Episode Tujuhbelas
“Ibu… Ibu…,” itulah panggilan pertama yang terlontar dari mulut Marlena begitu turun dari mobil. Ia nyaris tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, yang ternyata juga sangat merasakan kehilangan selama ia pergi.
Begitu kakinya menginjak lantai rumah, Marlena langsung bergegas mencari Bu Rasmi. Mendengar suara panggilan itu, Bu Rasmi seolah terbangun dari lamunan panjang dan bergerak seakan terhipnotis. Ia segera menyongsong kedatangan anak angkatnya dalam sebuah pertemuan yang sangat mengharukan. Rasa syukur memenuhi dada Bu Rasmi hingga nyaris tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Tangis haru itu pun menular kepada semua orang yang menyaksikan momen pertemuan ibu dan anak itu, membuat suasana semakin penuh gejolak emosi.
“Ya Allah, Nak… Kau selamat, Nak!” seru Bu Rasmi berulang kali sambil memeluk erat.
“Ibu… maafkan Lena, Bu. Maafkan Lena telah membuat Ibu bersedih,” isak Marlena.
“Jangan kau ucapkan itu, Nak. Bersyukurlah kau sudah kembali dan berkumpul lagi bersama kami,” jawab Bu Rasmi lembut.
Fatimah yang berdiri di dekatnya pun tak kuasa menahan haru, setelah berhari-hari lamanya tenggelam dalam kesedihan mendalam. Kehadiran Marlena ternyata menjadi obat paling mujarab bagi kesehatan Bu Rasmi, yang kondisinya sempat menurun drastis akibat kepergian anak kesayangannya itu.
“Bagaimana keadaannya, Dik? Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Fatimah kemudian.
“Lena selamat, Kak. Tapi sungguh, Lena nyaris saja menjadi korban nafsu jahat Kamil,” jawab Marlena dengan suara masih bergetar.
“Syukurlah. Tuhan masih melindungi kita semua.”
“Padahal… seandainya pengejaran itu terlambat beberapa jam saja, mungkin nasib Lena akan berbeda.”
“Maksudmu?” tanya Fatimah heran dan penasaran.
“Ya… dari percakapan mereka, aku mendengar rencana Kamil. Katanya, begitu sore tiba, mereka berniat membawaku lari sampai ke Malaysia.”
“Oalah… jadi aku mulai mengerti sekarang,” sahut Fatimah terkejut. “Ternyata niat penculikan itu bukan semata-mata karena dia ingin menjadikanmu istri.”
“Benar sekali. Belakangan baru kutahu, Kamil itu adalah bagian dari sindikat gelap yang menjual wanita ke luar negeri. Dia menyamar sebagai nakhoda kapal untuk mengelabui orang lain,” jelas Marlena.
“Sungguh kejam! Manusia macam itu sudah tak punya hati nurani lagi,” geram Fatimah.
“Aku heran… Orang Madura terkenal pemberani dan ulung mengarungi lautan. Tapi kemampuan itu justru disalahgunakan untuk menipu gadis-gadis tak berdosa. Itu bukti keterbelakangan pemikiran sebagian warga kita,” ujar Marlena dengan nada kecewa.
“Aku tak habis pikir… Aku jadi sangat benci dengan perbuatan seperti itu,” tambahnya lagi dengan marah.
“Yah, kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ke depannya, kita menyadari bahwa tanggung jawab untuk membimbing masyarakat kecil, khususnya kaum wanita, sangatlah besar. Bagaimanapun juga, kelompok yang paling banyak menjadi korban adalah wanita yang kurang memiliki latar belakang pendidikan dan wawasan yang luas. Dan dalam kasusmu, Dik, kau justru menjadi korban karena masalah dendam pribadi,” ujar Fatimah panjang lebar.
“Mungkin benar begitu. Semoga saja dengan tertangkapnya Kamil dan kawan-kawannya, kejahatan semacam ini tak akan terulang lagi di tanah Madura,” harap Marlena.
*****
Setelah dua hari suasana rumah dipenuhi duka dan kebisuan, pagi berikutnya kehangatan dan keceriaan mulai kembali hadir, bagaikan sinar matahari pagi yang menyebarkan semangat baru ke seluruh penjuru rumah besar keluarga Pak Toha. Kehidupan rumah tangga yang nyaris runtuh karena peristiwa penculikan itu, kini berubah menjadi lautan kebahagiaan, meski kadang masih terselip rasa sedih mengenang pahitnya peristiwa yang baru saja berlalu. Meski demikian, bagi penghuni rumah itu, kebersamaan mereka kini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Suatu hari, Marlena sedang termenung saat tukang pos datang mengantarkan surat. Dengan langkah cepat dan penuh harap, Marlena menyambutnya. Ternyata surat itu dikirimkan oleh Taufik. Dengan tergesa ia membuka amplop itu dan membaca isinya dengan rasa rindu yang mendalam. Setiap kalimat yang dibacanya terasa sejuk menembus hati, bagaikan aliran air yang jatuh dari tebing tinggi, menyatukan dua hati dalam satu rasa yang sama.
“Dari siapa surat itu, Len?” tanya Bu Rasmi yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
“Dari Taufik, Bu,” jawab Marlena singkat.
Mendengar nama itu, raut wajah Bu Rasmi tampak sedikit berubah, seolah ada rasa kurang berkenan. Namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya dan berusaha memahami keadaan.
“Lalu apa isinya? Ada kabar apa?” tanya Bu Rasmi lagi ingin tahu.
“Hanya memberi kabar kalau dia sudah sampai dengan selamat di Banyuwangi.”
Bu Rasmi mengangguk pelan.
“Begini saja, Nak. Kau harus pandai menjaga jarak. Perjalanan hidupmu masih sangat panjang ke depan. Jangan sampai kau terkecoh oleh masalah perasaan, nanti malah kau sendiri yang rugi,” nasihat Bu Rasmi dengan hati-hati.
“Lena mengerti maksud Ibu.”
“Syukurlah. Ibu bicara begitu semata-mata demi masa depanmu, Nak. Ngomong-ngomong, kapan rencanamu mendaftar ke IKIP?”
“Insya Allah lusa, Bu. Kak Darwis dan Kak Timah akan mengantar Lena,” jelas Marlena.
“Itu keputusan yang baik. Biar kakakmu yang mengurus semuanya.”
Nasihat-nasihat ibunya itu selalu mengandung makna yang mendalam. Kadang Marlena merasa bahagia diperhatikan demikian rupa, namun di sisi lain ia juga merasa berat hati meninggalkan ibunya yang akan tinggal sendiri nanti.
“Jangan pikirkan Ibu. Ibu akan baik-baik saja. Percayalah, Ibu masih mampu menjaga diri sendiri. Lagipula kakak-kakakmu pasti akan sering berkunjung ke sini,” begitu selalu jawab Bu Rasmi setiap kali Marlena mengungkapkan keberatannya untuk pergi.
Sisa waktu sebelum keberangkatannya ke Surabaya, Marlena manfaatkan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri menghadapi tes masuk perguruan tinggi. Ia kembali membuka lembaran-lembaran buku pelajaran lamanya. Ia pun tak segan bertanya dan mencari informasi mengenai dunia perkuliahan kepada teman-temannya yang kebetulan sudah berkuliah di IKIP Surabaya.
Sesuai dengan rencananya sejak lama, Marlena berniat mengambil jurusan Fakultas Bahasa dan Sastra. Bidang ini memang sangat cocok dengan bakat dan kemampuan Marlena, serta selalu mendapat dukungan penuh dari guru-gurunya, terutama Pak Jamil dan Pak Nurhadi yang selalu mendorong kemajuan karir Marlena.
Selama masa persiapan itu, Narti bersama tunangannya, Pak Jamil, sering berkunjung ke rumah. Pak Toha dan Bu Rasmi selalu menyambut mereka dengan hangat, seolah di antara mereka terjalin ikatan darah persaudaraan, padahal tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Semua itu berkat kepribadian Marlena yang pandai menjalin persahabatan hingga tumbuh menjadi kasih sayang persaudaraan.
Begitulah sisa hari-hari Marlena sebelum berangkat. Di samping sibuk mempersiapkan diri, hampir seluruh waktunya ia curahkan untuk menemani ibunya. Perhatian yang begitu dalam itu menjadikan ikatan batin antara keduanya semakin erat, persis seperti hubungan orang tua dan anak kandung. Meski demikian, Bu Rasmi tidak pernah membeda-bedakan Marlena dengan kedua anak kandungnya sendiri. Ketiganya mendapatkan kasih sayang yang sama rata.
Fajar dan Fatimah pun menyadari hal itu. Bahkan mereka bersyukur karena orang tua mereka berkesempatan merawat dan membahagiakan seorang anak nelayan yang dulunya hidup dalam kemiskinan.
Sebenarnya ada satu lagi penghuni rumah besar itu, yaitu Aminah — anak angkat lain yang diambil dari panti asuhan milik Pak Toha. Namun anak yang masih duduk di kelas tiga SD itu tampak lebih betah bermain dan tinggal bersama teman-temannya di panti, meski sesekali ia datang berkunjung ke rumah Pak Toha. Status Aminah untuk menetap di rumah itu pun belum ada kepastiannya, ia masih dalam masa adaptasi. Sementara itu, Pak Toha dan Bu Rasmi berharap, setelah Marlena pergi nanti, Aminah bersedia menetap di rumah besar itu agar suasana tidak sepi.
Babak baru dalam kehidupan keluarga Pak Toha akhirnya pun tiba. Bayangan kesepian yang selama ini dikhawatirkan, perlahan-lahan menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Kini, suasana hening dan sepi mulai menyelimuti keseharian Pak Toha dan Bu Rasmi.
Pak Toha menyadari benar hal itu. Baginya, kesepian adalah konsekuensi alami hidup manusia. Manusia lahir dari kesepian dalam kandungan, kemudian tumbuh, berkeluarga, berkarir, dan pada akhirnya akan kembali menyendiri menua. Menjalani masa tua yang sepi hanyalah bagian dari perjalanan hidup menuju kehidupan kekal nanti.
Selama Marlena masih ada di rumah, segala urusan rumah tangga, terutama pekerjaan dapur, berjalan lancar berkat keahlian tangannya. Namun sekarang, Bu Rasmi harus mengurus semuanya sendiri, meski kadang Aminah dan anak-anak panti asuhan sesekali datang membantu.
“Sebaiknya kita cari saja pembantu, Bu. Supaya Ibu tidak terlalu berat mengerjakan semuanya sendiri,” saran Pak Toha suatu hari. Namun Bu Rasmi selalu menolak.
“Biarlah begitu saja, Pak. Sambil bekerja, aku jadi punya kesibukan dan lupa akan rasa sepi,” jawabnya.
Pak Toha tak pernah memaksakan kehendak, karena alasan istrinya itu cukup masuk akal, meski di dalam hati ia tetap khawatir akan kesehatan Bu Rasmi.
“Justru itu yang kurang tepat, Bu. Kalau terlalu banyak diam dan melamun, sama saja kita menanam bibit penyakit dalam tubuh,” bantah Pak Toha lembut.
“Ya sudah, terserah kau saja. Asalkan kau masih merasa kuat dan sehat,” sambungnya pasrah.
“Lho… apa kau kira aku ini sudah sakit-sakitan?” tanya Bu Rasmi agak tersinggung.
“Bukan begitu. Aku hanya sekadar khawatir saja,” jawab Pak Toha membela diri.
Untunglah, dalam suasana seperti itu Fatimah sangat rajin menjenguk orang tuanya. Kehadirannya cukup menghibur hati Bu Rasmi agar tidak terlalu larut dalam kesendirian.
Sementara itu, Pak Toha yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang, justru kini memikul tanggung jawab yang lebih berat lagi. Pengelolaan panti asuhan yang didirikannya kini semakin berkembang dan menyita banyak waktu serta tenaganya.
“Aku berharap sisa umurku ini tidak berakhir sia-sia,” kata Pak Toha saat ditanya oleh teman sejawatnya yang sama-sama sudah pensiun. “Dengan begini, aku akan merasa lebih puas. Nanti saat aku meninggal dunia, tak ada lagi urusan yang tertinggal dan menjadi beban.”
“Cita-cita yang sulit dimengerti oleh orang-orang zaman sekarang ini,” komentar temannya.
“Itulah sebabnya aku prihatin melihat keadaan masyarakat kita. Banyak yang belum bisa menikmati kemerdekaan seutuhnya, dan masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan,” jelas Pak Toha. “Seperti yang sering kita lihat di pelosok desa, masih banyak anak-anak yang butuh uluran tangan kita untuk dibimbing agar mendapatkan masa depan yang lebih baik.”
“Dan di sisi lain, ada orang-orang yang merasa berkuasa dan sibuk bersenang-senang dengan kekayaan mereka sendiri,” sambung temannya.
“Ini bukti nyata bahwa cita-cita masyarakat adil dan makmur yang kita dambakan masih jauh dari kenyataan.”
“Betul sekali. Itulah yang harus terus kita perjuangkan,” sahut teman Pak Toha menyetujui.
Pembicaraan seperti itu sering terjadi, meski kadang menimbulkan perbedaan pandangan dengan teman-teman lainnya. Bahkan ada yang menganggap apa yang dilakukan Pak Toha hanyalah idealisme belaka, atau sekadar mencari popularitas semata.
“Orang yang berfikir begitu, pandangannya sangat picik dan licik,” ujar Pak Toha jika mendengar anggapan semacam itu.
Demikianlah kesibukan Pak Toha sehari-hari, di mana waktunya banyak tersita untuk kepentingan panti asuhan, yang kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Sementara itu, ia pun sadar bahwa sisa umurnya semakin menipis seiring berjalannya waktu.
Suatu hari, saat matahari belum terlalu tinggi, tukang pos kembali datang dan menyerahkan sepucuk surat ke tangan Pak Toha. Ada sinar bahagia yang tampak jelas dari raut wajahnya saat membuka amplop surat itu. Ia tersenyum lebar, seolah mendapatkan kabar gembira yang sudah lama ditunggu.
“Dari siapa surat itu, Pak? Apakah dari Marlena?” tanya Bu Rasmi yang duduk di sampingnya.
“Dari Fajar,” jawab Pak Toha sambil tersenyum.
“Apa? Dari Kak Fajar? Ada kabar apa, Pak?” tanya Bu Rasmi antusias.
Pak Toha tak langsung menjawab, ia masih asyik membaca setiap kalimat yang ditulis anak pertamanya itu.
“Insya Allah… dalam waktu dekat, dia akan dipindah tugaskan ke Madura,” kata Pak Toha dengan nada gembira.
“Alhamdulillah… Syukurlah, Pak. Semoga saja dia ditempatkan di wilayah sini ya, Pak,” harap Bu Rasmi berbinar.
“Ya, Bu… kita berharap saja begitu.”
Berita rencana kepindahan tugas Fajar dari seberang pulau itu membawa suasana baru yang jauh lebih baik bagi rumah tangga Pak Toha. Kabar itu seolah menjanjikan harapan baru dan mengubah suasana rumah yang selama ini terasa sepi dan dingin.
Bagi Pak Toha sebenarnya, di mana pun Fajar bertugas tidaklah menjadi masalah besar. Ia sudah melepaskan dan mendukung sepenuhnya karir anaknya. Dulu, saat Fajar pertama kali ditugaskan ke daerah transmigrasi yang jauh, Pak Toha langsung merestui dan mendukung keputusan itu.
Memang pada awalnya terasa berat harus melepaskan anak ke tempat yang asing dan jauh. Namun, berdasarkan pengalaman Pak Toha semasa masih menjabat di pemerintahan, apa yang dilakukan Fajar adalah hal yang wajar dan patut dihargai. Ia sering membandingkan dengan kenyataan di luar sana, di mana banyak pejabat yang justru menolak bila ditugaskan ke daerah terpencil atau kepulauan, padahal itu adalah bagian dari tugas negara.
Contohnya saja di Pulau Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, yang terdiri dari sekitar enam puluh tiga pulau kecil. Padahal daerah-daerah terpencil itu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sumber daya alam dan manusianya. Di tempat itulah sebenarnya ujian kemampuan seorang aparat, seberapa besar pengabdiannya untuk memajukan daerah. Namun sayang, banyak yang merasa tidak betah dan enggan ditempatkan di luar zona nyaman mereka.
Itulah sebabnya, bagi Pak Toha penempatan di mana saja adalah bagian dari perjalanan karir yang wajar. Namun kini, mendengar kabar bahwa Fajar akan kembali ke pulau kelahirannya, Pak Toha merasa lega. Terlebih melihat antusiasme dan kebahagiaan Bu Rasmi yang sedari tadi gelisah karena kesepian, kini berubah penuh harapan menyambut kedatangan anak pertamanya itu.
