Sonnysonny Aleandro Wijaya Kerajaan Madura diketahui ketika kekuasaan raja Kertanegara (1268-1292), dimana untuk daerah Soengennep a...

Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura


Sonnysonny Aleandro Wijaya

Kerajaan Madura diketahui ketika kekuasaan raja Kertanegara (1268-1292), dimana untuk daerah Soengennep atau Sumenep dipimpin oleh mantan patih Daha yang bernama Adipati Banyak . Menurut cerita tutur Madura, adipati yang bergelar Aria Wiraraja itu ini berkedudukan di Batu Putih. Penunjukan langsung oleh kerajaan Singasari tentunya berkaitan dengan politik pamalayu yang dianut oleh Wishnuwardana dan kartanegara. Upaya meluaskan kekuasaan guna menancpakan umbul-umbul merah putih di wilayah melayu dan daerah luar jawa lainnya ini memerlikan tentara yang banyak. Seperti masa-masa sebelumnya para pelaut dan prajurit Madura ikut dikerahklan untuk memeberikan dukungan tenaga dan logistik.

Arya Wiraraja ini adalah salah satu tokoh yang berperan penting dalam pendirian kerajaan Majapahit. Untuk membalas jasa-jasa adipati Sumenep tersebut, Arya Riraraja, oleh raja Majapahit mula-mula diangkat sebagai Pesungguhan (semacam panglima atau hulubalang raja). Tak lama kemudian ia dinobatkan sebagai raja bawahan di Lumajang.

Para penggantinya di wilayah sumenep selalu berpindah keraton sebagai pusat kedudukan pemerintahan. Tempat-tempat yang pernah menjadi ibu kota keadipatian adalah Banasare (Rubaru), Aenganyar (Bluto), Keles (Ambunten), Bu-Kabu (Luk Guluk) dan Lapataman (Dungkek).

Kekuasaan Mataram

Pada seperempat pertama abad XVII, Madura terbagi-terbagi menjadi kerajaan kecil-kecil tetapi berdaulat penuh. Ketika itu cicit Kanduruwan baru dinobatkan sebagai putra mahkota kerajaan Sumenep dengan gelar Pangeran Cakranegara. Sukawati yang tua sudah menyerahkann kekuasaannya kepada anaknya Pangeran Purabaya untuk memerintah kerajaan pamekasan. Di Madura barat terjadi sedikit kericuhan penggantian raja. Sepeninggal Pangeran Tengah, maka yang menduduki tahta Arosbaja adalah adiknya (Pangeran Mas) dan bukan anaknya yang bernama Praseno. Adapun praseno hanya diberi kedudukan sebagai Adipati Sampan. Beberapa anak Lemah Duwur yang lain ditunjuk menjadi adipati Pakacangan, Bliga dan Jamburangin dan kesemuanya tunduk pada Arosbaja. Pertengkaran-pertengkaran diantara mereka selalu diselesaikan seacara kekeluargaan mengingat mereka semuanya masih keturunan Lembu Peteng. Melalui hubungan perkawinan para leluhurnya maka dalam tubuh raja Sumenep pun mengalir titisan darah tokoh tadi.

Namun kemandirian dan kedaulatan kerajaan-kerajaan kecil ini tidak dapat lestari. Perkembnagan politik di daerah lain kembali mempengaruhi jalan sejarah Madura. Pada tahun 1613 kerajaan Mataram mengangkat raja baru yang terkenal dengan sebutan Sultan Agung. Raja ini berhasrat menyatukan seluruh pulau jawa dan bahkan tempat-tempat lain di nusantara. Selain itu ia bertekad pula mengusir kedaulatan asing yang mulai bercokol di Batavia (atau Betawi ) yang sebelumnya bernama Jayakarta.

Untuk mewujudkan impiannya itu secara bersistem ia lalu menaklukkan daerah demi daerah. Pada akhir Agustus 1624 seluruh daerah Madura telah berhasil dikusai oleh tentara Mataram. Sebulan kemudian ratusan pembesar Madura yang dikalahkan di medan laga digiring oleh Tumenggung Wiraguna ke Mataram seabagai tawanan perang. Kebanyakan dari mereka dihukum mati dengan cara ditikam dengan keris. Akan tetapi Adipati Sampang yang menyerahkan diri diberi jabatan sebagai penguasa seluruh Madura. Jabatan ini sebenarnya hanya pangkat kehormatan belaka sebab ia harus berkedudukan di ibu kota mataram sebagai sandra dalam sangkar emas. Untuk lebih memudahkan pengawasan terhadap dirinya kemudian dikawinkan dengan salah seorang adik Sultan Agung.

Pemerintahan harian Madura yang berkedudukan di sampang diwakilkan kepada raden santamerta. Wilayah Pamekasan dikelola oleh pangeran Magetsari anak pangeran Jamburingin yang gugur dalam peperangan. Untuk memerintah daerah Sumenep Sultan Agung menunjuk Tumenggung Anggadipa yang sebelumnya adalah panglima armada dari Jepara.

Cerita tutur setempat menunjukkan bahwa tumenggung Anggadipa berhasil menjalankan tugas kepemimpinannya di Sumenep. Untuk lebih memantapkan kedudukan dirinya, ia mengikat tali perkawinan dengan salah seorang keturunan lemah duwur. Tumenggung Anggadipa ternyata dapat diterima karena dapat menyatu dengan masyarakat Sumenep, mungkin karena ia berasal dari jepara yang ketaatannya pada agama islam terkenal kuat. Ia memang terus dikenang sebagai orang yang mendirikan Masjid jamik Sumenep pertama di kampung kapanjin. (bersambung …….)


 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)