13. Pangeran Jokotole Jokotole dan adiknya bernama Banyak Wedi lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai h...

Raja-Raja Kerajaan Madura (3)


13. Pangeran Jokotole

Jokotole dan adiknya bernama Banyak Wedi lahir dari Raden Ayu Potre Koneng, cicit dari Pangeran Bukabu sebagai hasil dari perkawinan bathin (melalui mimpi) dengan Adipoday (Raja Sumenep ke 12). Jokotole diasuh dan dididik Empu Kelleng untuk menjadi manusia yang baik. Sejak dari Kanak-kanak Jokotole senang memperhatikan Mpu Kelleng saat bekerja membuat alat-alat pertanian dari besi. Ketika Jokotole ingin membantu ayah angkatnya, karena dikkawatirkan terkena api maka Mpu Kelleng melarangnya. Suatu ketika dikala Mpu Kelleng pergi istirahat, jokotole mencoba alat-alat dari besi, dan hasilnya ternyata bagus. Setelah Mpu Kellleng mengetahui hasil karya Jokotole, ia sangat gembira dan mengagumi hasil karya anak angkatnya. Disamping itu juga Jokotole membuat keris, kemudian keris hasil buatan Jokotole terkenal sebagai Jennengan Pakadangan.

Sebelum menjadi raja di Sumenep, Jokotole pernah membantu kerajaan majapahit dalam membuat pintu gerbang yang tidak seorang empu setanah jawa dan madura mampu membuatnya. Kecuali hanya Jokotole yang mampu. Jokotole juga membantu kerajaan mojopahit memadamkan pemberontakan di Blambangan. Sehingga atas jasa jokotole, raja majapahit Prabu Kertabumi Brawijaya V menganugrahnya putrinya yang brnama R. Ayu Dewi Ratnadi untuk dijadikan istri. Selain itu Jokotole diberi gelar yaitu, Arya Kuda Panole.

Jokotole menjadi raja Sumenep antara tahun 1415-1460 M dengan gelar Pangeran secodiningrat III. Perkawinannya dengan Raden Ayu Dewi Ratnadi putri Raja majapahit di karuniai putra dua orang. Yang tertua bernama Arya Wigananda, sedangkan yang kedua seorang perempuan yang dalam sejarah tidak diketahuai namanya. Namun dalam babad Sumenep diceritakan, bahwa putri Jokotole diperistri oleh R. Bendara Dwiryapada (Sunan Paddusan). Sedangkan Sunan Paddusan adalah putra dari Sunan Manyuram Mandalika (Syd. Haji Usman dimana Syd Haji Usman adalah Putra Kedua dari Syd. Ali Murtadha). Raden Bendara Dwiryapada kemudian dikenal dengan nama Sunan Paddusan salah seorang penyebar agama Islam di Sumenep.

Ketika Sunan Paddusan memperistri putri Jokotole, kemudian dikaruniai dua orang putri, yang diantaranya bernama Nyai Malaka. Dan Nyai Malaka sendiri setelah dewasa diperistri oleh Sultan Demak Raden Patah, dan dikaruniai keturunan yaitu, Pati Unus, R. Trenggono, Sekar Seda Lepen dan R. Aria Kaduruan (menjadi Adipati Sumenep) serta seorang putri yang diperistri oleh Sunan Gunung Jati.

14. Raden Aria Wigananda

R. Aria Wigananda diangkat menjadi penguasa di Sumenep pada tahun 1460- 1502 M dengan gelar Pangeran Secodiningrat IV. Sementara ketika Jokotole wafat dimakamkan di desa Sa’-asa yang termasuk kecamatan Manding. Aria Wigananda memperistri saudara sepupunya, yaitu putri dari Banyak Wedi yang masih bersaudara dengan Jokotole. Perkawinan keduanya dikaruniai keturunan dua orang, yaitu R. Ayu Ratmina dan juga seorang putri yang namanya tidak dikenal sejarah. Ada pemindahan keraton kembali yang semula pada jaman pemerintahan Jokotole ada di Banasare, maka ketika pemerintahan Aria Wigananda dipindahkan ke daerah Gapura, yang sekarang Gapura menjadi kota kecamatan terletak 13 Kilometer di sebelah timur kota Sumenep.

Pada penjelasan di awal dikatakan, bahwa Banyak Wedi memperistri putri adipati Gresik sekaligus menggantikan mertuanya menjadi adipati perkawinan banyak Wedi dikaruniai keturunan tiga orang anak yaitu Arya Banyak Mondang, Arya Susuli dan seorang putri yang menjadi istri Aria Wigananda. Putra Banyak Wedi yang bernam Arya Banyak Mondang, setelah menikah dikaruniai keturunan empat orang, yaitu Aria Wirabaya (pangeran Siding Puri), Aria Tokandur dan yang dua lainnya perempuan. Dalam Babad Sumenep diceritakan, bahwa Aria Wirabaya aau Pangeran Siding Puri memperistri saudara sepupunya yang bernama R. Ayu Ratmina dan dikaruniai keturunan tiga orang anak yang semuanya perempuan. Salah satu putri dari Pangeran Siding Puri tersebut bernama Nyai Susur. Arya Wigananda tidak dikaruniai keturunan laki-laki sebagai pelanjut tahta pemerintahan Sumenep. Maka setelah usianya telah lanjut dan tidak sanggup lagi untuk menjalankan roda pemerintahan, ditunjuk sebagai pengganti dari tahta pemerintahan tersebut adalah Aria Wirabaya.

15. Aria Wirabaya

Pemerintahan Aria Wirabaya berlangsung antara tahun 1502-1559 M dengan gelar Pangeran Secodiningrat V. Keraton yang semula ada di Gapura pada jaman pemerintahan Aria Wigananda, sertelah pemerintahan Aria Wirabaya dipindahkan ke Parsanga yang masih kecamatan kota. Arya Wirabaya adalah raja Sumenep yang mempunyai wajah tampan nan rupawan. Ketampanan Arya Wirabaya yang terkenal mewarisi rupa kakeknya, yaitu Jokotole. Karenanya Arya Wirabaya oleh banyak masyarakat kala itu diberi sebutan Pangeran Sumenep. Sehingga banyak diantara putri raja-raja kerajaan lain yang sangat tertarik pada aria Wirabaya untuk dijadikan pendamping hidupnya. Diantara yang suka akan ketampanan Aria Wirabaya adalah ratu kerajaan Japan yang bernama R. Ayu Mas Kumambang, yang masih bersaudara dengan neneknya R. Ayu Ratnadi istri Jokotole.

Akibat rasa cinta R. Ayu Mas Kumambang yang ditolak oleh Aria Wirabaya sewaktu masih menjabat raja Sumenep, maka terjadilah peperangan besar untuk menangkap Aria Wirabaya. Peperangan tersebutterjadi di daerah Pore yang masih masuk kecamatan Lenteng. Pimpinan pasukan Japan yang ditunjuk oleh R. Ayu Mas Kumambang untuk menyerang Sumenep adalah R. Aria Kanduruan, yaitu putra Sultan Demak R. Patah. Dalam peperangan tersebut pasukan Sumenep mengalami kekalahan, termasuk Aria Wirabaya wafat dalam peperangan mempertahankan kehormatan kejayaan Sumenep. Karena tempat wafat di dalam pertempuran Aria Wirabaya ada di desa Pore, maka ia dikenal juga dengan sebutan Pangeran Siding Pore.

Dampak dari setelah selesainya peperangan tersebut adalah terjadinya kekosongan pucuk pimpinan untuk dapat menjalankan roda pemerintahan di Sumenep. Sehingga untuk mengisi kekosongan pimpinan pemerintahan di Sumenep, maka mengutuslah R. Ayu Mas Kumambang kepada R. Aria Kanduruan dengan berpangkat Tumenggung. Sebenarnya putra dari Aria Wirabaya pada waktu itu masih kecil, sehingga di rasa belum pantas untuk memikul beban dan tanggung jawab sebagai pemimpin negara. Apalagi setelah pasca peperangan tersebut dianggapnya Sumenep termasuk daerah bahan kerajaan Japan. (bersambung …….)

 Tulisan bersambung:
  1. Masa Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Madura
  2. Raja-Raja Kerajaan Madura (1)
  3. Raja-Raja Kerajaan Madura (2)
  4. Raja-Raja Kerajaan Madura (3)
  5. Raja-Raja Kerajaan Madura (4)
  6. Raja-Raja Kerajaan Madura (5)
  7. Raja-Raja Kerajaan Madura (6)
  8. Raja-Raja Kerajaan Madura (7)
  9. Raja-Raja Kerajaan Madura (8)