22. R. Jaingpati R. Jaingpati memerintah Sumenep antara tahun 1644-1648 M. sebagi pemimpin baru di Sumenep, kehadiran R. Jaingpati tid...

Raja-Raja Kerajaan Madura (5)


22. R. Jaingpati

R. Jaingpati memerintah Sumenep antara tahun 1644-1648 M. sebagi pemimpin baru di Sumenep, kehadiran R. Jaingpati tidak dapat di terima rakyat Sumenep. Semua kebijakan pada semua sistem pemerintahan tidak dapat melakukan perubahan di berbagai bidang. Perekonomian, pendidikan, budaya dan keagamaan semuanya semakin memburuk. Hat tersebut membuat rakyat Sumenep tidak bersimpati terhadap kepemimpinan R. Jaingpati. Sehingga semua rakyat Sumenep berharap dan berdo’a agar R. Jaingpati secepatnya diganti oleh pemimpin dari keturunan asli Sumenep.

Raden Bugan putra R. Abdullah (Pang. Cokronegoro I) yang selamat dari peperangan melawan Mataram kini telah dewasa. Setelah beberapa tahun lamanya R. Bugan menempa dirinya dalam bidang agama di Giri dan dalam bidang tata Pemerintahan di Mataram, merasa terpanggil untuk kembali ke Sumenep meneruskan harapan semua rakyat Sumenep. Karena R. Bugan mendengar kabar bahwa Sumenep dipimpin oleh R. Jaingpati sepupu Pangeran Cakraningrat I yang tak cakap dalam menjalankan pemerintahan. Setelah melalui peperangan dan dukungan dari rakyat Sumenep serat dibantu oleh R. Trunojoyo, akhirnya R. Bugan dapat merebut Sumenep kembali pada tahun 1648 M.

23. R. Bugan atau Pangeran Yudonegoro

R. Bugan menjadi adipati Sumenep antara tahun 1648-1672 M dengan gelar Pangeran Yudonegoro berpangkat tumenggung. Sebelumnya R. Bugan (Pangeran Yudonegoro) telah memperistri anak keponakan R. Trunojoyo yang bernama Nyai Kani, yaitu putri dari K. Jumantara di Sampang. Dari hasil perkawinannya dikaruniai keturunan empat orang, yaitu R. Ayu Batur, R. Ayu Artak, R. Ayu Otok, R. Ayu Kacang.

Semenjak Pangeran Yudanegara memimpin Sumenep keadaan kehidupan masyarakat mulai agak aman. Rakyat tak begitu ketakutan baik malam maupun siang. Mereka dapat megerjakan sawah ladangnya lagi dengan tekun. Sehingga beberapa saat kemudian kemakmuran mulai dapat dirasakan. Ia dikenal amat biajak dan arif sehingga tidak mau menerima laporan dari bawahannya yang hanya bersifat issu dan mengarah kepada fitnah. Dalam melakukan tugas ke Blambangan yang diperintah Mataram, ia berhasil memadamkan pemberontakan dan Blambangan tunduk kepada Mataram. Berkat keberhasilannya memadamkan pemberontakan di Blambangan, Pangeran Yudanegara mendapat anugerah gelar Pangeran Macan Walung. Dan setelah wafat, Yudanegara dimakamkan di Banasokon desa Kebunagung, disebelah barat kota Sumenep, terletak dibawah bukit Asta Tinggi.

24. P. Panji Polang Jiwo dan P. Wirosari

R. Ayu artak diperisti oleh Pangeran Panji Polang Jiwo (R. Khas Kian). Pangeran Panji Polang Jiwa menggantikan mertuanya, Pangeran Yudhonegoro menjadi adipati sumenep, berpangkat tumenggung. Pemerintahan pangeran polan jiwa berlangsung antara tahun 1672-1678 M, bersamaan dengan pemerintahan Pangeran Wirosari (Pangeran Seppo), karena pada waktu itu kerajaan Sumenep diperintah oleh dua orang dalam waktu bersamaan.

Pangeran Wiro Sari adalah putra pangeran Wegat Sari, penguasa pamekasan. Sedangkan pangeran megat sari sendiri adalah putra dari pangeran metro sari yang masih menantu pangeran cakraningrat I (R. Praseno). Pada awalnya pangeran Wiro Sari adalah penguasa pamekasan. Ia menggantikan pangeran Megat Sari orang tuanya yang telah berpulang kerahmatullah. Namun kemudian pangeran Wiro Sari menikah dengan salah satu putri pangeran Yudho Negoro penguasa Sumenep, yang bernama R. Ayu Kacang.

Ketika pangeran Yudho Negoro tidak efektif lagi dalam pemerintahan sumenep sepenuhnya, maka pangeran Wono Sari menggantikan mertuanya menjadi penguasa sumenep, yaitu antara tahun 1672-1678 M dengan gelar pangeran Seppo. Sedangkan daerah pamekasan digantikan kepada R. Gunung Sari (R. Deksana) dengan gelar pangeran Adikoro I atau lebih dikenal dengan sebutan pangeran gatot kaca yang juga menikah dengan putri pangeran Yudho Negoro yang bernama R. Ayu Otok.

Sistem pemerintahan pangeran Wiro Sari dan pangeran Ppanji Pelang Jiwa yang sama-sama memerintah Sumenep yang masih dibawah kekuasaan Mataram, walaupun pada tahun 1680 M Sumenep lepas dari kerajaan madura dan menjadi kerajaan madura timur dengan pamekasan.

Perwilayahan kerajaan Madura pada tahun 1680 M dibagi menjadi tiga, yaitu: Sumenep, Pamekasan dan kerajaan Madura barat yang meliputi Sampang, Blega, Arosbaya,(sekarang banggalan). Sedangkan kerajaan Madura Barat, pusat pemerintahannya dikendalikan di Sampang. Ketika berpulang ke rahmatullah, pangeran Wirosari dikuburkan di Asta tinggi pada lokasi barat dikubah paling utara.

25. Pangeran Romo atau Pangeran Cokronegoro II

Pangeran Romo adalah putra dari R. Deksana (R. Gunung Sari) atau pangeran Gatut Kaca (Adikoro I) adipati pamekasan dari hasil perkawinannya dengan R. Ayu Otok, putri dari Pangeran Yudonegoro. Pada tahun 1702 M, Pangeran Romo berhasil mempersatukan kembali kepemimpinan pemerintahan sumenep secara utuh. Suatu awal keberhasilan Pangeran Romo dalam menata kembali berbagai keterpurukan dari pemerintahan sebelumnya. Pembangunan perekonomian, sosial, budaya, dan keagamaan terus diadakan perbaikan. Hal tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dimiliki, serta sifat tangkas, tegas dan cerdas dari jiwa kepemimpinan pangeran Romo.

Setiap bentuk persoalan yang muncul cepat diatasi tampa menunda-nunda secara berlarut. Sikapnya yang sederhana, sabar, tekun dan tegas adalah modal utama dalam memperoleh kepercayaan rakyat. Jiwa kepemimpinannya yang tentunya mewarisi dari kakeknya, yaitu Pangeran Yudonegoro. Dalam menghormati jasa para pemimpin sumenep yang telah mendahuluinya, maka pada sekitar tahun 1695 M, Pangeran Romo membangun pesantren di asta tinggi, yaitu sekaligus dengan memberi pagar batu pada sekeliling pesantrentersebut, lengkap dengan gapuranya. Pembangunan asta tinggi yang dibangun oleh Pangeran Romo adalah merupakan tahap awal. Bertujuan untuk mengigatkan pada generasi selanjutnya, termasuk juga masyarakat sumenep, akan perjuangan leluhur dalam membangun dan memperjuangkan sumenep tempo dulu.

Pangeran Romo memerintah sumenep menggantikan Pangeran Panji Polang Jiwa dan Pangeran Wirosari antara tahun 1678-1709 M, dengan Pangeran Colronegoro II. Pangeran Romo memperistri saudara sepupunya sendiri yang bernama R. Ayu Gumbrek, yaitu putri dari pangeran Panji Polong Jiwo.Pada akhir hayatnya Pangeran Romo dimakamkan diasta tinggi pada lokasi bangian barat kubah paling utara. Makam Pangeran Romo juga berkumpul dengan Pangeran Anggadipa, Pangeran Wirosari, R. Ayu Artak dan juga Pangeran Panji Polang Jiwo. (bersambung …….)

 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)