
Monumen lori yang berada depan Kantor PT Garam Kalianget
Di balik megahnya bangunan kolonial Kota Tua Kalianget, terdapat kisah tentang rel-rel besi dan lori yang dahulu menjadi urat nadi industri garam terbesar di Nusantara. Jalur lori yang membelah kawasan pabrik, gudang, pelabuhan, hingga tambak garam menjadi saksi bagaimana Kalianget pernah tumbuh sebagai kota industri modern pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Pada masa kejayaannya, Kota Tua Kalianget bukan sekadar pusat produksi garam. Kawasan ini merupakan kota industri modern yang dibangun pemerintah Hindia Belanda untuk mengelola kekayaan garam Madura secara besar-besaran. Salah satu simbol kemajuan tersebut adalah keberadaan rel dan lori yang menghubungkan tambak garam, pabrik pengolahan, gudang penyimpanan, hingga pelabuhan ekspor.
Pabrik Garam Kalianget yang mulai beroperasi pada tahun 1899 dikenal sebagai pabrik garam modern pertama di Hindia Belanda. Kawasan industri ini dirancang dengan tata ruang yang sangat maju untuk ukuran zamannya. Di tengah kompleks pabrik berdiri jaringan rel sempit yang digunakan oleh lori-lori pengangkut garam. Rel tersebut membentang ke berbagai penjuru kawasan produksi sehingga proses pengangkutan garam dapat berlangsung cepat dan efisien. Pada masa itu, keberadaan lori menjadi teknologi transportasi yang sangat penting dalam mendukung produksi garam skala besar.
Setiap musim panen, ribuan ton garam dari tambak-tambak di sekitar Kalianget diangkut menggunakan lori menuju gudang penyimpanan dan pabrik pengolahan. Gerbong-gerbong kecil berisi kristal garam bergerak perlahan di atas rel besi. Suara roda besi yang beradu dengan rel menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kalianget. Bagi para pekerja pabrik, bunyi peluit lokomotif lori menandai dimulainya aktivitas produksi sejak pagi hari.
Menurut berbagai catatan sejarah lokal, lori tidak hanya digunakan untuk mengangkut garam. Sarana ini juga dipakai sebagai transportasi pekerja dan pegawai pabrik yang berpindah dari satu lokasi kerja ke lokasi lainnya. Lokomotif kecil menarik beberapa gerbong yang melintasi kawasan pabrik, gudang, serta perumahan karyawan. Kehadiran lori menjadikan Kalianget tampak seperti kota industri di Eropa yang dipindahkan ke pesisir Madura.
Keberadaan jaringan rel di Kalianget juga tidak dapat dipisahkan dari jalur kereta api Madura yang menghubungkan Kamal hingga Kalianget. Jalur tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terutama untuk mendukung distribusi garam ke berbagai daerah. Dari gudang-gudang Kalianget, garam kemudian dikirim melalui pelabuhan maupun jalur kereta menuju pusat perdagangan di Jawa. Dengan sistem transportasi yang terintegrasi, Kalianget berkembang menjadi pusat industri garam terbesar di Indonesia pada masa kolonial.
Namun kejayaan itu perlahan memudar. Masa pendudukan Jepang menjadi titik balik bagi banyak infrastruktur perkeretaapian di Madura. Sebagian rel dibongkar untuk kebutuhan perang. Setelah Indonesia merdeka, penggunaan lori di kawasan pabrik juga semakin berkurang seiring perubahan teknologi transportasi. Truk dan kendaraan bermotor menggantikan fungsi lori yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung industri garam.
Kini sebagian besar rel lori telah hilang atau tertutup tanah dan semak. Hanya beberapa jejak yang masih dapat ditemukan di kawasan Kota Tua Kalianget. Meski demikian, rel-rel tua itu tetap menyimpan cerita tentang masa ketika Kalianget menjadi kota industri modern yang disegani di Nusantara. Setiap potongan rel yang tersisa adalah saksi bisu perjalanan garam Madura menuju berbagai penjuru negeri.
Rel dan lori bukan sekadar alat angkut. Keduanya merupakan simbol kemajuan teknologi, disiplin industri, dan kejayaan ekonomi yang pernah menjadikan Kalianget sebagai jantung industri garam Indonesia. Hingga hari ini, kisahnya masih hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi bagian penting dari warisan sejarah Kota Tua Kalianget.