidak segera menjawab. Ada luka kecil di hati Kamil dari pertanyaan itu.
“Yang patut menjawab adalah kau sendiri.”
“Maksud Kak Kamil?”
“Delapan tahun bukan waktu yang pendek untuk menemukanmu. Pencarianku selama ini tentu karena dibebani oleh tanggung jawab.”
“Tanggung jawab,” kata Marlena heran dan terkejut. “Aku kira kita telah terlepas dari beban dan tanggung jawab.”
“Itu katamu. Apa alasannya, kita masih diikat oleh …..”
“Kak Kamil,” seru Marlena kuat. “Kalau dulu Kak Kamil boleh berucap seperti itu ketika kita masih dikungkung oleh tradisi kolot dalam lingkungan kita. Tapi sekarang, kenyataan telah berubah.”
“Oo, kau masih menganggap aku ini musuhmu.”
“Bukan begitu. Kita sekarang sama-sama dewasa. Kak Kamil harus mengerti keadaan dan status kita? Jarak telah membatasi kita untuk tidak saling mengungkit masa lalu. Masa lalu itu telah aku kubur dalam-dalam,” ungkap Marlena mendalam.
Melihat wajah Kamil yang memerah, nampak jelas bahwa ucapan Marlena bagaikan pukulan godam menghantam dadanya. Dalam hati Kamil, sebenarnya telah terbersit rasa iba ketika pertama kali Marlena meninggalakan kampung Lebak.
Kamil beserta orang tuanya mengakui, bila perbuatan mereka selama menerima kehadiran Marlena sebagai istri Kamil telah membuat Marlena terpukul dan menderita, meski Kamil sendiri telah berusaha mendekati hatinya untuk lebih manusiawi menerima kehadiran Marlena.
Penyesalan itu justru muncul tatkala Marlena telah pergi dari lingkungan keluarganya. Dan ternyata kepergian Marlena saat itu menimbulkan gejolak, baik di dalam lingkungan keluarga H. Mastur maupun lingkungan tetangga sekitarnya. Maka setelah peristiwa itu, Kamil berusaha mencari keberadaan Marlena. Ia buang begitu saja waktu-waktunya menelusuri pelosok demi pelosok, bahkan di kota Marlena berada pun telah Kamil jajaki. Namun pencarian itu sia-sia.
Dugaan semula, Marlena telah kawin dengan laki-laki lain. Bahkan Kamil pernah berang dan penasaran, ketika salah seorang warga kampung Lebak melihat Marlena di suatu tempat di kota ini. Saat itu juga Kamil berangkat dan mengaduk seisi kota, namun hasilnya sia-sia.
Harapan bertemu Marlena, sebenarnya talah dipersiapkan sedemikian rupa. Ia bertekad untuk mengubah dirinya, menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya maupun terhadap orang lain. Untuk itu, perubahan itu ditampakkan dalam wujud yang lebih berarti sebagai juragan perahu setelah ayahnya, Haji Mastur meninggal dunia. Dengan demikian, pada suatu ketika nanti wujud ini akan lebih berarti bila Marlena kembali ke dalam hatinya.
Tapi justru kini kenyataan Kamil menjadi lain. Marlena pun telah mengubah dirinya menjadi seorang gadis yang memiliki kemantapan berfikir realistis bila dibandingkan dengan pada waktu bersanding dengan Kamil dulu.
Dan kini di mata Kamil, kenyataan menjadi jelas bahwa akhirnya kekecewaan akan menimpa dirinya.
“Aku mengerti Lena, justru kali ini aku ingin menebusnya, meski apapun yang harus kulakukan,” ujar Kamil dengan suara sendu.
Marlena terharu.
Langit barat telah menyongsong matahari, hingga bulatan raksasa itu seakan menggelinding di balik bayangan warung itu. Marlena dan Kamil terasa dibelenggu oleh situasi sekitarnya, karena terlihat beberapa pembeli yang lain mulai berdatangan.
“Maaf, hampir sore. Aku pulang lebih dulu,” kata Marlena dengan suara agak menekan. Kemudian berlalu dari hadapan Kamil.
Kamil tidak menyahut. Hanya matanya dibebani oleh sejuta kunang-kunang mengaburkan pandangannya. Ia paksakan kedua mata Kamil mengikuti arah kepergian Marlena. Ada berkas luka membekas di hatinya, kini menganga kembali dalam geram dan dendam kecewa.
Setiba di rumah, hanya Fatimah yang tampak di hadapannya. Sedang Pak Toha dan Bu Rasmi sedang pergi menyambang family. Melihat kemuraman wajah Marlena, Fatimah segera menapaki dengan heran. Belum sempat Fatimah menanyakan sebab musababnya, tiba-tiba Marlena menubruk dan memeluk Fatimah dalam tangis sedih.
Fatimah membiarkan adik angkatnya itu menumpahkan segala beban hatinya. Hal ini sudah merupakan kebiasaan yang kerap dilakukan kedua wanita itu. Bagi Marlena, hanya Fatimah lah yang paling mengerti keadaan dirinya, sehingga tak heran segala rahasia yang ada pada diri Marlena akan tertumpahkan sepenuhnya pada kakak angkatnya itu.
Setelah suasana Marlena agak tenang, maka ia mengumpulkan semangat untuk melepaskan permasalahannya.
“Aku mengerti. Permasalahannya sekarang, kau harus tahu meletakkan diri pada porsi yang sebenarnya,” saran Fatimah setelah Marlena menceritakan peristiwa yang baru dialaminya.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Kak?”
“Sabar. Kita harus maklum. Pada dasarnya naluri manusia itu sama. Ia menghendaki sesuatu bila ia merasa kehilangan. Sedang Kamil sendiri juga tidak bisa disalahkan. Sebab, perkawinan kalian dulu didasari oleh ambisi orang tua. Meski demikian, tidak berarti seorang anak menerima dengan terpaksa. Apapun alasannya, manusia masih menyimpan jiwa kemanusiaan untuk menghargai manusia yang lain.”
“Maksud Kak Timah, aku harus kembali”.
“Tidak berarti begitu. Proses kehidupan manusia itu tidak statis seperti binatang. Manusia dinamis yang selalu dihadapkan dengan perkembangan emosi. Jadi bila Kamil akhirnya merasa iba dan kasihan padamu itu adalah proses perkembangan emosi yang wajar.”
“Bila demikian, bisa saja Kak Kamil masih mengharapkan kehadiranku.”
“Yah, bila didasari hati yang tulus. Namun sebaliknya, bila masih dihinggapi rasa dendam dan nafsu, maka bisa saja Kamil berbuat semena-mena, meski harus melalui jalan pintas.”
Ucapan terakhir Fatimah itu menimbulkan bulu kuduk Marlena merinding. Rasa khawatir mulai menggerayangi. Ia maklum, meski hanya beberapa saat. Marlena hanya mengenal watak Kamil yang sangat bertentangan dengan keadaan lingkungan keluarganya. Masih terbayang di pelupuk mata Marlena, betapa buas nafsu Kamil ketika memaksakan kehendaknya untuk menelanjangi dirinya, yang kala itu Marlena masih belum tahu persis apa arti hubungan suami istri layaknya, sehingga saat itu Marlena hanya mampu bertahan dalam tangis yang panjang.
Tiba-tiba tubuh Marlena gemetaran dan gamang. Ada rasa sesal menghadang di depannya. Seakan seribu serigala siap mencabik-cabik dan melahapnya habis bila ingat itu semua, lunglailah tubuh Marlena.
Fikiran buruk itu segera terhenti, bila ia ingat pesan almarhum ayahnya tadi malam: “Kau lahir bukan untuk dibelenggu oleh kehidupan sia-sia.” Tidak ….. tidak, aku harus harus bangkit, aku harus bangkit,” desak hati Marlena.
Percuma Marlena belajar kemantapan diri, bila ia gentar berhadapan manusia seperti Kamil, maka berarti tak ubahnya seperti pasrah dalam keadaan sia-sia.
Belum sempat pikiran Marlena menerawang lebih jauh, di ambang pintu Pak Toha dan Bu Rasmi muncul dengan ucapan salam. Fatimah dan Marlena segera membalasnya.
“Kok cepat ayah?” ujar Fatimah.
“Yah cuma urusan kecil,” jawab Pak Toha ringan. “Oh, iya Len, tadi gurumu datang ke sini.”
“Siapa Pak?”
“Taufik mungkin,” timpal Fatimah.
“Ah…..Kak Timah,” seru Marlena seraya mencubit lengan kakak angkatnya. Taufik kan bukan guru.”
“Eee….. ada apa ini? Aku ini omong serius lho,” ujar Pak Toha keheranan melihat kedua anak itu melantur.
Marlena tersudut.
“Nah kalau begitu pasti Pak Jamil,” sambung Fatimah cepat.
“Yah, Pak Jamil, begitu pengakuannya padaku,” sahut Pak Toha membenarkan
“Nah, apa kubilang?”
Aliran darah Marlena terasa terhenti seketika. Di dadanya palu-palu kecil, mematuk-matuk hingga jantungnya berdenyut keras, seakan merontokkan tulang belulang. Wajah Marlena nampak semu merah. Hal ini justru menjadi perhatian tiga pasang mata yang sempat menujum gelisahnya. Marlena tersadar.
“Perlu apa katanya, Yah?” tanya Marlena cepat-cepat.
“Paling-paling naksir kamu,” sahut Fatimah juga cepat.
“Heh, omong apa kamu ini Tim,” seru Bu Rasmi agak jengkel.
“Masak guru kunjung ke sini saja, dikira naksir.”
“Apa salahnya bu? Toh, Pak Jamil kan masih bujang, cakep lagi,” sahut Fatimah seenaknya seraya melirik Marlena.
Marlena merasa dipermainkan oleh kakak angkatnya itu, wajahnya nampak semakin memerah. Fatimah maklum, suasana seperti itu merupakan kesempatan terbaik untuk melipur duka adik angkatnya atau mungkin sebaliknya?
Umpan Fatimah ternyata merangsang batin Marlena. Ungkapan-ungkapan kakak angkatnya itu, di balik hati kecil Marlena menjadi isyarat tumbuhnya gejolak yang mungkin dapat dijadikan acuan untuk memacu keberadaan dirinya. Meski demikian, Marlena tetap berusaha untuk lebih mengerti kedudukannya selama ini. Setiap kali melangkah, harus diperhitungkan matang-matang untuk tidak sampai terulang kembali peristiwa sebagaimana pernah dialami pada masa lalu.
Penderitaan, kegagalan, dan kekecewaan bagi Marlena merupakan lecutan cambuk mendera untuk dijadikan pelajaran sekaligus pengalaman bagi masa depannya kelak. Ingat semua itu, bayangan lama muncul kembali. Bayangan wajah ibunya, yang nampak letih didera derita. Bayangan ayah kandungnya yang penuh semangat menenun hidup, meski harus kalah melawan kemiskinan, atau bayangan Haji Mastur, yang telah mendudukkan dirinya menjadi pesakitan, dan sekonyong-konyong bayangan wajah-wajah yang lain bermunculan satu persatu, seakan menyodorkan seribu nasib untuk dikunyah meski penuh tanda tanya.
“Inikah nasib yang akan kulabuh ayah?” seru Marlena dalam hati. “Tunjukilah jalanku yang benar, Tuhan,” Marlena masih diam. (*)
