
Salah satu bangunan tua di Kota Tua Kalianger peninggalan jaman Belanda
Di pesisir timur Kabupaten Sumenep berdiri sebuah kawasan yang menyimpan kisah kejayaan industri garam dan modernisasi awal di Pulau Madura. Kota Tua Kalianget bukan sekadar kumpulan bangunan tua peninggalan kolonial, melainkan saksi sejarah lahirnya kota industri yang pernah menjadi pusat perdagangan, pelayaran, dan produksi garam terbesar di Indonesia.
Di ujung timur Kota Sumenep, sekitar sepuluh kilometer dari pusat kota, terdapat sebuah kawasan yang hingga kini masih menyimpan jejak masa lalu yang begitu kuat. Kawasan itu bernama Kota Tua Kalianget. Di antara bangunan-bangunan tua, cerobong pabrik yang menjulang, pelabuhan bersejarah, dan rumah-rumah bergaya Eropa, tersimpan kisah tentang sebuah kota yang pernah menjadi simbol kemajuan dan modernitas di Pulau Madura.
Sejarah Kalianget tidak dapat dipisahkan dari garam. Sejak masa VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda, wilayah ini berkembang karena letaknya yang strategis di pesisir Selat Madura. Posisinya yang dekat dengan jalur pelayaran membuat Kalianget tumbuh sebagai bandar penting sekaligus pusat distribusi hasil garam dari Madura ke berbagai daerah di Nusantara. Bahkan dalam sejumlah catatan sejarah, Kalianget disebut sebagai salah satu kawasan perkotaan paling modern di Madura pada masanya.
Perkembangan pesat itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi besar garam Madura sebagai komoditas strategis. Untuk mendukung industri tersebut, dibangun berbagai fasilitas modern yang pada zamannya tergolong sangat maju. Salah satu yang paling terkenal adalah Pabrik Garam Briket Modern pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1899. Pabrik ini menjadi pusat pengolahan garam sekaligus simbol monopoli garam yang dijalankan pemerintah kolonial.
Namun Kota Tua Kalianget bukan hanya tentang pabrik garam. Kawasan ini dahulu dirancang sebagai kota industri yang lengkap. Belanda membangun perumahan pegawai, kantor administrasi, taman kota, lapangan tenis, kolam renang, bioskop, gedung pertemuan, hingga fasilitas hiburan bagi para pejabat dan pekerja perusahaan garam. Kehadiran berbagai fasilitas tersebut membuat Kalianget tampil berbeda dibanding wilayah lain di Madura pada masa itu.
Selain itu, untuk mendukung distribusi garam, dibangun pula jaringan transportasi yang terintegrasi. Jalur lori dan lokomotif digunakan untuk mengangkut garam dari ladang-ladang produksi menuju gudang penyimpanan dan pelabuhan. Aktivitas ekonomi berlangsung hampir tanpa henti. Kapal-kapal dagang datang dan pergi membawa garam Madura ke berbagai penjuru Nusantara.
Pada masa kejayaannya, Kota Tua Kalianget juga memiliki sejumlah bangunan pertahanan yang dibangun sejak era VOC. Benteng Kalimo’ok dan kawasan pelabuhan Kertasada menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan sekaligus pengawasan jalur perdagangan di wilayah Sumenep. Keberadaan benteng dan pelabuhan tersebut menunjukkan betapa strategisnya Kalianget dalam peta ekonomi dan politik kolonial pada masa lalu.
Waktu memang telah mengubah banyak hal. Sebagian bangunan yang dahulu menjadi kebanggaan kota kini telah hilang atau hanya menyisakan puing-puing sejarah. Bioskop tua, beberapa fasilitas rekreasi, serta sejumlah bangunan pendukung industri garam tidak lagi berfungsi sebagaimana dahulu. Namun jejak kejayaan itu belum sepenuhnya lenyap.
Hingga sekarang, sejumlah bangunan bersejarah masih dapat ditemukan di kawasan Kota Tua Kalianget. Gedung Sentral atau pembangkit listrik yang dibangun pada tahun 1914 masih berdiri sebagai saksi kemajuan teknologi pada zamannya. Bangunan ini dahulu memasok listrik untuk kebutuhan industri garam dan perumahan pegawai. Di sekitarnya masih terdapat cerobong asap pabrik yang menjadi ikon kawasan tersebut.
Pelabuhan tua Kalianget dan Pelabuhan Kertasada juga masih dapat disaksikan hingga kini. Meskipun fungsinya telah berubah dan berkembang mengikuti kebutuhan zaman, pelabuhan tersebut tetap menjadi penanda penting sejarah perdagangan maritim Sumenep.
Jejak lain yang masih bertahan adalah pos jaga kuno bergaya Eropa, rumah-rumah dinas peninggalan kolonial, lokomotif dan lori pengangkut garam, serta beberapa gudang dan bangunan industri yang menjadi bagian dari kompleks perusahaan garam. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut membuat suasana Kota Tua Kalianget masih terasa khas, seolah membawa pengunjung kembali ke awal abad ke-20.
Kini Kota Tua Kalianget bukan lagi pusat industri semegah dahulu. Namun kawasan ini tetap menjadi warisan sejarah yang sangat berharga bagi Sumenep dan Madura. Setiap bangunan tua, rel lori yang tersisa, hingga pelabuhan yang masih beroperasi menyimpan cerita tentang kerja keras, perdagangan, dan perkembangan teknologi pada masa kolonial.
Kota Tua Kalianget adalah pengingat bahwa Madura tidak hanya dikenal karena garamnya, tetapi juga karena pernah memiliki sebuah kota modern yang menjadi pusat peradaban, industri, dan pelayaran. Di tengah perubahan zaman, kawasan ini tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Sumenep yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.