6. Raden Pitutut Raden Pitutut sewaktu memimpin Sumenep memindahkan keraton Sumenep yang semula ada di Aeng Nyeor, dipindahkan ke daer...

Raja-Raja Kerajaan Madura (2)


6. Raden Pitutut

Raden Pitutut sewaktu memimpin Sumenep memindahkan keraton Sumenep yang semula ada di Aeng Nyeor, dipindahkan ke daerah Mandagara. Daerah Mandagara adalah termasuk kecamatan Ambunten kabupaten Sumenep. Karena pusat pemerintahan berada di daerah Mandagara, maka R. Pitutut dikenal dengan sebutan Pangeran Mandagara. Dari hasil perkawinannya R. Pitutut dikaruniai dua putra dua orang anak bernama R. Notoprojo dan R. Notoningrat. R. Pitutut memerintah di Sumenep pada tahun 1331-1339 M. berpulangnya R. Pitutut ke Rahmatullah, maka ditunjuk pengganti untuk memimpin pemerintahan Sumenep adalah putranya yang tertua yang bernama R. Notoprojo.

7. Raden Notoprojo

Raden Notoprojo memerintah Sumenep antara tahun 1339-1348 M.18 Pada waktu R. Notoprojo menjabat sebagai raja Sumenep, ada pemindahan keraton kembali yang semula ada di Mandagara, di pindahkan ke daerah Bukabu yang juga termasuk kecamatan Ambunten. Sehingga akhirnya R. Notoprojo pada akhirnya, dikenal dengan sebutan Pangeran Bukabu. Sepuluh tahun R. Notoprojo memerintah Sumenep, untuk kemudian ia dipanggil menghadap Allah SWT. Pangeran Bukabu dikaruniai putra tiga orang, yaitu R. Andasmara (dikenal dengan K. Sindir alias K. Irawan atau Gung Rahwa), R. Astamana dan Dewi Retna Sarini .

8. Raden Notoningrat

Melalui hasil musyawaroh sesepuh keraton, diangkat sebagai pengganti pangeran Bukabu dalam menjalankan roda pemerintahn di Sumenep adalah adiknya sendiri yang bernama R. Notoningrat berangsung antara tahun 1348-1358 M.

Pada waktu memerintah Sumenep, R. Notoningrat juga melakukan pemindahan keraton yang semula ada di daerah Bukabu, dipindahkan ke daerah Baragung yang masih termasuk kecamatan Guluk-guluk kabupaten Sumenep. Dikarenakan pusat pemerintahan ada di Baragung, maka R. Notoningrat dikenal dengan nama Pangeran Baragung. Dari hasil perkawinannya pangeran Baragung dikaruniai seorang putri yang bernama R. Ayu Dewi Endang Kilangen.

Karena dirasakan usia telah tua dan tidak sanggup lagi untuk menjalankan roda pemerintahan Sumenep, maka ditunjuk penggantinya adalah menantu Pangeran Baragung, yaitu Suami dari R. Ayu Dewi Endang Kilangen yang bernama Bramakanda dengan Gelar Gajah Pramada atau Pangeran Secodiningrat I berpangkat Tumenggung. Perkawinan R. Ayu Dewi Endang Kilangen dengan Bramakanda atau Gajah Pramada atau Pangeran Secodiningrat I dikaruniai R. Agung Rawit.

9. Bramakanda atau Pangeran Secodiningrat I

Pemerintahan Gajah Pramada atau pangeran Secodiningrat I berlangsung Antara tahun 1358-1366 M. Sementara itu pada jaman pemerintahan pangeran Secodiningrat I, keraton yang semula ada di Baragung dipindahkan ke daerah Banasare yang termasuk kecamatan Rubaru. Perlu juga diketahui, bahwasanya keturunan pangeran Bukabu tidak menginginkan menggantikan orang tuanya menjadi raja Sumenep. Karena lebih banyak mengaktifkan seluruh hidupnya demi kepentingan agama Allah SWT dengan jalan membuka pesantren. Seperti yang dilakukan oleh R. Andasman atau K. Irawan alias K. Sindir dan R. Astamana. Banyak sekali keturunan dari pangeran Bukabu yang melahirkan ulama-ulama Sumenep yang mashur. Tidak begitu lama memerintah Sumenep, sekitar delapan tahun, kemudian Pangeran Secodiningrat I berpulang ke Rahmatullah.

10. Raden Agung Rawit atau Pangeran Secodiningrat II


R. Agung Rawit memerintah Sumenep antara tahun 1366-1386 M dengan gelar Pangeran Secodiningrat II. Sebelumnya R. Agung Rawit telah memperistri bibinya sendiri yang bernama R. Ayu Dewi Retna Sarini, yaitu putri dari pangeran Bukabu. Dan pernikahan tersebut dikaruniai keturunan bernama R. Ayu Dewi Saini atau lebih dikenal dengan julukan “R. Ayu Potre Koneng” yang kisahnya menjadi legenda.

Dua puluh tahun sudah R. Agung Rawit memerintah di Sumenep, dan untuk seterusnya setelah usianya telah tua, maka pemerintahan beralih kepada Panembahan Blingi yang berkeraton di daerah Blingi Podai (Sepudi). Tidak banyak penjelasan para ahli sejarah tentang peralihan pemerintahan tersebut.

11. Panembahan Blingi


Panembahan Blingi adalah putra dari Syd. Ali Murtadha atau Sunan Lembayung Fadhal. Setelah Panembahan Blingi memimpin pemerintahan di Sumenep menggantikan R. Agung Rawit, yaitu antara tahun 1386-1399 M dengan gelar Ario Polang Jiwo yang berpangkat Tumenggung. Panembahan Blingi mempunyai dua orang putra bernam Adipodai (Panembahan winakrama) dan Adirasa (Panembahan Wirabata).

Setelah tidak mampu lagi untuk menjalankan roda pemerintahan Sumenep, maka sebagai penggantinnya adalah Adipodai (Panembahan Winakrama). Sedangkan adiknya yang bernama Adirasa (Pangeran Wirabata) lebih banyak mengabdikan hidup demi kepentingan agama Allah SWT. Bahkan dalam cerita tutur dijelaskan, bahwa sampai akhir hayat Adirasa (Panembahan Wirabata) tidak beristri.

12. Adipodai (Panembahan Wirakrama)

Adipodai (Panembahan Wirakrama) menggantiakn orang tuanya menjalankan roda pemerintahannya di Sumenep. Namun sebelumnya Adipodai memperistri R. Ayu Dewi Saini atau R. Ayu Potre Koneng, yaitu putri dari R. Agung Rawit. Karena hasil dari perkawinan Bathin itulah, maka banyak orang yang tidak percaya. Dan akhirnya, seolah-olah terkesan sebagai kehamilan diluar nikah.

Akhirnya menimbulkan kemarahan kedua orang tuanya, sampai akan dihukum mati. Sejak kehamilannya, banyak terjadi hal-hal yang aneh dan diluar dugaan. Karena takut kepada orang tuanya maka kelahiran bayi R. Ayu Potre Koneng langsung diletakkan di hutan oleh dayangya. Dan, ditemukan oleh Empu Kelleng yang kemudian disusui oleh kerbau miliknya.

Adipodai memindahkan pusat pemerintahan yang semula ada di Blingi Podai, dipindahkan ke daerah Nyamplong Podai. Perkawinan Adipodai dengan R. Ayu Potre Koneng dikaruniai dua putra bernama Jokotole dan Banyak Wedi. Dan pemerintahan Adipodai sendiri berlangsung antara tahun 1399-1415 M.23 Perjalanan waktu membuat usia dan aktifitasnya sebagai pemimpin pemerintahan Sumenep mulai berkurang, sehingga unutk melanjutkan tahta pemerintahan di Sumenep adalah putranya yang tertua, yaitu Jokotole. Sedangkan adiknya yang bernama Banyak Wedi menjadi Adipati Gresik menggantikan Mertuanya. (bersambung …….)

 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)