Episode Limabelas
“Sabar saja. Jika memang belum berhasil tahun ini, mungkin bisa mencoba lagi tahun depan,” ujar Pak Toha, berusaha menenangkan sekaligus mencari tahu penyebab tangisan anak angkatnya itu.
Marlena hanya menggeleng pelan.
“Lalu apa yang membuatmu menangis, Nak?” tanya Bu Rasmi lagi.
Perlahan Marlena mendongakkan kepalanya, menatap kedua orang tua angkatnya dengan mata yang basah.
“Ayah, Ibu… Lena tidak tahu, apa yang harus Lena berikan sebagai balasan atas segala kebaikan Ayah dan Ibu,” ucapnya lirih, penuh sendu.
“Lho, ucapan apa itu?” Pak Toha tampak khawatir mendengar kata-kata itu.
“Katakan padaku, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi?” sambung Bu Rasmi, ikut merasa cemas.
“Lena lulus, Bu,” jawab Marlena pelan.
“Alhamdulillah… syukurlah,” seru Bu Rasmi lega.
Pak Toha mengusap bahu Marlena lembut. “Ayah mengerti perasaanmu. Kau tak perlu merasa asing atau berhutang budi pada kami. Sampai kapan pun, kau tetap tanggung jawab kami. Setelah Kak Fajar dan Kak Fatimah membangun hidup mereka sendiri, kaulah yang kini menjadi harapan kami, sekaligus penerus cita-cita kami. Karena itu, kau harus siap menghadapi kenyataan baru yang mungkin terasa berat bagimu.”
“Benar kata Ayah,” tambah Bu Rasmi. “Jangan pernah berpikir harus membalas kebaikan kami. Kami sudah menganggapmu anak kandung sendiri. Tugasmu hanya satu: teruslah berjuang dan raihlah cita-cita yang sejak dulu kau impikan.”
“Terima kasih, Bu…” Marlena memeluk tubuh ibunya itu, hatinya penuh haru.
Kata-kata manis dan penuh kasih sayang itu sudah sering ia dengar, namun kadang Marlena merasa perhatian keluarga Pak Toha terasa begitu berlebihan. Pikiran itu muncul setiap kali kenangan masa kecilnya kembali terlintas. Ia sadar, nasib anak perempuan di kampungnya dulu tak banyak pilihan: ada yang hanya tinggal sebentar di keluarga angkat lalu kembali menjadi pembantu rumah tangga, ada yang dikembalikan ke kampung halaman untuk dinikahkan, atau ada yang nasibnya berakhir begitu saja.
Itulah ketakutan terbesar Marlena, meski ia tahu betapa bijaksana, tulus, dan terbukanya hati Pak Toha dan Bu Rasmi kepadanya.
Setelah Fatimah menikah dan pindah ke rumah baru bersama suaminya, Darwis, suasana rumah ini memang terasa lebih sepi. Fatimah sebenarnya berat meninggalkan orang tua angkatnya yang sudah dianggap seperti orang tua kandung, apalagi kesehatan Bu Rasmi akhir-akhir ini mulai menurun, sementara Pak Toha makin sibuk mengurus panti asuhan yang penghuninya bertambah banyak. Namun ia tak bisa menolak keinginan suaminya. Meski rumah baru itu tak terlalu jauh, Bu Rasmi tetap merasakan kehampaan saat sendirian. Namun ia mencoba ikhlas. Baginya, suka duka, ramai sepi adalah bagian dari hidup manusia yang harus disyukuri. Saat berpamitan dulu, Bu Rasmi hanya berpesan satu hal: “Kewajibanmu sekarang hanyalah mengurus suamimu dengan sebaik-baiknya.”
Setelah kepergian Fajar dan Fatimah, Marlena memang menjadi penawar sepi bagi Bu Rasmi. Namun kebahagiaan itu hanya sementara. Tak lama lagi, Marlena pun akan pergi melanjutkan sekolahnya, dan kepergiannya dirasa akan terasa jauh lebih berat. Karena itulah, Pak Toha berniat mengangkat anak lagi dari penghuni panti asuhan. Niat itu disetujui oleh Fatimah maupun Marlena.
Malam makin larut, tapi Marlena belum juga bisa memejamkan mata. Ia terbaring menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang jauh menerjang angan. Bayangan masa depan terasa begitu dekat namun samar, seolah ada kabut tipis yang menghalangi pandangannya. Mata yang sedari tadi terjaga kini terasa perih dan berair. Ia menggosok matanya, tak ada debu atau kotoran yang mengganggu, namun pandangannya justru makin kabur dan gelap. Padahal lampu sepuluh watt di kamarnya masih menyala terang seperti biasa. Rasa takut mulai merayapi hatinya. Ia berusaha memfokuskan pandangan, namun tetap sulit melihat dengan jelas.
“Apa arti semua ini? Apakah ada sesuatu yang buruk akan terjadi?” gumamnya dalam hati, penuh kegelisahan.
*****
Sore itu matahari hampir terbenam, namun Marlena belum juga pulang. Padahal pagi tadi saat berpamitan, ia hanya bilang ingin berziarah ke makam orang tuanya di Kampung Lebak.
“Mungkin ia bertemu teman-teman lama dan bernostalgia sebentar saja,” kata Pak Toha berusaha menenangkan Bu Rasmi. Alasan itu terdengar masuk akal, dan Bu Rasmi pun mencoba meyakini hal itu.
Namun saat malam tiba dan Marlena belum juga pulang, rasa cemas Bu Rasmi makin menjadi-jadi. Kekhawatiran mulai menghantui seluruh isi rumah.
“Pak, ini sudah malam sekali, kenapa ia belum juga pulang?” tanya Bu Rasmi dengan suara bergetar.
“Tenanglah dulu. Aku akan coba cari ke rumah Narti dulu,” jawab Pak Toha, lalu segera menaiki motornya menerobos malam, hatinya pun penuh tanda tanya dan rasa was-was.
Di rumah Narti, tak ada Marlena. “Sejak pagi saya tidak melihatnya, Pak,” jawab Narti yang ikut merasa khawatir. Dalam hatinya, Narti sempat berpikir: Mungkinkah ia pergi bersama Taufik?
“Saya akan coba cari ke rumah teman-teman yang lain, Pak. Saya ajak Jamil juga,” kata Narti tergesa.
Pencarian berlanjut hingga larut malam. Bahkan warga di sekitar makam Kampung Lebak bilang, Marlena hanya berhenti sebentar lalu pergi lagi.
“Pak… bagaimana ini?” tangis Bu Rasmi mulai pecah.
“Sabar, Bu. Aku sudah melaporkan hal ini ke polisi,” jawab Pak Toha singkat, berusaha tetap tegar meski hatinya remuk.
Fatimah dan Darwis pun sudah datang ke rumah Pak Toha mendengar kabar itu. Narti dan Jamil pun kembali dengan tangan kosong.
“Apakah benar-benar bersama Taufik?” tanya Narti lagi, masih tak percaya.
“Tidak mungkin, Nar. Aku tak melihat ada tanda-tanda mereka berdua berencana pergi bersama,” sahut Jamil. “Lagipula kan kemarin Taufik sudah pulang ke Banyuwangi?”
“Lalu ke mana dia pergi?” keluh Narti sedih.
“Entahlah… besok kita cari lagi. Sekarang pulanglah dulu,” ujar Jamil, lalu mengantar Narti pulang sebelum kembali ke rumah Pak Toha.
Suasana di rumah itu makin mencekam. Bu Rasmi hampir tak berdaya, ia sempat berpikir: apakah kata-katanya dulu pernah menyakiti hati Marlena? Padahal ia yakin tak pernah bermaksud buruk. “Apakah ia khawatir tak bisa membalas budi kami? Tidak… aku tak pernah minta balasan apa pun. Bagiku, dia adalah anakku,” batinnya meratap.
“Coba ingat-ingat,” kata Pak Toha kepada istrinya, Darwis, dan Fatimah. “Siapa tahu ada ucapan atau perkataan kalian yang tanpa sadar menyinggung perasaannya.”
Ketiganya saling berpandangan dan menyatakan tak pernah berkata hal buruk apa pun.
“Kemarin ia sempat ke rumah kami,” kata Fatimah. “Ia hanya bercerita kalau Ayah sudah merestuinya untuk melanjutkan sekolah ke Surabaya.”
“Justru karena itulah kami sangat mendukungnya,” tambah Bu Rasmi.
“Mungkin ada hal lain yang kami tak tahu? Pengalaman buruk atau kejadian masa lalu yang mengganggunya?” usul Darwis.
“Aku rasa tak ada hal yang aneh,” ingat Pak Toha. “Kalaupun ada, ia kadang hanya termenung sendiri. Jika ditanya, ia selalu menjawab sedang teringat masa kecilnya di kampung.”
“Mungkin… mungkin bersama… Taufik?” duga Bu Rasmi ragu.
“Tidak mungkin, Bu. Kan sudah dikatakan, Taufik sudah pulang kemarin setelah pengumuman kelulusan,” jelas Fatimah.
Hening menyelimuti ruangan. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Sebagai orang yang paling dekat dengan Marlena, dan dengan bekal ilmunya di bidang hukum, Fatimah mencoba menyusun kembali kejadian-kejadian dan keluhan-keluhan yang pernah disampaikan adik angkatnya itu. Ia mencoba menganalisis segala kemungkinan.
“Kamil…” kata Fatimah tiba-tiba, pelan namun tegas.
Nama itu membuat semua orang menoleh.
“Apa katamu, Timah?” tanya Bu Rasmi bingung.
“Kamil. Pasti ada hubungannya dengan Kamil,” jawab Fatimah.
“Siapa Kamil itu?” tanya Darwis.
“Bekas suami Marlena,” sahut Pak Toha, lalu menjelaskan riwayat hidup Marlena kepada menantunya.
“Tapi kan mereka sudah berpisah lama. Tak mungkin Marlena mau kembali padanya,” kata Darwis, belum yakin.
“Dulu Marlena pernah cerita kalau ia sempat bertemu lagi dengan Kamil,” lanjut Fatimah. “Saat itu Kamil minta rujuk, tapi Marlena menolak mentah-mentah. Kamil marah dan mengaku masih berhak sebagai suami sah karena tak ada perceraian resmi.”
“Itu kan sudah bertahun-tahun lalu. Tak mungkin dia masih menuntut hak yang tak ada gunanya begitu,” sela Darwis.
“Menurut kita memang begitu. Tapi bagi orang yang hidupnya keras dan tak peduli aturan, hal itu bisa jadi alasan. Marlena pernah bilang kalau Kamil sempat mengancamnya,” kata Fatimah.
“Kalau begitu, kemungkinan besar kepergian Marlena ada hubungannya dengan orang itu,” simpul Pak Toha. “Baiklah, besok aku akan lapor lagi ke polisi. Kalian berdua, cobalah ke Kampung Lebak, cari tahu keberadaan Kamil di sana.”
“Siap, Yah. Kami akan berangkat pagi-pagi sekali,” jawab Fatimah dan Darwis serempak.
“Sudah, mari istirahat dulu. Malam sudah makin larut,” kata Pak Toha, berusaha mengakhiri pembicaraan meski ia sendiri tahu tak ada yang bisa tidur malam ini.
Kekhawatiran masih melingkar di hati semua penghuni rumah itu. Bayangan-bayangan buruk terus menghantui pikiran mereka. Pak Toha yang biasa membaca berita kriminal di koran makin dipenuhi dugaan-dugaan mengerikan. Begitu pun Bu Rasmi, tekanan darah tingginya naik drastis karena rasa cemas yang luar biasa. Namun ia mencoba menenangkan diri dengan bangkit melakukan sholat malam, memohon perlindungan Tuhan agar anaknya selamat dari bahaya. Melihat itu, Pak Toha pun ikut bangkit. Keduanya bersujud dan berdoa dengan sepenuh hati, hingga perlahan ketenangan dan rasa pasrah kembali mengisi dada mereka.
“Ya Allah… Lindungilah anak kami dari kejahatan orang-orang zalim, sebagaimana Engkau melindungi jiwa di dalam tubuh. Aamiin.”
Di tempat lain, Fatimah dan Darwis pun tak bisa tenang. Fatimah menangis membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Marlena.
“Kasihan Marlena… sejak lahir hidupnya penuh cobaan. Aku tak menyangka, saat ia baru saja akan menggapai mimpinya, malah mendapat musibah begini,” isak Fatimah. “Padahal sebentar lagi ia harus bersiap masuk perguruan tinggi.”
“Begitulah jalan hidup manusia, Dik. Kita sedang diuji seberapa besar kesabaran dan keyakinan kita,” hibur Darwis sambil mengusap bahu istrinya.
“Ya… semua ini ujian yang harus kami jalani…” Fatimah akhirnya pasrah, lalu perlahan terlelap dalam kelelahan yang mendalam.
Di rumah Pak Toha, Bu Rasmi masih yang paling parah keadaannya. Ia seolah kehilangan semangat hidupnya. Berbeda dengan Pak Toha, meski hatinya sedih dan pedih, ia tetap berusaha tegar dan berpikir jernih demi menopang keluarganya.
“Sudah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Insya Allah Marlena akan pulang dengan selamat,” bujuk Pak Toha dengan suara gemetar namun lembut.
“Kasihan sekali anak itu…” Bu Rasmi kembali menangis.
“Mari kita serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Aku yakin Marlena anak yang pandai menjaga diri.”
Pagi harinya, Fatimah dan Darwis berangkat menuju Kampung Lebak. Desa itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu, hanya ada sedikit perubahan. Namun kebersihan lingkungan dan keramahan warga masih sama seperti dulu. Fatimah memperhatikan warga yang bergegas ke pasar atau menuju pantai menyambut pulangnya para nelayan. Ada rasa bangga terselip di hatinya saat melewati bangunan Sekolah Dasar tempat Marlena dulu belajar. Sekolah itu kini tampak jauh lebih baik, gedungnya makin bagus dan banyak murid yang bersemangat datang belajar.
Pemandangan itu membawa Fatimah kembali ke masa lalu, saat ia masih melihat Marlena kecil dengan cita-cita tingginya. Bagi Fatimah, Marlena ibarat sebutir mutiara kasar yang ditempa keras oleh ombak nasib, namun kini berkilau menjadi harapan bagi anak-anak Kampung Lebak.
“Kasihan anak-anak di sini, Kak… banyak yang tak bisa lanjut sekolah setelah lulus SD,” kata Marlena kecil sepuluh tahun yang lalu.
“Lho, kenapa? Sekolah kan penting,” tanya Fatimah waktu itu.
“Iya, mereka sebenarnya mau lanjut ke SMP di kota, tapi orang tuanya tak mampu bayar biayanya,” jawab Marlena polos. “Kalau anak perempuan, seringkali sudah disiapkan untuk menikah muda. Kalau laki-laki, harus bantu-bantu bekerja di laut.”
“Lalu bagaimana dengan Lena sendiri?”
“Kalau Lena… Lena ingin sekolah setinggi mungkin, seperti Kakak,” jawabnya dengan bangga dan mata berbinar.
Ucapan lugu anak kecil itu dulu membuat hati Fatimah tersentuh, seolah ada tanggung jawab besar di pundaknya untuk mengangkat derajat anak-anak di kampung itu. Namun kini, kenangan indah itu justru terasa pahit. Beberapa bulan setelah percakapan itu, Marlena sendiri justru harus menyerah pada tradisi keras kampung itu dan dipaksa menikah muda dengan Kamil. Dulu Fatimah hanya bisa diam dan menahan sakit hati melihat nasib buruk itu menimpa gadis kecil yang ia sayangi.
“Eh, melamun saja. Kita mau ke mana lagi selanjutnya?” tegur Darwis menyadarkan istrinya.
Fatimah tersentak kaget. Ternyata ia sudah terhanyut dalam kenangan cukup lama, sementara mobil mereka sudah cukup jauh melaju.
“Ah… iya… kita cari rumah orang tua Kamil dulu, Kak. Di sanalah kemungkinan besar jejak Marlena berakhir,” jawab Fatimah sambil menatap jalanan yang makin sepi, hatinya kembali penuh kekhawatiran.(*)
