Jejak Marlena di Sepulu


Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr 

Episode Enambelas

Sesampainya di rumah Kepala Desa wilayah Pasongsongan — yang membawahi Dusun Lebak — Fatimah segera menceritakan segala permasalahan yang dihadapinya. Ia paparkan seluruh latar belakang kisah Marlena, mulai dari saat anak itu dijadikan anak angkat hingga peristiwa hilangnya Marlena secara tiba-tiba.

“Kasihan sekali anak Bruddin itu. Saya sudah mengetahui latar belakang kehidupannya, bahkan saya dengar ia kini bermukim di kota berkat kabar dari warga sekitar. Untuk menelusuri jejaknya, sebaiknya kita temui Kamil terlebih dahulu,” jelas Kepala Desa. Tak lama setelah itu, mereka bertiga berangkat menuju rumah Kamil.

Di kediaman yang tampak cukup baik itu, tak ada tanda-tanda Kamil ada di tempat. Namun, seorang wanita muda yang sedang menggendong anak kecil muncul dari dalam rumah.

“Oh, Pak Kepala Desa. Silakan masuk, Pak,” sapa wanita itu dengan sopan.

Mereka bertiga pun duduk. Rasa heran terlihat jelas di wajah wanita itu melihat kedatangan Kepala Desa bersama dua orang yang belum pernah dikenalnya sebelumnya.

“Saya panggilkan Kak Kamil dulu ya, Pak,” ujar wanita itu tergopoh-gopoh hendak melangkah.

“Tidak perlu, kamu saja sudah cukup,” cegah Kepala Desa.

“Siapa wanita itu, Pak?” tanya Fatimah berbisik, ingin tahu identitasnya.

“Istri Kamil. Dia berasal dari kampung tetangga sini,” jawab Kepala Desa pelan.

“Oalah, begitu rupanya,” seru Fatimah mengerti.

“Maaf ya, kami mengganggu waktu istirahatmu,” sambut Fatimah kemudian.

“Oh, tidak apa-apa. Silakan saja,” jawab istri Kamil dengan nada ragu.

Suasana seketika menjadi kaku. Hanya terdengar percakapan ringan di antara ketiga tamu itu. Akhirnya, Kepala Desa langsung menanyakan keberadaan Kamil kepada istrinya.

“Sudah dua hari ini Kak Kamil tidak pulang. Sebelum pergi, ia bilang hendak ke Bangkalan,” jawab sang tuan rumah dengan nada khawatir. “Memangnya ada keperluan apa ya, Pak, mencari suami saya?” tanyanya kemudian.

“Ah, tidak ada hal penting. Kami hanya ingin mengajaknya bekerja sama dalam sebuah usaha,” sahut Darwis berbohong demi keamanan penyelidikan.

“Sayang sekali ia sedang pergi. Saya pun tidak tahu kapan ia akan pulang,” kata istri Kamil. Ia juga menceritakan bahwa suaminya memang sering berhari-hari tidak berada di rumah.

“Tidak apa-apa jika begitu. Tapi, mungkin kamu tahu ke mana ia biasanya pergi?” tanya Kepala Desa kembali.

“Biasanya ia ada di Sepulu. Di sana ada dua buah perahunya yang sedang dijalankan,” jelas wanita itu.

Sepulu sendiri merupakan wilayah kecamatan di Kabupaten Bangkalan. Di sana terdapat pelabuhan kecil yang penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

“Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu ya,” kata Kepala Desa setelah berbincang sedikit lagi dengan Darwis dan Fatimah. Ketiganya segera meninggalkan rumah itu.

Dengan langkah terburu-buru, suami istri itu meninggalkan Kampung Lebak. Dalam benak mereka semakin kuat dugaan bahwa Marlena telah dibawa kabur oleh Kamil. Pendapat ini diperkuat oleh cerita salah seorang warga desa. Menurut keterangan warga tersebut, kemarin ia melihat seorang wanita sedang berziarah di makam. Tak lama kemudian, Kamil datang dan keduanya terlihat berbicara. Percakapan itu terasa janggal dan penuh ketegangan, bahkan wanita itu tampak sangat ketakutan berhadapan dengan Kamil. Saat warga itu kembali dari urusannya sebentar saja, kedua orang tersebut sudah tidak terlihat lagi.

Berdasarkan keterangan itu, Fatimah semakin yakin bahwa Marlena dipaksa ikut oleh Kamil, meski ia belum paham bagaimana caranya mereka bisa pergi tanpa diketahui orang lain. Namun setidaknya, cerita warga itu memberikan petunjuk arah ke mana Kamil membawa Marlena.

“Kita langsung ke kantor polisi saja,” kata Darwis begitu sampai di kota. Mereka pun segera melaporkan hasil penyelidikan mereka terkait hilangnya adik angkatnya itu. Setelah mendengar penjelasan mereka, pihak kepolisian sepakat untuk melakukan pengejaran dan berkoordinasi dengan kantor polisi di Bangkalan.

“Beberapa petugas akan segera kami kirim ke lokasi,” ujar Kepala Polsek. Mendengar itu, hati Darwis dan Fatimah sedikit terasa lega.

Sementara itu, kegelisahan Pak Toha dan Bu Rasmi semakin memuncak. Keluarga itu sangat bersedih atas musibah yang menimpa Marlena, terutama Bu Rasmi yang kondisinya semakin memburuk hingga memengaruhi kesehatannya. Akhirnya, Pak Toha terpaksa memanggil dokter untuk merawat istrinya.

“Ibu mengalami guncangan batin yang cukup berat,” jelas dokter setelah memeriksa.

Pak Toha mengerti benar. Istriya memang memiliki riwayat kesehatan yang sensitif jika berhadapan dengan peristiwa yang menggoncangkan perasaannya. “Tapi jangan khawatir, saya sudah berikan obat penenang. Semoga kondisinya segera membaik,” tambah dokter.

Mendengar itu, hati Pak Toha sedikit lega. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Marlena tidak segera ditemukan. Ia sangat paham betapa besar kasih sayang istrinya terhadap anak angkatnya itu. Cinta dan perhatian Bu Rasmi seolah dicurahkan seluruhnya kepada Marlena. Awalnya, Pak Toha merasa bangga melihat perubahan sikap istrinya, meski terkadang kasih sayang itu terasa berlebihan.

Padahal, saat pertama kali Marlena datang ke rumah mereka, keadaan sangat berbeda. Dulu, Bu Rasmi sangat sulit menerima kehadiran Marlena. Ia bahkan terkesan memandang rendah dan merasa sungkan bergaul dengan orang dari latar belakang desa seperti Marlena. Ketika anak-anaknya meminta izin untuk mengangkat Marlena sebagai anak, Bu Rasmi menolak mentah-mentah. Namun lama-kelamaan, meski dengan berat hati, ia akhirnya menerima Marlena menjadi bagian dari keluarga.

Mengingat hal itu, Pak Toha tersenyum kecut. Ternyata watak manusia tidaklah kaku dan tetap. Pengaruh lingkungan dan kebaikan hati mampu mengubah sifat seseorang. Seperti istrinya yang kini luluh hati dan perasaannya berkat kehadiran Marlena. Marlena sendiri ternyata memiliki sopan santun dan tingkah laku yang baik, meski ia berasal dari lingkungan desa yang sederhana dan apa adanya.

“Tapi mengapa semua ini harus terjadi sekarang?” gumam Pak Toha dalam hati. Kehendak Tuhan memang di luar jangkauan manusia. Segala sesuatu pasti ada rencana-Nya, karena “Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20).

Saat sebuah mobil Kijang memasuki halaman rumah, beberapa orang yang menunggu segera menyambutnya. Di sana sudah berkumpul Pak Toha, Pak Jamil, Narti, teman-teman Marlena, serta para tetangga. Semua merasa kehilangan dan prihatin, sebab Marlena adalah anak yang disayangi dan selalu menjadi pusat perhatian karena kesopanannya, baik di mata pemuda desa maupun ibu-ibu tetangga.

Sementara itu, Bu Rasmi terbaring lemah di kamar. Ia sesekali memanggil-manggil nama Marlena dengan suara lirih.

“Bagaimana kabarnya, Nak? Ada kabar baik?” tanya Pak Toha kepada Darwis dan Fatimah begitu mereka masuk ke ruang tengah.

“Ada petunjuk yang cukup kuat, Yah. Tapi kita belum bisa memastikan kebenarannya,” jawab Darwis dengan nada berat. “Kami sudah melaporkan semuanya ke polisi. Sekarang pihak kepolisian sudah bergerak mencari jejak Kamil.”

“Terus kira-kira di mana keberadaan mereka sekarang?” tanya Pak Toha lagi dengan penasaran.

“Menurut keterangan istri Kamil, mereka ada di daerah Sepulu, Bangkalan,” jawab Fatimah.

“Semoga saja pencarian ini berhasil,” harap Pak Toha.

“Kita berdoa saja semuanya lancar. Saya berencana menyusul ke sana sekarang juga,” kata Darwis bersiap berangkat.

“Aku ikut juga,” pinta Fatimah.

“Tidak usah. Kamu tetaplah di sini menemani Ibu. Biar Ayah saja yang ikut aku,” cegah Darwis.

“Baiklah. Hati-hati ya, Mas. Jangan bertindak sembarangan kalau bertemu pelakunya,” pesan Fatimah khawatir.

“Tenang saja, kami akan bergerak bersama petugas kepolisian,” jawab Darwis meyakinkan.

Tak lama kemudian, Darwis dan Pak Toha berangkat menuju Bangkalan.

Fatimah baru sadar saat itu bahwa ibunya tidak ada di antara orang-orang yang berkumpul. Para tetangga dan kerabat yang hadir sudah mendengar penjelasan singkat dari Fatimah. Mereka semua turut bersedih dan memberikan dukungan. Fatimah berkali-kali mengucapkan terima kasih atas keprihatinan mereka. Bahkan beberapa teman dekat Marlena terlihat matanya sembab habis menangis, membuat hati Fatimah semakin terenyuh.

Setelah para tamu mulai pulang, Fatimah masuk ke kamar untuk menjenguk ibunya. Di sana, Narti sedang duduk menunggui Bu Rasmi.

“Bagaimana keadaan Ibu, Nar?” tanya Fatimah.

“Sudah agak tenang. Tapi sering mengigau dan memanggil nama Marlena,” jawab Narti pelan.

“Ya ampun...”

“Lalu bagaimana hasil pencariannya?”

“Masih dicari. Sekarang Mas Darwis sama Ayah berangkat ke Bangkalan, ke daerah Sepulu, untuk membantu polisi,” jelas Fatimah.

Percakapan mereka terhenti saat mendengar Bu Rasmi mengerang pelan sambil menyebut nama Marlena. Hati Fatimah terasa perih mendengarnya, karena ia pun merasakan kesedihan yang sama.

Bu Rasmi berusaha membuka mata yang kabur oleh air mata. Setelah memicingkan mata, ia baru menyadari bahwa Fatimah ada di hadapannya.

“Bagaimana adikmu, Nak? Apakah sudah ketemu?” tanya Bu Rasmi dengan suara parau.

“Sabar ya, Bu. Sebentar lagi pasti Lena pulang,” hibur Fatimah.

“Iya, Bu Rasmi. Sabar ya. Insya Allah Tuhan akan menyelamatkan Marlena,” sambung Narti ikut menenangkan.

“Terima kasih ya, Nak Narti...” ucap Bu Rasmi lemah. “Ibu harus kuat menghadapi cobaan ini. Semoga Marlena pulang dengan selamat,” lanjut Narti. “Kak Timah, aku pamit dulu ya. Nanti aku mampir lagi,” kata Narti berpamitan kepada Fatimah.

“Terima kasih banyak ya, Dik Narti. Tadi aku lihat Pak Jamil masih ada di depan,” jawab Fatimah.

Setelah Narti pergi, Fatimah menggantikan posisinya menunggui ibunya. Sesekali ia mengusap kening Bu Rasmi yang terasa panas. Ia segera mengambil handuk kecil dan mengompres kening ibunya dengan air dingin.

“Di mana suamimu sekarang, Nak?” tanya Bu Rasmi pelan.

“Ia berangkat sama Ayah mencari jejak Lena ke Bangkalan, Bu.”

“Bangkalan... Jauh sekali ya...”

“Iya Bu. Mudah-mudahan Lena segera ditemukan dan pulang selamat.”

Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Kabar kepulangan Darwis dan Pak Toha belum juga terdengar. Hal ini membuat kegelisahan Bu Rasmi kembali meningkat. Fatimah terus berusaha membujuk dan meyakinkan ibunya bahwa Marlena pasti akan pulang dengan selamat, meski di lubuk hatinya sendiri masih tersisa rasa ragu dan cemas.


Di sore yang sama, Pak Toha sedang memeluk erat anak angkatnya itu sambil meneteskan air mata haru. Marlena sendiri tak kuasa menahan tangisnya, seolah beban berat yang membebaninya selama ini terangkat sudah. Ia merasa harapan hidupnya kembali ada setelah nyaris hilang ditelan keadaan. Marlena terus memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas pertolongan yang diberikan-Nya.

“Allah telah menunjukkan jalan terbaik bagi kita semua, Nak,” ucap Pak Toha dengan suara bergetar menahan tangis.

“Ayah... maafkan Lena ya, Yah. Lena sudah membuat Ayah dan Ibu bersedih dan cemas begitu lama. Maafkan Lena...” isak Marlena. “Bagaimana keadaan Ibu, Yah? Ibu sehat kan?”

“Ibu baik-baik saja, Nak. Kehadiranmu nanti pasti akan menjadi obat yang paling ampuh untuk kesembuhan Ibu,” jawab Pak Toha lembut.

“Kasihan sekali Ibu... Lena sangat rindu sama Ibu.”

“Sudah, tenangkan dulu hatimu. Ayo kita segera pulang,” ajak Pak Toha.

Marlena lalu beralih memeluk Darwis. “Maafkan Lena ya, Kak,” ucapnya penuh penyesalan.

“Tuhan sedang menguji kesabaran dan ketabahan kita dalam menjalani hidup ini,” kata Darwis bijak dan penuh pengertian.

“Terima kasih banyak ya, Kak. Kak Darwis sudah berusaha keras menolong Lena,” ucap Marlena dalam isak tangis.

“Itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai keluarga. Yang paling penting sekarang, kamu harus bersyukur kepada Tuhan. Hanya berkat rahmat dan pertolongan-Nya kita bisa dipertemukan kembali dengan selamat,” jawab Darwis.


Kisah pertemuan bahagia ini bermula dari sebuah petunjuk tak terduga. Saat para nelayan sedang sibuk membereskan hasil tangkapan sore itu, di sudut pemukiman terlihat sekelompok pemuda sedang berkerumun mengobrol. Mata tajam Darwis dan Pak Toha memperhatikan setiap orang yang lalu-lalang, hingga tertuju pada kelompok pemuda itu. Insting mereka mencurigai kelompok tersebut, karena dari penampilan dan cara bicara, mereka tampak bukan penduduk asli sana. Pak Toha pun yakin, di antara mereka pasti ada yang mengenal atau bahkan terlibat langsung dengan Kamil.

Pak Toha segera menyusun rencana. Ia mengawasi dari jarak agak jauh, sementara Darwis melapor kepada seorang petugas kepolisian yang sudah menyamar menjadi warga biasa. Begitu petugas itu mendekat, kelima laki-laki itu mulai merasa curiga. Namun kecurigaan mereka terlambat. Dalam sekejap, keempat orang itu sudah berhasil diamankan petugas.

Salah satu dari mereka mencoba melarikan diri, namun polisi segera melepaskan tembakan peringatan ke udara. Karena tidak dihiraukan, polisi mengarahkan tembakan ke kaki pelaku yang berlari itu. Satu tembakan tepat mengenai betisnya, hingga ia roboh dan tak sanggup melangkah lagi.

Setelah diperiksa, ternyata orang yang berusaha kabur itu adalah Kamil sendiri — otak utama penculikan Marlena. Namun hati Pak Toha belum sepenuhnya lega sebelum Marlena ditemukan. Berdasarkan keterangan yang didapat dari kelompok itu, petugas segera bergerak ke sebuah rumah tersembunyi yang jauh dari jangkauan pandangan warga. Di sana, di dalam sebuah kamar yang terkunci, Marlena ditemukan dalam keadaan selamat meski terlihat lelah. Saat itulah, tangis haru Pak Toha dan Marlena kembali pecah.

“Bapak dan Nona mohon ikut kami ke kantor polisi terlebih dahulu untuk proses administrasi. Setelah semuanya selesai, Bapak baru boleh pulang membawa anak ini,” ujar salah satu komandan tim pencari. Setelah momen haru itu berlalu, mereka pun berangkat menuju kantor polisi.

Sementara itu, di rumah Pak Toha, Bu Rasmi, Fatimah, dan kerabat lainnya menunggu dengan hati yang cemas. Sesekali mereka menengok ke arah jalan setiap kali terdengar suara kendaraan lewat, namun berkali-kali pula kecewa karena tak ada yang berbelok masuk ke halaman rumah.

Jam dinding baru saja berdentang delapan kali, namun tanda-tanda kepulangan mereka belum terlihat. Teman, tetangga, dan kerabat masih setia menunggu dengan penuh harap dan cemas. Keadaan ini membuat Bu Rasmi semakin gelisah, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap sabar menanti kabar.

Tak lama setelah dentang jam itu lenyap, terdengar suara mesin mobil mendekat lalu masuk ke halaman rumah. Saat itulah, suasana penantian yang mencekam itu berubah seketika menjadi kebahagiaan yang meluap-luap bagi seluruh keluarga yang sudah menanti dengan cemas.(*)