
Pintu utama menuju benteng
Di tengah hamparan lahan datar Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris tenggelam dalam kesibukan zaman. Dinding-dinding bata yang mulai lapuk, gerbang tua yang masih bertahan, serta suasana sunyi di sekitarnya menyimpan kisah panjang tentang perdagangan, kekuasaan, dan perebutan pengaruh di ujung timur Pulau Madura. Itulah Benteng Kalimo'ok, salah satu peninggalan kolonial yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Sumenep selama lebih dari dua abad.
Benteng Kalimo'ok bukanlah bangunan yang megah seperti Benteng Vredeburg di Yogyakarta atau Benteng Rotterdam di Makassar. Namun, justru dalam kesederhanaannya tersimpan cerita penting tentang bagaimana Madura pernah menjadi salah satu wilayah strategis dalam jaringan perdagangan dan politik kolonial Belanda.
Perjalanan menuju benteng ini membawa pengunjung memasuki kawasan Kalimo'ok, sebuah desa yang berada tidak jauh dari pelabuhan Kalianget. Dari kejauhan, benteng itu tampak seperti bangunan tua biasa. Sebagian orang bahkan tidak menyangka bahwa di balik tembok-temboknya tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan VOC, kongsi dagang Belanda yang pernah menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia.
Sejarah Benteng Kalimo'ok berawal dari kepentingan VOC mengamankan jalur perdagangan di kawasan Selat Madura. Pada awal abad ke-18, setelah pengaruh VOC semakin kuat di Sumenep, pihak kolonial menyadari pentingnya Kalianget sebagai pelabuhan transit bagi kapal-kapal yang menuju wilayah Indonesia bagian timur. Posisi geografis kawasan ini sangat strategis karena berada di jalur pelayaran yang ramai dan menjadi pintu keluar-masuk komoditas perdagangan. Karena itulah, kebutuhan akan fasilitas pertahanan menjadi sesuatu yang mendesak.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa VOC sebenarnya pernah membangun benteng pertama di wilayah Kalianget Barat. Namun lokasi tersebut dianggap kurang ideal karena terlalu dekat dengan laut dan dinilai tidak mampu memberikan perlindungan yang maksimal terhadap aktivitas perdagangan maupun ancaman serangan dari luar. Benteng pertama itu kemudian tidak berkembang sebagaimana yang direncanakan dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan barang dagangan. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Loji Kanthang atau Jikanthang.
Kegagalan itulah yang mendorong VOC mencari lokasi baru. Pilihan kemudian jatuh pada kawasan Kalimo'ok yang memiliki kontur tanah lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya. Pada tahun 1785, benteng baru mulai dibangun. Lokasi tersebut memungkinkan pengawasan yang lebih baik terhadap kawasan sekitar sekaligus memberikan posisi pertahanan yang lebih kuat. Selain sebagai benteng militer, bangunan ini juga menjadi simbol kekuasaan VOC di wilayah timur Madura.
Fungsi Benteng Kalimo'ok tidak hanya sebatas markas pertahanan. Benteng ini merupakan bagian dari sistem pengendalian perdagangan yang dijalankan VOC. Dari tempat inilah aktivitas pelayaran dan pergerakan komoditas dapat diawasi. Kehadiran benteng juga menjadi pernyataan politik bahwa wilayah tersebut berada dalam pengaruh kolonial Belanda.
Dalam bentuk aslinya, Benteng Kalimo'ok memiliki denah persegi dengan empat bastion atau menara pengawas pada setiap sudutnya. Luas kawasan benteng mencapai sekitar 15.000 meter persegi dengan panjang sekitar 150 meter dan lebar 100 meter. Dindingnya dibangun dari bata dengan tinggi sekitar tiga meter. Benteng dilengkapi dua pintu utama yang menghadap ke arah utara dan selatan. Di dalamnya pernah ditempatkan sekitar 25 hingga 30 serdadu yang dipimpin seorang perwira berpangkat letnan. Meriam-meriam ditempatkan pada bastion untuk mengawasi wilayah sekitar dan menghadapi kemungkinan serangan musuh.
Seiring berkembangnya pusat perdagangan di Kalianget, kawasan sekitar benteng juga mulai tumbuh. Permukiman orang-orang Eropa muncul di beberapa titik seperti Marengan dan Pabean. Pengaruh budaya Indis yang berkembang pada abad ke-18 turut mewarnai arsitektur kawasan tersebut. Benteng Kalimo'ok menjadi bagian dari sebuah jaringan ekonomi yang menghubungkan Madura dengan berbagai wilayah lain di Nusantara.
Memasuki abad ke-19, ketika VOC dibubarkan dan pemerintahan Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan, fungsi benteng tetap dipertahankan. Kawasan Kalianget bahkan berkembang menjadi pusat industri garam yang sangat penting. Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial membangun pabrik garam modern yang semakin memperkuat posisi ekonomi wilayah ini. Benteng Kalimo'ok menjadi saksi perubahan dari era kongsi dagang menuju pemerintahan kolonial yang lebih terorganisasi.
Namun waktu berjalan tanpa kompromi. Setelah Indonesia merdeka, fungsi militer benteng perlahan menghilang. Bangunan yang dahulu menjadi simbol kekuasaan kolonial itu mulai kehilangan perannya. Sebagian area benteng beralih fungsi menjadi lokasi pengembangan peternakan milik pemerintah daerah. Berbagai bangunan kandang dan fasilitas lain berdiri di dalam maupun di sekitar kawasan benteng. Akibatnya, nilai historis situs ini perlahan memudar dari perhatian publik.
Kini, kondisi Benteng Kalimo'ok jauh dari kemegahan masa lalunya. Sebagian besar bangunan asli telah hilang. Yang masih dapat disaksikan hanyalah sisa-sisa tembok, gerbang utama, serta beberapa struktur bangunan yang bertahan menghadapi usia. Di sekitar benteng juga terdapat kompleks pemakaman Belanda atau Kerkhof yang keberadaannya turut menjadi penanda jejak kolonial di kawasan tersebut. Sayangnya, kondisi makam-makam itu juga tidak jauh berbeda: sunyi dan kurang terawat.
Meski demikian, Benteng Kalimo'ok tetap memiliki arti penting bagi sejarah Madura. Ia merupakan satu-satunya benteng peninggalan VOC yang masih tersisa di Pulau Madura. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Sumenep pernah berada dalam pusaran perdagangan internasional dan politik kolonial yang membentuk sejarah Indonesia modern. Setiap bata yang masih berdiri menyimpan cerita tentang kapal-kapal dagang yang hilir mudik di Selat Madura, tentang serdadu yang berjaga di bawah terik matahari pesisir, serta tentang perubahan zaman yang terus bergerak tanpa henti.
Benteng Kalimo'ok hari ini memang tampak sunyi. Namun kesunyian itu justru menjadi ruang bagi sejarah untuk berbicara. Di antara reruntuhan dan tembok-tembok tua yang mulai dimakan usia, tersimpan pelajaran berharga bahwa sebuah tempat tidak hanya dibangun oleh batu dan bata, tetapi juga oleh ingatan, perjuangan, dan perjalanan panjang sebuah peradaban. (red)