Jejak Persekutuan Makassar–Madura Melawan VOC


Nusantara pernah menyaksikan sebuah aliansi besar lintas pulau antara pejuang Makassar dan Madura. Dipimpin Karaeng Galesong dan Pangeran Trunojoyo, mereka mengguncang kekuasaan VOC dan Mataram dalam salah satu perlawanan paling besar di Jawa.

Pada abad ke-17, Nusantara berada dalam masa pergolakan besar. Di berbagai wilayah, kekuatan kolonial VOC perlahan memperluas pengaruhnya melalui perdagangan, persekutuan politik, hingga campur tangan militer. Namun di tengah tekanan itu, muncul pula perlawanan-perlawanan besar dari berbagai daerah. Salah satu kisah yang jarang disorot adalah persekutuan antara pejuang Makassar dan Madura yang pernah mengguncang Jawa dan membuat VOC kewalahan.

Kisah ini bermula setelah jatuhnya Benteng Somba Opu di Makassar pada 1669. Kekalahan Kesultanan Gowa dalam Perang Makassar menjadi titik penting dalam sejarah kawasan timur Nusantara. VOC yang dipimpin Cornelis Speelman berhasil memaksa Makassar tunduk melalui Perjanjian Bongaya. Namun tidak semua bangsawan dan prajurit Makassar mau menerima kekuasaan VOC.

Banyak di antara mereka memilih meninggalkan tanah kelahirannya daripada hidup di bawah kendali kompeni. Mereka berlayar ke berbagai wilayah Nusantara, terutama ke pesisir Jawa dan kawasan timur lainnya. Di antara tokoh yang paling menonjol adalah Karaeng Galesong, seorang bangsawan sekaligus panglima perang Makassar yang dikenal berani dan keras menentang VOC.

Karaeng Galesong membawa serta para pengikut setianya yang terkenal tangguh dalam peperangan laut. Mereka hidup berpindah-pindah di kawasan pesisir sambil terus mencari peluang melawan VOC. Dalam perjalanan itulah, ia kemudian menjalin hubungan dengan Pangeran Trunojoyo dari Madura.

Pangeran Trunojoyo sendiri merupakan tokoh penting yang sedang membangun kekuatan untuk menentang Kesultanan Mataram. Saat itu, Mataram di bawah pemerintahan Amangkurat I dianggap terlalu bergantung pada bantuan VOC. Kebijakan kerajaan yang keras terhadap rakyat dan para bangsawan juga memunculkan banyak ketidakpuasan. Trunojoyo memanfaatkan situasi tersebut untuk menggalang dukungan dari berbagai daerah.

Pertemuan kepentingan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo melahirkan sebuah aliansi yang sangat kuat. Pasukan Makassar yang ahli dalam strategi laut bergabung dengan kekuatan darat Madura. Koalisi ini berkembang menjadi ancaman serius bagi VOC maupun Mataram.

Serangan demi serangan dilakukan ke wilayah pesisir Jawa Timur. Pelabuhan-pelabuhan penting berhasil mereka kuasai. Dukungan rakyat di sejumlah daerah pun terus bertambah karena banyak masyarakat yang mulai muak terhadap dominasi VOC dan tekanan politik Mataram.

Puncak keberhasilan mereka terjadi pada 1677 ketika pasukan Trunojoyo berhasil merebut Plered, ibu kota Mataram saat itu. Peristiwa tersebut menjadi pukulan besar bagi kerajaan. Amangkurat I bahkan terpaksa melarikan diri meninggalkan pusat kekuasaannya. Dalam sejarah Jawa, jatuhnya Plered menjadi salah satu momen paling dramatis karena menunjukkan bahwa kekuasaan besar Mataram ternyata dapat diguncang oleh koalisi perlawanan daerah.

Bagi VOC, situasi itu sangat berbahaya. Mereka tidak hanya menghadapi perang darat, tetapi juga serangan laut yang dilakukan pasukan Makassar. Jalur perdagangan terganggu, sementara pengaruh politik VOC di Jawa ikut terancam.

VOC kemudian menjalankan strategi pecah belah untuk menghancurkan aliansi tersebut. Cornelis Speelman kembali diturunkan bersama sekutu-sekutunya seperti Arung Palakka dan Kapiten Jongker. Mereka memanfaatkan konflik internal di antara para pejuang dan memperkuat kerja sama dengan Mataram.

Perlawanan sengit berlangsung selama beberapa tahun. Namun perlahan kekuatan pasukan Trunojoyo mulai melemah. Karaeng Galesong wafat sebelum perang benar-benar berakhir. Kepergian tokoh penting Makassar itu menjadi pukulan besar bagi pasukan perlawanan.

Pada akhirnya, Pangeran Trunojoyo berhasil ditangkap pada 1679. Ia kemudian dihukum mati setelah menyerah kepada pihak Mataram dan VOC. Dengan berakhirnya perlawanan itu, VOC semakin menguatkan pengaruhnya di Jawa.

Meski kalah, persekutuan Makassar dan Madura meninggalkan jejak penting dalam sejarah Nusantara. Kisah ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak pernah berdiri sendiri. Para pejuang dari berbagai pulau pernah bersatu melampaui batas etnis dan wilayah demi menghadapi kekuatan asing yang mengancam kedaulatan mereka.

Aliansi Karaeng Galesong dan Pangeran Trunojoyo menjadi bukti bahwa semangat persatuan antardaerah sudah tumbuh jauh sebelum lahirnya Indonesia modern. Mereka mungkin gagal memenangkan perang, tetapi keberanian dan solidaritas mereka tetap menjadi bagian penting dari ingatan sejarah Nusantara. (*)