Ilustrasi 29. K. Lesap K. Lesap memerintah Sumenep antara tahun 1749-1750 M. di mana keraton masih berada pada posisi di Karang Toroi...

Raja-Raja Kerajaan Madura (7)

Ilustrasi
29. K. Lesap

K. Lesap memerintah Sumenep antara tahun 1749-1750 M. di mana keraton masih berada pada posisi di Karang Toroi. Pada tahun 1749 Sumenep harus menghadapi pemberontakan Ke’ Lesap yang mengharu-biru seluruh Madura. Konon tokoh pemberontak adalah anak dari Panembahan Cakraningrat V dengan seorang gadis desa. Setelah besar oleh ibunya K. Lesap diberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya, sehingga ia merasa berhak mendapat kedudukan yang baik selayak anak seorang bupati. K. Lesap diberi kekuasaan atas beberapa desa. Namun karena tidak merasa puas, ia melarikan diri kepegunungan di wilayah Sumenep (Gunung Payudan). Di daerah pelariannya itu ia meneruskan bertapa sambil membina pengikutnya yang terdiri dari rakyat kecil. Sedangkan kondisi rakyat madura pada saat itu membutuhkan pemimpin yang peduli dengan munculnya K. Lesap, seakan- akan menemukan panutan baru yang bersendikan ajaran agamanya.

Kemudian oleh R. Tirtanegara keraton Sumenep diserang kembali sehingga timbul perang tanding dihalaman keraton Sumenep, antara R. Tirtanegara dengan R. Buka. Pada pertarungan tersebut R. Buka kena tombak lambungnya oleh R. Tirtanegara, dan langsung mati. Sisa prajurit R. Buka dari Bangkalan yang masih hidup banyak yang lari ke Pamekasan untuk memberi tahukan kepada K. Lesap bahwa Sumenep telah direbut kembali oleh R. Tirtanegara.,

30. R. Ayu Dewi RasmanaTironegoro dan R. Bendara Moh. Saud

Raden Ayu Tirtonegoro merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai Kepala Pemerintahan yang ke 30. Dan bindara Saod memerintah di Sumenep antara tahun 1750-1762 M.keberadaan keraton yang awalnya di Karang Toroi pada masa pemerintahan ini di pindah Pajagalan. R. Ayu Dewi Rasmana disarankan oleh sesepuh keraton untuk mencari pendamping hidup, agar tugas dalam menjalankan roda pemerintahan Sumenep tidak berat. Kemudian R. Ayu Dewi Rasmana melakukan Istikharah selama 40 hari 40 malam untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Menurut hikayat R.Ayu Dewi Tirtonegoro pada suatu malam bermimipi supaya Ratu kawin dengan Bindara Saod, seorang Penyabit rumput dari desa Lembung Barat kecamatan Lenteng… Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakanlah mimpi itu. Setelah ada kata sepakat dan mendapat restu dari istri pertamanya (Nyai Izzah), perkawinan dilaksanakan, Bindara Saod menjadi suami Ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro. R. Ayu Dewi Rasmana wafat setelah seminggu dari wafatnya Bendara Moh. Saod. Dan keduanya dimakamkan bersebelahan, yang bertempat di Asta Tinggi.

31. Panembahan Notokusumo Asiruddin

Bandara Saod dengan isterinya yang pertama di Batu Ampar mempunyai 2 orang anak. Pada saat kedua anak Bindara Saod itu datang ke keraton memenuhi panggilan Ratu Tirtonegoro, anak yang kedua yang bernama Somala terlebih dahulu dalam menyungkem kepada Ratu sedangkan kakaknya mendahulukan menyungkem kepada ayahnya (Bindara Saod). Saat itu pula keluar wasiat Sang Ratu yang dicatat oleh sektretaris kerajaan. Isi wasiat menyatakan bahwa di kelak kemudian hari apabila Bindara Saod meninggal maka yang diperkenankan untuk mengganti menjadi Raja Sumenep adalah Somala. Setelah Bindara Saod meninggal 8 hari kemudian Ratu Tirtonegoro ikut meninggal tahun 1762, sesuai dengan wasiat Ratu yang menjadi Raja Sumenep adalah Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I.

Masa memerintah di Sumenep 1750-1811 M. Pada pemerintahan Asiruddin (Panembahan Semolo), dalam menjalankan sangat berhati-hati sekali takut sampai melanggar norma-norma agama serta merugikan rakyat. Musyarawarah dalam mencapai mufakat tetap dilakukannya dalam menjalankan setiap kebijakan demi kepentingan rakyat.

32. Sultan Abdurrahman

Sultan Abdurrahman mempunyai 4 orang Istri. Namun menurut cerita tutur yang berkembang beliau mempunyai banyak istri. Bahkan diantara banyak istri beliau diantaranya adalah, putri Adipati Semarang R. Suryomenggolo V, putri adipati Bone, dan putri Adreina yaitu putri dari kerajaan Belanda. Dan dari semua istri tersebut Sultan Abdurrahman dikaruniai keturunan 32 orang putra-putri. Dan diantara putra putri tersebut yang menjadi penerus Sultan Abdurrahman setelah wafat adalah putranya sendiri yaitu R. Aria Moh. Saleh.

33. Panembahan Moh. Saleh

Menjadi raja Sumenep dengan Gelar Natakusuma II. Pada masa memerintah antara tahun 1854-1879 M. Dalam memerintah ia menderita kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya, sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh saudaranya sendiri, antara lain yaitu:

•    Pangeran Aria Jakfar Sadik Suryaamidjaya, yang ditunjuk sebagai sekretaris pribadi.
•    Pangeran Aria Mas’ud Suryaadiputra, ditunjuk mengurus bagian keuangan (bendahara) keraton.

Panembahan Natakusuma II tidak menunjukkan hal-hal yang istimewa. Bahkan pada masa Panembahan, isi keraton semakin berkurang karena diberikan kepada orang-orang yang datang mengunjunginya. Pada tahun 1857 M untuk memperkuat kontrol politik pemerintah Kolonial Belanda atas madura, maka dibentuklah Karesidenan Madura dengan ibu kotanya di Pamekasan. Pada tahun 1868 M masalah pengaturan irigasi pertanian oleh pemerintah Hindia Belanda diserahkan kepada Panembahan.

34. Pangeran Pakunataningrat

Karena mengepalai daerah yang diperintah langsung oleh penjajahannya, bupati tidak lagi menandatangani kontrak sebagai ikatan politik. Bupati hanya mendapatka beslit atau surat pengangkatan dan harus puas dengan uang gaji tanpa menguasai tanah apanage. Sejak saat itu bupati tak lebih dari pegawai pemerintah kolonial. Agar tidak menimbulkan gejolak sosial yang membahayakan, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan uang ganti rugi. Uang ganti rugi itu, kemudian diganti menjadi tunjangan bangsawan yang jumlahnya semakin lama semakin berkurang. Pada tahun 1879-1884 M, pangeran Pakunataningrat ditetapkan sebagi wakil bupati Sumenep. Kemudian tahun 1884 M mendapatkan surat pengukuhan (beslit) sebagia Le Regent di Sumenep. (bersambung …….)

 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)