16. R. Aria Kanduruan Masa berlangsungnya R. Aria Kanduruan antara tahun 1559-1562 M dengan gelar Pangeran Notokusumonegoro. Walaupun ...

Raja-Raja Kerajaan Madura (4)


16. R. Aria Kanduruan

Masa berlangsungnya R. Aria Kanduruan antara tahun 1559-1562 M dengan gelar Pangeran Notokusumonegoro. Walaupun pada awal pemerintahan R. Aria Kanduruan kurang mendapat dukungan dari rakyat Sumenep. Namun karena semua kebijakan secara perlahan dapat diterima oleh rakyat, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama kehadiran R. Aria Kanduruan dapat diterima pula. R. Aria Kanduruan memindahkan keraton dari Parsanga ke Karang Sabu desa Karang Duak kecamatan kota.

R. Aria Kanduruan memperistri putri dari raja Terung (Sidoarjo), yaitu R. Husein. Dari hasil perkawinan tersebut dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Banten atau Pangeran Lor I dan Pangeran Wetan I. Usia yang semakin lanjut dirasa tidak sanggup lagi untuk menjalankan roda pemerintahan di Sumenep, maka R. Aria Kanduruan memanggil kedua putranya R. Banten dengan Pangeran Wetan I untuk dapat menjalankan pemerintahan di Sumenep. Hal tersebut tentunya tidak lepas juga dari musyawarah sesepuh keraton. R. Aria Kanduruan wafat, jenazahnya dimakamkan di Asta Karang Sabu desa Karang Duak, yaitu bekas lokasi keratonnya.

17. Pangeran Lor I atau R. Banten dan Pangeran Wetan I

Pangeran Lor I atau R. Banten memerintah Sumenep antara tahun 1562-1567 M. Ia tidak menikah sampai akhir hayatnya, dan lebih banyak melakukan ibadah kepada Allah SWT. Dan lebih suka menyepi (tafakkur) di tempat-tempat sunyi dalam gua di daerah Kasengan, gua Kalabangan. Sedangkan Pangeran wetan memiliki dua istri. Yang pertama R. Ayu Ratna Taluki (istri padmi), yaitu Putri dari Pangeran Nugroho (Apnembahan Bonorogo) Pamekasan dan memiliki anak bernama Raden Rajasa. Sedangkan istri yang kedua, yaitu putri dari Aria Wirabaya (Pangeran Siding Puri atau Pangeran Secodiningrat V) dan di karuniai putra bernama R. Keddu’.

Meskipun kerajaan Sumenep dipimpin oleh dua orang, namun rasa aman, tentram dan sentosa tetap dapat dirasakan oleh semua rakyat Sumenep. Semua itu dikarenakan kekompakan dan kerja sama dalam menjalankan tugas. Segala bentuk kekurangan yang ada di masyarakat selalu dicari jalan penyelesaian. Pangeran Lor I dan Pangeran Wetan I ketika wafat dimakamkan di Asta Karang Sabu desa Karang Duak juga berkumpul dengan R. Aria Kanduruan.

18. R. Keddu’ atau Pangeran Wetan II

R. Keddu’ atau Pangeran Wetan II memerintah antara tahun 1567-1574 M. kemudian Raden Keddu’ sudah tidak aktif lagi tahta pemerintahan Sumenep diganti oleh R. Rajasa.
R. Rajasa atau Pangeran Lor II menjadi penguasa di Sumenep antara tahun 1574-1589 M. dalam Babad Sumenep diterangkan, bahwa R. Rajasa memperistri R. Ayu Dewi Susila, yaitu putri dari Pangeran Batu Putih II (R. Ilyas). Sedangkan Pangeran Batu Putih II itu sendiri adalah putra dari dari Sunan Paddusan, yaitu dari hasil perkawinannya dengan putri Jokotole. Pernikahan R. Rajasa dikaruniai putra dua orang bernama R. Abdullah (Pangeran Cokronegoro I) dan R. Pandian (K. Abdul Qidam) di Larangan Pamekasan.

20. R. Abdullah atau Pangeran Cokronegoro I

R. Abdullah atau Pangeran Cokronegoro I memimpin Sumenep antara tahun 1589-1626 M. R. Abdullah menikah dengan R. Ayu Pacar dan diikaruniai putra bernama R. Bugan. Sedangkan R. Pandian saudara dari R. Abdullah lebih memilih untuk mengabdikan hidup yang hanya sebentar untuk kepentingan perkembangan agama Allah SWT, yaitu dengan jalan membuka pesantren di Larangan Pamekasan.

Selang beberapa tahun R. Abdullah (Pang. Cokronegoro I) memerintah Sumenep, Sultan Agung raja Mataram pada tahun 1623 M menyerang seluruh kerajaan kecil yang ada di Madura, termasuk Sumenep. Namun dalam penyerangan yang pertama tersebut dapat dikalahkan oleh pasukan madura. Akan tetapi dalam serangan yang kedua pada tahun 1624 M sebagian kerajaan kecil di bagian Barat Madura dapat ditaklukkan. Seperti Blega, Arosbaya dan Sampang dalam kekuasaan kerajaan Mataram. Pertempuran yang dilakukan pasukan Mataram bergerak ke daerah Pamekasan, sehingga Pangeran Pamekasan gugur dalam pertempuran bersama seluruh pasukannya di daerahnya sendiri Pamekasan. Dan daerah Pamekasan jatuh dalam kekuasaan Mataram juga.

Pada tahun 1626 M, ketika R. Abdullah didampingi orang tuanya R. Rajasa hendak melakukan kunjungan ke Demak, dalam perjalanan di daerah Sampang di cegat oleh pasukan Mataram sehingga mengakibatkan peperangan. Jumlah pasukan yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pasukan Mataram, mengakibatkan pasukan Sumenep mengalami kekalahan. Pada peristiwa pertempuran tersebut juga mengakibatkan R. Abdullah (Pang. Cokronegoror I) dengan R. Rajasa orang tuanya gugur. Keduanya kemudian dikebumikan di desa Palakaran Sampang. Tempat kedua makam Pangeran Sumenep yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Mataram dinamakan Asta Pangeran Sumenep.Sedangkan putra Raden Abdullah (Pang. Cokronegoro I) yang masih kecil bernama R. Bugan dilarikan dan dititipkan kepada Sultan Cerbon.

Mendengar kabar wafatnya R. Abdullah (Pang. Cokronegoro I) dan R. Rajasa dalam pertempuran melawan pasukan Mataram, maka sisa kerabat yang masih hidup berangkat ke Demak untuk melaporkan tentang kejadian dan keadaan yang menimpa Madura. Khususnya Sumenep setelah terjadinya peperangan dan dikuasai oleh Mataram. Maka setelah menerima laporan dari rombangan kerabat Sumenep, penguasa Demak keturunan R. Patah memerintahkan putra adipati Jepara yang bernama R. Mas Pangeran Anggadipa menjadi Penguasa sementara tahta pemerintahan di Sumenep pada tahun 1626 M dengan berpangkat tumenggung.

21. R. Mas Pangeran Anggadipa

R. Mas Pangeran Anggadipa adalah keturunan adipati Jepara.R. Mas Pangeran Anggadipa memperistri perempuan Madura, yaitu putri dari panembahan Lemah Duwur (R. Pranoto) Sampang yang bernama R. Ayu Mas Ireng. Berselang beberapa tahun bertugas di Sumenep dan sudah menjalankan banyak kebijakan demi mensejahterakan rakyat Sumenep, kemudian pada tahun 1639 M mendirikan masjid di desa Kapanjin termasuk kecamatan kota. Masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama “Masjid Laju” dan termasuk masjid yang pertama kali di Sumenep. Pemerintahan R. Mas Pangeran Anggadipa berlangsung antara tahun 1626-1644 M.

Kedatangan R. Mas Pangeran Anggadipa banyak membawa perubahan yang sangat berarti di Sumenep, walaupun ia bukan keturunan asli bangsawan Sumenep. Namun segala kebijakan sangat diterima dan dirasakan oleh rakyat Sumenep. Kurang lebih tujung belas tahun R. Mas Pangeran Anggadipa kemudian di pecat dari jabatan adipati Sumenep oleh Sultan Agung. Sebagai ganti dari jabatan tahta pemerintahan Sumenep adalah R. Jaingpati. Ia adalah saudara sepupu dari pangeran Cakraningrat I (R. Praseno) di Sampang. Pengangkatan R. Jaingpati menjadi adipati Sumenep sudah di bawah kekuasaan Mataram. Pangeran Anggadipa beserta istrinya R. Ayu Mas Ireng ketika berpulang ke Rahmatullah, dimakamkan di Asta Tinggi, yaitu pada lokasi barat di kubah paling utara. (bersambung …….)


 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)