Jejak Mimpi Marlena

 

Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr 

Episode Empatbelas

Di tengah pergulatan hidup, cinta, dan impian masa depan, Marlena menemukan jalan hidupnya melalui dunia sastra. Di antara keterbatasan, persahabatan, dan harapan orang-orang yang mencintainya, ia belajar bahwa pendidikan dan perjuangan adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

*****

“Memang itu yang kuharapkan. Namun akhirnya aku sadar bahwa pilihanku itu salah. Buktinya, keduanya berjalan lamban, seperti bayi yang baru belajar melangkah.”

“Tapi sekarang sudah mulai berkembang, Pak,” sahut Marlena pelan.

“Ya, meski sedikit.”

Percakapan singkat itu terus terngiang di kepala Marlena. Dalam beberapa tahun terakhir, hidupnya seolah berjalan di antara persimpangan yang tak pernah benar-benar jelas ujungnya. Namun perlahan, ia mulai menemukan kembali dirinya yang sempat hanyut dalam arus waktu dan keadaan.

Di dalam dadanya tumbuh impian-impian baru yang semakin kuat menancap. Marlena berharap suatu hari nanti ia mampu melakukan sesuatu yang lebih berarti. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, atau untuk orang-orang dekat seperti Narti dan Pak Jamil, melainkan juga bagi masyarakat yang lebih luas. Ia ingin menjadi bagian dari perjuangan kehidupan, seperti orang-orang yang selama ini berusaha membangun bangsa dengan caranya masing-masing.

“Suatu hari nanti, kalau kau semakin larut dalam duniamu itu, kau bisa menjadi sastrawan besar di negeri ini,” ujar Pak Nurhadi, guru bahasa dan sastra yang sangat dihormatinya.

Marlena tersenyum kecil.

“Tidak, Pak. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi orang besar. Saya hanya ingin menjadi manusia biasa.”

Pak Nurhadi menggeleng pelan.

“Semua manusia memang dilahirkan biasa. Tapi profesi dan pengabdian yang dijalani seseorang sering kali membuat hidupnya lebih berarti dibanding yang lain.”

“Itulah yang saya khawatirkan, Pak,” jawab Marlena lirih. “Dunia sastra sekarang kadang lebih mementingkan popularitas daripada karya. Banyak orang sibuk membangun citra dan pengakuan atas dirinya sendiri.”

Pak Nurhadi tertawa tipis.

“Benar juga. Di kota-kota besar sekarang muncul macam-macam gelar: Paus Sastra, Presiden Sastra, Hakim Sastra, dan entah apa lagi.”

“Lalu mereka dikultuskan,” sambung Marlena. “Kalau begitu, apa bedanya sastra dengan panggung kesombongan?”

Guru itu memandang muridnya dengan mata berbinar. Ia melihat keberanian berpikir yang tidak dimiliki banyak remaja seusia Marlena.

“Bukan hanya itu,” lanjut Pak Nurhadi. “Media massa juga sering dikuasai kelompok tertentu. Ruang sastra seperti milik segelintir orang saja.”

“Karena itu,” kata Marlena mantap, “kalau saya memang ditakdirkan bertahan di dunia sastra, saya ingin membawa karya lebih dekat kepada masyarakat biasa. Saya ingin sastra dipahami dan dihargai oleh semua kalangan, bukan hanya oleh orang-orang tertentu.”

Pak Nurhadi mengangguk bangga.

“Itu niat yang baik.”

Bagi Marlena, sastra bukan sekadar rangkaian kata indah. Sastra adalah kehidupan itu sendiri. Di dalamnya terdapat kejujuran, luka, harapan, dan filsafat manusia dari berbagai zaman. Sastra mengajarkan manusia memahami sesamanya, sekaligus mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur tak boleh kalah oleh perubahan zaman.

Karena itulah Marlena semakin tenggelam dalam dunia yang dicintainya itu.

Hari itu Gedung Nasional Indonesia dipenuhi para undangan. Hampir tak ada satu kursi pun yang kosong. Wajah Pak Toha tampak berseri-seri, demikian pula Bu Rasmi yang sibuk menyambut tamu dengan senyum hangat.

Alunan gamelan Madura mengalun lembut, berpadu dengan bunyi gong dan gendang yang menambah khidmat suasana. Di atas pelaminan beludru merah duduk sepasang pengantin dalam balutan busana adat leghâ khas Sumenep. Mereka tampak bak raja dan ratu yang sedang menikmati hari paling membahagiakan dalam hidupnya.

Darwis dan Fatimah sesekali memandang ke seluruh ruangan, menyambut tatapan para tamu yang hadir.

Sementara itu Marlena terlihat sibuk sejak pagi. Ia mondar-mandir membantu jalannya acara, memastikan semuanya berjalan lancar. Meski lelah, wajahnya tetap memancarkan semangat. Ia merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pesta keluarga Pak Toha.

Di sudut ruangan, Narti, Pak Jamil, dan Taufik duduk memperhatikan suasana.

“Kak Fatimah makin cantik ya,” ujar Narti sambil tersenyum.

Pak Jamil hanya mengangguk.

“Bukan cuma wajahnya,” sela Taufik. “Hatinyapun cantik.”

“Benar,” kata Narti. “Waktu ayahnya masih menjabat dulu, aku tidak pernah melihat Kak Fatimah memanfaatkan jabatan orang tuanya.”

“Itu karena pendidikan keluarganya,” jelas Pak Jamil. “Orang tua yang baik akan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jabatan seharusnya bukan alat untuk mempermudah segalanya.”

Taufik ikut menimpali.

“Banyak orang tua justru menjadikan kekuasaan sebagai jalan kemenangan anak-anaknya. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa perjuangan.”

“Kalau terus begitu,” sahut Pak Jamil, “entah bagaimana masa depan bangsa ini.”

“Sudahlah,” sela Narti sambil tertawa. “Kita jangan terlalu serius. Yang penting, kita sendiri harus tahu apa yang bisa kita lakukan.”

“Hei, kalian sedang membicarakanku ya?” tiba-tiba Marlena muncul di antara mereka.

“Ya,” jawab Narti cepat. “Aku kasihan melihat Taufik dari tadi matanya jelalatan melihat pengantin.”

“Atau mungkin kamu sendiri?” goda Marlena.

“Kalau aku sudah di ambang gerbang.”

“Gerbang atau gerbong?”

“Keduanya!”

Mereka pun tertawa bersama hingga beberapa tamu di sekitar ikut tersenyum.

“Len, duduklah sebentar bersama kami,” ujar Pak Jamil. “Dari tadi kau seperti petugas keamanan.”

“Kasihan Taufik,” tambah Narti.

Wajah Taufik langsung memerah.

“Ada-ada saja kalian,” sahut Marlena. “Aku kan harus membantu.”

Tak lama kemudian Bu Rasmi memanggilnya kembali. Marlena pun bergegas pergi.

Acara resepsi berlangsung meriah hingga malam. Para tamu pulang dengan wajah puas, sementara kedua mempelai berdiri di pintu gedung menyambut satu per satu tamu yang berpamitan.

Bagi Pak Toha, pernikahan Fatimah membuat satu tanggung jawab besar dalam hidupnya selesai. Kini pikirannya tertuju kepada Marlena, anak angkat yang telah dianggap seperti darah daging sendiri.

“Sudah, Yah. Saya kerja saja,” ujar Marlena suatu malam ketika Pak Toha membicarakan soal kuliahnya.

“Kerja dengan ijazah SMA?” tanya Pak Toha.

“Ya… tergantung keadaan.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung kemampuan kita.”

Pak Toha menarik napas panjang.

“Itu artinya kau belum berani menjawab cita-citamu sendiri.”

Marlena diam.

“Kau harus melanjutkan sekolah,” lanjut Pak Toha tegas. “Jangan berpikir Ayah tidak mampu hanya karena sudah pensiun.”

Mata Marlena langsung berkaca-kaca. Ia merasa tak sanggup membalas semua kebaikan keluarga itu.

Dalam benaknya terbayang kampung pantai tempat ia dilahirkan. Ia teringat wajah ayah kandungnya yang berjuang keras demi menyekolahkannya. Dulu ia belum memahami arti pendidikan. Ia hanya ingin sekolah karena tertarik mendengar cerita Kamil tentang kehidupan kota. Namun kini ia sadar, pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.

Kenangan masa lalu yang selama ini tenggelam perlahan muncul kembali dalam ingatannya.

Sebagai pencinta sastra, Marlena memiliki hati yang peka. Ia mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, ia ikut bahagia ketika melihat orang lain menemukan kebahagiaannya.

Sejak mendapat restu Pak Toha untuk melanjutkan kuliah, Marlena semakin giat belajar. Ia bertekad meraih hasil terbaik dalam Ebtanas.

Ia dan Taufik bahkan sepakat mengurangi pertemuan agar lebih fokus belajar.

“Untuk sementara kita harus mengutamakan masa depan,” kata Marlena waktu itu.

Taufik mengangguk setuju.

Hari-hari mereka dipenuhi buku, catatan, dan latihan soal. Tak ada waktu terbuang sia-sia.

Dan akhirnya, saat hasil Ebtanas diumumkan, usaha mereka membuahkan hasil.

“Bagaimana, Len? Lulus?” tanya Narti penuh penasaran.

“Alhamdulillah,” jawab Marlena sambil tersenyum lebar.

“Taufik?”

“Lulus juga.”

“Syukurlah!”

“Kalau kamu sendiri?”

“Aku juga lulus.”

Keduanya langsung berpelukan bahagia.

“Kamu jadi ke Surabaya?” tanya Marlena.

“Iya,” jawab Narti. “Doakan aku diterima di IKIP Surabaya.”

“Pasti.”

Tak lama kemudian Taufik dan Pak Jamil datang menghampiri mereka.

“Selamat, Lena,” ucap Taufik dengan suara tertahan. “Semoga kau diterima di IKIP.”

“Terima kasih. Semoga kamu juga berhasil masuk UNEJ.”

Sebagai ungkapan syukur, Pak Jamil mentraktir mereka makan soto ayam di sebuah warung dekat terminal.

Suasana hangat dan penuh canda itu menyimpan kesedihan yang tak diucapkan. Mereka sadar, sebentar lagi jalan hidup masing-masing akan berbeda.

Narti dan Pak Jamil akan melangkah menuju kehidupan rumah tangga. Sementara Marlena dan Taufik harus menghadapi perpisahan karena pendidikan.

“Sebentar lagi jarak dan waktu akan memisahkan kita,” ujar Taufik saat mengantar Marlena pulang. “Aku takut kita tak mampu melewati semua ini.”

Marlena terdiam sejenak.

“Tak ada senjata paling ampuh selain kesadaran untuk tetap mengutamakan tujuan kita,” jawabnya pelan.

“Maksudmu?”

“Kita akan menghadapi banyak hal baru. Kuliah, lingkungan baru, pengalaman baru. Semua itu akan menguji kita.”

Taufik menarik napas panjang.

“Sekarang aku mengerti.”

“Mudah-mudahan Tuhan selalu menjaga cita-cita kita.”

Itulah percakapan terakhir yang benar-benar menyentuh hati keduanya sebelum perpisahan terjadi. Taufik harus kembali ke Banyuwangi, sementara Marlena bersiap menuju masa depan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dengan langkah cepat Marlena pulang ke rumah Pak Toha. Ia ingin segera menyampaikan kabar kelulusannya.

Begitu sampai di rumah, yang keluar dari dirinya justru tangis bahagia. Ia memeluk Bu Rasmi sambil menangis tersedu-sedu.

Pak Toha dan Bu Rasmi sempat panik, mengira Marlena gagal.

Namun ketika gadis itu akhirnya mampu berkata lirih, “Saya lulus, Yah…,” kedua orang tua itu langsung tersenyum lega.

Malam itu, di rumah sederhana itu, harapan-harapan baru mulai dinyalakan. Sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai bagi Marlena—perjalanan seorang gadis pesisir yang ingin menaklukkan masa depan dengan ilmu, cinta, dan sastra.